Dunia Senja

Dunia Senja
15. sadar


__ADS_3

Aku baru bangun dari tidurku bukan tidur si tepatnya aku baru siuman dari pingsanku entah sudah berapa lama aku gak sadarkan diri & tiba-tiba sudah berada diruangan bercat putih yang sepertinya ini adalah rumah sakit ruang VVIP karena ku lihat tanganku sedang diinfus, sedikit ku ingat beberapa saat tadi aku mengalami kecelakaan, baru ku rasakan sekujur tubuh ku ngilu semua. Ku lihat dua pria memakai kemeja formal berdiri didepan pintu, aku sama sekali tak mengenal siapa mereka. Ku lihat jam didinding menunjukan pukul 11.00 sepertinya belum terlalu lama aku berada disini karena sinar matahari dari luar masih nampak dari sisi jendela yang hampir menyilaukan mataku, aku berusaha bangun untuk menyandarkan badanku padahal baru beberapa jam aku berbaring tapi rasanya berbaring begini melelahkan.


"maaf nona tolong jangan terlalu banyak bergerak" kata salah seorang pria yang tadi berdiri dipintu & telah berada disebelahku, "iwan segera kabarin bos kalau nona sudah siuman" katanya lagi


"ok,...kalau gitu aku keluar dulu mau kasih kabar bos" kata salah satu pria yang lainnya sambil melangkah keluar.


"maaf kalau boleh tau siapa yang kalian panggil bos, apa itu ayahku?" tanyaku penasaran, setauku ayah gak mungkin menyewa orang hanya untuk menjagaku dirumah sakit seperti ini justru dia pasti akan turun tangan sendiri menjagaku bersama ibuku.


"maaf nona saya belum bisa memeberi tau nona, sebaiknya nona istirahat saja dulu" katanya lagi sambil melangkah menjauh dariku.


"tunggu" kataku mencegah langkah pria tersebut, "pak bisa bantu aku duduk, badanku tambah sakit rasanya cuman berebah seperti ini" kataku lagi.


Pria tersebut mendekat & membantuku untuk menyandarkan tubuhku, rasanya seperti ini agak mendingan sih dari pada berbaring.


"pak, bisa aku tanya sesuatu lagi" kataku lagi.


"nona sebaiknya anda jangan banyak bertanya dulu, aku akan memanggil dokter dulu untuk memeriksa keadaanmu sudah dari kemarin nona gak sadarkan diri karena pingsan & baru siuman" katanya.


"apa" kataku kaget, aku gak salah mendengar si sepertinya, sudah satu harian aku pingsan & baru sadar pantas badanku rasanya sudah lelah berbaring disini, apa ada yang parah dariku sampai aku baru sadar sekarang, apa keluargaku sudah tau aku berada disini.


"pak apa bapak liat hpku" kataku lagi, aku hanya ingin memberi tahu keluargaku kalau aku berada dirumah sakit saat ini, aku yakin saat ini ibu & ayah sangat hawatir denganku.


"maaf nona kami gak menemukan hp atau apapun, kalau begitu saya keluar dulu ya nona, saya harus memanggil dokter untuk memeriksa nona" katanya lagi & menjauh melangkah keluar.


Ponselku pasti terjatuh waktu aku ditabrak kemarin, jadi gimana caranya aku ngubungin keluargaku kalau ponselku hilang, aku bahkan gak hapal satupun nomer diponselku itu, tapi ini PPU ayah pasti dengan gampang bisa nemuin aku.


Aku memperhatikan sekujur tubuhku, saat ini aku sudah gak memakai baju seragam sekolahku lagi sekarang aku memakai baju piama tidur motif hellokitty motif kesukaanku, kuperiksa badanku, dari kaki, tangan bahkan jari-jariku juga ku gerakan semua untuk memastikan gak ada yang serius karena insiden kemarin hanya saja ada beberapa lebam & luka lecet dikaki serta tanganku. Jika ayah & ibu mengetahui aku kecelakaan pasti mereka akan sangat hawatir & menunggu semalaman disini tanpa meninggalkanku sedikitpun, aku yakin ayah & ibu masih mencari kebaradaanku saat ini.


