
Saat ini aku sudah berada didepan gerbang sekolah duduk menunggu jemputan bersama asyifa & ketiga temanku, jam pulang sekolah sudah terdengar setengah jam yang lalu murid-murid sedari tadi sudah membubarkan diri masing-masing untuk pulang kerumahnya ada yang pulang mengendarai kendaraan pribadi ada pula yang menunggu jemputan sepertiku saat ini bahkan ada juga yang menunggu angkutan umum & sekedar berjalan kaki menuju rumahnya.
"asik sudah selesai mosnya"kata anin
"gimana sah sudahkan jadi murid SMA?"kata mia
"sah...."kata sandra
"sah....sah....hahahah" kata asyifa, aku ikut tertawa dengan candaan mereka.
"saaaaaaaaaahhhhhh" kataku ikut-ikutan sambil tertawa.
"weiiiisss,...anak SMA dia sudah ciiiieeeeehhhh,...hahahahha" kata anin lagi
"ciiiehhhh,...cieeehhh...ngomong-ngomong jemputan tuh datang" kata mia
"wah,...iya...aku duluan ya" kata anin
"hati-hati nin"kata sandra
"mang hati-hati ya bawa teman kami" kata asyifa, kami berempat berdada kepada anin
Ku lihat jam ditangan ku sudah menunjukan pukul 02.00siang tapi jemputanku belum juga datang, saat ini tersisa aku & asyifa serta sandra & mia sedangkan anin baru saja dijemput oleh supirnya. Sepertinya hari ini aku tidak akan pulang kerumah mengingat aku dirumah akan sendirian karena ibuku belum pulang dari butik, sepertinya akhir-akhir ini butik ibu sangat ramai sehingga ibu jadi sibuk.
Tak beberapa lama akhirnya jemputanku bersamaan dengan jemputan asyifa & sandra serta mia juga sudah tiba, kami berempat masing memisahkan diri bersama jemputan kami masing-masing, aku sudah berada didalam mobil yang disupiri oleh mang agus.
"mang kita kebutik ibu aja ya? kataku kepada mang agus, aku saat ini duduk dibangku belakang membiarkan mang agus duduk sendiri didepan kemudinya.
"baik non" kata mang agus mengerti dengan perintahku, walaupun mang agus berusia lebih tua dari ayah tetapi keahliannya untuk menjadi supir pribadi tidak bisa diragukan, ia telah 13thn bekerja bersama ayah menjadi supir pribadi ibu setelah satu tahun kelahiranku semenjak butik ibu berjalan dengan lancar.
Setelah beberapa menit akhirnya mobil berada tepat didepan butik ibu, aku lalu turun dari mobil sedang mang agus masih sibuk memarkirkan mobil, aku berjalan menuju butik ibu, butik ibu ini tempatnya sangat strategis meskipun tempatnya berada didekat pinggir jalan tetapi halamannya masih sangat luas untuk area parkir para konsumen.
Saat aku masih terus berjalan ku dengar suara klakson yang membuatku seketika menoleh kearah suara tersebut, seorang berkendara dengan motor ninja kawasaki mendekat kearahku, aku tak bisa melihat siapa sipengendara karena masih menggunakan helmnya.
"ngpain disini sya" kata sipengendara motor ninja setelah berhenti didepanku, aku hanya memicingkan sebelah mataku memastikan siapa dia.
"diem bae...." katanya lagi sambil membuka helmnya, seketika aku kaget, ini kenapa rasta ada disini batinku.
""""""tek"""""tek""""""tek"""""""" rasta memetik dua jarinya membunyikan didepan wajahku membuatku tersadar dari fikiranku sendiri.
"kenapa bengong, kamu ngapain disini? katanya sekali lagi bertanya padaku, kepo banget si nih orang, mau ngapain kek suka-suka akulah, pikirku lagi.
