Dunia Senja

Dunia Senja
#20 Aku


__ADS_3

Kota ini adalah kota dimana aku terbebas dari Bulian tetapi kota ini yang membuatku menjadikan terkurung seperti seorang tawanan, aku mulai memberontak tak menuruti perintah si boss, bahkan saat mbak Nugrah datang untuk menyampaikan perintah dari bossnya tersebut aku malah menghindar & meninggalkan mba Nugrah, aku benci dengan hidupku saat ini yang terlalu terkurung & seperti terkekang, bahkan aku merasa tak sebebas yang aku inginkan.


" non tolong dengerin saya dulu, saya cuman menyampaikan perintah dari boss saja untuk nona " (kata mba Nugrah yang berusaha mengejarku)


Aku tak menghiraukan mba Nugrah yang terus berjalan mengikuti jalanku dibelakang, aku tak perduli dengan si boss lagi bahkan jika saat ini aku di usir & disuruh pergi dari apartemen tersebut aku juga tak perduli, mungkin lebih baik aku hidup dijalanan jadi seorang gelandangan dari pada hidup di apartement mewah tapi aku tak tahu siapa & darimana asalnya hasil fasilitas yang aku nikmati, bahkan sampai saat ini batang hidungnya boss pun tak pernah aku lihat, ataukah mungkin boss adalah seorang pria tua yang suka menyimpan gadis muda sepertiku.


" non pleasen non, sudah hampir dua minggu nona gak ikut homeschooling, bagaimana dengan nilai sekolah nona nantinya " kata mba Nugrah


Aku seketika berhenti karena kata-kata mba Nugrah, aku menghadap kearah mba Nugrah yang sudah ikut berhenti, selama ini aku cukup menurut bahkan untuk mengikuti homeschooling yang sebenarnya tidak aku sukai karena aku lebih suka sekolah ditempat dimana seharusnya anak-anak seusia ku mengenyam bangku pendidikan, bertemu & bergaul dengan teman-teman seumuran ku meskipun dalam ingatanku sekolahan umum cukup membuat luka trauma mendalam di pikiranku.


" mbak maaf ya mbak, selama ini aku disuruh nuruti semua keinginan boss nya mba Nugrah, tapi mana dia?, mana?, sampe sekarang dia gak ada nemuin aku, dia anggap apa aku mba?, suruh dia temuin aku buat ngomong sendiri, jangan perantara mba Nugrah mulu, jangan sembunyi gini terus, dia gak pernah tepati janjinya buat nemuin aku, dia gak pernah tepati janji buat antar aku pulang kerumah orag tuaku, buat apa aku disini terus?, aku juga punya keluarga mba, aku punya orang tua, aku punya abang, aku juga punya teman yang pengen aku temuin, jangan terus-terusan bikin aku terkurung disini, sekalipun disini hidup ku terpenuhi " kataku panjang lebar mulai emosi.


" tapi non " kata mba Nugrah terhenti karena cepat-cepat ku celah


" aku gak ada urusan, kalo memang dia mau aku sekolah lagi suruh datangin sendiri aku " kataku


" hem ada apa ini " kata suara seseorang pria


Aku menoleh kearah suara pria tersebut yang tak lain adalah suara Zofin, ini untuk kedua kalinya Zofin muncul di apartemen tempatku tinggal entah kebetulan atau sengaja ia bisa berada ditempat ini lagi.


" kenapa ribut-ribut disini? " kata Zofin


" enggak papa kok, gak ada apa-apa " kataku


Zofin menatap kearah ku & kearah mba Nugrah, aku hanya diam ditempat berharap jika Zofin tidak bertanya lagi tentang apa yang sebenarnya terjadi denganku & mba Nugrah. Zofin menarik tanganku kearah kamar apartemenku kembali.


" eh mau kemana? " kataku


" udah ikut aja " kata Zofin


Zofin menarik ku masuk kedalam apartemen tepat disebelah apartemen tempatku tinggal, aku bertanya-tanya apartemen siapa sebenarnya ini, jika memang ini apartemen Zofin bagaimana mungkin aku tak pernah tau jika Zofin sebenarnya tinggal disebelah apartemen yang aku tinggali, & bodohnya aku baru menyadari sekarang, selama ini aku mengira Zofin selalu membuntuti ku, ternyata akulah yang salah menduga.


