Duren Dokter

Duren Dokter
Bab 01


__ADS_3

Seorang Dokter tampan bertubuh kekar tengah fokus mencatat obat ke buku rekam medis milik pasien bernama pak Marco, seorang pasien paruh baya yang mengidap komplikasi.


Saat sedang serius memeriksa catatannya, dokter Calvin tiba-tiba ingin buang air. Ia pun meletakan buku rekam medis ke atas meja, kemudian bergegas pergi ke kamar mandi.


Setelah kembali, dokter Calvin melanjutkan tugasnya, menyuntikkan obat ke pak Marco yang terbaring tak berdaya di atas brankar.


Dokter Calvin menyuntikkan obat sesuai dengan catatan yang ia buat. Sekitar dua kali suntikkan ia berikan dengan jangka waktu yang benar-benar ia perhitungkan dengan baik. Setelah memberi suntikan, Dokter Calvin kembali ke ruangannya.


Sepersekian menit kemudian.


Tok, tok, tok!


"Dokter Calvin! Dokter Calvin!" teriak seorang suster di luar sana. Calvin langsung bangkit kemudian membuka pintu.


"Ada apa?"


"Kondisi Pak Marco melemah," jawabnya cepat. Mendengar itu, Calvin langsung berlari menuju ruang rawat inap Pak Marco.


Dokter Calvin memeriksa keadaan Pak Marco, dan betapa kagetnya ia saat nadi dan juga pernapasan pria paruh baya itu sudah sangat melemah.


Suster siaga menyiapkan alat pacu jantung, Calvin mengambilnya, kemudian menggunakan sebagai mana mestinya. Sayangnya, usaha Calvin sia-sia, nyawa pasien sudah tak lagi tertolong. Pak Marco dinyatakan meninggal dunia.


Saat diteliti lebih lanjut, Calvin dikagetkan dengan sebuah kenyataan bahwa Pak Marco meninggal dunia akibat kekeliruan yang ia lakukan. Ya, Calvin salah menyuntikkan obat. Padahal, Calvin ingat dia sudah melakukannya dengan teliti dan sangat berhati-hati.


Jenazah pak Marco sudah dimandikan, tinggal menunggu datangnya keluarga korban. Sementara Calvin masih duduk di depan ruang rawat inap dengan perasaan bersalahnya. Ia tak menyangka kekeliruan yang ia lakukan telah menghilangkan nyawa seorang pasien tak bersalah.


***

__ADS_1


Deerrtt....


Ponsel gadis cantik berusia 16 tahun bergetar di saku seragam sekolahnya.


"Dari siapa?" tanya Cleona yang tak lain adalah sahabatnya.


"Dokter Calvin," jawabnya tersenyum lebar, kedua matanya berbinar-binar.


"Cepat angkat!" desak Cleona.


"Cleo, coba cubit aku. Aku tidak bermimpi, bukan?" tanyanya tak percaya dihubungi oleh sang pujaan hati.


"Aw!" ringisnya kesakitan ketika Cleona benar-benar mencubitnya hingga memerah.


"Cepat angkat!" Desak Cleona lagi. Gadis bertubuh tinggi menjulang bernama lengkap Nana Calista itu segera mengangkat panggilan yang masuk.


"Datanglah ke rumah sakit, ini tentang ayahmu," tutur Dokter Calvin seketika mengubah raut wajah Nana, semula tersenyum senang kini berubah penuh kekhawatiran.


"Ada apa, Na? Apa yang terjadi?" tanya Cleona khawatir kala melihat ekspresi wajah Nana.


"Cleo, izinin aku, ya. Aku harus ke rumah sakit sekarang juga," ungkapnya langsung bangkit, kemudian melesat pergi. Saking terburu-burunya, Nana meninggalkan tas beserta isinya. Ia hanya pergi membawa badan dan juga ponsel yang masih ia genggam erat.


Selama di perjalanan menuju rumah sakit, pikiran Nana melalang buana entah ke mana. Ia memang memiliki firasat buruk sedari pagi, tapi berusaha ia alihkan. Dan kini Nana benar-benar ketakutan, apalagi nada suara dokter Calvin yang bergetar. Nana takut terjadi sesuatu kepada sang ayah tercinta.


Sampai di rumah sakit, Nana berlari menuju ruang rawat inap ayahnya. Di depan ruangan, tampak dokter Calvin tengah duduk di sebuah kursi tunggu. Nana langsung menghampiri.


"Dokter Calvin, di mana ayahku?" tanya Nana mendesak.

__ADS_1


Dokter Calvin langsung bangkit dari duduknya, berdiri tepat di hadapan Nana yang masih mengenakan seragam sekolah.


"Nana ayahmu ... Ayahmu—" Calvin tak sanggup mengungkapkannya kepada Nana. Lidahnya terasa kelu, pikirannya dipenuhi rasa bersalah.


Nana yang tak sabaran memilih masuk ke dalam ruang rawat inap sang ayah.


Nana masuk tepat saat seseorang suster menutupi wajah pucat ayahnya dengan kain putih. Nana terdiam seribu bahasa, mendadak dunianya runtuh.


Nana mendekat dengan langkah gontai, kemudian menyingkap cepat kain putih itu untuk memastikan.


"AYAAAH!"


.


.


.


Hallo semua, ketemu lagi di novel terbaru author Oniya😍 Ada yang masih ingat si bar-bar Nana Calista dan Dokter Kalem Calvin Adis? Kisah manis mereka kita mulai ya🔥💞. Jangan lupa dukungannya berupa like, komen, dan bintang limanya. Terima kasih 🙏🏻


Visual


~ Calvin Adis



~ Nana Calista

__ADS_1



__ADS_2