Setelah beberapa menit akhirnya pria setengah baya tadi kembali bersama seorang dokter, dokter ini dengan sigap memeriksaku, sepertinya keadaanku benar-benar baik-baik aja, kuperhatikan dokter yang memeriksaku ini masih cukup muda sepertinya seumuran dengan bang fahmi.


"bagaimana de ada yang sakit atau ada yang dikeluhkan?"kata pak dokter, aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku, sebenarnya si kakiku sepertinya agak terkilir, sedikit sakit tapi gak parah si aku rasa.


"ini cuman kaki aku kayanya keseleo deh dok" kataku


"eeemmmmmm....nanti saya kasih obat penghilang nyeri ya, ok....kalau gitu nanti siang adenya sudah boleh pulang ya, nanti suster kesini buat ngelepas infusnya" kata dokter itu lagi, "kalau begitu saya tinggal dulu ya" kata dokter tersebut berpamitan aku hanya mengangguk & lagi-lagi pria setengah baya tadi ikut pergi bersama dokter tersebut.


Aku terus bertanya-tanya aku berada disini & mengalami kecelakaan tapi gak ada yang menghubungi keluargaku & mencari tau tentang siapa aku & dimana keluargaku. Tapi bagaimana mereka mau mencari tau siapa aku & keluargaku kalau gak ada yang tau identitasku bahkan ponselku yang jadi satu-satunya untuk mengabari keluargaku malah gak tau jatuh dimana, tapi syukurlah aku sudah boleh pulang nanti, tapi aku gak tau arah jalan rumahku, pikirku.


Dua pria paruh baya tadi masuk lagi kedalam ruanganku, pasti mereka berdua adalah suruhan dari orang yang menabrakku pikirku, dua orang ini pasti diutus buat ngejaga aku disini.


"nona sebentar lagi nona akan pulang"kata salah satu pria yang bernama iwan kalau tidak salah dengar tadi, dia agak muda dari pria satunya sepertinya umurnya sekitar 30tahunan.


"om panggil aja aliesya"kataku, "sebenernya aku juga sudah gak betah disini" kataku lagi.


"maaf nona, kami berdua gak bisa manggil nona dengan sembarangan"kata pria yang seumuran dengan ayahku.

__ADS_1


"hmmm,....tapi aku gak nyaman dipanggil nona, oh ya pak nama bapak siapa?" kataku bertanya kepada pria yang seumuran dengan ayahku.


"perkenalkan nona nama saya jaja, panggil saja pak jaja & ini keponakan saya iwan" katanya memperkenalkan diri.


"ok pak jaja & om iwan aku perkenalkan lagi namaku aliesya umur 14thn kelas satu SMA" kataku memperkenalkan diri.


Dua pria dewasa dihadapanku ini hanya manggut-manggut saja tanpa berkata apa-apa. Pintupun terbuka lagi rupanya suster yang datang, sepertinya suster kesini karena perintah dokter tadi untuk melepaskan infus ditanganku.


"sus, ini kalo habis dilepas aku langsung boleh pulangkan" kataku.


"iya de, adeknya udah boleh pulang ko" katanya sambil melepas infus ditanganku.


Setelah terlepas infus ditanganku suster segera pergi & menyerahkan berkas-berkasku sebagai tanda aku boleh pulang, tapi aku bingung aku harus pulang kemana, atau aku harus kekantor polisi untuk mengantarkan aku pulang. Om iwan membawakan kursi roda untukku, kakiku memang agak sakit ada bagusnya aku duduk sambil didorong dikursi itu.


Aku sudah duduk dikursi roda sambil didorong oleh om iwan, sedang pak jaja sedang sibuk menelfon, aku yakin pak jaja sedang menelfon bosnya untuk memberitahu kabar kepulanganku, harusnya sekarang bukan mereka yang ada disini tapi ayah & ibuku, ini memang salahku, ku ingat kembali kejadian sebelum kecelakaanku penyebab aku kabur dari sekolah & bukannya menelfon mang agus aku malah berjalan tanpa arah padahal aku gak hapal jalan, aku terlalu kalut waktu itu.


Saat ini kami sudah berada diparkiran, mobil berwarna hitam mulus sudah dibuka leba pintunya, sepertinya ini mobil yang akan membawaku pergi dari rumah sakit, aku berdiri dari kursi roda dengan tertatih aku berjalan pelan masuk kedalam mobil, saat ini aku duduk dibangku belakang tepat dibalakang pengudi, setelah kami semua masuk kedalam mobil om iwan segera menyetir mobil ini dengan kecepatan sedang entah kemana.


