Dunia Senja

Dunia Senja
06. bertemu sepupu


__ADS_3

Berpuluh menit sudah aku duduk dihalte menunggu angkutan umum yang lewat tapi tak satupun lewat, hari ini mang agus tak bisa menjemputku anaknya tiba-tiba harus dibawa kerumah sakit karena demam tinggi aku terpaksa pulang dengan menaiki angkutan umum sebenarnya asyifa mengajakku pulang bersama tapi karena rumah kami tak searah aku menolaknya, suasana mulai sepi jam telah menunjukan pukul 03.00sore, jika saja aku tak segemuk ini aku sudah pulang sedari tadi dengan menaiki gojek.


*sreeeeekkkkk,.....sreeeekkkkk,....sreeeeeekkkkk,.....karena mulai bosan duduk terlalu lama dihalte kakiku ku gesek-gesekkan kebawah, kembali lagi aku menoleh kearah sebelah kiri masih belum juga tampak angkutan umum.


"hmmmmmm,...coba aja ada bang bariq sama bang fahmi" gumamku sendiri, ku ambil ponselku yang berada didalam tasku, ku coba menghubungi abangku fahmi, sudah lama dia tidak pernah pulang, dia sangat mencintai pekerjaannya sampai lupa pulang, biasanya dialah orang yang pertama mencemaskan ku kalau aku telat pulang kerumah.


Segera ku kirimkan sebuah pesan ke abangku fahmi, "abang lagi apa?"


"""""""treeeeetttttt,....treeeeeeettttt""""""" ponselku bergetar karena memang aku seting dengan mode silent, "hallo bang", kataku menyapa abangku yang berada disebrang telpon.


"kenapa de,....tumben banget ini kirim pesan, biasa langsung nelpon" kata abangku, aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal bingung harus berkata apa, ia pasti sangat cemas kalau aku ngomong sampe jam segini belum juga sampai dirumah.


"gakpapa bang, abang gak sibuk ni, kalo gak sibuk pulang dong bang" kataku


"abang belum bisa pulang caca" kata abangku disebrang telpon, "gimana mosnya hari ini?, gak ada yang ganggu kamu kan sayang", kata abangku lagi. Harus jujur atau bohong nih, sejujurnya hari ini hari yang sangat melelahkan, masih sama dengan hari-hari biasaku disekolah yang lama penuh dengan bulian.


"kalau ada yang ganggu kamu bilang aja sama abang, jangan kamu diemin kamu sembunyiin sendiri de" kata abangku yang sepertinya selalu tau kalau aku berusaha menganggap semuanya baik-baik saja.


"engga lah bang, temen-temen caca baik-baik ko, mana ada yang berani ganggu caca....kan ada asyifa" kataku, kalau yang ini aku gak bohongkan, memang selama ada asyifa disampingku gak akan ada yang berani ngatain aku sembarangan, jangankan ngomong sembarangan yang ngeliat aneh kearahku aja pasti bakal disambernya....hahahhaa.


"abang taukan asyifa?"kataku bertanya pada abangku, abangku fahmi lebih mengenal asyifa ketimbang abangku bariq bahkan aku yakin abangku bariq dengan sekejap bisa lupa siapa nama sahabatku.


"hmmmmmm,....jelas tau lah de, ternyata masih satu sekolah lagi sama asyifa de, syukurlah,....kamu harus belajar dari asyifa de, dia itu wonderwomen,....hahahha" kata abangku. "de sudah dulu ya, abang kayanya dipanggil, caca hati-hati ya de, abang janji abang bakal usahain pulang kalau ada waktu senggang" kata abangku.


"janji ya bang, awas boong" kataku, abangku fahmi ini tak pernah mengingkari janjinya kepadaku, jika sudah berjanji ia pasti akan menepati.


"hemmmm,...abang janji pasti bakal pulang" kata bang fahmi, setelah mematikan sambungan telpon aku membuka tas untuk menaruh ponselku didalam tasku.