" silahkan duduk, mau minum apa? " kata Zofin


" gak usah repot-repot " kataku


" gak repot kok, nih " kata Zorin menyodorkan segelas coklat panas


" makasih, kamu tinggal disini? " kataku


" iya, kenapa? " kata Zofin


Aku mengangguk-anggukan kepalaku, tak berbeda dengan apartemen tempat ku tinggal sekarang apartemen tempat Zofin tinggal desainnya benar-benar sangat mirip dengan apartemen tempatku tinggal, mungkin semua apartemen di gedung ini didesain sama semua seperti ini pikirku.


" kenapa bengong? " kata Zofin menatap ku


" enggak papa, ini aku kok baru tau kamu ternyata tinggal disebelah aku " kataku lagi


Entah mengapa Zofin malah tersenyum karena kata-kata ku, mungkin saja karena aku yang tak pernah pergi keluar sendiri dari apartemen & hanya mengandalkan mba Nugrah saja, jika tak ada mbak Nugrah maka aku tak akan pernah keluar dari apartemen karena takut kesasar.


" aku yang kudet ama kuper deh kayanya ya, makanya sampe gak tau kalo kamu ternyata tetangga aku " kataku lagi sambil garuk-garuk kepala.


" enggak ko, aku juga jarang keluar, cuman aku emang sudah lama liat kamu tinggal disebelah " kata Zofin tersenyum

__ADS_1


" Ngomong-ngomong soal yang tadi kenapa? " kata Zofin lagi


Aku diam membisu menatap Zofin, kegaduhan yang ku buat tadi memang cukup mengundang perhatian orang lain jika saja ada orang yang tak sengaja lewat, untungnya saat ribut dengan mba Nugrah hanya ada Zofin yang kebetulan datang dari arah bawah.


" kalo kamu gak mau cerita gak papa kok, sorry ya " kata Zofin


" enggak-enggak, gak papa ko, lagian kayanya aku cuma punya kamu disini, eh maksud aku cuma kamu yang aku kenal disini " kataku


Aku berusaha menceritakan duduk permasalahan ku bisa ribut dengan mba Nugrah beberapa saat lalu diluar kamar ku. Sepertinya Zofin cukup baik sebagai seorang pendengar curahan hati yang sedang gundah gulana.


" jadi gini, sudah hampir satu mingguan ini aku gak sekolah " kataku


" kenapa gak sekolah? " kata Zofin


" ya aku bosen harus homeschooling, aku pingin sekolah kaya anak-anak yang lain disekolahan " kataku


" tapi kalo kamu gak sekolah gitu tar kamu mau jadi apa, pendidikan itu nomer satu buat kita, diluar sana banyak loh yang pengen sekolah tapi gak bisa sekolah karena gak punya biaya " kata Zofin


Aku menatap Zofin, mataku tiba-tiba panas mendengar kata-kata Zofin air mataku tak terasa menetes, mengapa kata-kata yang dilontarkan Zofin terasa sedih rasanya, diluar sana memang benar banyak anak-anak yang ingin sekolah tapi terkendala dengan biaya sedang aku yang tinggal duduk manis sekolah dirumah malah menyia-nyiakan kehidupanku.


" kenapa nangis? " kata Zofin menghapus air mataku


" omongan kamu tuh ngena banget tau, aku yang kurang bersyukur kayanya, udah dapat fasilitas yang enak malah aku sia-siain " kataku


" aku itu cuman kangen sama ibun sama ayah aku aja, makanya aku jadi ngambek gak mau sekolah, sudah sebulan lebih gak ketemu sama ibun sama ayah " kataku makin sedih


" cup-cup, jangan nangis ya, tar kamu pasti ketemu sama orang tua kamu kok " kata Zofin memeluk ku.


Tiba-tiba perasaan nyaman menghinggapiku, sudah lama tak merasakan kehangatan perhatian seseorang seperti ini, mengapa aku berpikir Zofin sangat familiar.


