
Kesabaran Faris sudah tidak bisa di tahan lagi, Aulia yang melihat kejadian itu hanya diam. Dia sendiri bingung harus bagaimana cara nya agar Faris tidak emosi
"Pak willi yang terhormat, kalau kerja jangan sentuh-sentuh perempuan. Itu tidak baik" Ucap Faris dengan gigi yang sudah bergertak. Emosi memuncak tak dapat terkontrol
"Maaf Pak Faris, saya tidak sengaja. Saya cuma lihat ada noda di bibir nya. Saya tidak bermaksud seperti itu" Ungkap pria itu saat mendapatkan kemarahan Faris yang sudah memuncak
Faris dengan santai kembali duduk. Kedua bola mata nya sibuk memperhatikan Aulia. Andai saja Faris tidak menjalin bisnis dengan nya. Sudah di pastikan Faris akan menghabisi nya dengan tangan nya sendiri
"Selamat" Perempuan itu menghela nafas nya lega. Karena Faris bisa mengendalikan emosi nya
Tangan willi terulur dan menjabat tangan rekan kerja nya
"Senang bekerja sama dengan anda pak Faris" Ucap willi tersenyum simpul tanpa ada rasa salah sedikit pun
"Terimakasih" Ucap pria itu datar
Willi beranjak dari kursi lalu mengajak Aulia untuk pergi dari restaurant itu
Sementara Faris hanya tersenyum kecut dan ikut pergi dari tempat itu
.
.
.
.
.
.
.
"Hallo guy's" Sapa Aulia dengan suara yang terbilang cukup heboh
"Gimana lia? " Tanya seseorang yang terpotong ucapan nya
"Iya gimana lia? Meeting sama pak willi lancar kan? " Pertanyaan itu kembali terpotong
"Meeting sama client mana lia" Seseorang kembali bertanya karena merasa penasaran apa yang terjadi
"Gue meeting sama suami gue" Balas Aulia singkat, kemudian dia langsung duduk di kursi putar itu
"Serius lo?" Ucap teman-teman nya kompak membuat gendang telinga Aulia akan pecah
__ADS_1
"Gue serius, " Kilah Aulia, memang nya Aulia berbohong apa?
"Terus gimana lia? Apa yang terjadi selama meeting" Mita nampak penasaran karena bukan mita jika dia tidak kepo
"Biasa-biasa aja deh, enggak kenapa-napa. Cuma meeting kan" Suara itu terdengar begitu sampai
Smartphone Aulia yang di letakan di atas meja kerja nya, Tiba-tiba saja bergetar. Aulia yang sedang mengobrol pun harus mengangkat telphone itu
"Hallo"
"Sayang, kamu enggak kenapa-napa kan? Kamu udah sampai di kantor sama bos kamu itu? Kamu enggak jalan-jalan dulu kan sama dia?
" Udah, aku tadi langsung ke kantor ko"
"Syukurlah, kamu pulang jam berapa? Biar aku jemput"
"Aku pulang sekitar jam empat sore,
" Nanti tunggu aku , hari ini aku pulang dari kantor jam setengah lima"
"Nanti aku nunggu di halte"
"Iya, nanti aku kabari lagi. Assalamu'alaikum
" Wa'alaikumus salam"
"Lo kalau lagi haid, suka sakit perut enggak" Seru Aulia. Entah mengapa Aulia tiba-tiba bertanya seperti itu
"Sakit di hari awal lia," Pungkas raya
"Perut gue sakit banget ni dari tadi, atau mungkin gara-gara makan spaghetti" Ucap Aulia yang menyandarkan punggung nya di kursi
"Minum kiranti mau? Gue beliin deh, biasa nya yak gue kalau lagi sakit haid itu minum kiranti" Usul Reta
"Coba deh, lo beliin. Dari tadi perut gue sakit banget" Reta mengangguk lalu segera pergi karena memang jam istirahat kantor
"Jangan bilang lo waktu nikah lagi keadaan datang bulan lia" Aulia mengangguk dengan gigi nya yang dia tunjukan
"Aduuuuh belum ehem-ehem dong lia" Lagi-lagi kepala Aulia menggeleng
"Emang kenapa si? Yakali harus di paksa dengan keadaan tamu bulanan" Aulia merasa bingung dengan ucapan teman nya ini
"Hehehe, enggak kenapa-napa si lia" Mita hanya menunjukkan deretan gigi nya yang rapi
Sekretaris perusahaan itu menggrebak meja kerja Aulia. Membuat Aulia terlonjak kaget karena kelakuan nya
__ADS_1
"Lo yak! Berapa kali gue bilang! Jangan deketin pak willi! Masih aja deketin dia! Lo enggak tau diri jadi orang" Aulia masih terdiam. Merasa bingung mengapa sekretaris atasan nya marah? Emang salah Aulia apa?