Jam telah menunjukan pukul 03.30sore, jam segini ayah ku belum pulang dari pabrik & ibu juga belum selesai mengurus butiknya, aku tau kesibukan ibu selama dibutik karena saat ada waktu senggang aku terkadang mampir kebutik ibu untuk melihat pekerjaan ibuku, butik ibu termaksut butik yang sangat terkenal, butik terlaris dikotaku, banyak pedagang online maupun pelancong ataupun warga setempat membeli pakain maupun tas & sepatu dari butik ibu, selain barang yang berkualitas baik harga yang ditawarkan cukup standart & tak menguras kantong, produk yang ibuku jual dibutiknya merupakan desainnya sendiri, ibu bukan seorang desainer tetapi ia mampu membuat sesuatu sesuai selera para konsumen.


Kedua orang tuaku adalah seseorang yang sangat luar biasa, meskipun perjalanan hidupnya harus jatuh bangun tetapi mereka berdua tak pernah menyerah sampai ketitik puncak seperti saat ini & meskipun mereka berada diatas puncak seperti ini mereka tak pernah lupa dari mana dulu mereka berasal bahkan kedua orang tuaku selalu menasehatiku & abang-abangku jangan melupakan asal-usul kami dari mana dulunya, ya....walaupun aku tak pernah merasakan yang namanya apa itu hidup susah dari kecil karena saat aku sudah lahir hidup kedua orang tuaku sudah sukses meskipun tak sesukses ini.


"woy,...ndut...ngapain masih disini" kata seseorang murid laki-laki yang duduk disebelahku, aku memicingkan satu alis mataku, bahkan aku tak menyadari saat dia berjalan kearahku lau tiba-tiba berada disebelahku, membuatku terkaget.

__ADS_1


"bengong" katanya lagi padaku, jelaslah aku bengong baru kali ini ada seorang murid laki-laki menyapaku dengan baik meskipun masih dengan kata-kata gendut.


"hmmmm,...namaku bukan gendut kali" kataku mengingatkan, meskipun aku tau aku gendut tapi aku juga punya nama, harusnya seseorang tau setiap orang punya namakan & bukan asal memberi julukan berdasarkan fisik seseorang.


"ehhhhh,....sory,...aku gak tau nama kamu soalnya" ia tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya, "kenalin namaku rasta" katanya menyodorkan tangannya mengenalkan dirinya, aku membalas salaman tangannya juga, ini untuk pertama kalinya seseorang murid laki-laki mau berkenalan & memperkenalkan dirinya dengan baik padaku.


"aliesya" kataku singkat & melepaskan tanganku, ini aku mimpi atau apa ya,...atau jangan-jangan ini bukan manusia kali alias hantu batinku, aku terus bertanya-tanya masih tak percaya.


"kamu kenapa belum pulang?" katanya masih terus bertanya memastikan, "nunggu apa?" katanya lagi, aku masih memperhatikannya dari atas kebawah memastikan jika yang didepanku ini benar-benar manusia, kakinya nempel kebawah sih gak melayang, batinku, karena kata orang kalo mahluk halus pasti kakinya gak nempel tanah, alias melayang.


"astaga,...kamu bengong lagi, aku tanya kali" katanya lagi, aku kikuk sadar terlalu takjup tak percaya masih ada mahluk yang mau ngobrol & memperkenalkan diri denganku.


"eh...anu sori,...aku lagi nunggu angkutan umum, tapi dari tadi penuh, bis sama taksi juga gak ada lewat" kataku menjelaskan pada rasta, sekilasku lihat rasta manggut-manggut mengerti.


"memang rumah kamu arah mana?" katanya memastikan, aku hanya menujuk dengan tanganku arah rumahku tanpa berkata-kata, "astaga pantes aja, jam segini memang gak ada angkutan umum kearah sana, kamu gak pernah naik angkutan umum ya ko bisa gk tau, kamu tunggu sampe sore juga gak bakal ada yang lewat al" kata rasta sambil tertawa,


"lah iya-ya" kataku sambil menggaruk-garuk kepalaku, ini memang pertama kalinya aku naik angkutan umum, "aku bukannya gak pernah naik angkutan umum, kan kamu tau sandiri ini hari pertama aku sekolah disini, kemaren juga waktu daftar aku diantarin abangku" kataku berbohong.


