
"Keluar sekarang juga!" usir Calvin dengan tegas.
"Baiklah, kita lanjutkan saat bulan madu," Nana tersenyum manis, kemudian bergegas keluar dari kamar suaminya.
"Sial!" umpat Calvin menjatuhkan tubuh dengan kasar ke atas ranjang, ia menghela napas hingga berhasil meredam emosi yang tadinya menggebu-gebu.
Baru beberapa detik Calvin memejamkan mata, suara ponsel yang seakan menjerit di telinga seketika membangunkannya. Calvin meraba ponsel di saku celana, nama Devil sang sahabat tertera di layar, ia pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanya Calvin dengan malas sambil memijat lembut pangkal hidung.
"Kau di mana? Aku ingin berkonsultasi," balas Devil di seberang sana.
"Kau di mana?" bukan jawaban, tapi Calvin justru melempar pertanyaan yang sama dengan yang Devil tanyakan.
"Tentu saja aku di club, kenapa balik bertanya?" sahut Devil terheran.
"Aku ke sana sekarang!" seru Calvin memutuskan panggillan sepihak. Dokter tampan itu segera bangkit, meraih kunci mobil dan melesat pergi begitu saja tanpa memberitahu Nana sang istri.
***
__ADS_1
Di ruang VVIP Grape Club.
"Kukira kau akan sama seperti Castin dan Elmer," ucap Devil menyambut kedatangan sang sahabat yang langsung duduk tepat di sebelahnya.
"Sama apanya?" tanya Calvin dengan helaan napas beratnya.
"Tentu saja sama-sama sibuk mengurusi istri masing-masing," Devil menggoyangkan anggurnya, kemudian barulah ia teguk dengan nikmat.
"Kalian bertiga sangat beruntung mendapatkan wanita yang masih bersegel. Sedangkan aku? Hufff ...." Devil menaruh kembali gelasnya, kemudian turut menyandarkan tubuh ke punggung sofa.
"Kau sendiri tidak bersegel, apa hakmu menginginkan wanita yang bersegel?" balas Calvin dengan kedua mata yang masih terpejam.
"Entahlah, tapi sepertinya aku hanya penasaran seperti apa rasanya. Kau tahu sendiri, dari sekian banyak wanita yang aku tiduri tidak ada satupun yang bersegel," lanjut Devil lagi.
"Hei! Aku juga mau merasakan jatuh cinta dan sepertinya aku dalam masalah sekarang," Devil mulai serius dengan ucapannya.
"Masalahmu tidak akan serumit masalahku," sambung Calvin masih betah dengan posisi semula.
"Kau beruntung menikah dengan Nana, apa lagi yang dipermasalahkan? Tunggu, apa ini tentang Nana yang sudah tidak sabar ingin merasakan burung perkututmu?" goda Devil sengaja memancing emosi sang sahabat.
__ADS_1
"Burung perkutut?!" benar saja, Calvin langsung bangkit dengan tatapan tajamnya yang menghujam. Bukannya takut, Devil malah tertawa terbahak-bahak.
"Ceritakan padaku apa masalahmu, setelah itu akan aku ceritakan masalahku. Ck! Kau ini! Sudah beruntung dapat wanita bersegel masih saja tidak bersyukur," Devil kembali menuangkan anggur ke gelasnya yang telah kosong.
"Kau tidak akan berkata seperti itu kalau tahu alasan sebenarnya kenapa aku menikahi Nana," ucapan serius Calvin membuat Devil tertarik untuk mendengarkan lebih jauh tentang permasalahan yang kini tengah dihadapi oleh sang sahabat.
"Aku juga penasaran tentang itu, cepat beri tahu aku sekarang," Devil tampak tak sabaran. Selama ini ia pikir Calvin menikahi Nana karena kasihan, tapi sepertinya tidak sesederhana yang ia pikirkan.
"Kau tahu kenapa ayah Nana meninggal?" tanya Calvin menatap Devil dengan penuh keseriusan.
"Komplikasi yang sudah menyebar ke seluruh organ vital tubuh, bukankah itu penyebab ayah Nana meninggal dunia. Tunggu, kalau itu tidak benar. Jangan-jangan..." terlalu kaget membuat Devil tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Kau benar, bukan itu alasan Pak Marco meninggal dunia. Karena sebenarnya beliau meninggal karena kecelakaan medis yang aku lakukan, aku salah menyuntikkan obat."
Praaang!
"SIAPA DI SANA?"
.
__ADS_1
.
.