
Semenit sebelum Echa ada di depan pintu unit Crystal, ia lebih dulu di telpon oleh temannya itu untuk menjemputnya, dengan tujuan akan bermain di pasar malam dekat sana atau Taman wahana..
Echa sangat senang karena baru kali ini ada yang mau bermain dengannya. Sebelumnya banyak anak anak yang menghindari gadis itu karena banyak yang berprasangka kalau Echa adalah gadis yang kasar dan pemarah.
Banyak yang berpikir seperti itu karena terlihat, setiap pelajaran di mulai, dengan terang terangan ia tertidur di kelas, setiap orang menyapanya ia hanya membalasnya dengan anggukan kepala, namun tak banyak yang tau, jika Echa yang memulai pembicaraan maka mereka menjadi yang paling dekat dengannya. Tapi tetap saja, pernah sekali Echa melakukan hal itu, dan salah satu siswa malah menghindari Echa dengan alasan, kalau gadis itu terlalu blak-blakan dan tidak pantas di dekat mereka, juga tidak bisa di ajak kompromi. Dan itulah mengapa Echa sangat berhati-hati saat memilih teman.
Baru saja ingin masuk ke apartemen itu, seorang pria membawa tongkat golf, yang tidak lain adalah David buru-buru masuk ke apartemen, Echa yang melihatnya tentu saja penasaran dan mengikuti pria itu dari jauh.
Sesampainya di unit Crystal, david langsung memencet bel.
Baru saja pintu di buka David melayangkan tamparan keras di pipi Crystal.
“Dasar anak tidak tahu diri! Apa perlu aku sampai kesini untuk berbicara denganmu, sampah! ”Bentakan David dan kelakuannya membuat Echa terkejut.
“Siapa pak tua itu!? Dan apa yang dia lakukan!? Kenapa dia memukul Crystal seperti itu?! " Banyak pertanyaan keluar dari pikiran Echa. Gadis itu melihat kalau Crystal sedang di dorong masuk.
Dengan cepat Echa mengejar namun pintu lebih dulu di tutup sebelum Echa bisa memanggil nama Crystal. Mata mereka bertemu, dan Echa bisa melihat dari mata sayu Crystal bahwa ia sedang meminta bantuan.
Echa panik dan segera berusaha membuka pintunya tanpa berpikir panjang,
“Ah sialan, sekarang aku harus bagaimana? Crystal! Kau mendengarkan ku? Hei bertahanlah! Aku akan mencari bantuan! ”Pekik Echa dari luar unit, namun karena dinding yang kedap suara, teriakan Echa tidak di dengar oleh Crystal.
Di pikiran Echa saat itu hanya lah mengeluarkan ponsel dan menelpon seseorang. Begitu sambungan telepon tersambung suara yang terdengar tidak asing langsung mengomel di speaker ponsel hadis itu.
“Apa kau tidak bisa mengganggu ku sehari saja! Kau sangatlah merepotkan! ”Dumel suara orang yang tidak asing dari telepon.
“Lupakan itu Widra, sekarang datang lah ke Apartemen Teenagers only, jika tidak bisa datang tolong kirimkan satu orang untuk membawakan mobil. Cepat! ”
Tut tut.
Segera Echa memutuskan sambungan telepon karena tidak ingin mendengar ocehan Widra yang panjang lebar.
Gadis itu terlihat panik, ia hanya berharap agar pria tua yang tidak lain adalah David dengan cepat menghentikan aksinya itu.
Sudah setengah jam Echa menunggu, mobil yang di pesan Echa sudah sampai 15 menit yang lalu, dan David masih saja belum keluar, dan itu membuat Echa semakin panik.
“Apakah anak itu baik baik saja!?? bagaimana ini, apa perlu aku melepon polisi?! ”Guman Echa pada dirinya sendiri.
__ADS_1
“Bodoh, seharusnya aku melaporkan hal ini pada polisi lebih awal, uh dasar aku!? ”Echa membentak dirinya sendiri atas kebodohan yang ia sadari.
Baru saja mengeluarkan ponselnya dari tas, tetiba ia di kejutkan suara pintu unit yang terbuka. Reflek, tubuh echa langsung berjalan dan berpura-pura tidak melihat David, tidak lupa ia menambah kan sedikit akting, dengan berbicara sendiri dengan ponselnya yang melekat di telinganya.
David yang merasa kan sesuatu yang janggal, sontak mendekati Echa.
“Apa yang kau lakukan disini, nak? ”Tanya David degan suara seraknya,
“A-aku sedang menelpon pak, mohon jangan mengganggu dulu! ”Jawab Echa dengan memberikan peringatan,
Terus terang, Echa sangat gugup kala itu, bahkan menelan salivanya susah payah.
