
Aku duduk bersama kedua orang tuaku & salah satu abangku diruang keluarga, kami berempat berlesehan dibawah sambil menonton tv, menonton film kartun kesukaanku, aku & abangku berbaring bersebelahan sedang ayah & ibu duduk berdampingan diatas kami berdua, mulutku sedari tadi non stop mengunyah cemilan seperti halnya lambungku yang tak berhenti mencerna setiap makanan yang ku telan, hari ini adalah hari minggu kebetulan ayah sedang libur & butik ibu juga tutup setiap hari minggu, sedang abangku bariq masih dalam nuansa libur semester, hari minggu merupakan hari kami untuk menghabiskan waktu bersama, dulu setiap hari minggu enam tahun yang lalu biasanya kami seharian hanya menghabiskan waktu bersama diruang ini yaitu ruang keluarga sambil menonton film kartun & bercanda ria seperti ini dengan formasi lengkap yaitu kedua orangtuaku, kedua abangku & aku sendiri, lambat laun satu persatu abangku harus pergi karena kewajiban, abangku fahmi pergi menggapai cita-citanya & bekerja sebagai pengabdi negara, sedang abangku bariq harus berkuliah melanjutkan pendidikannya tersisa aku sendiri beserta ayah & ibuku.
"bun,...abang fahmi kapan pulang bun?" kata bang bariq, "lama kita gak ngumpul bareng, masa iya setahun sekali, tunggu lebaran baru bisa ketemu sih" kata bang bariq lagi.
"ibun gak tau abang,...coba abang tanya nih sama ayah" kata ibu
"iya ni yah,...aku kangen banget sama bang fahmi" kataku dengan mulut penuh dengan makanan
"sayang, kalo ngomong makanannya ditelen dulu caca" kata ayah
"eeemmmmmmmm" kata abangku sambil menarik satu pipiku, aku yang meraskan kesakitan langsung berteriak, "aaaaaaaaaaaa, sakit tau bang" kataku sambil mengusap-ngusap pipiku bekas dicubit abangku, sedangkan abangku hanya cengengesan.
"yah tolong yah, tuh abang bariq bolehin punya pacar biar gak ngisengin aku mulu, ini pipi aku lama-lama kendor ditarik-tarik gitu" kataku masih dengan wajah cemberut & satu tangan mengusap pipiku.
"bang jangan iseng gitu sama ade bang, itu pipi caca merah loh kamu tarik"kata ibuku
"emang bang bariq lagi naksir cwe bang?"kata ayah sambil melihat kearah abangku.
"ih mana ada yah,...lagian abang masih pengen fokus kuliah, lagian abang gak mau langgar aturan ayah, bang fahmi aja belum punya pasangan" kata bang bariq
Bang fahmi masih terus sibuk dengan pekerjaannya menjadi seorang militer sehingga tak memikirkan masalah percintaannya, mungkin saja luka dihatinya belum terlalu sembuh sehingga ia engga untuk membuka hatinya, kenapa menjadi orang dewasa itu sangat rumit pikiranku, masih diseputaran abangku fahmi yang tak kunjung membuka hatinya untuk perempuan lain, bukan karena ia tak laku tapi karena sifat cueknya saat ini tak pernah perduli kepada lawan jenis yang sedang mengantri mendekatinya, aku menghela nafas kasar ku.
"bang bariq sama bang fahmi mah sama aja yah, banyak yang deketin banyak yang kasih perhatian, banyak yang suka, banyak yang nyatain cinta, tapi ditolak semua, nanti giliran stok cwe cantik didunia ini habis baru nyahooo" katakaku
"hahaha,...sok tau" kata bang bariq sambil mengacak-ngacak rambutku, aku hanya diam pasrah mendapat perlakuan seperti itu, melihatku tanpa perlawanan abangku lalu memelukku mencium puncak kepalaku. "kamu itu harus tau de, fokus sekolah itu yang paling penting dari pada sibuk ngurusin pacar, ribeet" kata bang bariq
"bang bariq sok tau, kaya yang udah pernah punya cwe aja kamu bang" kata ibu senyum-senyum, sedang abangku yang mendapatkan jawaban telak dari ibuku hanya tersenyum & menggaruk-garuk kepalanya.
