Duren Dokter

Duren Dokter
Bab 14


__ADS_3

"Serius!?" sahut Nana antusias.


"Tapi tidak sekarang, tunggu sampai kamu tamat SMA," balas Calvin bergegas pergi menuju ruang makan.


"Kau kenal aku, bukan? Aku tidak akan menyerah!" Nana menghentak kedua kaki dengan kesal, kemudian melangkah cepat menyusul sang suami.


"Cepat mandi dan bersiap, kau tak punya banyak waktu," balas Calvin membuat Nana terpaksa menghentikan langkah.


"Sial!" umpat Nana saat melihat jam di dinding. Calvin benar, ia tak punya banyak waktu. Nana tak mau mengulang sekolah tahun depan. Meski tidak pandai, setidaknya ia bisa menjadi murid teladan agar dapat dipertimbangkan untuk lulus dengan nilai yang cukup buruk.


"Sesuai permintaan tuan, saya sudah memenuhi kulkas dengan banyak jenis makanan. Nona tidak perlu masak dan hanya tinggal memanaskannya saja," ucap seorang wanita paruh baya yang bertugas mengantar makanan ke apartemen Calvin. Tentu saja makanan yang ia bawa berasal dari rumah utama yang bisa jadi adalah masakan mamanya.


Calvin menelan makanannya dengan cepat, kemudian barulah berkata, "Tunggu ... Kapan aku memintamu memenuhi kulkas dengan makanan?"


"Jadi bukan tuan? Tapi Nyonya bilang—"


"Sudahlah, lanjutkan saja tugasmu," potong Calvin pasrah, sang pelayan pun kembali melanjutkan tugasnya untuk membersihkan apartemen.


Saat tengah fokus menikmati sarapannya, Calvin dibuat kaget akan kedatangan Nana dengan penampilan agak sedikit berbeda. Masih dengan seragam sekolah, tapi kali ini tak seperti biasanya. Hari ini Nana mengenakan rok yang lebih pendek serta kemeja yang lebih ketat.


"Kau mau ke sekolah atau ke club malam?" Calvin bertanya posesif.


"Rencananya mau cari selingkuhan," celetuk Nana membuat Calvin kehabisan kata-kata.

__ADS_1


"Ganti atau aku yang gantikan!" ancam Calvin salah target, sepertinya ia lupa siapa Nana.


"Aku pilih kamu yang gantikan," sahut Nana gamblang.


"Jangan macam-macam denganku, Nana. Cepat ganti pakaianmu," tegas Calvin sampai bangkit dari duduknya. Mengancam Nana dengan pisau dan garpu pada kedua tangannya.


"Sebelum kita buat anak, aku tidak akan menurutimu, titik!" keukeuh Nana tak dapat dibantah. Kepalanya sejuta kali lebih keras daripada batu.


Calvin yang sudah berada di puncak amarah, seketika menyeret Nana masuk kembali ke dalam kamar. Dengan kasar ia melempar Nana ke atas ranjang, kemudian melangkah pergi.


"Ganti pakaianmu atau tidak perlu berangkat sekolah," bentak Calvin bersamaan dengan pintu kamar yang ia kunci dari dalam. Bukannya kesal, Nana justru tersenyum senang. Senang karena rencananya membuat sang suami kesal telah berhasil.


Namun, Nana tak ingin ketinggalan pelajaran. Untuk itulah ia segera turun dari ranjang guna mengganti seragam dengan yang tidak terlalu mengekspos tubuh seksinya. Begitu selesai barulah Nana keluar dari kamar, sang bibik yang membukakan pintu kamar untuknya.


"Tuan sudah berangkat karena ada operasi mendadak. Tuan berpesan agar Nona berangkat ke sekolah sendiri, tuan juga sudah menyiapkan kendaraan untuk nona, mari ikut saya," ajak sang pelayan membuat Nana seketika tak bersemangat. Jelas ia ingin berangkat sekolah diantar oleh suaminya seperti Cleona sang sahabat.


"Apa nona bisa mendengarai—"


"Tentu saja bisa, Bik," balas Nana kembali bersemangat kala melihat beberapa mobil mewah berharga milyaran rupiah di hadapannya.


"Kali begitu ini kuncinya, Nona. Hati-hati di jalan dan semoga pelajaran hari ini menyenangkan," ucap sang pelayan mengulurkan sebuah kunci kepada Nana.


Nana menatap kunci tersebut dengan mata membulat sempurna. Di luar dugaan, ia kira Calvin sang baik hingga membiarkannya berangkat ke sekolah dengan menggunakan mobil mewah seperti yang dilakukan oleh siswa dan siswi konglomerat lain. Tak disangka, Calvin memberikannya sebuah motor matik.

__ADS_1


"Bersyukurlah Nana, kamu beruntung karena dia memberikan motor, bukan sepeda." batin Nana.


"Terima kasih, Bik!" seru Nana mengambil kunci motor dan langsung melesat pergi ke sekolah.


Beberapa menit perjalanan, Nana pun tiba di pelataran parkir sekolah. Setelah mengamankan motornya, barulah ia berjalan cepat menuju kelas. Sampai di dalam kelas, kedatangan Nana langsung disambut pertanyaan aneh dari sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Cleona.


"Bagaimana malam pertama?" tanya Cleona berbisik tapi masih bisa didengar.


Sebelum menjawab, Nana menoleh kiri dan kanan, takut ada murid lain yang mendengar. Setelah dirasa aman, barulah ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi semalam.


"Jadi, kamu tetap mau hamil?" tanya Cleona dan Nana pun menganggukkan kepala dengan cepat.


"Apa nggak bisa nunggu setahun lagi?"


Nana kembali menggelengkan kepala dengan keras, "Nggak bisa, Cleo. Kamu lupa syarat yang diberikan oleh mama mertuaku?"


"Oh iya," sahut Cleona menggaruk tengkuk yang tak gatal.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2