Dunia Senja

Dunia Senja
13 kembali mengalami bulian


__ADS_3

Pagi ini kembali lagi aku sudah berada disekolah bersama sahabatku asyifa, sudah sekitar setengah jam aku duduk berdua dengan asyifa didalam kelas sambil menunggu jam masuk kelas. Saat ini kelas masih lumayan sepi hanya ada beberapa murid yang sudah datang bahkan tiga teman ku yang duduk didepan bangkuku juga belum datang.


"sepi amat kelas, tau gini agak siang aja berangkatnya" kata asyifa, aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku sambil tersenyum, memang gak biasanya aku & asyifa bisa barengan sampe disekolah sepagi ini.


"eh sya,...ngomong-ngomong bang bariq kapan ni pulang lagi" kata asyifa sambil gaya-gaya centilnya.


"is apaan si tanya-tanya bang bariq, centil banget" kataku


"is jangan kek gitulah sama calon kakak ipar sya" katanya lagi


"aaaa....apa....gak salah denger ni kuping aku, hahahahahah,...geli deh dengernya"kataku lagi


"ah tega....tega...tega...." kata asyifa sambil memukul-mukul mejanya pelan, "ya allah bang bariq jangan dijodohin sama cwe lain selain aku ya allah" katanya lagi.


"hahahahah,...tambah geli aku fa liat tingkahmu, ah udah ah, gak usah terlalu gila sama abangku tar juga klo kamu udah gede kamu cantik kamu sukses banyak cwo yang lebih dari abangku ngelirik kamu" kataku padanya, sebenarnya asyifa ini sangat cantik mustahil abangku bariq gak tertarik sama asyifa pikirku.


"iya ngelirik doang, tapi didunia ini gak ada stok cwo seganteng abang kamu sya" katanya lagi, kayanya kata-kata asyifa yang satu ini emang agak berlebihan sih, gak mungjin didunia ini gak ada yang gak bisa nandingin kegantengan abang aku.


"pretttttttttttt,....terlalu dibutakan cinta kamu fa,...hahahahhaha" kataku lagi, asyifa memang sangat mengagumi dua abangku dari dulu, tapi diantara keduanya dia lebih sangat mengagumi bang bariq.


"bomat" katanya lagi singkat, aku hanya tertawa melihat kekonyolan sahabatku ini.


Asyik mengobrol dengan sahabatku asyifa tak lama mia datang dari arah luar menuju bangkunya yang berada tepat didepan meja asyifa.


"sya dicariin tuh" kata mia


"siapa" kataku sambil mengkerutkan dahiku, mia membalikan badannya mengahadap kearahku & asyifa.


"rasta" kata mia, aku kaget mendengar nama rasta, mau apalagi si dia pikirku.


"apa-apaan sih tuh anak, tau punya cwe galak masih aja cari masalah" kata asyifa


"ah udah fa biarin, males juga aku nyamperin, bodo amat" kataku malas berurusan dengan rasta.


Tak lama anin & sandra juga tiba, mereka berdua duduk menuju bangku mereka masing-masing lalu menghadap kearahku.


"ada yang nunggu kamu tuh sya didepan" kata sandra, aku menepuk jidatku dengan reflek, sebegitunya malah tetap nungguin diluar tau juga dicuekin, batinku.


"hooh, ada kak rasta" kata anin, aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku, masih gak percaya segitu kekehnya nunggu didepan.


Aku masih dengan mode silentku gak mau berkomentar apa-apa, aku sudah memutuskan gak mau berurusan sama yang namanya rasta bagiku aku ada disekolah ini cuman pingin bener-bener sekolah dengan baik tanpa punya masalah sedikitpun.


"ada masalah apa sih kamu sama rasta, tega banget biarin cwo terganteng disekolah nunggu diluar, kalau aku jadi kamu mah udah aku samperin tuh dari tadi kak rasta, sayang tau ganteng-ganteng dianggurin" kata mia, aku sontak melihat kearah tiga temanku didepan yang juga sedang memandang kearahku mencari jawaban.