"oh...pulang lah,...aneh deh ko ngapain?" kataku sinis, "lagian kamu ngapain ngikutin aku?" kataku lagi pada rasta, ku lihat senyumnya tersingsing dari wajahnya, manis banget senyumnya batinku, seketika aku langsung terhipnotis, astagfirulloh mikir apa sih aku, batinku lagi tersadar.
"ngpain senyum-senyum, aku tanya loh ya, ko malah senyum-senyum, gak waras kah?" kataku lagi, masih dengan mode yang sama agak jutek, bukannya aku gak mau berteman sama rasta tapi lebih baik aku jauhin dia seketika keinget sama kata-kata kak wulan tadi.
__ADS_1
"aku gak ngikutin kamu kok sya" jawabnya, "emang senyum gak boleh, senyum kan sebagian dari ibadah" katanya lagi yang masih tetap tersenyum.
"iya senyum itu sebagian dari ibadah, tapi kalo kebanyakan senyum dikira orang gila tau, gak waras, stres" kata ku, heran banget sama rasta sudah dikasih tau ngeyel banget malah ngikutin sampe kesini padahal cwenya cemburuan banget masih aja nekat nyamperin kesini batinku cemberut.
"ya gakpapa...kan cuman dikira aja bukan beneran gila" katanya masih tetap tersenyum.
"yawes lah terserah kamu, terus ngapain ngikutin aku" kataku masih butuh jawaban, ni bocah senyum-senyum mulu mana senyumnya manis banget pula, kepotek hati aku bangggggggg,.....batinku.
"tuh rumah aku disebelah sana, aku bukan ngikutin kamu loh, makanya begitu aku liat kamu aku tanya kamu ngapain disini, karena aku tau daerah sini, emang kamu mau pulang kemana?, katanya panjang lebar, aih ternyata aku salah faham sama rasta, terlalu kepedean si gak sadar diri pikirku dengan wajah malu senyum-senyum sendiri,
"kebutik?" katanya sambil menunjuk butik ibu, kulihat ia menaikan satu alisnya sedang aku masih tetap terdiam, " mau belanja?" katanya lagi bertanya.
Aku menepuk jidatku karena pertanyaannya, gak ngerti banget dibilngin mau pulang ya batinku, "mau pulanglah,....emang gak denger tadi aku bilang apa?" kataku kembali sinis.
"pulang ke butik?" tanyanya, belum sempat aku menjawab rasta mebuka suaranya lagi, "tunggu dulu,...tapi tuh butik namanya sama kaya nama kamu ya,..apa mama kamu pemilik butiknya?" katanya lagi,...ni bocah nyerocos panjang lebar banget si sudah kaya kaset rusak gak ada jedanya batinku.
"yaudah kalo rumah kamu disebalah sana pulang gih, gak usah mau tau urusanku" kataku, semenjak masuk sekolah menengah atas sepertinya aku lebih berani mengutarakan kekesalanku, meskipun terkadang aku lebih memilih untuk mengalah.
"yaelah jutek amat sih ndut" katanya
"bodo..." kataku yang langsung melenggang masuk kedalam butik ibuku meninggalkan rasta.
Didalam butik aku sudah melihat mba ratna & mba ira serta mba ajeng sedang mengemas baju untuk dikirim keberbagai daerah sedangkan mba yuni sedang melayani pelanggan yang datang melihat koleksi-koleksi baju serta tas & sepatu dll yang ada dibutik ibu, keempat wanita ini adalah kariawan ibu, merekalah yang membantu ibu dibutik ini selama beberapa tahun terakhir setelah bergonta-ganti kariawan.
"hai....mba-mba....aku datang" kataku menyapa semua kariwan ibuku dengan senyuman, ku letakan tas gendongku diatas sofa, aku lalu berdiri menghampiri ketiga kariawan ibu yang sedang mengemas barang.
"iya mba,.."kataku menjawab, "ibun sibuk gak diruangannya mba?" kataku lagi, biasanya ibu pada akhir bulan seperti ini sibuk membuat desain terbaru supaya pelanggan butiknya gak bosan dengan model-model fasion yang ada dibutik ibu.
