Duren Dokter

Duren Dokter
Bab 05


__ADS_3

"Lepaskan putraku!" bentak Elsa menekan kalimatnya dengan murka. Nana tercengang dengan muka memerah, terlalu tak menyangka kalau apa yang ia pikirkan benar-benar menjadi kenyataan. Ibu mertuanya adalah sosok yang kejam dan tak berperasaan.


Nana menggelengkan kepala guna menyadarkan diri. Sebagai seorang wanita kuat dan tak lemah, tentu Nana tak akan mengikuti perintah calon mertuanya begitu saja.


"Saya—"


"Lepaskan Calvin kalau kau tak sanggup memenuhi syarat dariku," potongnya mengubah ekspresi secepat kilat, kini Elsa tampak kembali tenang, tak menggebu-gebu seperti saat menggebrak meja tadi.


"Syarat?" Nana penasaran.


"Iya, sebuah syarat," jawabnya tersenyum licik.


"Apa syaratnya?" tantang Nana tak mau kalah, apa pun akan ia lakukan demi menjadi istri pujaan hati.

__ADS_1


"Kuberikan waktu dua bulan, kalau kau tidak hamil, maka lepaskan putraku," ungkap Elsa dengan penuh penekanan pada setiap kalimatnya. Nana terperangah, tak habis pikir dengan syarat mudah, tapi agak sulit itu. Walaupun statusnya masih seorang siswi SMA, tentu tak jadi masalah bagi Nana untuk hamil. Namun, Calvin tak akan mungkin setuju.


"Baik. Jangankan dua bulan, saya yakin dapat hamil hanya dalam waktu sebulan menjadi istri," sahut Nana percaya diri. Dengan berbagai jurus andalan ditambah sedikit kelicikan, Nana yakin dapat hamil dengan mudah.


"Baru calon menantuku," Elsa mengulurkan tangan, seakan menyambut Nana dengan senyuman kebahagiaan, sangat berbeda dengan ekspresinya tadi, di mana ia selalu mengintrogasi dengan raut wajah yang menakutkan. Dari raut wajahnya yang sekarang, tampak Elsa cukup menyukai Nana. Nana menyambut uluran tangan sang calon mertua dengan wajah bingungnya.


"Aktingku masih yang terbaik," batin Elsa bangga. Sebagai mantan aktris yang terkenal pada masanya, tentu soal akting adalah hal mudah baginya. Apa pun akan ia lakukan demi seorang cucu yang dapat ia banggakan pada kumpulan sosialitanya.


Sementara itu di ruangan lainnya, Calvin tengah duduk di sofa yang terdapat di ruang kerja ayahnya, sementara Arvin sang ayah tampak mondar-mandir tak tentu arah.


"Apa maksud papa?" tanya Calvin serius.


"Menikahi seorang gadis karena rasa bersalah tanda adanya cinta, kamu tidak hanya menyakiti diri kamu sendiri, tapi juga gadis tidak bersalah itu. Dengarkan papa baik-baik, kamu tetap bisa bertanggung jawab pada gadis itu tanpa menikahinya. Ada banyak cara lain untuk memastikan dia tetap hidup dengan baik," ungkap Arvin tak ingin putranya menikah tanpa rasa cinta.

__ADS_1


"Hanya dengan menikahinya rasa bersalah ini dapat sedikit berkurang. Papa tidak akan mengerti bagaimana hidup dikelilingi rasa bersalah. Keputusan Calvin sudah bulat, Calvin akan di tetap menikahi Nana," keukeuh Calvin tak dapat dibantah.


"Papa juga dokter, Calvin. Tentu papa paham bagaimana perasaanmu, tapi papa tidak mau kamu menyesal nantinya. Cepat atau lambat, Nana pasti akan tahu kesalahanmu," dari ucapannya, sepertinya Arvin tahu obat penenang yang kini diam-diam Calvin konsumsi.


"Sekarang papa tanya, apa yang akan kamu lakukan saat Nana mengetahui bahwa kematian ayahnya adalah kesalahanmu?" Calvin terdiam, ia tak pernah berpikir sampai ke sana. Arvin sang ayah mengusap wajah dengan kasar. Ia bingung bagaimana lagi harus memberikan pengertian kepada putranya yang keras kepala. Persis seperti Elsa, istrinya.


Calvin bangkit dari duduknya, "Calvin datang membawa Nana untuk memberi tahu papa dan mama kalau Calvin akan menikah besok, terserah papa mau datang atau tidak," papar Calvin kemudian pergi begitu saja meninggalkan Arvin yang tampak syok atas ucapan sang putra yang akan menikah secepat itu.


"Kita pulang!" ajak Calvin langsung menyeret pergelangan tangan Nana keluar dari mansion tanpa berpamitan lebih dulu.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan bintang limanya 😍 Terima kasih 🙏🏻


__ADS_2