Dunia Senja

Dunia Senja
01 perkenalan


__ADS_3

Perkenalkan namaku Aliesya mikaila ananddin biasa dipanggil aliesya atau caca, umurku 14tahun, tinggi 165cm berat badan 60kg, masih duduk dikelas tiga sekolah menengah pertama & sebentar lagi akan lulus serta melanjutkan kesekolah menengah atas. Aku adalah anak ketiga dari pasangan safaruddin usia 47thn & fitri yani usia 43thn, ayahku merupakan pemilik pabrik kertas dikotaku & ibuku adalah pemilik butik aliesya colection yang kebetulan diambil dari namaku, aku mempunyai dua saudara laki-laki yaitu bang fahmi rizky mauliddin biasa dipanggil bang fahmi, dia adalah anak nomer satu, usianya 23 thn, seorang Prajurit TNI AU, & abangku yang satu lagi bernama athallah bariq rasyiddin biasa dipanggil bang bariq, dia anak kedua, usianya 19thn sedang berkuliah jurusan tataboga& sebentar lagi ia akan menjadi master chef, masalah wajah kedua abangku memang tidak bisa diragukan karena mereka berdua memiliki wajah yang sangat tampan wajar jika mereka berdua digilai oleh para wanita, berbeda dengan diriku seorang gadis remaja yang sangat gendut bahkan setiap hari aku harus menerima ejekan & bulian dari teman satu sekolahku, beruntung masih ada seorang teman yang mau bersahabat baik denganku namanya ariani asyifa, kita bersahabat dari kelas satu sekolah dasar sampai kelas tiga sekolah menengah pertama.


Aku lupa tepatnya sejak kapan aku mempunyai postur sebesar ini, bahkan seingatku waktu masih duduk dibangku kanak-kanak aku mempunyai badan yang sangat mungil, ibu pernah bercerita karena badanku dulu terlalu kecil & kurus ibu memberiku obat penambah nafsu makan karena takut jika aku terkena busung lapar, efek obat itulah yang membuat nafsu makanku menjadi tidak terkontrol sehingga lama-lama membuat badanku menjadi melar seperti ini.


Saat berada diluar rumah memang sangat menyiksa batin & perasaan bagiku, berbanding terbalik saat aku sedang dirumah, itulah kenapa ada istilah sebutan rumahku istanaku, dirumah aku diperlakukan bak tuan putri, aku adalah anak kesayangan kedua orang tuaku bahkan kedua abangku juga sangat menyayangiku, wajar saja aku adalah anak perempuan satu-satunya, kedua orangtuaku & kedua abangku selalu memanjakanku karena bagi mereka aku tetap gadis kecil kesayangan mereka tak perduli segemuk apa & seburuk apa fisikku. Ya...aku rasa sampai disini saja perkenalan tentang aku & keluargaku.


Kembali lagi dalam aktifitasku beberapa hari sebelum ujian nasional, aku masi berada disekolah untuk mengikuti ujian praktek pengambilan nilai olahraga, saat ini aku berkumpul dengan teman sekelasku kelas tiga B, semua kelas tiga digabung menjadi satu hari ini mulai dari kelas tiga A sampai kelas tiga E, ujian praktek kali ini adalah lari maraton 2km, aku berdiri bersama para murid bersiap untuk berlari sambil mendengarkan aba-aba dari pak sugiono guru olahragaku.


****prrriiiiiiit\, " mulai " kata pak Sugiono sambil membunyikan peluitnya\, aku berlari dengan sekuat tenagaku\, ya walaupun langkah kakiku begitu berat\, aku masih terus berlari meskipun ujung-ujungnya aku pasti berada diurutan terahir bersama sahabatku asyifa.


" gendutttttttt, hahahahha " kata seorang murid yang berlari membalapku yang bernama Riki kelas tiga C.


Aku hanya cuek tidak memperdulikan siswa tersebut, sambil bergumam didalam hati, memangnya aku mau punya badan segemuk ini, hina aja sesuka kalian toh sebentar lagi kita gak bakal satu sekolah, semoga saja, lagian percuma diladenin.


" gendut glundung aja biar cepet sampe, lambat banget si, itu lari apa jalan santai, hahah " kata seorang siswa lain yang membalapku lagi yang bernama Caka kelas tiga C.


" gak sopan banget si kamu Caka, sana lari aja buruan gak usah ganggu Aliesya " kata Asyifa sambil mendorong tubuh Caka, " ngeselin banget si, sok sempurna ngatain orang " kata Asyifa lagi.