"masuk aja de" kata mba ira, "eh kamu tumben banget bawa temen de", kata mba ira.
"gak ko" kataku singkat.
"itu de" kata mba ira sambil menunjuk kearah belakangku, seketika aku menoleh kearah belakangku, ku lihat disana sudah ada rasta berdiri dideoan pintu.
Aku hanya menyilangkan tanganku, rasanya tak habis fikir kenapa rasta malah ikut masuk kedalam butik ibu, ngpain lagi sih ni bocah pikirku yang langsung menghampirinya.
"haloooo sya" katanya sambil mendadakan tangannya kepadaku sambil tersenyum, sedang aku masih tetap berjalan mendekat kearahnya sambil cemberut.
"kamu ngapain ikut masuk?" kataku marah
"eh...anu..aku masuk bukan ngikutin kamu ko, serius..."katanya menjawab masih dengan senyum manisnya, tapi aku gak begitu aja percaya sama kata-kata rasta, apa keperluannya coba masuk kebutik ibu pikirku.
"gak ngikutin trus kamu ngapain disini kunyuk" kataku semakin emosi, gila nih hari bener-bener menguras hati & pikiran aku banget loh, biasa walaupun aku jadi korban bulian rasanya hidupku biasa-biasa aja, batinku.
"caca,...kenapa?, kata ibuku yang baru keluar dari ruangannya, aku lantas menoleh kearah ibuku, sepertinya ibu keluar terganggu dengan suara kebisinganku sih.
__ADS_1
"eh ini bukannya rasta ya, anaknya mba sindi?" kata ibuku lagi.
Wajar sajalah ibuku kenal dengan ibunya karena butik ibu berada disebelah rumah rasta yang seperti rasta bilang tadi, berati dia gak bohongkan rumahnya disebelah batinku, & bisa jadi dia juga gak bohong kalo dia masuk kebutik bukan ngikutin aku tapi karena ada perlunya pikirku lagi, seketika aku menepuk jidatku,..."mati aku", kataku lirih.
"eh iya aunty,.." kata rasta, "aunty aku kesini disuruh mama" kata rasta lagi
"oh iya mau ambil pesanan baju mama kamu ya?" kata ibu lagi sambil tersenyum sedang rasta hanya membalas dengan anggukan & tersenyum juga.
Sontak aku ngerasa gak enak begitu tau ternyata rasta datang kebutik beneran bukan mau ngikutin aku tapi karena disuruh mamanya, ah....siaaaaaallll batinku, kegeeran banget sih aku sampe mikir diikutin sama rasta, coba aja aku sadar seperti apa aku gak mungkin seorang rasta ngikutin aku kemana-mana, **** banget sih, pikiranku masih berkecemuk.
Ku lihat ibu sedang menyuruh mba ratna untuk mengambilkan dua paper bag yang sepertinya isinya sebuah gaun & yang lainnya seperti isinya wedges, aku menggaruk kepalaku yang tak merasa gatal, inilah kebegoanku yang hakikih batinku. Rasta menerima paper bag dari ibu yang baru saja diambilkan mba ratna, ia kembali tersenyum kearahku yang membuatku semakin kikuk.
"rasta, sampein kemama kamu ya sayang, aunty trimakasih banget loh mama kamu sudah jadi pelanggan dibutik aunty" kata ibu sambil terus tersenyum.
"iya aunty, kalau gitu rasta pulang dulu ya" kata rasta, "yuk sya" kata rasta kepadaku masih tetap mempertahankan senyumnya.
Aku hanya membalas dengan anggukan & senyum nyengirku, terus ku perhatikan rasta yang telah melenggang keluar dari pintu butik, setelah tak ku lihat batang hidungnya aku lalu menghakimi mba ira, yaaaa....kenapa bisa mba ira menyangka rasta adalah temanku memangnya dia gak tau rasta ngambil orderan mamanya batinku.