__ADS_1


"gak tau juga ada masalah apa, aku juga bingung ngapain dia nyariin aku lagi" kataku mulai membuka suara, sekarang aku tambah sebel banget denger namanya, deket-deket sama rasta cuman bikin masalah aja disekolah pikirku, tiba-tiba ku lihat rasta asal nyelonong masuk kedalam kelasku & duduk disebrang bangkuku tepatnya dibangku yogi.


"aku nunggu kamu loh diluar" kata rasta, sontak siswa siswi yang ada dikelas heran melihat kearahku, bagaimana bisa gajah bengkak sepertiku menolak cwo seganteng rasta itulah yang pasti ada dipikiran mereka pikirku, aku hanya mendengus berusaha tak menghiraukan apa yang ada disekelilingku.


"sya" katanya lagi berkata padaku, aku hanya diam seribu bahasa, ngeladenin rasta sama aja ngasi kesempatan wulan buat ngelakuin apa aja sesuai ancamannya.


"sya, emang apa sih salahku, aku cuma pengen temenan sama kamu" katanya lagi, mendengar kata-kata rasta aku semakin geram.


"salah.....salah apa kata mu,....ok...emang kamu gak salah tapi salah besar kalo kamu pingin berteman sama aku, lebih baik kamu cari aja deh teman yang lain, aku juga gak spesial ko, aku jelek, gendut, gak cocok jadi temen kamu" kataku mulai emosi.


"tapi aku pengen temenan sama kamu" katanya lagi.


"tapi aku engga" kataku singkat.


"tapi......." kata rasta terputus


"ka rasta tolong ya jangan ganggu aliesya, udah dengerkan dia gak mau temenan sama kakak" kata asyifa


Rastapun berdiri dari bangkunya & mulai berjalan kearah pintu, saat berada didipan tiba-tiba ia berhenti lagi & menghadap kebelakang kearahku.


"aku bakal buktiin kalo aku bener-bener pengen temenan sama kamu" katanya lagi lalu pergi keluar kelasku.


Demi apa coba seorang the most handsome man disekolah kekeh banget pengen berteman sama aku, aku juga gak seistimewa yang lain, setelah kejadian ini pasti bakal ada lagi gosip yang enggak-enggak & aku harus mempersiapkan untuk segala kemungkinan yang bakal terjadi.


"jangan kuatir sya ada aku" kata asyifa, aku melihat kearah asyifa sambil tersenyum, sahabatku ini memang selalu ada diasaat aku dalam kondisi apapun.


"makasi fa" kataku


Bel masuk kelaspun telah berbunyi teman-teman sekelasku sudah berada didalam kelas dibangku mereka masing-masing, hari ini guru mata pelajaran pertama tidak masuk karena sedang mengikuti rapat & sebagai gantinya kami hanya diberi tugas untuk mencatat materi yang ditulis didepan oleh ketua kelas, sambil mencatat kebisingan seperti ini sudah biasa terjadi, siswa siswi dikelasku kali ini sedang sibuk dengan celotehan mereka masing-masing, ada yang tertawa terbahak-bahak entah apa yang mereka gosipkan, ada yang sibuk menggendang meja & menyanyi-nyanyi bahkan ada yang sedang tidur dipojokan, sedang aku masih tetap sibuk menulis sambil sesekali berbincang dengan asyifa.


Asik menulis tiba-tiba bukuku tercoret karena ada siswi datang menarik tanganku secara paksa.


"gendut.........., ayo ikut" katanya padaku.


"kak tolong jangan panggil aku gendut, aku punya nama loh" kataku, orang tuaku memberiku nama dengan doa & harapan yang baik tetapi orang lain dengan seenaknya mengganti namaku & memanggilku dengan sebutan seperti itu sesuka hati mereka.