Aku hanya diam sambil menggeleng-gelengkan kepalaku bagiku meladeni orang-orang yang suka menghinaku tidak akan ada habisnya, dua lawan satu sekolah gak akan mungkinkan.


" kamu kenapa si Sya diem mulu kalo dibuli, mulai sekarang kamu harus lawan dong, bentar lagi kita udah mau SMA loh, masa iya kamu bakal terus diam kaya gini " kata Asyifa padaku yang masih dalam keadaaan berlari.


" ya aku harus ngelawan gimana si Fa, biarin aja si mereka ngebuli aku, minimal dosaku terkurangi karena hinaan mereka " kataku seadanya


" lagian aku emang gendutkan, jadi mereka gak salah ngatain aku gendut " kataku lagi


Selama bukan fisikku yang terluka bagiku masih aman-aman saja, aku gak mau ambil hati & ambil pusing terlalu mendramatisir seperti saat pertama aku mendaftar disekolah ini kejadian yang ngebuat aku bener-bener harus membiasakan diri dengan bulian dari pada bang fahmi yang harus maju menangani, bang fahmi datang kesekolah mendatangi semua murid yang berlaku gak baik sama aku bahkan dia sempet menghajar satu murid yang memang bener-bener keterlaluan menghina fisikku dengan sebutan **** hutan & mengatakan jika aku adalah anak pungut, seharian aku menangis saat pulang dari sekolah aku sempat berfikir kata-katanya benar kalau aku adalah anak pungut, karena fisikku sangat berbeda dari kedua abangku, aku hanya mengurung diri dikamar seharian saat itu, sampai saat bang fahmi datang & aku tak bisa menolak untuk bercerita kepadanya, mendengar ceritaku bang fahmi seketika mengamuk pada murid yang ngebuli aku, itulah pengalaman pertama sekaligus terahirku yang gak akan pernah aku ulang.


" kenapa kamu malah bengong sih Sya? " kata Asyifa yang membuat lamunanku seketika buyar


" kamu gak ada niatan nurunin berat badan kamu Sya, aku temanin kamu olahraga gimana? " kata Asyifa


" kamukan tau Fa, aku gak bisa nahan lapar, gimana mau nurunin berat badan coba, kamu sekarang malu ya temenan sama aku " kataku


" aku gak malu ko temenan sama kamu Sya, aku cuman kasian kamu dibuli terus, aku gak suka denger kamu dihina-hina, mana kamu gak bisa lawan pula " kata Asyifa


Mendengar kata-kata sahabatku ini membuat hatiku sangat tersentuh, tulus sekali dari sorot matanya kalau dia bener-bener peduli sama aku.


" eh ayo agak cepet dikit ni larinya Sya, kayanya tinggal kita ni yang gak sampe-sampe " kata Asyifa


Aku mendongakan kepalaku sambil memicingkan satu mataku, benar saja tinggal aku & Asyifa yang tersisa bahkan sudah tak satupun murid terlihat didepan kami, sebenarnya Asyifa bisa saja lari duluan didepan & harusnya dia sudah sampe dari tadi, dia justru lari santai dibelakang karena gak mau ninggalin aku.


Tiba-tiba aku stop & duduk selonjoran dijalan karena gak kuat lagi, nafasku hampir habis rasanya, Asyifa ikut duduk selonjoran disebelahku sambil cengengesan.


" kamu kesambet Fa, cengengesan gitu " kataku sambil menaikan alisku mencari jawaban

__ADS_1


" kamu capek juga, ko malah ikut duduk bukannya buru-buru lari " kataku lagi


"ahhhh gak asik kalo gak bareng kamu, biarin mah kita ditungguin, hihihihihi " kata asyifa


" kita pecahkan rekor lari terlama, maksutnya terlama sampenya, pak Sugiono juga pasti udah hapalkan sama kita, hahahahah " kata Asyifa bercanda.


" hapal banget Fa, hahaha " kataku ikut tertawa


" bisa meledak lagi ni pak Sugiono gara-gara waktu lari kita yang kelamaan, yang lainnya gak sampe setengah jam kita berjam-jam, hahahah, katanya ginini, Aliesya sama Asyifa kalian berdua lari apa ketiduran dijalan berjam-jam baru kembali " kata asyifa sambil menirukan gaya-gaya pak Sugiono


" nanti kita jawab ya Sya, anak SULTAN mah bebas, eaaaaaaaaaa " kata Asyifa lagi


" hahahaha, anak jaman now, emang kamu berani " kataku


" yu lanjut biar cepet sampe " kataku lagi


Aku berdiri membersihkan pasir yang menempel dicelanaku sambil membenarkan ikat rambutku yang mulai acak kadul, aku & Asyifa mulai berlari lagi melewati jalan berbatu, sekitar lima belas menit akhirnya kami berdua sampai juga digerbang sekolah terlihat pak Sugiono menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melihat menitan ditangannya, begitu sampai semua murid menyorakiku & Asyifa.


