
Aku berada dibarisan bersama seluruh siswa kelas tiga untuk mendengarkan pengumuman kelulusan setelah beberapa bulan yang lalu mengikuti ujian, jantungku berdetak sangat keras, aku sangat gugup mendengar hasil pengumuman, tanganku terus menggenggam tangan Asyifa, bukan hanya kita berdua saja yang gugup saat ini, aku rasa bahkan mungkin seluruh siswa kelas tiga kali ini jantungnya dag....dig...dug...dag...dig...dug....seperti irama musik bersautan.
Setelah mendengarkan pesan-pesan dari kepala sekolah pengumumanpun segera dilakukan.
" bapak rasa sudah waktunya bapak umumkan & dari hasil ujian yang telah kalian kerjakan kalian semua dinyatakan LULUS 100% & selamat melanjutkan kesekolah yang sudah kalian rencanakan sebelumnya, trimakasi " kata pak Mariono sebagai kepala sekolah.
Kami semua bersorak " horeeeee " kegirangan karena akhirnya kami LULUS.
Setelah selesai pengumuman aku & Asyifa memutuskan untuk segera pulang, kami berjalan menuju pintu gerbang menunggu jemputan, tak lama mobil putih yang sangat ku kenal stop didepanku, seorang pria mendongakan kepalanya keluar untuk menyuruhku masuk, Asyifa tersenyum kegirangan melihat seseorang tersebut, bagaimana ia tak kegirangan kali ini yang menjemputku adalah bang Bariq, abangku ini sedang libur semester & untuk beberapa minggu kedepan ia akan berada dirumah.
" ayo de " katanya
" abang " teriakku yang merasa rindu karena sudah hampir setahun dia hidup mandiri di Jogja untuk melanjutkan pendidikannya.
" caca jangan teriak-teriak gitu ah, abang belum budek de " kata abangku
" hallo bang " kata Asyifa menyapa abangku, abangku hanya mengangguk & membalas senyum.
Aku segera menawarkan tumpangan kepada Asyifa karena jemputannya tak kunjung datang, " mau bareng gak Fa? " kataku pada Asyifa.
Asyifa masih terlihat berfikir sambil melihat jam ditangannya, "emmmm, mang boleh, kan rumah kita gak searah? " katanya sambil melirik kearah bang Bariq , menanti jawaban kaya lagu, hehehehe.
Aku mengerti maksut Asyifa ia lebih gak enak sama sisupir, maksutnya abangku kalau harus mengantarnya kearah lain, aku lalu bertanya kepada bang Bariq, " gimana bang, boleh gak ikut temen aku? " kataku pada abangku.
Ia hanya sekilas memandang kearah Asyifa lalu melihat kearahku tersenyum & mengangguk, karena sudah dapat persetujuan dari abangku aku tersenyum & buru-buru mengajak Asyifa masuk kedalam mobil yang dikendarai abangku, aku duduk didepan disamping abangku sedangkan Asyifa duduk dikursi tengah, tentu saja dibelakangku agar ia bisa lebih leluasa memandangi wajah bang Bariq.
" gimana Ca, hasil pengumumannya? " kata bang Bariq padaku
" alhamdulillah kami lulus 100% bang " kataku, mendengarkan jawabanku bang Bariq hanya mengelus rambutku & tersenyum lalu menarik satu pipiku dengan satu tangannya
" aaaaaauuuuuuwwwww, ini sakit loh bang " bang Bariq menjadi tertawa karena aku mengeluh kesakitan, "issss, abang ni, adenya lulus bukannya dikasih selamatke, disayangke, malah dicubit kek gini " kataku sambil menyilangkan tanganku.
Asyifa yang menyaksikan keakrapanku dengan bang bariq hanya kaget tak bergeming, ia pasti tak menyangka abangku yang super duper cuek dengannya bisa berlaku seperti ini padaku.
" dih, ngambek? " kata bang Bariq
Aku masih mode diam saja dengan memonyongkan bibirku & memalingkan wajahku kearah luar kaca mobil.
" yah, gitu aja ngambek sih " kata abangku, aku masih tak menjawab.
" yaudah maaf deh, abang kangen tau " katanya lagi
Aku langsung menoleh kearah bang Bariq yang tersenyum melihatkan deretan giginya yang putih bersih & rapi.
