
Praaang!
Suara sesuatu yang pecah mengagetkan Calvin yang tengah serius bercerita.
"SIAPA DI SANA?" teriak Calvin langsung bangkit dan berlari ke sumber suara, hal yang sama juga dilakukan oleh Devil.
"Siapa, Calvin?" tanya Devil ikut panik.
Calvin tak menjawab, tapi ia menghela napas lega karena tidak ada siapa pun di luar ruangan. Yang ada hanya seekor kucing cantik yang sepertinya tak sengaja memecahkan satu vas bunga.
"Nachi!" seru Devil langsung mengambil alih kucing menggemaskan itu.
"Bukannya kau takut kucing? Sejak kapan kau pelihara kucing?" Calvin mengintrogasi karena setahunya Devil tak hanya membenci kucing, tapi juga takut pada hewan peliharaan satu itu.
"Nachi berbeda. Kau lihat betapa cantik dan menggemaskannya dia, bagaimana bisa aku membencinya? Apalagi kehadiran Nachi, sedikit mengurangi kesepian yang aku rasakan," terang Devil sambil melangkah kembali ke sofa tempat semula. Sementara Calvin mengunci pintu ruangan agar perbincangannya aman.
"Hati-hati, jangan-jangan dia kucing jadi-jadian," goda Calvin menakut-nakuti.
"Kau benar, jangan-jangan Nachi adalah jelmaan dari wanita bersegel yang sangat cantik. Apa itu artinya Nachi adalah jodohku?" bukannya takut, Devil justru memainkan imajinasinya.
"Sekarang sudah tahun dua ribu dua tiga, bukan zaman purba. Imajinasi terlalu memaksa," balas Calvin membangunkan sang sahabat dari dunia mimpinya yang indah.
"Memangnya di zaman purba ada kucing?"
"Tukang tidur saat jam pelajaran mana tahu," ejek Calvin membuat Devil kesal.
__ADS_1
"Calvin apa kau ingat perkataanmu saat mengunjungi Elmer di penjara?" Devil tersenyum smirk.
"Perkataan yang mana?"
"Yang ini....
FLASHBACK ON
"Oh iya, apa Cleona sudah ditemukan?" tanya Elmer ketika mengingat Cleona.
"Urus saja satu gadis yang kau hancurkan masa depannya, tidak perlu urus Cleona. Kalian bertiga membuatku gila," balas Calvin kemudian bangkit dan bersiap akan pergi karena tugasnya telah selesai.
"Jangan begitu, apa kau tidak takut karma!" teriak Elmer dari dalam penjara, ia berteriak agar Calvin mendengar.
"Aku tidak seceroboh kalian!" balas Calvin tetap melangkah pergi sambil melambaikan punggung tangannya.
"Haha ... Aku tidak seceroboh kalian! Lihat, lihat apa yang terjadi sekarang? Aku tak menyangka seorang Dokter Calvin salah menyuntikkan obat," Devil sangat puas menertawakan nasib sang sahabat yang kini termakan karma atas ucapannya sendiri.
"Berhenti meledekku, Devil!" sentak Calvin murka.
"Sudahlah, terima saja takdirmu, biar Tuhan yang mengatur seperti apa kelanjutannya. Lebih baik kau fokus bahagiakan dia karena sekarang Nana sudah menjadi istri sahmu. Setahuku Nana sangat mencintaimu, bukankah kalian imbas?" Devil kembali serius sampai-sampai membawa Tuhan dalam ucapannya. Calvin sampai terkesan.
"Tetap saja aku takut, dia pasti tidak akan memaafkanku kalau sampai tahu bahwa ayahnya mati di tanganku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa menjadi suami yang baik untuknya. Aku bahkan tidak memiliki perasaan sedikit pun terhadapnya, bagaimana bisa aku membahagiakannya?" Calvin frustasi akan jalan hidupnya yang begitu rumit.
"Lagi pula aku menikahi Nana bukan untuk menjadi suaminya, tapi untuk menggantikan posisi ayahnya yang menjaga dan melindunginya. Aku akan melepaskan Nana begitu ia menemukan cinta sejatinya," lanjut Calvin dengan raut wajah sendu. Entah kenapa hatinya terasa ngilu saat mengucapkan kalimat itu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau cinta sejati Nana adalah kamu?" sahut Devil membuat Calvin langsung menoleh padanya.
"Bagaimana mungkin, kau tahu aku tidak mencintainya," tegas Calvin.
"Coba tanyakan pada hati kecilmu, benarkah kamu tidak mencintai Nana?" balas Devil lagi, Calvin mengerutkan dahi, ia tengah berpikir dengan keras.
"Kisah cintamu, kisah cinta Castin dan kisah cinta Elmer sebenarnya tidaklah rumit, karena yang membuatnya rumit adalah kalian sendiri. Kalau aku ada di posisi kalian, aku tidak akan membuat pusing diri sendiri," lanjut Devil dengan penuh bijaksana.
"Ck!" Calvin berdecih meremehkan.
"Lihat saja nanti!" tegas Calvin percaya diri.
"Sekarang ceritakan padaku apa masalahmu?" kini giliran Calvin yang penasaran akan permasalahan yang dihadapi oleh Devil.
"Kau ingat sebulan yang lalu aku pernah cerita bahwa aku hanya mampu bertahan sampai tiga ronde dari yang biasanya sampai delapan ronde? Dan apa kau juga ingat dua minggu lalu aku pernah cerita kalau aku hanya mampu bertahan satu ronde saja?" tanya Devil dengan ekspresi takutnya.
"Iya, aku masih ingat. Apa sekarang masa kejayaan naga saktimu sudah berakhir?"
"Belum seburuk itu, tapi sekarang aku hanya bisa bertahan sampai 20 menit saja. Aku benar-benar dalam masalah. Apa yang harus kulakukan sekarang, Calvin? Kau dokter, aku mengandalkanmu," Devil menggenggam erat jemari sang sahabat, seakan sangat serius dengan masalahnya saat ini.
"Kurasa itu kutukan, bertobatlah, kalau tidak seminggu lagi naga saktimu tidak akan bisa bangkit lagi," jawab Calvin sengaja menakut-nakuti Devil.
"Berhenti menakutiku, aku serius! Aku tahu kau bisa menyembuhkanku."
.
__ADS_1
.
.