"whatever lah,...ayo ikut" katanya lagi, aku yakin si siswi ini sepertinya kakak kelasku, entah apa yang membuatnya datang menarikku.


"kak tolong ya jangan ganggu aliesya, kita ada tugas dari guru jadi lebih baik kakak pergi deh" kata asyifa, bukan asyifa namanya kalau gak takut sama siapapun


"eh nyolot banget si kamu, aku gak ada urusan ya sama kamu" katanya lagi, ku lihat nama di dadanya tertulis amira vivian alora, rambutnya pendek sebahu lurus kulit putih, lumayan cantiklah.


"sudah fa....biarin aku ikutin aja" kataku pada asyifa karena tak mau dia terkena masalah.

__ADS_1


Aku lalu berdiri mengikuti amira berjalan keluar kelas, asyifa melihat kearahku tak berkedip, aku yakin dia sangat hawatir denganku, aku tetap mengikuti dibelakang amira, ku lihat amira menuju kearah toilet wanita, aku bertanya-tanya kenapa amira mengajakku kesini.


"masuk" katanya mendorongku masuk kedalam toilet, aku agak terkejut ternyata didalam sudah ada wulan menunggu didalam bersama beberapa siswi lainnya & aku yakin pasti ini perkara rasta lagi.


"eh gendut kamu ini gak tau malu ya, gak punya kaca apa, kamu ngaca gimana kamu,....ngaca"kata wulan sambil menunjuk kekaca yang cukup besar, yang tepat ada didepanku, aku hanya diam saja menunduk.


"tau ni gak sadar diri banget, badan kaya badak mau jadi pelakor" kata amira, aduh nih hati rasanya kaya dicucuk-cucuk dengernya, ada gak si kata-kata lain yang lebih bagus kenapa si harus bawa-bawa fisik, lagian sapa yang mau jadi pelakor si, pikirku lagi.


"gak usah kepedean rasta mau sama kamu"kata wulan


*****byuuuuuuurrrrrr******* aku sontak kaget karena disiram oleh wulan dengan air satu ember besar yang membuat bajuku basah kuyup.


"bangun.....gak usah mimpi, ini baru air yang aku siram, kalau kamu masih nekat biarin rasta nyamperin kamu lagi bukan cuman air biasa yang bakal aku siram tapi air keras, ngerti" kata wulan lagi mengancamku.


Aku hanya bisa terduduk didalam sini menangisi keadaanku yang kini telah basah kuyup, sedang wulan & teman-temannya meninggalkan ku dengan keadaan seperti ini begitu saja.


"ini salah rasta, sialan....rasta sialan" kataku mengutuki rasta karena aku diperlakukan seperti ini memang karena dia.


Aku berdiri & menghapus air mataku, aku berencana mencari rasta untuk mendampratnya, kalau bukan karena dia aku gak akan dibuly seperti ini, aku berjalan menuju kelas rasta, untungnya ini masih jam pelajaran jadi gak ada yang meratiin aku dengan kondisi yang begini, saat aku berjalan dikoridor sekilas ku dengar ada segorombolan siswa sedang asik bercerita dipojokan dekat gudang, dari suaranya sepertinya itu suara rasta aku cepat-cepat berjalan menghampiri arah suara tersebut & benar itu adalah rasta & beberapa teman segengnya.


"sial banget cwe gendut itu susah banget dideketin" katanya


"jadi lo nyerah gitu sama taruhan kita,...hahahahha"kata siswa lain, sontak aku menghentikan langkahku & bersembunyi dibalik tembok.


taruhan,.....aku gak salah dengerkan, jadi aku cuman dijadiin taruha**n


"enak aja, belum ya,...aku belum nyerah, baru juga berapa hari belum sebulan" katanya lagi


Gak terasa air mataku mengalir begitu aja ngebasahi pipi, gak tau kenapa ini sakit banget, tega banget seseorang ngejadiin aku bahan taruhannya, mereka gak mikir apa yang mereka lakuin ini bikin aku jadi bahan bulian seperti ini, aku udah ngerasa kaya badut yang jadi bahan ejekan satu sekolah dengan keadaan seperti ini.