" kalian berdua larinya kemana si, lari 2km aja lama banget sampe satu setengah jam sendri " kata pak Sugiono


" lari dijalanan lah pak sama kaya yang lainnya, masa iya lari dari kenyataan " kata Asyifa, aku yang mendengar kata-kata Asyifa reflek menyikutnya.


" jawab aja kamu, ya sudah sana gabung sama yang lain " kata pak Sugiono


Pak Sugiono sepertinya agak marah, seharusnya waktu satu setengah jam bisa dilakukan dua sampe tiga praktek tapi gara-gara aku & Asyifa praktek cuma bisa dikerjakan sekali saja, ya mau bagaimana lagi emang aku payah dalam bidang olah raga.


" ingat ya ujian praktek olahraga untuk besok yaitu senam lantai, senam lantai terdiri dari apa saja anak-anak, roling depan belakang, sikap lilin & kayang " kata pak Sugiono"


" bapak rasa sampai disini saja pertemuan kita karena waktu sudah hampir habis ya, silahkan beristirahat jangan lupa jaga kesehatan, selamat siang " kata pak Sugiono lagi sambil membubarkan barisan, mendengar instruksi dari pak Sugiono kami semua berpencar dengan kegiatan masing-masing tetapi aku masih saja duduk meluruskan kaki bersama asyifa.


" aih padahal ujian praktek senam lantainya besok ya guysssss tapi ko ini sudah ada matrasnya ngejogrok disini, hahahha " kata seorang sisiwi cantik yang tak lain bernama Ayu sambil melirik kearahku, yang disebutnya matras itu maksutnya akukan, pikirku.


" bukan matras lah Yu, ini mah springbad, hahahah " kata teman perempuan Ayu yang tak lain adalah Indah ikut membuliku


" waduh, berati lebih gede ya ndah dari pada matras, hahaha " kata Ayu lagi


Aku hanya diam tak bergeming mendengarkan sindiran bulian kedua gadis yang wajahnya lumayan cantik yang berdiri di pojokku.


" heeeeehhhhhh, kalian berdua gak ada kerjaan apa ngatain orang, dasar sok cantik, gak ngaca kalian badan item muka putih dah kaya pake topeng aja kalian " kata Asyifa


" pergi gak, mending pergi deh dari pada ku cakar-cakar muka kalian yang kaya black forest dikasih krem putih " kata Asyifa sambil melotot kearah Ayu & Indah, seketika mereka berdua pergi dengan tampang cemberutnya.


" hahahahahhahahaha " aku & Asyifa tertawa bersama-sama melihat tampang aneh dua gadis tadi


" dasar topeng monyet, kamu liatkan Sya, tuh kulit tangannya item dekil mukanya bisa putih gitu,hahahahha, dah kaya cabe-cabean aja, mana bibirnya merah banget gincunya kaya habis ditabokin emaknya " kata Asyifa lagi, beruntung aku mempunyai sahabat seperti Asyifa yang selalu menjagaku dari para pembuli.

__ADS_1


Aku segera mengajak Asyifa kekantin karena merasa cacing diperutku sudah kelaparan berteriak menggigit usus-ususku minta diisi dengan beberapa makanan, aku sudah memesan dua piring batagor sesuai body aku gak akan kenyang kalo cuman makan satu piring & untuk minuman aku memesan dua gelas es teh manis, sedangkan Asyifa hanya memesan es teh manis & mengambil makanan ringan berupa snack kentang. Melihat aku makan dengan dua porsi atau lebih bagi asyifa adalah hal biasa karena seringnya kita bersama hanya saja murid lain pasti akan berkomentar pedas & mengejekku karena porsi makanku bak kuli bagi mereka.


" kamu gak makan Fa, cuman beli cemilan aja, emangnya gak laper? " tanyaku kepada Asyifa yang hanya dibalas dengan gelengan kepala & senyum saja


" apa uang sangu kamu kurang, kalo kurang biar aku yang bayarin, pesen gih " suruhku lagi padanya.


