Double : Face

Double : Face
32. Flashback


__ADS_3

Keesokan paginya Alfaro, Jefrie, Keyla dan Crystal tengah melakukan aktivitas sarapan seperti biasa, setelah itu Jefrie dan Keyla berangkat sekolah. Sementara Alfaro, pria itu tengah mengerengek karena matanya yang belum sembuh padahal tidak terlalu sakit.


“Tidak apa-apa, beberapa hari pasti akan sembuh dan tidak akan membekas jika kakak memberikan obatnya, ” Ucap Crystal.


“Apa kamu tidak sekolah? Mau di rumah terus sampai kapan? ” Tanya Alfaro mengalihkan pembicaraan.


“Tentu aku akan sekolah. Aku akan memulainya setelah minggu ini selesai. ” Ucap Crystal seraya menatap piring bersih yang baru ia cuci.


“Lalu apa kamu tidak akan pulang ke rumahmu? ” Tanya lagi Alfaro membuat Crystal berhenti sejenak dari kegiatan nya.


“Kenapa? Kakak mau tinggal disini dengan tenang tanpa adanya aku? ” Tanya Crystal dengan senyum meledeknya. Alfaro tidak tersinggung dengan perkataan Crystal karena dirinya tau gadis itu mengalihkan pembicaraan karena sangat tidak ingin membicarakan hal itu.


“Kamu tau itu bukan maksudku. Toh kalaupun kamu pulang ke rumah asalmu, kita yang ada disini juga akan kembali ke tempat asal kami. ” Jelas Alfaro seraya membantu Crystal setelah mendekatinya.


“Kenapa? ” Tanya Crystal.


“Karena aku tidak ingin mengambil apa yang menjadi milik orang lain. ” Alfaro menatap Crystal dengan penuh arti, namun Crystal tidak menyadarinya.


“Walau begitu, tetaplah disini jika aku sudah pergi, Kak. Bantu aku untuk menjaga rumah ini. ” Crystal menatap Alfaro juga dengan penuh arti.


“Aku sudah menganggap kalian sebagai keluargaku. Semenjak bersama dengan kalian, perasaan sepi yang kurasakan dulu, bisa kulupakan begitu saja. ”Imbuh Crystal.


“Aku tidak akan menyulitkan kalian, dan akan pergi sebelum orang itu menemukanku. Jadi bantu aku untuk menjaga rumah ini. ” Crystal tersenyum setelah selesai mencuci piring dan menuju ruang TV untuk menonton televisi.


“Aku harus di bayar untuk melakukan hal itu. Kamu tau kan, apapun yang Aku lakukan tidaklah gratis. ” Ucap Alfaro seraya mengikuti Crystal. Pria itu tidak bekerja dan memilih untuk tinggal dirumah dan membantu Crystal.


Memang tidak banyak pekerjaan yang dilakukan. Namun ia tetap memilih tinggal karena merasa tidak enak terus menyusahkan gadis itu.


Flashback.


Bertemu dengan Jefrie di Toko serba adalah hal yang sedikit mengejutkan untuk Crystal yang tengah melakukan pelarian dari pertemuan kencan buta yang ia anggap gila..


“Apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu pakai? ” Tanya Jefrie setelah melihat gaya pakaian Crystal yang sedikit berbeda.


“Apa maksudmu, tolong cek harganya?! ” Sentak Crystal terburu-buru.


Jefrie melakukan apa yang Crystal katakan karena itu adalah hal yang memang menjadi pekerjaannya.


“Ini sudah kadaluwarsa! ” Ucap Jefrie setelah memindai salah satu makanan Crystal yang sudah lewat waktunya.


“Karena itu, kanapa kamu tetap memajangnya di rak makanan kalau sudah kadaluwarsa? ” Tanya Crystal dengan nada ketus.


“Itu bukan tugasku. ” Jawab Jefrie dengan ketus. “Lalu.. Siapa yang bertanggung jawab? ” Tanya lagi Crystal dengan gugup.


“Ada di gudang, mau kupanggilkan? Permisi,, yang ada di gud... ” Mulut Jefrie disekap oleh tangan Crystal sehingga ia tidak bisa melanjutkan panggilannya.


“Apa yang kau lakukan? ” Tanya Jefrie setelah melepas tangan Crystal dari mulutnya


“Itu...sebagai teman sekolah, maukah kau membantuku. Aku akan membeli makanan ini dengan setengah harga, ”Ucap Crystal dengan mata berbinar.


Dan itu membuat Jefrie tersenyum karena menganggap sangat lucu perubahan sikap yang tiba tiba dari Crystal.

