Duren Dokter

Duren Dokter
Bab 02


__ADS_3

Nana Calista, gadis belia berparas cantik dengan tubuh indah bak model tampak tengah bersimpuh di samping makam yang masih basah tanahnya. Nana menangisi kepergian sang ayah yang telah berada di peristirahatan terakhirnya. Meski kini sebatang kara, tapi selalu ada sang sahabat Cleona Chavez yang selalu setia menemani. Cleona ikut bersimpuh di sebelah Nana, memegang erat kedua bahu Nana, berusaha menguatkan.


"Kenapa cepat banget, Ayah? Ayah janji mau jadi wali nikah di pernikahan Nana, Ayah juga janji mau temani Nana sampai lahirin 15 cucu. Ini apa? Kenapa Ayah tinggalin Nana gitu aja...."


"Uhuk!"


"Dokter kenapa?" tanya Cleona menengadahkan kepala menatap dokter Calvin yang berdiri di sebelahnya.


"Tidak apa-apa," sahutnya cepat, Cleona pun kembali fokus menenangkan sang sahabat.


"Yang sabar, Na. Kan masih ada aku," lanjut Cleona menepuk pelan pundak sang sahabat.


"Ada tuan Castin sama baby d, mana mungkin kamu bisa temani aku 24 jam full," balas Nana mengerucutkan bibirnya dengan imut.


"Saya bisa!" sahut dokter Calvin dengan tegas. Hal tersebut tentu membuat Nana dan Cleona menoleh padanya dengan mata membulatkan sempurna.


"Maksud, dokter?" tanya Cleona langsung bangkit, menatap Calvin dengan serius.


"Jangan-jangan dokter mau—" Nana menutup mulut dengan kedua telapak tangan.


"Mau apa?" sahut Cleona penasaran.


"Dokter Calvin mau temani Nana 24 jam full?" celetuk Nana dengan polosnya.


"Mana boleh begitu," Cleona langsung menatap dokter Calvin dengan tajam.


"Gak apa-apa, sih. Aku mau ditemani 24 jam full sama dokter Calvin," sambung Nana dengan air mata yang tak lagi mengalir. Rasa sedihnya seketika sirna kalau sudah membahas dokter Calvin, suami masa depannya.

__ADS_1


Dokter Calvin menghela napas kasar, ia kira Nana mengerti maksud tersirat dari ucapannya tadi. Tapi ternyata dia salah, Nana tetaplah Nana. Calvin tak akan lagi berekspektasi tinggi padanya.


"Maksud saya, saya akan menikahimu, Nana!"


Mendengar itu, Nana hampir pingsan.


"Cleona, aku tidak salah dengar'kan? Dokter Calvin lamar aku?" Nana bertanya dengan heboh pada sang sahabat di sebelahnya. Cleona yang juga syok tampak diam seribu bahasa.


Sementara dokter Calvin beralih ke seberang makam, pria tampan dengan tubuh kekar itu berjongkok sambil memegang nisan dengan sebelah tangannya.


"Saya gagal menjaga bapak, tapi saya janji tidak akan gagal menjaga putri kesayangan bapak. Izinkan saya mempersuntingnya," ucap Calvin dengan ekspresi wajah seriusnya, kali ini Nana benar-benar jatuh pingsan.


"Nana!" seru Cleona kesulitan menyambut tubuh sang sahabat yang lebih tinggi darinya.


***


"Nana baik-baik saja, dia hanya kelelahan. Biarkan dia istirahat sebentar dan sebaiknya kamu pulang sekarang, bisa heboh satu negara kalau sampai Castin kehilanganmu," tutur Calvin dengan santainya, Cleona memutar mata jengah. Ia tak bisa mengelak karena apa yang dikatakan oleh dokter Calvin benar adanya.


"Ya sudah aku pergi, jaga Nana baik-baik. Ingat, jangan ambil kesempatan dalam kesempitan!" tegas Cleona memberi peringatan keras.


"Tidak kebalik?" gumam Calvin. Jelas selama ini ia selalu berusaha menghindar dari Nana yang terus mengejarnya.


"Dokter bilang apa?" tanya Cleona kembali membalikkan badan.


"Hati-hati di jalan, Nona Cleona," jawab Calvin dengan senyuman yang ia buat semanis mungkin. Cleona pun melanjutkan kembali langkahnya untuk pergi.


Setelah kepergian Cleona, Calvin menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke lantai kamarnya. "Maafkan saya Pak Marco. Seharusnya saya di penjara, tapi siapa yang menjaga Nana?" keluh Calvin mengusap rambut dengan kasar, tampak ia sangat menyesali perbuatannya. Calvin harap keputusannya tidak salah.

__ADS_1


Tentu Calvin ingin menyerahkan diri ke polisi, tapi ia khawatir pada Nana. Hingga akhirnya, Calvin memilih menikahi gadis belia yang sama sekali tidak ia cintai. Meski tidak memiliki perasaan sedikit pun kepada Nana, Calvin berjanji akan menjaga Nana dengan nyawanya. Seumur hidup ia hanya akan mengabdi kepada Nana. Setidaknya, apa yang ia lakukan kini sedikit mengurangi rasa bersalahnya. Menikahi Nana adalah hukuman bagi Calvin.


Tak ingin larut dalam penyesalan, Calvin kembali bangkit, ia duduk di pinggi ranjang, menatap Nana dengan tatapan penuh rasa bersalah. Salah satu tangannya terulur, kemudian membenahi anak rambut Nana yang berantakan sambil berkata, "Maafkan saya, Nana."


"Maafkan apa?" tanya Nana sambil mencengkram pergelangan tangan Calvin. Calvin kaget melihat Nana tiba-tiba bangun. Calvin takut, takut Nana mendengar semua penyesalannya barusan.


"Na ... Nanaa...."


"Ada sesuatu yang dokter sembunyikan dari saya?" Nana mengintrogasi dengan seriusnya. Dokter Calvin menelan saliva bersusah payah, lidahnya tiba-tiba terasa kelu.


"Sa ... Saya....


"Saya apa?" desak Nana langsung bangkit tanpa melepaskan cengkramannya.


"Ma ... maafkan saya karena....


.


.


.


Dokter Calvin



Nana

__ADS_1



__ADS_2