"kamu mau aku antar"kata rasta, aku melihat kearah kendaraannya, motor sport berwarna merah, kalaupun aku mau naik motor sudah dari tadi aku pulang naik gojek pikirku, aku hanya menggeleng-geleng kepalaku mengisyaratkan aku gak mau dianter naik motor, seumur-umur aku gak pernah dibonceng pake motor meskipun abangku fahmi juga punya motor sport seperti itu.


Aku berdiri berjalan menuju arah mobil kakak sepupuku ini, "kak aku numpang ya, supir ibun gak jemput aku soalnya tadi katanya anaknya harus dibawa kerumah sakit, demam" kataku pada kakak sepupuku ini, aku yakin kakak sepupuku ini tak akan membiarkanku berlama-lama diluar rumah apalagi sudah sesore ini.


"ayo naik,...kenapa gak nelpon kakak si kalo gak dijemput" katanya padaku, aku hanya tersenyum, aku lalu menoleh kearah rasta untuk berpamitan, "rasta duluan ya" kataku pada rasta lalu aku masuk kedalam mobil kak alifa.


Mobilpun segera dipacu kakak sepupu cantikku, aku melihat kearahnya sambil tersenyum, kakak sepupuku ini memang sangat cantik, pujaan para lelaki, tapi sayang bagi para pria jomblo jangan berharap banyak kakak sepupuku ini telah memiliki calon suami seorang polisi ganteng, aih mujur sekali nasibnyakan, cantik terkenal sukses. "kenapa liatin kakak kaya gitu ca" katanya tersenyum kearahku.


"gakpapa ka" kataku


"mau mampir kerumah kakak gak, bu lia pasti seneng kamu kesana" kata kak alifa, aku sedikit berfikir kalau aku ikut pulang kerumah kak alifa ayah gak bakal marah pasti, "tenang aja nanti kakak yang nelpon ayah sama ibun ngasi tau kamu ikut kakak kerumah" katanya lagi, sepertinya aku harus setuju karena aku juga ingin bertemu dengan nenek, aku menganggukan kepalaku tanda setuju.


Nenekku ibu dari ayahku memang tinggal dengan ibu dahlia, sudah sedari dulu saat abang-abangku & kakak sepupuku masih kecil-kecil saat aku belum ada didunia nenek sudah tinggal bersama ibu dahlia, ibu dahlia mempunyai dua anak perempuan yaitu kak alifa ananda ferliya umur 21thn seorang pengacara muda & alika ananda ferliya umur 20thn masih berkuliah semester akhir sebentar lagi lulus dikota solo jurusan kesehatan yaitu dokter di UNS sebentar lagi ia akan menjadi dokter muda, kak alika juga tak kalah cantik dari kak alifa, ya karena mereka bersaudara, rupanya hanya aku saja yang tak seberuntung abang-abang & kakak-kakak sepupuku yang memiliki wajah yang menarik, apalah daya fisikku ini diibaratkan sisahan rempeyek disudut kaleng khongguan, rupanya benar mungkin adonan saat membuatku sudah gak lengkap, seadanya makanya aku seperti ini bentuknya, walaupun anggota tubuh serta panca indraku lengkap.


Setelah beberapa puluh menit berkendara akhirnya kami berdua sampai juga dirumah ibu dahlia, rumah yang didesain tak kalah mewah dengan rumah milikku, ibu dahlia seorang single parent yang sukses dengan toko makanan ringan yang ia bangun berkat usahanya sendiri, ia merupakan wanita yang gigih demi pendidikan anak-anaknya & kakmuran anaknya, ia berjuang sendiri tanpa adanya seorang laki-laki pendamping hidupnya, wanita syar'i yang sangat mencintai agamanya, wajar saja jika kedua anaknya tumbuh dengan baik.