" aku gak mau maafin abang ya, kalo gak traktir aku es krem dulu " kataku sengaja memalak abangku hihihi.
" yah, dipalak lagi nih, abang ni masih kuliah lo de belum punya kerjaan masa ade tega sih malakin abang " katanya memelas
" yaudah deh abang traktir es krem sepuasnya, yang penting abang dimaafin ya " kata bang Bariq lagi tersenyum kearahku.
Aku tau abangku ini tak akan pernah menolak apapun permintaanku, aku langsung tertawa kegirangan memeluknya yang masih fokus menyetir, " makasi abang, terbaik deeeeeeehhhh " kataku
" ehhhhh, ehhhhh, main peluk aja, uda ah, abang nyetir ni, lagian abang juga tau kalo abang ini memang terbaik " katanya songong
" temen kamu mau dianter pulang apa mau diajak sekalian? " kata abang bertanya padaku.
" gimana Fa ikut gak? , ikut aja ya, rugi loh kalo kamu gak ikut, pumpung ditraktir nih ama abang akyyyyuuu, anggep aja kita ngerayain kelulusan kita " kataku penuh harap.
" beneran boleh ikut nih? " kata Asyifa bertanya
__ADS_1
" boleh dong " kataku singkat sambil tersenyum,
" ok bang cussssss kita makan es krem habis itu baru antar Asyifa pulang " kataku.
Tak menunggu lama kami akhirnya sampai disebuah kafe & duduk dibangku kosong, seorang waitress yang lumayan cantik tinggi putih menghampiri membawakan buku menu, terpampang beberapa menu es krem dengan beraneka rasa lengkap dengan picturenya, aku masih sibuk memilah-milah, bingung memilih karena menurutku semuanya pasti enak & gak mungkin aku memesan semuanya karena itu pasti akan membuat kantong abangku seketika bolong alias menguras isi kantongnya, hahahaha.
" yang mana de, ini mbanya kasian lo berdiri lama nungguin " kata abangku
" bentar bang aku bingung " kataku masih fokus ke menu
" kamu pesen apa Fa? " kataku pada Asyifa.
" aku yang ini aja deh, yang rasa coklat " kata Asyifa berkata pada waitress didepan kami sambil menunjukan picturenya.
" aku juga yang itu ya mba " kata abangku
" jadi dua ya kak yang ini " kata waitress tersebut, abangku hanya mengangguk saja.
Ada dua pilihan yang gak bisa aku pilih salah satunya, lalu aku melirik kearah abangku, ia langsung tau kalau aku mau kedua-duanya, " yang ini, sama yang ini ya? " kata abangku menunjunk memastikan pilihanku, aku lahanya mengangguk
" mba ini ya dua-duanya " kata abangku.
" yeeaaaahhhhh, maaaaaaaaaaacciii abang " kataku, dengan ala-ala manjaku sambil memeluknya, membuat mba-mba waitressnya tersenyum melihat tingkahku.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pesanan kami datang juga, diletakan diatas meja oleh mba waitress empat porsi es krim yang porsinya lumayan besar.
" silahkan dinikmati kakak, ade-ade " kata waitress yang tadi sambil tersenyum, lalu pergi meninggalkan meja kami.
Aku langsung memasukan satu sendok es krem kedalam mulutku, " eeeemmmmmmmm " kataku
Mataku berbinar-binar saat merasakan nikmatnya es krem yang meleleh didalam mulutku,
" enak kan bang? " kataku meminta pendapatnya.
" hemmm, enak tapi kamu cobain punya abang deh, enak juga loh " kata abangku pada ku
" aaaaaaaaa " kata abang menyuapiku, aku langsung membuka mulut melahap satu sendok es krem yang disuap oleh abangku.
" iya enak juga ya bang " kataku pada abangku
" Fa, mau gak ni cicip punya aku " kataku pada Asyifa, ia hanya menatapku diam, karena tak ada jawaban darinya aku langsung menyodorkan satu sendok es kedepan mulutnya
" aaaaaaaaa " kataku ia langsung membuka mulutnya, seketika wajahnya langsung memerah.
