
"Sepertinya gaun ini terlalu terbuka untuk bertemu dengan calon mertua, sebentar aku ganti dulu," kata Nana untuk yang ke empat kalinya. Calvin kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa karena lelah menunggu Nana yang tak sudah-sudah.
Ceklek!
Pintu kamar kembali terbuka, Calvin memilih untuk tetap duduk di sofa.
"Bagaimana?" tanya Nana memutar tubuh hingga dress selutut berwarna hitam mekar begitu indah di tubuhnya yang memiliki porsi ideal. Tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Tak hanya proporsi tubuh yang menjadi pusat perhatian, tapi visual wajah Nana tak kalah sempurnanya. Rambut bergelombang yang terurai serta make up tipis membuat penampilan Nana malam itu seakan tak ada tandingnya.
Sayangnya, penampilan sempurna Nana tak cukup memikat Calvin. Dokter tampan itu tak bisa membohongi hatinya. Lihatlah bagaimana ia terus menatap Nana, bukan karena kagum, melainkan sibuk mencari sosok Cleona di dalam diri Nana. Tak bisa dipungkiri, Calvin tetap mencintai Cleona mantan pasiennya yang kini telah menjadi istri sahabat dekatnya, Castin Afson. (Kisah Cleona dan Castin ada di judul Duren Bangsawan)
Mustahil ada Cleona di dalam diri Nana, karena keduanya begitu bertolak belakang. Cleona yang lembut dan selalu mengalah, sementara Nana begitu bar-bar serta pantang menyerah. Sampai kapan pun, Calvin tak akan menemukan sosok Cleona pada Nana.
"Lebih baik daripada pakaian tradisional dan gaun seksi sebelumnya," balas Calvin dengan santai. Calvin mengenakan setelan jas formal berwarna hitam, membuat Nana tak bisa mengalihkan pandangan dari ketampanan sang calon suami.
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang?" Nana bertanya penuh antusias. Calvin mengangguk asal dan melangkah lebih dulu, Nana menyusul dengan semangat hingga sampailah mereka di dalam mobil. Selama di perjalanan, Nana terus bertanya seperti apa sosok kedua mertuanya, Calvin tak menjawab pertanyaan Nana, melainkan terus memperingati Nana untuk menjaga sikap.
Beberapa menit perjalanan, mobil pun berhenti tepat di depan sebuah mansion mewah bergaya kastil. Nana menelan saliva bersusah payah, kegugupan serta kepanikan kini melanda. Nana takut mertuanya kejam seperti di novel-novel.
"Ayo masuk," ajak Calvin lagi-lagi mendahului Nana. Beruntung Nana memiliki kaki yang panjang dan jenjang, hingga ia tak akan ketinggian jauh.
Nana melangkah sambil memutar bola mata, menatap kagum setiap sudut rumah yang indah. Rumah bangsawan Oesteria memang tiada duanya, rumah itu tak kalah indahnya dengan mansion milik prince Castin Afson. Karena saking asiknya mengagumi interior rumah, Nana sampai kaget saat Calvin memintanya untuk duduk.
"Calvin, papa ingin bicara denganmu," suara bijaksana memecah lenggang. Calvin pun bangkit dari duduknya, kemudian melangkah mengekori ayahnya menuju ruang kerja di ujung sana. Calvin bahkan tak peduli pada Nana yang menatapnya tak percaya. Nana kaget karena Calvin begitu tega meninggalkan sendiri di ruang makan. Tidak, ia tak sendiri karena ada sang ibu mertua yang masih menatapnya tajam.
"Perkenalkan nama saya Nana Calista, usia 17 tahun dan saya—"
"Cukup!" potong wanita paruh baya di hadapannya. Nana pun tak lagi nyerocos dan kembali duduk dengan anggunnya.
__ADS_1
"Kamu hamil?" tanya sang calon mertua tiba-tiba, Nana langsung mengangkat wajah dengan mata membulat sempurna.
"Kamu hamil?" tegasnya mengulang pertanyaan, Nana pun menggelengkan kepala dengan jujur.
Brak!
Nana kaget setengah mati saat calon mertua bangkit sambil menggebrak meja makan dengan kuat. Nana menundukkan wajah takut. "Tamatlah riwayatku," monolog Nana seorang diri.
"Lepaskan putraku!"
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan bintang limanya 😍 Terima kasih🙏🏻