
Selama satu malam penuh Alfaro tidak bisa tidur dengan tenang karena telpon ancaman yang ia terima.
Ingin sekali menceritakan kejadian itu pada adik adiknya, namun ia tidak bisa melakukan hal tersebut karena mungkin akan menggangu waktu mereka, belum lagi ujian sudah dekat, dan tentunya mereka harus belajar.
Tidak bisa tenang, pada akhirnya Alfaro memilih untuk tetap datang ke kafe yang disebut kan oleh pe nelpon misterius.
Jalanan yang hendak di lewati oleh Alfaro kini banyak sekali orang yang bergerombol seperti sedang menonton sesuatu yang seru.
Karena penasaran dengan hal tersebut, Alfaro mendekati kerumunan itu dan melihat banyaknya darah yang bergenangan.
Matanya mengikuti arah genangan darah dan melihat seorang wanita yang tersungkur tidak berdaya dengan motor yang ia bawa menindih nya.
“I-ini ti-tidak mungkin. I-ini ti-tidak mungkin orang itu bukan?! ” Alfaro bergumam dengan perasaan campur aduk seraya meyakinkan dirinya bahwa orang yang tergeletak itu bukanlah pe nelpon misterius.
Alfaro berasumsi seperti itu karena ia melihat alat pengubah suara tergeletak hancur di dekat motor itu.
Di tahun itu tak banyak orang yang memiliki alat langka seperti itu.
Alfaro mengobrak-abrik tubuhnya mencari ponsel yang ia punya dan hendak menelpon nomer darurat.
__ADS_1
*
Sedangkan di rumah Crystal tengah membuka laptop nya dan mencari keberadaan Alice dengan pelacak yang ia sembunyikan di lipstik dan ia taruh di tas selempang nya.
Memakai alat perangkat suara yang ia selipkan di telinganya. Dengan sangat intens ia mendengar semua percakapan Alice saat di kamar.
“Daddy, Aku merindukan Mom, sekarang dia ada dimana, hm? ” Dengan suara manja yang di dengar Crystal dari suara Alice membuatnya sedikit geli dan mual.
“Hmm, itu, ibumu sedang dinas di luar negeri, jadi tunggu dia pulang sampai minggu depan, oke. ” Dan dengan sabar David menjelaskan kebohongan yang ia karang.
“Sangat aneh sekali, padahal baru bulan lalu aku bisa berbincang dengan Mom, dan katanya ia tidak memiliki perkerjaan apapun bahkan setalah aku sampai di rumah. ”
Walau tidak bisa melihat adegan itu, namun Crystal bisa mendengar pergerakan mereka dan menghayati saja membuatnya bisa melihat semua yang mereka lakukan.
“Apa yang kau lakukan, Crystal? ” Jefrie yang tetiba saja masuk ke kamarnya seketika terkejut dan langsung menutup Laptop yang ia pegang.
“Aku hanya menonton drama, apa kau mau ikut? ” Crystal menjawabnya dengan memberikan tawaran.
“Tidak perlu! ” Ucap Jefrie lalu duduk di meja belajar Crystal.
__ADS_1
“Kamu mau apa? ” Tanya Crystal seraya menghampiri pria itu.
“Hanya melihat pekerjaan yang kamu lakukan akhir akhir ini. ” Jawabnya sembari mengecek buku buku Crystal.
“Apa kau tidak mengerjakan apapun kemarin? ” Jefrie kembali bertanya setelah melihat buku Crystal yang kosong setelah catatan catatan sebelumnya.
“Maaf, aku hanya ingin istirahat kemarin. ” Crystal berkilah lalu kembali ke tempat tidurnya dan berbaring tanpa berpikir jika disana ada Jefrie.
Jefrie yang baru saja menyadari kamar Crystal begitu berantakan hendak membereskan nya.
“Jangan melakukan apapun dan keluarlah! ” Crystal berbicara dengan nada sedikit tinggi.
“Jangan seperti keyla dan bersihkanlah sekali kali! ” Begitu pula dengan Jefrie yang membalas perkataan Crystal dengan nada sedikit tinggi seraya melemparkan pakaian Crystal yang berceceran di lantai ke kasur.
Baru saja ingin melangkah keluar, kaki Jefrie kini tersangkut dengan pakaian lain Crystal yang tergeletak begitu saja, lalu Jefrie terpleset dan jatuh menindih Crystal yang ada di atas kasur.
Hup.
Untungnya tangan Jefrie dengan sigap menahan tubuhnya tersebut dengan bertahan di kasur yang empuk itu. Bibir dan bibir, hidung dan hidung, bahkan mata dengan mata mereka bertemu.
__ADS_1