*******Pov Ariani asyifa
Aku hanya bisa duduk diam sambil menikmati es krim didepan mejaku, memperhatikan keakrapan dari satu-satunya sabatku dengan abangnya yang menurutku sweet banget, mendadak aku baper, pengen juga rasanya punya abang seperti abangnya Aliesya pikirku, siapa sih yang gak pengen punya seorang abang yang perfect banget, gantengnya dapet, sweetnya dapet, sayang pula sama Aliesya, aku lalu mendengus membuang nafas mengingat tentang diriku, " boro-boro mau sweet gitu sama Andra, Andra jailnya minta ampun, saban hari cuman bikin aku kesel " gumamku dalam hati.
Sayang banget aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, adikku masih duduk dikelas lima sekolah dasar namanya Muhammad Deril Andra biasa dipnggil Andra, Andra berumur 10tahun dia adalah adik laki-laki yang nakalnya gak ketulungan menurutku, ya walupun begitu aku tetap sayang dia meskipun Andra suka jail padaku.
Aku terus melihat kedekatan kakak beradik dihadapanku, ya....Aliesya & bang Bariq yang lagi suap-suapan es krem, mau juga rasanya disuapi bang Bariq, hatiku rasanya langsung meleleh membayangkan bagaimana rasanya disuapi es krem oleh bang Bariq.
" nih org sama adeknya aja sweet banget apalagi sama pacarnya coba " gumamku dalam hati, rasanya aku makin klepek-klepek sama bang Bariq
" ya allah boleh gak kalau aku sebut namanya dalam setiap doaku, bukannya aku gak tau diri ya allah, aku mah sadar muka aku gak bakal cocok kalo disamping bang Bariq tapi ini demi meraih kehidupan yang baik, tuh dia aja sayang banget sama adeknya apalagi sama pasangan masa depannya, eh tapi maafin aku ya allah masih kecil mikir nikah, tapi please bang Bariq jodohkan sama aku ya, janji deh gak bakal nakal-nakal " gumamku lagi dalam hati sambil sesekali melirik ke bang Bariq.
Seketika lamunanku membuyar saat sahabatku Aliesya menyodorkan satu sendok es krim tepat didepan mulutku
" itu sendok bekas mulut bang Bariq oh my god " gumamku dalam hati, mendadak aku speechless & hanya menurut membuka mulutku lalu ku lahap, aemmmmmmm, blesssss wajahku seketika merah merona memerah seperti udang rebus, aku berusaha menutupinya dengan menundukan kepalaku, teringat sendok yang digunakan menyuapiku bekas menyuapi bang Bariq, itu artinya secara gak langsung aku sudah merasakn bibir bang Bariq.
__ADS_1
******Aliesya
Telahku habiskan dua porsi besar es krem dihadapanku tanpa sisa, tapi rasanya perutku juga belum merasakan kenyang, bang Bariq mengeluarkan beberapa lembar uang & diberikan kepada waitress yang membawa bill.
" mba tolong bungkusin big burger ya, lima tolong yang dua dipisah " kata abangku sambil tersenyum kearahku, aku tau abangku memesan itu untukku mataku berbinar-binar seperti mendapatkan emas permata senyumku mengembang sangat lebar seketika.
" tiga porsi dibungkus cukup atau kurang? " kata abangku padaku
" yang dua bungkus buat temen kamu " katnya lagi, aku hanya saling pandang dengan Asyifa.
" eh aku kebanyakan alah bang dua, satu aja gak habis, ini aja udah kenyang makan es grem, nanti perut aku bisa meledak " kata Asyifa buru-buru menjawab membuatku tertawa.
" bang ni sahabat aku makannya gak sebanyak aku bang, liatlah badannya, janganlah abang bandingkan dengan porsi makanku, hahahahha " kataku pada abangku
" tapi tiga porsi big burger buat ade cukupkan? " kata abangku menanyakan hal yang sama lagi, aku hanya mengangguk & tersenyum.
Tak lama mba-mba waitress yang sama datang memberikan dua bungkusan pesanan abangku tadi.
"nih, abang tau kamu pasti belum kenyang, tapi makannya dirumah aja ya " kata abangku padaku
"maaaccccciiii abang baaayyyyiiiiikkk " kata ku sambil memeluk abangku.
" ini buat ade kamu aja kalo emang kamu gak mau makan, kata Caca kami punya adekan? " kata abangku pada Asyifa.
" eh, anu, iya bang, makasi ya " kata Asyifa sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang sudah pasti tidak gatal, hihihi....sedang abangku hanya mengangguk tanpa berekspresi lalu masuk kedalam mobil.