__ADS_1


Aku keluar dari pintu mobil & masih berdiri menunggu kak alifa, sudah dua minggu aku tak datang kesini bersama ayah & ibuku karena ayah lagi sibuk-sibuknya dengan pabriknya, "ayo ca, masuk" kata kak alifa menggandeng tanganku menuju rumahnya, "ibu,....nenek,...coba liat ni siapa yang ifa bawa" kata kak alifa.


"nenek" kataku melihat nenekku keluar dari arah dalam mengahampiri kami & memelukku.


"aduh cucuk nenek" katanya padaku, "baru pulang sekolah ya, ko masih pake baju sekolah?" katanya lagi, aku hanya manggut-manggut.


"masa sih baru pulang, ini sudah sore loh cu, memang dijemput kak ifa kah?" kata nenek ku lagi.


"engga nek, tadi ifa liat caca duduk dihalte sama temennya, oiya aku mau telfon ayah dulu sama ibun mau ngasi tau kalau caca disini" kata kak alifa, "nek mana ibu?" katanya lagi bertanya pada nenekku.


"ibumu ditoko, baru aja berangkat" kata nenek kepada kak alifa, "ayahmu sama ibun kamu kenapa si bisa biarin kamu gak dijemput cu,... memang dia orang ini ya" kata nenekku penuh penekanan agak kesal melihatku tak dijemput,


"nanti biar nenek marahin ibun sama ayah kamu, biasa anak dibiarin gak dijemput, supir kamu kemana nak?" kata nenekku kuatir, aku hanya tersenyum, nenekku ini memang sangat sayang dengan cucu-cucunya bukan hanya kepadaku tapi semua cucunya.


"nenek jangan marah-marah sama ibun sama ayah, tadi supir ibun ngntar anaknya sakit jadi gak bisa jemput caca" kataku pada nenek, "nek aku lapar nah...." kataku lagi memang sedari tadi aku menahan lapar, untung saja ada kak alifa lewat.


Nenekku mengajakku untuk mengisi perutku, aku langsung menuju meja makan tanpa mengganti bajuku terlebih dahulu, bermacam-macam masakan telah tersedia dimeja makan, aku makan dengan sangat lahap karena sangat kelaparan, nenekku & kakak sepupuku hanya tersenyum melihat kearahku.


"ca,...tadi kak alifa udah telpon ibun, katanya nanti ibun kesini jemput kamu pulang dari butik" kata kak alifa


"emmmm,...makasi kak"kataku masi menyuapkan makanan kemulutku.


"makan yang kenyang ya cu" kata nenek ku "abangmu fahmi tadi pagi nelfon nenek lo cu" kata nenekku, aku mulai antusias mendengarkan kata-kata nenek.


"apa kata abang nek" kata kak alifa


"abang kalian itu sibuk kerja, kapan coba ada waktu pulang buat kita" kata nenek ku, abang fahmi adalah cucu tertua nenekku, cucu laki-laki pertama ia adalah yang tersayang sebelum ada cucu-cucu nenekku yang lain termaksut aku.


"bang fahmi lagi ngumpulin duit banyak-banyak nek, jadi begitu ketemu jodoh langsung nikah, hihihi" kata kak alifa bercanda


"sudah ada pacar abang kah ca" kata nenekku bertanya padaku


"belum nek, nenek dong nasehatin abang, suruh cari calon nek, nanti dibalap sama kak alifa dia"kataku pada nenek ku, abangku termaksut cucu yang sangat penurut, dia sangat menuruti nenekku sebagai seorang abang yang selalu jdi panutan kami adik-adiknya.

__ADS_1


Nenekku hanya terdiam, dia sangat mengerti perasaan abangku, meskipun nenekku berkali-kali menasehati abangku, abangku hanya berkata pada nenek kalau dirinya belum siap mempunyai pasangan masih ingin fokus dengan karirnya, ingin membahagiakan keluarga, ingin memastikan adik-adiknya & adik-adik sepupunya berhasil, ingin membahagiakan nenek & sedikit-sedikit menyembuhkan luka dihatinya.


__ADS_2