Duren Dokter

Duren Dokter
Bab 17


__ADS_3

"Sebelum aku, apa ada wanita lain yang telan jang di hadapanmu?" tanya Nana dengan santai.


"Banyak," jawab Calvin jujur.


"APA!? BANYAK!?" Nana langsung menoleh ke belakang dengan tatapan tajamnya.


"Jangan lupa aku adalah dokter," Calvin mengingatkan.


"Oh iya ... Pantas saja kamu tidak kaget melihatku begini, apalagi ukuranku terlalu mini, sama sekali tidak menarik di matamu," ucap Nana merasa tak pantas untuk Calvin, apalagi saat membandingkan kedua gundukannya dengan Cleona, sahabat sekaligus pujaan hati suaminya. Nana semakin tertunduk lesu saat Calvin sama sekali tak menyangkal ucapannya.


"Seberapa banyak wanita yang pernah kamu lihat?" tanya Nana penasaran.


"Tidak banyak, hanya dalam kondisi mendesak saja. Sekarang berbaliklah, aku akan menyabuni tubuh bagian depanmu," pinta Calvin dan Nana langsung merebut spons di tangan suaminya.


"Keluarlah, selanjutnya biarku lakukan sendiri."


"Tapi—"


"Aku baik-baik saja," tekan Nana dan Calvin pun segera keluar dari kamar mandi.


Tiba di luar, Calvin menjatuhkan tubuhnya ke lantai, hampir ia mati berdiri di dalam sana. Berbagai macam bentuk sudah pernah ia lihat, tapi sungguh biasa saja. Calvin dapat bersikap profesional. Namun, hal itu tidak berlaku pada Nana. Sungguh ia hanya melihat tubuh polos bagian belakang Nana, tapi sudah cukup membuatnya hampir kehilangan nyawa.


"Kenapa duduk di sana?" tanya Nana yang baru keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sekarang kenakan pakaianmu, aku akan ambilkan obat," kata Calvin melesat pergi. Nana tak bisa menahan bibir yang tertarik lebar.


Tak lama setelah Nana mengenakan gaun seksinya, Calvin datang dengan membawa lengkap peralatan medisnya. Calvin tak mempermasalahkan gaun malam seksi yang kini melekat di tubuh istrinya.


"Berbaringlah," titah Calvin, Nana berbaring dengan patuh. Calvin mulai memeriksa kondisi kesehatan sang istri.


"Hanya asam lambung, kan?" tanya Nana memastikan sakitnya.


"Sejak kapan kamu telat makan," tanya Calvin mengintrogasi.


"Semenjak ayah jatuh sakit," jawab Nana cepat.


"Kamu tahu sendiri biaya pengobatannya tidak sedikit. Jangankan buat makan, sekolah saja terpaksa berhenti. Aku beruntung bertemu dengan tuan Castin yang memberikan pekerjaan di saat aku sangat membutuhkannya. Meski sudah berjuang, tapi takdir berkata lain, ayah tetap pergi meninggalkanku," tutur Nana dengan ekspresi yang biasa saja, tak terlihat sedih sama sekali. Tampaknya Nana benar-benar telah mengikhlaskan kepergian ayahnya tercinta.


"Maaf," ucap Calvin tiba-tiba.


"Untuk apa? Kecuali ayahku meninggal karena kesalahanmu, baru minta maaf," balas Nana mengalihkan pandangan dengan senyuman kecil di bibirnya.


Deg!


Jantung Calvin berdetak semakin kencang, suhu tubuhnya tiba-tiba naik drastis, rasa bersalah mulai menghantuinya.


"Kalau seandainya benar begitu, apa kamu akan memaafkanku?"

__ADS_1


"Membayangkannya membuat perutku semakin nyeri," Nana sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Minum obatmu," Calvin membantu Nana meminum pilnya.


"Aku tidak masalah sakit begini asalkan kamu perhatian," batin Nana senang.


"Makanlah, setelah itu langsung istirahat. Kalau terjadi sesuatu panggil saja aku," kata Calvin segera kembali ke kamarnya untuk istirahat.


"Apa tidak bisa tetap di sini temani aku?" Nana menahan pergelangan tangan Calvin agar tak pergi meninggalkannya sendiri di kamar.


"Ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan malam ini juga," balas Calvin kembali melangkah untuk pergi.


"Maafkan aku, Nana. Maafkan suamimu yang tidak berguna ini. Jangan pergi, aku mohon jangan pergi, kamu mau aku lebih perhatian, lebih peduli padamu, kan? Akan aku lakukan asalkan kan jangan pergi. Aku berjanji akan melakukan apa pun yang kamu mau."


Nana menyetel suara dari video yang ia rekam. Mendengar itu, Calvin menghentikan langkah, kemudian membalikkan badan menatap Nana yang kini tersenyum licik.


"Kamu berjanji akan melakukan apa pun yang aku mau. Apa ini cukup untuk menahanmu tetap di sisiku malam ini?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2