"lagian kenapa si yah ko abang bariq gak boleh punya cwe, kaya ayah dulu gak pernah muda aja" kata ibuku pada ayah, dulu ayah & ibuku adalah pasangan kekasih dari jaman sekolah menengah pertama, mereka berdua perpacaran dari kelas dua SMA sampai lulus sekolah, setelah berpacaran selama empat tahun akhirnya mereka menikah & mempunyai kami bertiga dengan jarak selisih umur yang berbeda-beda, mereka berdua hidup bersama dari ayah belum mempunyai apa-apa sampai akhirnya saat abangku fahmi berumur empat tahun & ibuku mengandung abangku bariq usaha ayahku berkembang, ayah pelan-pelan mendirikan oabrik kertas & merekrut kariawan, semakin lama pabrik ayah semakin berkembang pesat, hidup mereka berdua semakin mapan saat abangku bariq berumur lima tahun ibuku ternyata sedang mengandungku tanpa sepengetahuan mereka & selang beberapa bulan ibuku melahirkanku, aku lahir sebagai anak dambaan mereka anak perempuan yang diimpi-impikan & kebetulan saat aku lahir bertepatan dengan selesainya butik yang ayah bangun untuk ibuku sesuai cita-cita ibu ingin memiliki sebuah butik, maka butik itu diberi nama sesuai dengan namaku.
"bukan ngelarang si bun,...tapi ibun kan tau sendiri bang fahmi aja belum punya pasangan sampe sekarang bun, sudah enam tahun cuman fokus kerja-kerja, ayah cuman gak pengen bang fahmi dibalap sama adek-adeknya bun" kata ayah, saat ayah & ibu membahas tentang pembahasan serius seperti ini aku & bang bariq tak berani mencelah sedikitpun kami berdua hanya mendengarkan dengan baik kata demi kata yang ayah sampaikan, sejauh ini aku masih mengerti si, ayah hanya tidak ingin suatu saat salah satu dari kami akan mendapatkan jodoh lebih dulu dari abangku fahmi, apalagi sudah bukan menjadi rahasia kami jika abang fahmi menutup hati karena merasakan patah hati yang mendalam.
__ADS_1
"tapi menurut ayah itu adil gak buat mereka"kata ibuku, aku seketika hanya bisa saling pandang dengan bang bariq mendengar kata-kata ibu barusan.
"ayah gak ngelarang buat selamanya kan bun, lagian ini cuman sementara, tapi kalau suatu saat bang fahmi dapat pasangan mereka berdua juga bebas ko buat punya pacar asal tau batasannya" kata ayahku, mendengar jawaban ayah ibuku lalu tersenyum & mengelus-ngelus tangan ayah.
Sebagai seorang adik yang sangat menyayangi kedua abangku, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua, aku juga selalu mendoakan supaya abangku fahmi cepat mendapatkan jodohnya atau minimal mendapatkan cinta yang baru & membuka hatinya.
"ayah kita jodohkan aja bang fahmi sama anak temen kamu tuh yah, si reza kan anak gadisnya cantik yah, calon dokter pula, siapa namanya ya, kalo gak salah syahilla" kata ibu.
"gak ah bun, ibun tau sendiri anak ibun itu kaya apa, nanti kalo ditolak ayah yang gak enak sama reza bun" kata ayah
"umur bang fahmi sudah 23 loh yah,...sudah lama dia gak punya pacar, ibun gak mau abang fahmi jadi perjaka tua" kata ibuku.
"ibun yakin abang bakal jadi perjaka tua?" kata ayah lagi
Membahas tentang abangku yang satu itu pasti gak akan ada habisnya, karena sampai saat ini bangku itu hanya memilih menjadi jomblo akut tanpa melirik satupun wanita yang mendekatinya, tapi aku selalu yakin abangku pasti akan mendapatkan wanita yang baik untuk mendampinginya hanya saja saat ini ia belum mendapatkan wanita yang pas untuknya.