__ADS_1


“Tunggulah Di sini. ” Ucap Jefrie lalu meningalkan Crystal di depan kasir sendiri.


Jefrie mengambil beberapa makanan lalu kembali ke kasir dan membayarnya.


“Maaf tapi hanya ini yang bisa ku berikan, Aku sudah membayarnya jadi kau tidak perlu mengeluarkan uangnya. ” Ucap Jefrie seraya memberikan makanan yang ia ambil tadi.


“Bukan ini maksudku, Aku bisa membayarnya. Berapa harganya? ” Tanya Crystal yang merasa sedikit tersinggung.


“Hah.” Jefrie tertawa kecil. “ Kalau begitu, anggap saja itu sebagai hadiah dari teman sekolahmu. ” Ucap Jefrie tersenyum.


“Hadiah? Terimakasih kalau begitu. ” Ucap Crystal lalu membuka dan memakan makanan yang di berikan oleh Jefrie tanpa perlawanan lagi. Gadis itu tampak menyukai hal yang namanya hadiah.


Setelah beberapa saat, ponsel Jefrie yang ada di meja kasir berdering.


Jefrie menerima telepon tersebut. “Kak bantulah aku, cepat! ” Suara panik dari speaker telepon membuat Jefrie sedikit khawatir. Penelpon memberi tahu alamatnya dan Jefrie langsung keluar dari toko.


Memberhentikan beberapa kendaraan namun tidak ada yang berhenti membuat Jefrie semakin khawatir.


Namun, uluran tangan Crystal membuat salah satu taxi berhenti. “Aku akan ikut. ” Ucap Crystal namun di abaikan oleh Jefrie.


Saat Jefrie masuk, Crystal juga ikut masuk ke dalam Taxi yang dihentikannya. Dengan tergesa-gesa Jefrie mengatakan alamat yanga kan ditujunya.


“Ada apa? Apa Ada masalah mendesak? ” Tanya Crystal dengan penasaran dan di abaikan lagi oleh Jefrie yang tengah sibuk menelpon balik si penelpon tadi.


Setelah sampai, alamat yang dituju oleh Jefrie adalah Kantor Polisi. Jefrie dengan tergesa-gesa masuk ke dalam dan melihat adiknya yang tengah dimarahi oleh beberapa orang tua.


“Apa yang terjadi? ”Tanya Jefrie dengan nada bicaranya yang dingin namun tatapan hangatnya mengarahkan ke adiknya.


“Kak! ” Keyla dengan cepat memeluk Jefrie seraya menangis tersedu-sedu.


“Saya adalah Walinya disini, Jadi apa yang terjadi? Kenapa adik saya Ada di kantor polisi seperti ini? ” Tanya Jefrie dengan suaranya yang diusahakan agar terdengar sopan.


“Adikmu sudah menghajar babak belur putriku, bagaimana cara orang tuamu mengajar adikmu? Bagaimana bisa dia menjadi anak yang menyeramkan seperti itu?” Dengan kasar wanita paruh baya itu menghina Keyla.


Jefrie melihat sekeliling ruangan itu dan melihat beberapa gadis yang tengah meringis kesakitan.


“Apa kamu yang melakukannya? ” Tanya Jefrie dengan tatapannya yang serius menghadap Keyla.


“Bukan kak, Aku tidak melakukannya. ” Keyla menyangkal pertanyaan Jefrie.


“Lihatlah, gadis ini bahkan tidak mau mengakuinya. Hei, bocah. Kau tau, saat putriku membuka matanya yang dia lihat hanyalah kamu! Jangan mengelak dan katakan yang sejujurnya. ” Ucap wanita paruh baya yang sama, yang telah menghinanya tadi.


“Aku tidak melakukannya. Tolong percayalah padaku bibi, ” Ucap Keyla dengan nadanya yang sedikit meninggi.


“Hah, dasar gadis tidak sopan. Apa kamu menaikan suaramu padaku! ” Sentak Wanita itu. “Cukup! ” Jefrie yang sudah muak dengan ocehan wanita paruh baya itu, mulai menyentak di ruangan tersebut dan membuat semua orang diam.


“Lalu apa mau anda? ” Tanya Jefrie dengan sopan. “Ganti rugi! Anda harus membayar biaya rumah sakit putri saya sampai kulitnya kembali bersih. ” Ucap Wanita tersebut.


Dari pakaiannya, wanita paruh baya itu terlihat kaya dan mapan. Namun dari sikapnya, Crystal yang sedari tadi menonton perdebatan itu tertawa kecil seketika melihat sikap wanita paruh baya tersebut.


