Dinikahi CEO Muda

Dinikahi CEO Muda
18.kecelakaan denis


__ADS_3

Faris tengah ber tiduran di atas pangkuan Aulia,dengan memandangi setiap wajah cantik Aulia meskipun terlihat natural. Namun kecantikan Aulia tidak berkurang sedikit pun bagi Faris. Wajah yang selalu menjadi penyemangat di setiap Faris melakukan aktivitas nya.


tapi aktivitas Faris menatap wajah Aulia terganggu dengan gerataran smartphone. dengan cepat Faris langsung menggeser layar hijau itu dan mengarahkan nya pada telinga kanan nya


"Hallo ma,


" Ris bisa ke sini sekarang? "


"Emang nya kenapa ma? Ko kayak nya penting banget"


"Abang kamu Ris, Denis. Denis kecelakaan"


"Apa ma! Kecelakaan! Yaudah mama share alamat rumah sakit nya. Nanti aku langsung ke sana"


Faris mengusap wajah nya. Baru saja dia mau istirahat. Tapi ada gangguan lain.


"Kenapa Ris" Gumam Aulia setelah mendengar pembicaraan Faris di telpon seluler


"Bang Denis kecelakaan, kita siap-siap sayang. Malam ini harus ke Bandung" Aulia mengangguk, dia segera mengganti pakaian nya yang sedikit tertutup tidak lupa menyelimpang kan tas di bahu nya


Sebelum Aulia pergi ke tempat tujuan, dia memilih untuk pamit ke pada orang tua nya. Kebetulan ayah dan ibu nya sudah beristirahat di dalam kamar


"Ma" Aulia mengetuk pintu kamar ke dua orang tua nya. Karena takut mengganggu waktu


Tak ada jawaban dari mama Rania, Aulia kembali mengetuk pintu kamar kedua orang tua nya


"Ma, mama udah tidur? " Mama Rania dengan muka bantal nya terpaksa harus membuka pintu kamar nya


"Mau kemana? " Tanya mama Rania heran karena melihat penampilan Aulia


"Aku sama Faris mau ke Bandung. Kakak nya Faris kecelakaan" Balas Aulia saat meminta ijin


"Parah enggak lia," Gumam nya ikut khawatir


"Enggak tau ma, nanti aku whatsapp mama yak. Mama jangan banyak pikiran. Nanti mama bisa sakit" Aulia mencium punggung tangan mama Rania dan mengecup pipi yang selalu Aulia kecup


"Hati-hati bawa mobil nya, ini udah malam" Mama Rania ikut mengantarkan anak nya ke pintu depan dan melihat mobil itu sampai benar-benar melaju


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Tiba di rumah sakit, Faris langsung mencari ruangan Denis sedikit tergesa-gesa karena bagaimana pun juga Denis adalah kakak nya sendiri meskipun adik kakak itu sering ribut bahkan tidak pernah akur. Namun kepedulian Faris terhadap Denis lebih besar di banding kan dengan rasa ego nya


"Ma, gimana keadaan bang Denis? Baik-baik aja kan" Perasaan yang tak karuan membuat Faris gelisah


"Belum sadar Ris, dokter yang menangani nya belum keluar" Mama Luna sudah menangis memikirkan nasib anak nya di dalam sana


Faris yang melihat hal itu segera memeluk tubuh mama Luna dan menenangkan nya agar tidak cemas


"Mama tenang ma, bang Denis orang nya kuat. Kita berdoa aja yang terbaik ma" Ibu jar Faris mengusap air mata ibu nya yang turun begitu saja. Hijab mama Luna sudah basah dengan deraian air mata


"Tapi Ris hiks hiks Denis" Air mata mama Luna kembali turun


"Iya aku tau, tapi mama jangan nangis terus gini. Kalau mama nangis terus nanti mama bisa sakit" Faris menuntun tangan mama Luna agar duduk di kursi yang sudah tersedia


"Sayang belikan air minum buat mama" Perintah Faris. Aulia mengangguk dia segera ke kantin rumah sakit dan membeli sebotol aqua sedang dengan sedikit berlari agar Aulia cepat sampai


"Mama minum dulu ma" Ujar Faris segera memberikan aqua botol itu lalu mama Luna meneguk nya pelan


Aulia ikut duduk di samping Faris, menunggu dokter keluar dari UGD. Perasaan yang tak karuan muncul dalam benak hati Aulia


Dokter keluar dari ruangan nya. Saat itu juga Faris langsung menghampiri nya


"Bisa ikut ke ruangan saya" Pungkas dokter. Faris mengangguk pelan


.