"mba ira" kataku agak sewot yang membuat ibu serta kariawan lainnya menoleh kearahku, "mba ira kenapa bisa nyangka tuh rasta temeb aku, emang mba ira gak tau kalau dia itu ambil pesenan mamanya, gimana si mba ira bikin aku salah faham sama rasta" kataku panjang lebar, yang membuat ibu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"anu de aliesya, maaf ya de, mba ira gak pake kacamata jadi mba ira gak liat jelas kalo itu tadi de rasta soalnya mba irakan rabun jauh, yang mba ira liat cuman pake seragam sama kaya kamu de jadi mba kira itu temen kamu" aku lantas menepuk jidatku, oh ya tuhan perfe ct banget kesalah fahaman hari ini, kenapa juga ni mba ira udah tau rabun jauh malah gak pake kacamata pikirku.
"kamu kenapa si ca?" kata mama yang sudah berada dibelakangku membelai rambutku, aku lalu mendudukan diriku disofa sambil mendengus, ibu adalah salah satu teman curhat aku, dia tau semua tentang masalah aku selain asyifa, ya sebagai sesama wanita kali ya lebih memahami. "kamu kenal sama rasta ya de" kata ibu lagi.
"kenal bun" kataku singkat
"terus kamu kenapa kaya gak suka sama rasta de?" kata ibu lagi.
"jadi gini bun, aku pikir tadi itu si rasta ngikutin aku, soalnya aku lagi jauhin dia, habis disekolahan aku habis dilabrak sama cwenya, pake diancam-ancam segala lagi aku bun" kataku menjelaskan.
"de minum dulu nih" kata mba ajeng memberikan sebotol minuman dingin, mba ajeng ngerti banget kalo aku haus banget pikirku, tanpa.menunggu lama ku habiskan minuman botol yang baru disodorkan mba ajeng tadi.
"makasi ya mba ajeng,...tau banget aku haus sampe kering kerongkongan" kataku sambil meringis mba ajeng hanya membalas dengan acungan jari jempolnya sambil tersenyum & melanjutkan pekerjaannya membantu memeking barang.
"emangnya kenapa cwenya bisa cemburu sama kamu sayang?" kata ibuku,
"ah...aku juga gak tau bun, aku baru kenal rasta empat harian loh bun, kenal juga gitu-gitu aja gak juga temenan bun, ini gara-gara pagi tadi rasta datang kekelas aku nyamperin aku bawain aku snack ringan bun, ahhhh jadi gosip deh" katakucemberut.
"emang rasta ngapain ngantarin kamu snack sayang?" kata ibuku lagi
"mana ku tau bun,...ah males ah bahas dia" kataku,
"bun aku laper bun" kataku lagi yang memang lagi kelaparan karena sedari tadi waktu disekolah aku hanya mengisi perutku dengan satu porsi nasi pecel yang sangat kurang mengenyangkan.
Ibu ku tersenyum sambil mengusap-ngusap kepalaku, "ya udah pesen aja sayang gofood, pesenin juga buat mbanya sama mang agus ya, ibun mau ngerjain desain lagi" kata ibu yang masuk kembali kedalam ruangannya, ngeliat ibu yang sangat antusias sama butiknya ini aku bangga banget loh, ibuku adalah wanita yang sangat gigih & pekerja keras itulah kenapa usaha yang dikerjakan ibu gak sia-sia & berkembang sangat baik.
__ADS_1
Setelah beberapa menit akhirnya pesanan yang telah ku pesan tadi sudah datang, kami makan bersama dibutik ibu, suasana yang sudah biasa yang sering kami lakukan dibutik makan bersama-sama seperti ini, memang nikmat rasanya jika makan rame-rame seperti.
"de makan pelan-pelan sayang" kata ibu ku, aku hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun, sedari tadi nahan laper cuman gara-gara menghindar supaya gak ketemu rasta & kak wulan, demi menghindar supaya gak ketemu rasta aku sampe gak keluar dari kelas supaya kak wulan gak macem-macemin aku padahal kalo dipikor mah belum tentu rastanya mau sama aku.