David yang tidak percaya langsung merebut ponsel milik Echa dan menempel kan nya di telinga.
“Apa yang kau lakukan, pak? ”Tanya Echa dengan raut wajah terkejut yang di buat buat.
“Dasar Echa sialan, kalau mau mati, mati aja sendiri, jangan bawa bawa aku, aku tidak ingin jika harus mati di tengah luncuran wahana itu. Kau mengerti?! ”Ucap seseorang dari balik Speaker ponsel Echa.
Mendengar nada terputus, david langsung mengembalikan ponsel Echa.
Ucap David yang mengira kalau Echa tinggal disana. Di apartemen sana.
Tidak menunduk, tidak mengatakan iya, Echa hanya menatap sengit pria paruh baya itu.
David tidak menyadari tatapan itu dan hanya berbalik pergi, setelah jauh dari unit Crystal, Echa buru buru berusaha membuka pintu. Unit Crystal memiliki kode sandi yang mengharuskan agar pintu bisa di buka.
Echa kehabisan akal dan tidak bisa berpikir lagi. Dia berusaha mendobrak pintu unit itu, agar bisa terbuka. Namun Echa lupa, pintu itu jika dari luar hanya bisa di tarik.
“Aku harus apa sekarang, Crystal bertahanlah?! ”
Ia bergumam panik, dan tisak sengaja matanya tertuju pada kamera CCTV.
Tidak ada cara lain Echa hanya bisa melakukan apa yang dia pikirkan.
Gadis itu mengeluarkan buku dari tas kecilnya, beserta spidol dan menulis sesuatu.
...“Seorang gadis di Unit 506 sedang dalam bahaya, tolong cepat kirim bantuan! ”...
__ADS_1
Hanya itu yang Echa tuliskan dan mengarahkan kertas itu pada kamera CCTV.
Petugas di ruangan CCTV menyadarinya, dan bertanya-tanya, apakah ini hanya gurauan anak kecil?
Tidak datang setelah 30 detik, Echa terpaksa mendobrak kembali pintu unit Crystal.
“Cepat pergi ke lantai 5 dan hentikan aksi anak itu! Dan jangan lupa bawa kunci cadangan, mungkin ada hal yang mendesak disana! ”perintah petugas CCTV kepada bawahannya.
Para bawahannya mengiyakan titah bosnya dan menjalankan tugasnya.
Satu menit berlalu dan 2 petugas sudah ada depan di unit Crystal.
“Apa yang kau lakukan, nak. Jangan merusuh dan pergilah! Titah petugas.
“Apa kalian membawa kunci cadangan, seorang gadis di dalam unitnya sedang sekarat sekarang, tolong bukalah pintunya dan tolong dia! ”Pinta Echa dengan panik.
“Bicara apa kamu, kami sudah mengecek CCTV dan tidak ada yang aneh, jangan bicara melantur ya! ”Sahut petugas dan membuat Echa tidak menyangka dengan perkataan petugas, padahal sudah jelas jelas ia meminta bantuan, tapi malah di bilangi melantur.
“BUKA DULU PINTUNYA BARU BICARA! ”Sentak Echa membuat para petugas terkejut.
“Sopan sedikit saat berbicara nak! ”Sahut petugas lainnya.
“Seorang gadis sedang sekarat di dalam sana, dan kalian bilang aku melantur, aku sangat sedih mendengarnya, dia harus di bawa kerumah sakit sekarang! ”Lirih Echa dengan raut wajah sedih di buat-buatnya.
“Ini melanggar privasi penyewa nak, kami tidak bisa melakukan hal itu tanpa persetujuan penyewa kami! ”Ucap Petugas pelan.
“Tapi penyewa kalian sekarang sedang sekarat, jadi tidak bisa meminta persetujuan! Tidak bisakah kalian lakukan ini untuk penyewa berharga kalian itu! ”Sahut Echa.
Dua petugas itu saling menatap, seolah saling bertanya dan memutuskan.
“Kalau begitu baiklah, kamu akan membukanya, jadi kamu menyingkir lah dulu! ” Ucap pelan petugas. Echa menurutinya dan menunggu. Setelah beberapa saat, para petugas masuk dan memeriksa, tentu saja Echa tidak ketinggalan.
Sesampainya Echa di dapur, ia di kejutkan dengan Crystal yang memiliki lebam di tubuhnya dan tergeletak tak berdaya di lantai yang dingin itu..
Tanpa pikir panjang Echa langsung menggendong tubuh ringan Crystal.
Apa anak ini tidak pernah makan?
__ADS_1