Aktifitas ku masih sama sebagai prajurit TNI AU yang sedang bertugas di pangkalan udara kota Makassar, aku masih disibukkan dengan beberapa aktifitas ku dalam menjaga keamanan daerah yang saat ini sedang ku pijak, mempertahankan keamanan suatu daerah merupakan salah satu tugasku sebagai seorang prajurit, suatu kebanggaan tersendiri bagiku menjadi barisan paling depan untuk menghalau segala kemungkinan yang akan terjadi untuk mempertahankan keamanan bangsa & negara ku.


Hari ini pagi-pagi sekali aku sudah berada di markas besar bersama ketiga temanku beserta anggota prajurit TNI AU lainnya yang sedang bertugas pagi tadi, sudah berjam-jam aku beserta prajurit lainnya memonitor beberapa wilayah sekitar kota Makassar menggunakan teleskop, keadaan wilayah masih tetap aman terkendali, meskipun begitu tetap saja aku beserta yang lainnya harus tetap waspada.


" jam berapa nih?, gila kenapa aku berasa ngantuk banget ya " kata Irwan yang sedari tadi memang terus menguap, memperhatikan Irwan yang memang terlihat mengantuk aku lantas tersenyum.


" jam 10 baruan brew, masa iya udah ngantuk aja? " kata Yudis bertanya seraya tak percaya.


" seriusan brew ngantuk berat ini " kata Irwan


" tuti gitu memang brow " kata Indra mulai membuka suara, diantara kami berempat memang hanya Irwan yang gampang mengantuk.


" Irwan Astuti " kata Yudis memlesetkan nama Irwan


" hahahahahahaha, asem, nama dibuatnya pake potong kambing selamatan tujuh hari tujuh malam maen ganti seenaknya " kata Irwan, kami semua tertawa karena kata-kata Irwan.


" lebay banget kamu brew, panan tujuh hari tujuh malam, buatnya semalam aja langsung jadi " kata Indra


" semp*k, otaknya menuju selakang*n lagi rupanya, hahaahahaha " kata Irwan, aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku sambil tersenyum mendengar perbincangan teman-temanku kali ini.


Mengobrol sambil bercanda seperti ini merupakan hal biasa yang kami lakukan disela-sela waktu yang senggang sambil mengisi waktu agar tak merasa bosan saat sedang bertugas, tetapi saat dihadapkan pada pekerjaan yang mengharuskan kami dalam keadaan untuk serius kami juga akan serius & fokus.


" Fah kamu udah PDKT belum sama caca?, gimana udah dapet nomernya belum? " kata Irwan yang tiba-tiba membahas tentang Syahilla seorang wanita cantik yang saat ini sedang berkuliah di kota Makassar di sebuah universitas jurusan Kedokteran.

__ADS_1


Beberapa minggu ini aku memang cukup aktif berhubungan dengan Caca atau Syahilla tepatnya, melalui media WhatsApp, sesekali saat sedang senggang aku melakukan Vidio call, itu pun saat barak sedang sepi, aku cukup mendapat respon positif dari Caca meskipun hubungan kami sampai saat ini masih belum jelas.


" jangan lambat-lambat lah kau brew, jaman sekarang cewek cepat lakunya, lambat sedikit kau, bisa di halalin orang dia " kata Yudis dengan logat bataknya.


Saat ini memang jamannya orang berpacaran ditikung oleh orang lain di jam sepertiga malam, lama berpacaran tak menjamin seseorang akan melangkahkan kakinya kepelaminan untuk menikah, karena wanita hanya membutuhkan yang bisa memberikan mereka kepastian bukan hanya janji.


" kaya dua pasangan artis yang lagi viral akhir-akhir ini ya brew " kata Indra menjawab.


" dih doyan juga kamu joy nontonin gosip artis, hahahah " kata Irwan sambil tertawa.


" hiburan lah cok, penasaran juga lah aku pengen tau yang mana orangnya " kata Indra menjelaskan.


" ya yang itulah cok, yang kaya manta aku " kata Irwan bercanda.