Kami bertiga segera pulang, setelah mengantarkan sahabatku Asyifa, aku & abangku segera melaju pulang menuju rumah, tidak menunggu lama mobil yang dikendarai abangku sampai juga digarasi rumah, kami berdua segera turun & masuk kedalam rumah, saat ini dirumah sudah ada ibu, beliau hari ini sengaja tidak pergi ke butiknya untuk menunggu kabar hasil pengumuman kelulusanku dirumah.
" ibunnnnn " kataku berlari kearah ibuku
" yeeeeaaaayyyy aku lulus loh bun " kataku lagi sambil memeluk ibuku.
" Alhamdulillah, aduh selamat ya sayangnya ibun, aduh gak lama jadi murid SMA ni anak ibun, udah gadis aja " kata ibuku sambil berkaca-kaca.
" ibun si ade baru mau masuk SMA aja ditangisin si bun, dia bukan mau merid terus pergi kali bun, hihihi " kata abangku.
" husssstttttt, kamu nih bang sembarangan ngomong, lagian ibun kan gak ada bilang kalo ade kamu mau merid bang orang masih kecil, ibun cuman terharu gadis kecil ibun bentar lagi jadi gadis dewasa, aduh bakal kurang ni nanti waktunya buat ibun, apalgi kalo dia bakal punya pacar " kata ibuku.
" dih apaan, ga ada pacar-pacar ah bun, aku aja dulu sampe sekarang gak pacaran, lagian Caca tetep aja masih kecil " kata abangku pada ibuku
" denger ya de kalo abang tau kamu deket sama cowo abang yang maju duluan, pokonya gak ada pacar-pacaran kamu masih kecil, abang gak iklas kamu punya pacar " aku hanya melongo mendengarkan perdebatan ibuku & abangku.
" ibun sama abang apaan si, kaya aja ada yang mau sama aku, ih kesel deh " kataku sambil menyilangkan tangan
" abang juga, kenapa posesif banget si, ngalah-ngalahin ayah aja, ayah aja belum tentu ngelarang, itupun kalo ada yang mau sama aku " kataku.
"eh siapa bilang ayah gak posesif, apalagi kamu kesayangan kita, berani langgar, hihihi " kata bang bariq sambil meringis, ya benar saja ayahku adalah sosok pria tegas jika ia sudah berkata A maka tidak akan diubah menjadi B.
" kamu seriusan bang sampe sekarang masih jomblo, kamu itu ganteng lo bang " kata ibu pada abang mengalihkan pembicaraan karena kata-kata abang
" apa kamu lagi backstreet ya bang, udah ngomong aja sama ibun, janji deh gak bakal bilang sama ayah " kata ibu
" abang gak boong kali bun, abang emang jomblo, lagian kan ibun tau sendiri ayah sudah bilang gak boleh pacaran dulu sebelum lulus kuliah & kerja " kata bang Bariq
" lagian bang Fahmi aja sampe sekarang masih jomblo bun " kata bang Bariq lagi
Ayah melarang bang Bariq untuk mempunyai pacar selain ia harus fokus kuliah ada satu lagi hal penyebab larangan itu, ya karena abangku Fahmi sampai saat ini enggan untuk memiliki pasangan, dulu dia pernah punya pacar, mereka berpacaran dari kelas satu sampai kelas tiga SMA nama gadis yang beruntung mendapatkan hati bang Fahmi adalah Olive, tetapi saat bang Fahmi lulus & memutuskan mendaftar dirinya menjadi anggota TNI seperti cita-citanya & ternyata bang fahmi lolos, disaat itulah hubungan mereka renggang, bang Fahmi harus mengenyam pendidikan TNInya & harus berpisah jarak & waktu dengan mba Olive yang berkuliah disaat itulah mba Olive menghianati cinta abangku, awalnya bang Fahmi tak pernah percaya dengan aduan abangku Bariq yang selalu memergoki mba Olive berjalan berdua dengan seorang pria, lalu bang Fahmi menyuruh bang Bariq menjadi mata-mata bang Fahmi & memintanya membawakan barang bukti, & benar saja bang Bariq berhasil membawakan vidio rekaman kemesraan mba Olive dengan seorang pria dari jarak jauh, disaat itulah bang Fahmi memutuskan cintanya dengan mba Olive & sampai saat ini setelah jalinan asmaranya kandas bang Fahmi tak kunjung memiliki tambatan hati.
__ADS_1