.


.


.


.


Aulia menggendong Azka yang terus menerus menangis, bahkan Aulia sudah membujuk nya beberapa kali namun tetap saja keponakan nya itu masih menangis. Aulia sudah kehabisan akal untuk membujuk ke sekian kali nya


"Jangan nangis dong Azka, nanti momy nya sedih lihat Azka nangis gini. " Azka menenggelamkan kepala nya di bahu Aulia.

__ADS_1


Aulia rasa Azka mengkhawatirkan kondisi ayah nya.


"Mau lihat dad"pinta Azka menujuk pintu ruangan


" Tapi Azka jangan nangis lagi, nanti dady sedih lihat jagoan nya nangis"ibu jari Aulia mengusap rambut lebat Azka dan membawa nya ke dalam pelukan


Aulia masuk ke dalam dengan Azka yang berada di gendongan nya, melihat Denis yang sudah sadar bibir Aulia menyunggingkan senyum.


"Azka" Panggil Denis pelan. Karena hidung yang terpasang dengan selang kecil. Namun mata nya masih terpejam


"Jangan banyak gerak dulu bang. Kondisi lo belum pulih" Pungkas Faris. Sudah ke sekian kali nya Faris mengingati Denis namun Denis selalu menghiraukan ucapan adik nya


"Azka" Denis selalu memanggil nama anak nya. Namun mata itu selalu terpejam


"Bang lo mau ketemu sama anak lo, lo buka mata lo bang. Lihat ada anak dan istri lo" Faris melihat sudut mata Denis mengeluarkan air mata


"Azka" Di alam sadar nya Denis terus menerus memanggil nama anak nya, sedangkan kedua mata nya masih terpejam


"Azka sini sama om " Aulia berdiri di dekat bahu Faris. Lalu mendudukan Azka di atas pangkuan Faris


"Panggil dady nya sayang" Ujar Aulia. Azka menurut dia mendekatkan mulut nya dengan telinga Denis


"Dady bangun" Ucap Azka lirih.


Tak lama kedua mata Denis terbuka dengan sendiri nya. Faris yang melihat hal itu merasa senang


"Apa yang terjadi Ris" Dengan suara yang lemah, Denis merasa heran. Mengapa dia ada di rumah sakit? Dengan banyak orang


"Enggak ada apa-apa bang, lo cuma ada insiden. Apa yang lo rasakan bang? Ada yang sakit? " Beribu-ribu pertanyaan yang Faris ajukan. Namun Denis menggeleng lemah. Dia masih memikirkan apa yang terjadi pada diri nya


"Dady" Denis langsung menoleh ke arah anak nya


"Kenapa nangis Azka? " Tanya Denis pelan, ibu jari nya mengusap air mata yang turun dari pelupuk mata anak nya


"Dady enggak kenapa-napa kan? " Merasa khawatir karena melihat selang terpasang di hidung mancung Denis


"Iya, dady enggak papa. Jangan nangis. Masa jagoan dady nangis" Faris tersenyum.merasa beruntung karena kondisi nya tidak terlalu parah


Fitri sudah kembali dari Apotek saat nya dia mendampingi suami nya. Sedangkan Aulia dan Faris permisi keluar


" Bang, gue sama Lia pamit pulang, Azka biar ikut sama kita. Lo cepat sembuh besok gue jenguk lo lagi" Faris menggendong Azka dan segera pamit ke pada orang tua nya


"Aku pamit pulang ma, kasihan lia belum istirahat. Besok aku jenguk lagi ke sini" Faris mencium punggung tangan mama Luna. Lalu segera masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil nya dengan kecepatan maksimal

__ADS_1


"Azka nanti tidur sama aunty? " Tanya Azka mendongakkan kepala nya menatap wajah Aulia yang terlihat mengantuk


"Iya nanti kamu tidur sama aunty dan om. Azka lapar enggak? Kita beli makanan dulu" Azka mengangguk. Istri dan keponakan nya sama-sama suka makan. Faris pun ikut seperti mereka suka memakan cemilan di malam hari


__ADS_2