"pak jaja,...kalau boleh tau kita mau kemana" kataku penasaran.


"keapartemen nona" kata pak jaja, aku sedikit takut mendengar kata-kata apartemen, seperti berita-berita ditelevisi marak kasus perdagangan manusia tapi aku gak cocok kalau buat mereka jualkan, setauku diPPU gak ada gedung tinggi atau apartemen, pikirku.


"maaf pak kenapa kita keapartemen, kita sebenarnya dimana pak" kataku lagi


"nona jangan hawatir ya, nona aman bersama kami, kami gak akan berbuat macam-macam, kami hanya mengikuti perintah bos kami untuk membawa nona keapartemen miliknya" katanya lagi. Aku agak penasaran dengan bos mereka, kenapa sedari tadi mereka hanya menyebut bos saja & apa maksut serta tujuan bos mereka menyuruh mengantarkanku keapartemen mereka bukan kekantor polisi untuk memberitahu keluargaku.


"nona sebaiknya ikut aja, kita gak perlu kekantor polisi", kata pak jaja, aku harus tetap tenang & terus berprasangka baik walaupun aku kabur aku juga gak akan tau arah kantor polisi kemana, kutepukan tanganku kejidatku.


Setelah beberapa menit akhirnya kami sampai disebuah gedung yang lumayan tinggi, kubaca tulisan yang terpampang besar didepan apartement Bxxxxx Bxx, seingatku ini salah satu apartemen yang berada dibalikpapan, kenapa aku ada disebrang batinku. Mobil segera diparkir, setelah mobil terparkir pak jaja & om iwan segera keluar, pak jaja mebukakan pintu untukku sedang om iwan mendorong kursi roda kedekat pintuku, aku segera keluar & duduk dikursi roda kembali yang didorong oleh om iwan lagi.


"om kenapa aku bisa ada dibalikpapan, rumah ku diPPU loh" kataku pada om iwan.


"nona kan kemaren kecelakaan, bos hawatir banget jadi nona langsung dibawa kerumah sakit xxxxxxx" kata om iwan


"tapi kenapa harus dirumah sakit xxxxxxxxx kan diPPU juga ada rumah sakit" kataku lagi


"rumah sakit diPPU juga bagus tapi disini lebih lengkap, bos gak mau terjadi apa-apa sama nona jadi bos cepet-cepet bawa nona kerumah sakit xxxxxxxx" kata om iwan


Pintu lift sudah terbuka kami masuk kedalam lift, ku lihat tombol 5 ditekan oleh pak jaja kami akan menuju lantai 5, aku masih terus berusaha berpikir positif & selalu berdoa semoga mereka berdua tidak akan berbuat macam-macam denganku. Setelah beberapa menit akhirnya pintu lift kembali terbuka, kursiku kembali didorong oleh om iwan setelah sampai disebuah kamar pak jaja menggesekan id kart & menekan tombol dipintu tersebut dengan sandi setelah terbuka om iwan kembali mendorongku masuk kedalam apartemen ini.


Apartemen ini lumayan luas dengan dua kamar tidur, ruang tamu, dapur & kolam renang, tempatnya lumayan nyaman rapi & bersih, siapa sebenarnya yang tinggal disini pikirku lagi.


"nona silahkan istirahat, oh iya ini hp baru buat nona, disitu sudah ada nomer bos kalau ada apa-apa silahkan hubungi bos" kata pak jaja sambil menyodorkan kotak ponsel padaku, aku mengambil kotak tersebut lalu ku buka, ponsel dengan merk terkenal yang harganya diatas sepuluh juta, ku rasa ini terlalu berlebihan sih kalau buatku hp ini lumayan mahal pikirku.