" aku ada uang kali Sya, ya kali aku gak dikasih duit sangu sama bunda, nih kalo gak percaya " kata Asyifa sambil mengeluarkan semua isi didalam kantong bajunya memperlihatkan uang bernominal lima puluh ribu satu lembar & dua puluh ribu satu lembar, lalu ia masukan kembali uang tersebut kesaku bajunya


" yakan, udah kamu makan aja kenyang-kenyang " katanya lagi sambil tersenyum


Aku terkadang sangat heran dengan orang-orang bertubuh kecil seperti sahabatku Asyifa ini karena tidak pernah merasakan yang namanya lapar berbeda denganku yang setiap jam selalu merasakan lapar bukan saja satu jam bahkan setiap menit & detik aku bisa mendadak lapar, setelah menghabiskan dua piring batagor & dua gelas es teh manis aku langsung berdiri membayar kepada ibu kantin. Setelah selesai membayar aku & Asyifa pergi kekelas matematika, salah satu pelajaran kegemaranku, disaat murid-murid akan merasa pusing memikirkan rumus aku dengan mudah menghafal & mengerjakannya, bahkan ada seorang murid yang berkata jika hanya otakku yang tidak tertutup lemak karena masih bisa berfungsi dengan baik.


Aku duduk dibangku ku tepat diseblah Asyifa menunggu dikelas meskipun bel pergatian jam belum berbunyi.


" kamu jadi lanjut ke SMANSA sya? " kata Asyifa padaku


" aku soalnya pengen satu sekolah lagi sama kamu " katanya lagi


" hem, pengennya sih Fa, tapi belum tau ya nanti bisa ketrima atau enggak " kataku


" aduh juara kelas masih minder aja takut gak ketrima, kalo kamu gak yakin gimana nasib aku yang rengking bawahan " kata Asyifa padaku


" lagian akukan bukan juara umum disekolah ini Fa, aku cuman juara kelas gimana mau percaya diri coba masuk sekolah favorit, lagian ujian juga belum udah mikir ngelanjut dimana aja Fa" kataku pada Asyifa


Asyifa hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil cengengesan mendengar kata-kataku, " belajar yang bener aja dulu kita Fa, siap-siap buat ujian biar lulus, kata bang Fahmi sama bang Bariq mah gak perduli masuk disekolah favorit atau engga yang penting lulus aja dulu " kataku lagi padanya.


" abang kamu the best banget si Sya, jadi pengen salah satunya deh, buat jadi calon suami masa depan " kata Asyifa sambil bergaya genit & mengedip-ngedipkan kedua matanya.


" dih ganjen emang, hahahah, kita masih kecil kali, masih dibawah umur udah mikir suami aja " kataku


" ya gakpapa lah Sya, ini demi masa depan yang cerah sama bibit andalan biar anak-anak aku jadinya bagus-bagus kaya tampang abang-abang kamu, hehehehe " katanya padaku


" tapi kalo bang Fahmi ketuan deh sama aku, umur kita beda 9 tahunkan sama bang Fahmi, tapi kalo dia mau sama aku juga gakpapa deh " katanya lagi padaku


" serah kamu ajalah Fa " kataku


" tapi aku boleh kan kalo jadiin salah satu abang kamu nantinya jadi suami aku dimasa depan, hihihi" katanya bertanya padaku


Aku hanya mengangguk tersenyum pada Asyifa, Asyifa adalah sahabat yang baik, wajahnya juga lumayan cantik, badannya kurus tinggi meskipun masih tinggi aku daripada dia.


" yes, jadi mulai sekarang aku bakal sebut nama abang kamu dalam setiap doa-doaku setelah selesai sholat, hehehehe " kata Asyifa kegirangan.


" eh, tunggu dulu, kamu boleh sebut nama abangku Fa tapi gak dua-duanya ya, kamu boleh sebut salah satunya aja okkkkk " kataku padanya


" kan gak mungkin dua-duanya jadi suami kamu, emang kamu mau poliandri, jiji kali aku bayanginya Fa " kataku dengan gaya bahasa ala-ala orang batak padahal aku bukan orang batak melainkan orang jawa_bugis.

__ADS_1


Asyifa terlihat mengerutkan dahinya tersenyum sambil berpikir, membuatku hanya bergeleng-geleng kepala.


" ya udah dari pada kamu bingung mending kita belajar aja yang bener, tunggu kita lulus SMP, baru deh kamu kejar salah satu abang aku sambil kamu pikir yang mana yang mau kamu sebut dalam doamu " kataku memutuskan, ia hanya menangguk menandakan setuju.


__ADS_2