"Mbak tunggu deh,saya enggak ngerti, maksud nya apa? Emang saya sama pak willi ngapain? Perasaan saya enggak ngapa-ngapain" Pikir Aulia mengingat saat diri nya dekat dengan bos nya
"Lo pura-pura enggak tau dasar pela**r" Tangan itu tiba-tiba saja mendarat di pipi mulus Aulia
"PLAKK" semua orang yang ada di ruangan itu hanya terdiam dan melihat sekretaris menampar pipi Aulia keras
"Mbak salah saya di mana! Emang saya pernah dekat gitu sama pak willi! Dugaan mbak salah! pak willi bukan tipe saya! Lagi pula saya udah bersuami! Mbak puas" Aulia memegangi pipi nya yang terasa panas itu dengan emosi yang tidak dapat di bendung lagi
"Perempuan kayak kamu itu sebaik nya harus di pecat sama pak willi" Perempuan berambut emas itu sangat puas karena bisa menampar pipi Aulia
Namun di sisi lain willi menghampiri Aulia dan melihat semua kejadian itu dengan mata kepala nya sendiri
"Cukup, ini kantor. Dan semua nya saya minta kembali ke meja kalian masing-masing.meizya kamu ikut ke ruangan saya! Kamu juga sama Aulia "Aulia mengangguk sesekali tangan nya menyerka air mata yang sudah berlinang di pelupuk mata nya
" Udah lia, mending sekarang lo temui dulu pak willi. Nanti begitu urusan nya selesai. Gue bakal kompres pipi lo" Mita mengusap bahu Aulia lembut
.
.
Aulia dan Meizya sudah berada di ruangan bos nya
"Saya minta kalian harus profesional dalam pekerjaan. Bukan seperti ini. Kalau kalian kayak gini terus yang ada perusahaan saya bisa bangkrut" Pria itu memukul meja nya keras membuat Aulia benar-benar takut dan tak berani menatap ke depan
"Aulia yang salah pak! Harus nya dia itu jadi cewek enggak usah sok cantik. Memang nya dia cantik" Meizya melirik Aulia sekilas
"Meizya kamu itu sekretaris, harus nya kamu berperilaku baik terhadap karyawan kantor bukan malah seperti ini. Kamu ngerti Meizya" Tatapan tajam itu membuat Meizya mengangguk
"Dan kamu Aulia! Biasa nya kamu kerja profesional! Saya minta sama kalian jika punya masalah pribadi jangan di sangkut paut kan sama kantor" Aulia mengangguk dengan air mata berlinang di pelupuk mata nya
"Kembali ke kerjaan kalian masing-masing! "
Aulia langsung menangis di dalam toilet. Rasa nya sangat malu jika harus kembali ke ruangan. Apalagi Meizya yang sudah membuat Aulia malu hanya karena pria. Aulia di buat malu
Aulia membasuh wajah nya agar tidak terlihat bahwa diri nya sudah menangis
"Lia lo enggak papa kan" Mita begitu khawatir melihat kondisi Aulia. Apalagi saat melihat pipi Aulia di tampar
"Enggak papa ko" Meskipun keadaan Aulia kurang membaik tapi Aulia selalu tersenyum di depan teman-teman nya
"Mau di kompres enggak? Supaya nanti suami lo enggak curiga" Raya menawarkan diri untuk Aulia
"Enggak usah, udah enggak papa. Mending sekarang kembali ke pekerjaan supaya bisa cepat pulang" Aulia langsung duduk dan kembali berhadapan dengan laptop. Meskipun kondisi nya kurang di katakan baik tapi Aulia berusaha agar teman kantor nya tidak mengkhawatir kan kondisi nya saat ini
__ADS_1
Pikiran Aulia saat ini melamun. Entah apa yang terjadi dengan Aulia. Tatapan mata yang kosong teman-teman yang memanggil Aulia. Tidak di gubris sedikit pun. Atau mungkin Aulia masih merasa syok atas kejadian yang menimpa nya.