Aku lalu pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa menemui rasta, seengganya aku tau kebenarannya rasta yang datang mencoba buat menjalin pertemanan denganku tanpa menghiraukan apa konsekuensi yang bakal aku dapatkan kalau dekat sama dia sebenernya gak pernah punya niat tulus buat bener-bener jadi temen aku.


Aku terus berlari kembali kedalam toilet sambil menangis, sebegitu hinakah aku yang memiliki tubuh gendut sampai dijadikan bahan permainan yang sama sekali gak lucu, apa mereka gak sama sekali berfikir dengan apa yang bakal aku alami saat ini yang bakal ngebuat aku trauma nantinya, aku lalu keluar dari toilet menuju ruang bk untuk meminta ijin pulang dengan keadaanku yang sudah sangat basah, sesampainya diruang bk guru bk menanyakan perihal apa yang terjadi padaku tapi aku berkilah tak ingin memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi, setelah mendapatkan ijin aku lalu keluar menuju gerbang sekolah tanpa mengambil tas & bukuku yang berada dikelas.


Aku terus berjalan disepanjangan jalanan, sudah hampir jauh aku melangkah menjauh dari sekolahku yang baru, tanpa terasa air mataku mengalir lagi membasahi pipi, impianku pupus disana padahal sebelumnya ku gantungkan angan-angan & harapanku disana setinggi-tingginya untuk hidup tenang tanpa bulian, tetapi hari ini apa yang aku dapatkan sangat mengecewakan, langit saat ini tiba-tiba gelap hujan pun turun seolah langit ikut menangis seakan-akan tau dengan kesedihan yang aku alami saat ini, aku masih tetap berjalan menjauh tanpa arah dibawah tetesan-tetesan derasnya hujan, aku masih terus menangis sambil berjalan, perasaanku saat ini sangat kacau, gak ada gunanya juga aku berteduh toh sedari tadi aku juga sudah basah karena siraman air wulan.


Seharusnya bukankah setiap orang berhak menjalani hidupnya dengan baik tapi kenapa aku tak pernah mendapatkan itu, aku hanya terus-terusan menjadi bahan perolokan, bahan bulian, bahkan saat ini parahnya aku telah menjadi bahan taruhan, aku hanya ngerasa hidup ini gak adil, kenapa aku gak bisa hidup tenang tanpa gangguan, aku juga ingin menjadi siswi normal seperti yang lainnya bukan menjadi aku yang selalu jadi bahan bulian.


"ya allah kenapa sih aku harus gendut begini, aku mau kurus ya allah, aku capek aku terus-terusan jadi bahan olok-olokan" kataku berbicara sendiri.


Entah aku harus kemana, aku gak mau pulang dengan keadaanku yang seperti ini, aku gak mau kejadian yang sudah-sudah terulang lagi kalau ayah sampai tau apa yang terjadi denganku hari ini & bukan cuma ayah aja yang bakal ngamuk tapi abang-abangku juga bakal ikut ngamuk terutama bang fahmi.


Aku berjalan menyebrangi jalan raya yang aku rasa sangat sepi, saat aku sudah berada ditengah jalanan aku mendengar suara kelakson mobil yang sangat lumayan keras membuatku malah berhenti karena kaget, tanpa diduga dari arah samping kananku sudah ada mobil dengan kecepatan lumayan menabrak tubuhku, aku tak bisa menghindar & terplanting, pandanganku mulai kabur, kepala & badanku terasa sakit, mungkin harini, detik ini aku aku akan mati pikirku, karena tak tahan akhirnya pandanganku semakin gelap lalu aku pingsan.

__ADS_1


__ADS_2