Double : Face

Double : Face
24. Pencopet


__ADS_3

Deg


Detak jantung Crystal berdetak begitu cepat, ini pertama kalinya ia berhadapan dengan pria dengan jarak yang begitu sangat dekat, atau mungkin ini adalah kedua kalinya setelah kajadian di tangga dekat atap setengah bulan yang lalu.


“Inilah jadinya jika kamu tidak membersihkan kamarmu. ” Jefrie lebih dulu membuka suara setelah mereka lumayan lama bertatapan.


“Ah, minggir lah! ” merasa gugup Crystal berusaha Menjauhkan diri dari Alfaro, namun pria itu tidak bergerak sama sekali.


Mata Crystal kembali menatap Jefrie, namun kini tatapan itu terlihat tidak bisa di artikan oleh Crystal.


“Kak! kau menaruh tas selempang ku dimana? ”Teriak Keyla dari dalam kamarnya yang tengah mengobrak-abrik isi lemarinya.


“Kalian tidak ada bedanya. ”Jefrie berkata lembut lalu bangun dari menindih Crystal.


“Bersihkan kamarmu ini, terlihat seperti kandang sapi saja. ” Ucap Jefrie lalu keluar dan membantu adiknya yang tengah mencari barangnya.


Sementara Crystal, pipi gadis itu memerah seperti buah persik. Wajahnya terasa panas, namun saat di sentuh nya tidak panas sama sekali.


“Apa aku baru saja merasakan kasmaran? ” Gumam Crystal seraya memegangi pipinya yang menghangat.


*

__ADS_1


Di tempat lain, Alfaro yang baru saja merasa frustasi dan tidak tahu harus bagaimana lagi tengah berjalan dengan tatapan kosongnya di trotoar jalanan.


Banyak sepeda yang tengah melaju juga hampir menabrak pria malang itu.


“Tolong tangkap orang itu! Hei, dasar pencuri berhenti disana kau! ” Tetiba saja suara seorang wanita yang nyaring menyadarkan Alfaro.


Pria itu berbalik dan melihat Echa yang sedang mengejar pencopet yang juga tengah berlari menghindari Echa.


“Berhenti brengsek! Yak! ” Dengan keras Echa terus berteriak. Sedangkan si pencopet, semakin lari ia semakin takut saja jika sampai tertangkap oleh gadis itu.


Tidak menyerah Echa tetiba sama mengambil sebuah batu kecil yang tergeletak dan hendak melemparnya ke pencopet.


Melempar beberapa kali dan tetap saja tidak mengenai si pencopet. “Sialan, tau hal kayk gini bakal terjadi, aku akan lebih giat lagi berlatih. ” Echa menggerutu pelan seraya mengatur nafasnya dengan susah payah.


Setelah melihat orang lain yang malah asik menonton aksi kejar kejaran itu, Alfaro memutuskan untuk membantu gadis yang tengah empot - empotan itu.


Dengan sigap pria itu menghitung waktu dimana saatnya ia beraksi. 1 2 3


Alfaro menjulurkan kakinya yang panjang tepat di depan pencopet itu berlari dan Bugh.


Pencopet itu terjatuh dengan keras hingga dahinya tergores dan mengeluarkan sedikit darah.

__ADS_1


Paska berhasil menangkap pencopet itu dan langsung mengikatnya dengan tali sepatu yang ia lepas dari sepatunya langsung, ia melihat Echa yang sedang sibuk mencari batu lain yang akan ia gunakan untuk senjatanya.


“Aku sudah menangkapnya! ” Seraya mengatur nafasnya, Alfaro menyempatkan diri untuk memberi tahu Echa dengan sedikit berteriak karena tau kalau jarak merek agak jauh, namun.


“Akhh! ” Batu yang seharusnya mengenai kepala si pencopet kini malah mengenai mata Alfaro yang berharga. pria itu merasakan perih yang luar biasa pada matanya dan terus saja mendesah kesakitan.


Echa yang menyadari hal itu kini kalang kabut ketika melihat batu yang ia lempar mengenai orang lain dan bukan si pencopet.


Mampus aku!


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Gift nya donk 😁, jangan lupa di like dan koment ya 🥰


__ADS_2