"abang lagi proses penyembuhan hati bun, yakin deh abang fahmi pasti bakal dapat pasangan yang terbaik" kata ayah meyakinkan ibuku, ibu hanya manggut-manggut sambil tersenyum percaya dengan kata-kata ayah, "caca besok udah mulai daftar sekolahkan?" kata ayah padaku, sekarang ayah gantian membahas tentang aku yang akan mendaftar kesekolah menengah atas, aku yang mendapatkan pertanyaan langsung menoleh kearah ayah, belum menjawab ayah kembali melanjutkan perkataannya, "besok daftarnya sama bang bariq aja ya sayang, ayah besok kerja, ibun juga katanya banyak orderan dibutik" kata ayah lagi.
"dua abangmu bisa jaga diri sayang gak bakal ada yang ganggu, kalo kamu itu cwe ayah takut nanti bakal ada yang ganggu kamu caca" kata ayah
"iya bener kata ayah mu de" kata ibu yang setuju dengan ayah, sebenarnya aku tidak setuju dengan ayah & ibuku walaupun aku tau yang dikatakan ayah itu benar, pasti ada saja yang akan menggangguku & membuliku tapi sebelumnya aku sudah mempersiapkan mentalku, sedari awal aku sudah menguatkan diriku dari para murid yang akan menjadikanku bahan perolokan mereka.
"is ayah gak asik ah,...nanti kalo aku daftar ditemenin gitu malah dikatain anak manja yah" kataku pada ayah, "aku sendiri aja ya bun,...lagian ada asyifa ko, bang bariq juga pasti pengen istirahat" kataku lagi, "bang,...abang pasti capek kan gak bisa temenin aku, jadi besok abang istirahat aja ya" kataku pada abangku karena tak kunjung mendapatkan restu.
"siapa bilang aku capek,...tenang aja yah besok caca aku yang temenin" kata abangku, jawaban abangku membuatku mendengus kesal, abangku gak paham banget si dengan pikiranku, menjadi objek bulian itu memang sangat menyakitkan tapi aku lebih gak ingin lagi jika aku didekati oleh orang-orang yang munafik dekat karena ada maunya, karena apa,....ya karena aku yakin jika aku pergi mendaftar bersama abangku mata cwe satu sekolah bakal tertuju ke abangku & ujung-ujungnya mereka akan mendekati abangku lewat diriku, menjadikan diriku objek supaya bisa mendekati abangku berpura-pura baik & memanfaatkanku, aku lalu menepuk jidatku, masalah baru lagi pikirku.
"kamu kenapa si de, gak seneng banget kayanya abangmu yang ganteng ini bersedia lo nganter kamu,...hehehehe" kata abangku sambil terkekeh, aku hanya melirik masih cemberut.
"caca kenapa sayang, kenapa gak mau ditemenin abang kamu beneran" kata ibuku.
Jika aku memberi tahu alasanku pasti tak akan merubah keputusan ayahku & lagi-lagi abangku tetap akan menemaniku, "kalo abang nemenin aku daftar pasti bakal tambah banyak lagi hati yang patah gara-gara bang bariq, yakin deh" kataku seadanya.
__ADS_1
"ye emang itu salah abang,...abang kan gak minta dilahirin seganteng ini de,...abang juga gak niat tuh bikin hati setiap cwe patah,...salah siapa coba, masih tetep mau nyalahin abang" katanya membela dirinya, ya memang si bukan salah abangku & bukan salah ibu mengandung, lalu siapa yang patut disalahkan gak mungkin menyalahkan tuhan,....aih itu mungkin salahku...ya salahku yang mikir & bertanya yang engga-engga.
"ibun sama ayah nyetaknya gak adil banget sih,...bang fahmi sama bang bariq dibuat bagus-bagus giliran ke aku aja habis adonannya tinggal sisa-sisanya aja, makanya aku begini" kataku sembarangan
"hahahahaha,..." semua tertawa karena kata-kataku, ayah mengelus-ngelus kepalaku, setelah tertawa ibuku berjalan entah kearah mana & kembali membawa sebuah album foto & kembali duduk lalu memperlihatkan lembaran demi lembaran foto yang berada dialbum tersebut.
