Duren Dokter

Duren Dokter
Bab 03


__ADS_3

"Ma ... Maafkan saya karenaโ€”"


"Apa ayah meninggal karena kesalahan dokter?" tanya Nana menatap Calvin dengan serius. Calvin semakin panik, ia belum siap menceritakan segalanya pada Nana. Karena dari lubuk hati terdalam, entah kenapa Calvin takut Nana membencinya.


Melihat dokter Calvin membatu, Nana menghela napas kasar kemudian kembali melanjutkan ucapannya, "Selagi ayah meninggal bukan karena kesalahan dokter, dokter tidak perlu merasa bersalah. Nana tahu dokter sudah melakukan yang terbaik, mulai sekarang Nana akan belajar mengikhlaskan kepergian ayah."


"Apa ini artinya Nana belum tahu yang sebenarnya? Syukurlah," batin Calvin lega.


"Terima kasih, Nana. Namun, saya akan tetap menikahi kamu," sambung Calvin mengungkapkan kalimatnya dengan penuh keseriusan.


Meski sudah mendengar sebelumnya, tapi tetap saja Nana tak bisa mengontrol garis bibirnya yang tertarik lebar.


"Kalau ayah masih hidup, dia pasti senang," balas Nana yang tampak begitu gembira, berbeda dengan Calvin yang justru tersenyum kecut.


Esok harinya.


Di sekolah.


"Kamu serius terima lamaran dokter Calvin?" bisik Cleona dengan mata yang tetap fokus pada sang guru yang menjelaskan pelajaran di depan sana.


"Kenapa tidak?" balas Nana dengan santainya, meski ia tahu kalau dokter Calvin masih menyukai Cleona.

__ADS_1


"Entahlah, tapi aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan," sambung Cleona lagi.


"Benarkah?" sahut Nana penasaran.


"Cleona, Nana, lanjutkan perbincangan kalian di luar!" tegas sang guru bertolak pinggang. Tahu salah, Cleona dan Nana memilih keluar dari kelas.


"Sepertinya itu guru lupa kalau kamu istrinya Prince Castin Afson!" geram Nana tak terima mendapat hukuman.


"Sudah, tidak perlu diperpanjang. Bukankah enak di luar, tidak perlu belajar," sahut Cleona yang tampaknya telah tertular bejatnya Nana.


"Nona Cleona, nona benar-benar sahabat saya!" seru Nana sambil membungkukkan badan memberi hormat.


"Bagaimana kalau kita ke kantin?" lanjut Nana sambil memegang perutnya yang keroncongan.


***


Pulang sekolah, seperti biasa Nana langsung pergi ke rumah sakit untuk membantu calon suaminya bekerja. Di rumah sakit, Nana ditempatkan sebagai suster yang tugasnya membantu Calvin. Nana tak sendiri karena ada suster Maria yang ditugaskan Calvin untuk membantu Nana apabila mengalami kesulitan. Meski suster Maria baik padanya, tapi entah kenapa Nana tak menyukainya.


"Mulai sekarang kamu tidak perlu lagi di sini," kata Calvin yang duduk penuh wibawa di kursi kebesarannya.


"Biar tidak ada yang ganggu kalau lagi didekatin sama dokter Dina?" sambung Nana yang telah siap dengan seragam oka berwarna hijau.

__ADS_1


"Bukan itu maksud saya," balas Calvin dengan penuh kesabaran.


"Lalu apa?" tanya Nana tanpa menoleh. Ia memperlihatkan ekspresi cemburunya yang menakutkan.


"Nilaimu terlalu buruk," jawab Calvin membuat Nana memutar mata jengah, ia benar-benar kesal kalau sudah membahas tentang nilai.


"Apa pun yang terjadi, aku akan tetap menemani dokter bekerja, titik!" keukeuh Nana tak ingin mengalah. Calvin memijat pangkal hidung yang tiba-tiba terasa berdenyut.


"Oh iya, bagaimana persiapan pernikahan kita? Sudah berapa persen?" pertanyaan Nana kali ini membuat Calvin terdiam. Sial, bagaimana ia bisa melupakan hal sepenting itu? Dia yang ingin menikahi Nana, dia pula yang lupa. Sekarang apa yang akan dia katakan kepada Nana? Jangankan persiapan pernikahan, Calvin saja belum memberi tahu kedua orangtuanya bahwa ia akan menikah.


"70%, tidak lama lagi akan selesai," jawab Calvin dengan asal, tapi Nana terlihat sangat senang. Lagi-lagi Calvin merasa bersalah.


"Aku harap Papa dan Mama menerimamu....


.


.


.


Jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan bintang limanya, guys. Terima kasih ๐Ÿ˜๐Ÿ™๐Ÿป

__ADS_1




__ADS_2