" mantan kau yang mana cok, mantan kau ada banyak masalahnya, bingung kita, hahaha " kata Yudis sambil tertawa


" ya yang itulah pokoknya, hahaha " kata Irwan juga tertawa.


Jika berbicara soal mantan, cuman Irwan lah yang memiliki deretan mantan terbanyak, Irwan yang menjuluki dirinya sendiri sebagai pecinta wanita tak bisa hidup tanpa seorang wanita, baginya wanita adalah penyemangat hari-harinya.


" jadi gimana brew? " kata Indra lagi bertanya padaku, aku menatap kearah Indra yang seolah-olah sangat penasaran dengan ku.


" sudah dapet sih nomernya, sesekali juga ngobrol lewat WA " kataku sambil tersenyum.


" terus sudah kamu tembak dia? " kata Irwan.


" belum lah, mana bisa baru kenal langsung main tembak, lagian kita berdua juga masih tahap mengenal diri satu sama lain kok " kataku, aku memang masih ingin mengenal Caca lebih dekat dari sekarang sebelum menyatakan perasaanku kepadanya, terlebih lagi seperti yang telah disampaikan Andre jika Caca tidak mau berpacaran karena masih ingin terus fokus dengan kuliahnya.


Aku rasa Caca bukan tipe seorang wanita yang mudah mendekatkan diri dengan seorang pria, dia tipikal wanita yang tertutup dengan lawan jenisnya, Caca bukan wanita yang mudah membuka hatinya untuk seorang pria yang sedang dekat dengannya, sehingga aku berpikir lebih baik aku berteman dulu dengannya sebelum menyatakan perasaanku saat ini.


" lambat sekali kau, tunggu apa lagi brew? " kata Yudis sambil menepuk bahuku sontak membuat ku menatap kearahnya.


" gak lambat lah, baru juga kenal dua bulanan, kenal deket juga belum " kataku menjelaskan, aku juga bukan tipikal seorang pria yang suka terburu-buru dalam mengambil keputusan terlebih lagi aku pernah dikhianati seorang wanita yang membuatku kali ini harus super berhati-hati dalam memilih pasangan.


" kamu itu suka beneran sama caca atau gimana sih brew? " kata Irwan.


" suka, tapi ya yang gak harus banget lah, kalo emang dia jodoh ku kita pasti bakal bersatu kok " kataku, kata orang tulang rusuk gak akan pernah tertukar, meskipun aku berusaha mati-matian mendekati caca tetapi jika allah tak menghendaki dia untukku, maka aku harus bilang apa, karena jodoh tetaplah ditangan allah.


" kamu masih normal kan cok? " kata Indra.


" masih " kataku singkat.


" alamak, datar kali kau, dimana-mana orang kalo dapat pertanyaan macam kau pasti bakal menjelaskan panjang lebar supaya orang lain percaya, ini kau cuman gitu aja " kata Yudis dengan logat bataknya kembali.


" ya kalian juga tau aku kan gimana, jadi aku rasa gak perlu aku jelaskan " kataku lagi, hidup bersama keempat teman ku selama bertahun-tahun di kota Makassar memang membuat mereka berempat cukup mengenal baik pribadi satu sama lain.


" ya kalo emang dia udah gak normal habis sita sudah digerayangi tiap malam, hahahaha " kata Irwan menjawab.


" najiiiiiiiis cok, hahahah " kata Indra tertawa.


" ih aku kok tiba-tiba merinding membayangkan, geli sendiri aku " kata Yudis.


" kenapa pula kau bayangkan poltak, kasian Fahmi kalau kau bayangkan, wajahnya ganteng-ganteng begitu ala ngondek, hahahahah " kata Irwan ikut-ikut logat batak ala-ala Yudis.

__ADS_1


Kami berempat tertawa bersama, beberapa tahun belakangan ini setelah lulus dari pendidikan ku aku memang menjomblo tetapi bukan berarti aku berubah menjadi penyuka sesama jenis, aku hanya perlu waktu untuk memulihkan hatiku & mencari wanita yang cocok untukku.


__ADS_2