“Jika tidak. Maka Adik kamu itu akan di jebloskan di balik jeruji besi remaja. ” Imbuh Wanita paruh baya.

__ADS_1


“ Berap.... ” pertanyaan Alfaro terpotong karena munculnya seseorang dengan tiba-tiba.


“Bibi, ikuti Aku sebentar ya. ” Ajak Crystal yang tiba-tiba muncul dan menarik wanita paruh baya tersebut.


“Apa-apaan kam... ”


“Ikuti saya sebentar.... ” Ucap Crystal dengan senyuman yang tidak bisa diartikan.


Seolah dihipnotis wanita tersebut dengan patuh mengikuti Crystal.


Jefrie yang melihat kelakuan Crystal pun menautkan alisnya bingung.


“Mau apa dia?” Jefrie bertanya-tanya dalam benaknya.


Setelah beberapa saat, hal aneh terjadi. Wanita paruh baya tersebut kembali dengan senyuman lalu menarik laporan dan tuntutan, tak lupa pula meminta maaf pada Jefrie dan Keyla.


Setelah keluar dari kantor polisi, Keyla menceritakan kejadiannya. Gadis SMP itu juga tidak tau apa yang terjadi. Dia hanya melihat beberapa gadis tengah menangis di tempat pembakaran sampah di sekolahnya.


Secara tiba-tiba saja, beberapa gadis itu menuduh Keyla sebagai pelakunya. Dan semua akhirnya berakhir di kantor polisi.


“Lal bagaimana caramu meyakinkan bibi itu, Crystal ? ” Tanya Jefrie yang berbalik pada Crystal.


Yah, tidak masuk akal saja jika Crystal memang memberikan uang pada wanita itu, tidak akan semudah itu pula wanita paruh baya tersebut mau meminta maaf lalu pergi begitu saja, itu lah yang di pikirkan Jefrie..


“Ada salah satu anak lainnya menghampiriku. Sepertinya itu teman Keyla. Dia memberikanku sebuah Video bukti bahwa itu bukan kelakuan adikmu. Sepertinya orang itu memang sering membuli gadis-gadis tersebut dan menjadikan Keyla sebagai kambing hitamnya,” Jelas Crystal. “Aku menunjukan Videonya pada bibi itu, dan tidak lupa aku sedikit menghasut nya agar mau melepaskan Keyla.” Imbuhnya membuat Jefrie ragu untuk mempercayai nya.


“Kamu yakin? ” Tanya Jefrie Ragu. “ Iya. Buat apa juga aku bohong, ” Ucap Crystal.


“Terimakasih jika benar begitu. Keyla, ayo pulang.” Ucap Jefrie menyeret adiknya pergi. Namun, di tahan oleh Crystal.


“Apa lagi? ” Tanya Jefrie.


“Boleh aku menginap di tempat kalian? Aku tidak punya tempat tujuan. ” Ucap Crystal dengan mata penuh permohonan.


“ Boleh saja, dan ini sebagai rasa terimakasih ku. Tapi, apa tidak apa-apa? Rumahku sepertinya akan membuatmu sedikit jijik. ”


Sesampainya di rumah Jefrie. Crystal tidak keberatan jika harus tidur di lantai. Namun, baru saja turun dari taxi matanya di suguhkan dengan beberapa hinaan dari pemilik rumah yang mengarah pada Alfaro.


“Jika bulan ini kamu tidak membayarnya maka besok kemasi barang barangmu dan pergi dari sini. ” Ucap pemilik kontrakan dengan kasar dan pergi begitu saja.


Alfaro terlihat bingung saat itu dan mengacak-acak rambutnya sebagai bentuk rasa kesalnya.


“Apa kamu kakaknya Alfaro? ” Tanya Crystal setelah ada di dalam rumah Alfaro dan duduk saling berhadapan.


“Ya,” Jawab Alfaro singkat.


“Jika tidak keberatan, aku ingin meminta ban... ”


“Aku tidak ingin membantu siapapun, dan untuk apa aku harus melakukannya, hidupku saja sudah sulit” Sela Alfaro sebelum Crystal selesai berbicara.


“Tidak! Menurutku kakak harus melakukannya! ” Ucap Crystal dengan nada seriusnya dan membuat Alfaro menautkan alisnya

__ADS_1


“Karena hanya kakak, satu satunya orang dewasa di sini. Kakak harus mencari rumah untuk kita berempat tinggal. ”


Dan seperti itulah akhirnya mereka tinggal bersama. Alfaro merasa, Crystal sudah sangat membantu dirinya dan tentunya merasa berhutang besar pada Crystal.


__ADS_2