
Calvin panik bukan main, ia keluar dari mobil, berlari menghampiri gerombolan orang-orang yang mengerumuni korban kecelakaan. Tanpa disadari, Calvin telah menangis histeris kala mendengar ucapan orang-orang yang mengatakan bahwa korban telah meninggal dunia. Detik itu juga Calvin merasa dunianya runtuh, rasa bersalahnya meningkat berjuta kali lipat. Bukannya menjaga Nana untuk menebus dosa, Calvin justru lalai hingga kehilangan Nana. Calvin merasa tak pantas dimaafkan, kali ini ia benar-benar akan memastikan bahwa dirinya akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.
"Nanaaa!" teriak Calvin langsung memeluk Nana yang sekujur tubuhnya sudah bersimbah darah.
"Maafkan aku, Nana. Maafkan suamimu yang tidak berguna ini. Jangan pergi, aku mohon jangan pergi, kamu mau aku lebih perhatian, lebih peduli padamu, kan? Akan aku lakukan asalkan kan jangan pergi. Aku berjanji akan melakukan apa pun yang kamu mau," lanjut Calvin dengan tangisan histerisnya.
"NANA JANGAN PERGI!" teriak Calvin.
Gerombolan orang-orang pun mulai menepi ketika polisi telah datang.
"Apa tuan keluarga korban?" tanya seorang polisi berusaha membantu Calvin berdiri.
"SAYA SUAMINYA!" bentak Calvin dengan penampilan yang begitu berantakan. Sementara para polisi dibuat terdiam, bukan karena bentakkan Calvin, melainkan karena....
"Korban kecelakaannya berjenis kelamin laki-laki," celetukan sang polisi membuat Calvin terdiam beberapa detik, kemudian mengalihkan pandangan pada korban kecelakaan yang ternyata benar-benar adalah laki-laki. Calvin kaget bukan main.
"Mohon maaf bapak-bapak polisi, sepertinya suami saya salah mengenali orang. Ayo sayang, kita pulang," Nana yang rupanya ada di gerombolan orang-orang langsung menyeret Calvin kembali ke mobil.
Sedangkan polisi tampak heran melihat Nana berseragam SMA. "Apa anak SMA sekarang sudah boleh menikah?" tanya sang polisi dengan alis yang bertaut.
"Sudah menjadi rahasia umum semenjak rumor pernikahan antara prince Castin dengan remaja SMA," jawab polisi lainnya.
__ADS_1
Melihat keadaan Calvin yang masih syok dan tak percaya, Nana pun memutuskan untuk mengemudikan mobil, sementara Calvin duduk di sebelahnya.
"Haha...." Nana mengemudikan mobil sambil terus menertawakan suaminya. Sulit baginya menahan tawa saat mengingat adegan sebelumnya. Ya, dari awal Nana sudah ada di gerombolan orang-orang yang mengerumuni korban kecelakaan. Ia kaget saat melihat Calvin yang panik dan berlarian memanggil namanya.
Sampai di apartemen, Nana tak kunjung berhenti menertawakan Calvin. Baginya adegan tadi amatlah lucu.
"Berhenti tertawa," kata Calvin sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya. Nana tak peduli dan terus tertawa sampai masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Di dalam kamar mandi, Calvin menyesali kebodohannya. Saking paniknya ia sampai salah mengenali orang. Benar-benar memalukan, bukan hanya di depan polisi dan banyak orang, tapi di depan Nana.
"Sial!" umpat Calvin di bawah shower yang terus mengguyur tubuh kekarnya.
"Nana," panggil Calvin tapi tak terdengar sahutan, membuatnya terpaksa membuka pintu kamar yang tak dikunci, dan betapa kagetnya ia saat mendengar suara seseorang yang muntah-muntah dari dalam kamar mandi yang terkunci.
"Nana, kamu di dalam? Apa yang terjadi?" tanya Calvin panik.
"Tidak apa-apa, hanya kebanyakan tertawa sampai muntah-muntah," balas Nana dengan suara lemahnya.
"Sudah kukatakan berhenti tertawa, kenapa kau sangat keras kepala. Cepat buka pintunya, kamu tidak makan seharian, aku akan memeriksamu," lanjut Calvin lagi.
"Tapi aku belum selesai mandi," sahut Nana.
__ADS_1
"Buka saja, biar aku bantu," jawab Calvin yakin.
"Tapi aku telan jang, apa tidak masalah?" Nana menekan kalimatnya.
"Buka sekarang!" pinta Calvin dan Nana pun membuka pintu kamar mandi. Calvin masuk dan benar saja, istri kecilnya itu tidak mengenakan sehelai benangpun di tubuh polosnya. Persetan dengan senjatanya yang langsung merespon, Calvin berusaha fokus pada tujuan utamanya meski sangat sulit dilakukan.
Sementara Nana tidak merasa canggung sedikit pun. Ia justru kesal, andai tidak sedang sakit, sudah dari tadi ia goda suami tampannya itu. Tidak makan seharian membuatnya tak bertenaga, ulu hatinya benar-benar terasa nyeri. Belum lagi mual yang membuatnya merasa ingin muntah.
"Duduk di sana," pinta Calvin dan Nana pun duduk dengan patuh, Nana duduk membelakangi Calvin yang menyabuni tubuhnya.
"Sebelum aku, apa ada wanita lain yang telan jang di hadapanmu?" tanya Nana dengan santai.
"Banyak."
"APA!? BANYAK!?"
.
.
.
__ADS_1