"kamu itu cantik lo de, kamu liat deh foto-foto kecil kamu dulu" kata ibu sambil membolak-balikan lembaran foto yang terpampang rapi, memang aku sangat terlihat imut & cantik dulu tapi itu dulu bukan sekarang, abangku & ayahku ikut antusias melihat lembaran foto-foto nostalgia kita dulu semasa aku & abang-abangku masih kecil, "itu salah ibun sayang, caca bisa jadi begini sekarang, ibun yang terlalu takut kalo caca kena busung lapar dulu jadi ibun kasih suplemen nafsu makan buat caca" kata ibuku lagi, ibu lagi-lagi menyalahkan dirinya yang membuat badanku seperti ini, padahal badanku seperti ini bukan salah ibuku, seandainya saja aku bisa mengontrol makananku mungkin saja aku akan berhenti tumbuh kesamping seperti iklan susu & obat pelangsing.
"itu salah caca sendiri bun gak bisa jaga pola makan, apalagi dimasa pertumbuhan caca seperti ini, gak bisa kontrol makanan" kataku menghibur ibuku agar tak menyalahkan dirinya lagi.
Ini adalah salah satu foto masa kecilku saat masih berumur tiga tahun, disitu memang aku terlihat sangat imut, ku pandangi setiap inci wajahku, sebenarnya jika badanku lebih kecil dari sekarang mungkin aku juga akan menjadi gadis yang sangat sempurna seperti kedua abangku yang memiliki wajah yang sangat sempurana.
"ayo de abang bantu kurusin badan kamu,...kamu itu cantik lo de, mulai sekarang pola hidup sehat yo" kata abangku kepadaku, aku belum siap hidup dengan pola sehat apalagi harus meninggalkan makanan yang menjadi favoritku seperti es krim, hamburger, coklat & snack-snack ringan seperti kripik kentang dll.
"tapi kalo caca diet bang bisa lemes nanti mempengaruhi proses belajarnya disekolah, ayah gak mau caca gak konsen belajar, tar juga kalo udah waktunya bisa kurus sendiri, lagian caca juga masih kecil ko" kata ayahku, dimata ayah aku tetaplah gadis kecilnya walaupun aku sudah beranjak remaja.
"tapi yah ada benernya lo kata abang, tapi kalo caca gak siap nanti-nanti aja gakpapa de" kata ibuku.
"nanti caca pikirin, tapi kayannya caca udah nyaman dengan bentuk caca seperti ini" kataku karena sudah biasa dengan bulian.
"tar kalo berubah pikiran kasih tau abang, lagian abang bisa lo masakin menu yang enak buat orang diet dek" kata abangku, abangku memang calon chef tak heran ia tau jenis makanan untuk orang yang lagi dalam program diet.
Satu foto lagi ku buka, aku sedikit menyipitkan mataku saat melihat salah satu foto ini sambil mengingat-ngingat siapa anak kecil dibelakangku, alisku naik sebelah jari tanganku dikening masih tak dapat mengingat.
"kamu gak inget itu siapa" kata ibuku tersenyum
Aku hanya menggelengkan kepalaku karena aku memang tak sama sekali mengingat siapa anak kecil itu.
__ADS_1
"masa sih gak inget, itu zofin kali de temen deket kamu, yang ndempelin kamu kemana-mana dulu waktu kecil, sampe pernah nginep gak mau pulang, hahahahah" kata abangku, membuat aku semakin mencoba mengingat-ngingat tentang zofin walaupun ingatanku agak samar-samar zofin kebetulan anak dari sahabat ayah & ibuku, anak dari om himawan & tante sari, yang ku ingat aku gak pernah akrab dengan zofin aku malah agak sebal dengannya karena saat kecil ia selalu mengatakan pada teman-teman tk kami bahwa aku adalah calon pengantinnya saat dewasa nanti itu yang menjadi bahan perolokan teman-temanku pada masa kecilku, bahkan ia kemana-mana selalu mengikutiku & setelah itu kami berpisah saat kita masuk kesekolah dasar, saat itu kedua orang tuanya beserta zofin datang kerumah berpamitan untuk pindah keluar kota, sampai saat iniaku gak pernah tau keberadaannya.