"pak ini kayanya kemahalan deh kalo buatku, atau gini aja pak, ini aku terima untuk sementara aja selama aku belum pulang nanti kalo ayah sama ibun aku udah jemput ini bakal aku kembaliin" kataku pada pak jaja

__ADS_1


"nona ini pemberian bos kami, ini punya nona"kata pak jaja lagi, "kalau begitu kami pergi dulu nona soalnya bos sudah menunggu kami"kata pak jaja


Bosnya setajir apa sih pikirku, ayah mampu beliin aku ponsel seperti ini tapi ayah gak pernah beliin aku kata ayah aku bisa beli ponsel mahal dengan harga puluhan juta nanti kalau aku sudah kerja & bisa menghasilkan uang sendiri, aku lalu mulai mengutak-atik ponsel pemberian bos dari pak jaja & benar saja hanya ada satu nomer diponsel tersebut dengan nama sweet, ku naikan satu alisku tanda keheranan. Setua apa bos pak jaja, aku terus berpikir jika dia dipanggil bos bisa jadi dia sudah tua atau bisa jadi setua ayah, jangan-jangan pria tua hidung belang pikirku


"ya allah selamatkan aku" kataku lirih.


******kring,.....kring.......


ponselku terjatuh dari tanganku karena aku reflek menjatuhkannya kaget karena tiba-tiba ponsel tersebut berbunyi, aku ambil ponselku yang jatuh dilantai, ku lihat panggilan tersebut dari sweet alias si bos, aku hanya diam tertegun bingung harus mengangkat atau tidak, lalu tiba-tiba panggilan tersebut mati, agak tenang si dari pada aku harus menjawab telpon dari orang yang gak aku kenal bahkan aku gak tau dia tua atau muda.


Jam telah menunjukan pukul 02.00 siang perutku mulai lapar, dengan kaki pincang-pincang aku berjalan menuju dapur, ku buka kulkas untuk mencari makanan, gak ada apa-apa isinya cuman buah sama sayuran, syukurlah aku masih bisa mengganjal perutku dengan buah pikirku. Aku kembali duduk diruang tamu dengan membawa dua buah apel ditanganku.


Ku gigit sedikit demi sedikit buah apel yang ada ditanganku sambil mengutak-atik ponsel pemeberian sibos, sayangnya aku gak pernah main sosial media meskipun saat ini sudah ada ponsel tetep aja aku bingung gimana caranya menghubungi orang tuaku, kalau aja aku punya sosial media mungkin itu satu-satunya jalan buatku mengabari abangku, seharian hanya begini aku mulai agak bosan cuman duduk diam sambil menonton televisi & mengutak atik ponsel seperti ini.


"aku pingin pulang, ibun,.....ayah....abang,....temuin aku, tolong aku pingin pulang" kataku sendiri, air mata mulai menetes dipipiku lagi, aku gak tau harus gimana supaya aku pulang seandainya aku tau jalan buat pulang.


******kring.....kring......


Ponsel pemberian sibos berbunyi lagi, kali ini aku bakal mengangkatnya, harus aku tanyakan siapa dia & kenapa aku harus ada disini, ku tekan tombol hijau untuk menjawab telpon dari si bos.


"hallo" kataku, masih belum ada jawaban dari sebrang telpon.


"hallooooo....." kataku lagi.


"ehmmmmm,...hai" jawabnya, suara seorang pria terdengar dari sebrang telpon, kalau dari suaranya si sepertinya dia masih muda & bukan bapak-bapak atau om-om sih pikirku.


"kamu siapa, kenapa kamu suruh anak buah kamu bawa aku keapartemen kamu" kataku, tapi sibos gak ngejawab pertanyaanku, misterius banget si ni orang, pikirku.


"tolong cari keluargaku, aku mau pulang"kataku lagi


"ehmmm,...aku pasti bakal antar kamu pulang, tapi gak sekarang"katanya.


"kenapa"kataku.


"nanti juga kamu bakal tau"katanya


"ok.....tapi kamu janji ya kamu harus antar aku pulang, aku mau pulang"kataku.


"hmmmm" katanya berhem saja.


"kalau boleh tau nama kamu siapa" kataku


"panggil aja sweet" katanya, agak geli sih kenapa seorang cwo minta dipanggil sweet.


"is,....ak" belum sempat aku berbicara sudah dipotong olehnya.

__ADS_1


"tenang aja kita seumuran ko, aku belum tua juga bukan om-om, jadi kamu harus panggil aku sweety" katanya lagi lalu telpon tersebut ditutup.


Astaga aku gak habis pikir harus manggil seorang cwo dengan panggilan sweet, apa jangan-jangan ni cwo psikopat, batinku.


__ADS_2