
"BESOK!" teriak Nana kaget, ia langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa! Keberatan?" Calvin bertanya tanpa menoleh dan tetap fokus pada kemudinya.
"Tidak, aku tidak keberatan sama sekali. Lebih cepat lebih baik," sahut Nana dengan cepat, takut Calvin berubah pikiran. Memikirkan akan menikah besok pagi, Nana tak bisa menahan senyuman lebarnya.
"Kamu juga tidak keberatan kalau kita menikah tanpa resepsi?" pertanyaan Calvin kali ini membuat Nana terdiam, senyuman lebarnya seketika sirna.
"Tanpa resepsi?" hancur sudah impiannya untuk menjadi princess di hari bahagia. Sungguh Nana mengimpikan pernikahan mewah seperti pernikahan di negeri dongeng.
"Maksud saya resepsinya akan ditunda sampai kamu lulus SMA tahun depan. Bagaimana? Kamu tidak keberatan, kan?" sambung Calvin lagi, kali ini ia menatap Nana sebentar, kemudian kembali fokus menatap jalanan di depan sana.
"Apakah pernikahan kita akan dirahasiakan?" Nana bertanya lagi dan Calvin menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Kamu akan dikeluarkan dari sekolah kalau ketahuan menikah, aku juga akan kehilangan karirku sebagai dokter karena menikahi gadis di bawah umur," penjelasan Calvin membuat Nana menganggukkan kepala mengerti.
"Tidak masalah, yang penting kita menikah," balas Nana dengan penuh kebesaran hati.
"Dan aku akan membuatmu mencintaiku," lanjut Nana di dalam hati sambil menatap Calvin penuh cinta.
Sepersekian detik kemudian, mobil berhenti tepat di depan sebuah butik. Calvin turun dari mobil, Nana juga melakukan hal yang sama. Seperti biasa, Calvin masuk lebih dulu, Nana kembali berjalan cepat guna menyusul.
"Dokter Calvin, ada yang bisa saya bantu?" seorang wanita cantik nan modis menyambut kedatangan Calvin.
__ADS_1
"Kau punya banyak koleksi gaun pengantin bukan?" Calvin bertanya to the point. Desainer muda itu tampak kaget mendengar pertanyaan Calvin, tapi buru-buru ia menyadarkan diri.
"Tentu banyak, untuk siapa?"
"Untuk saya, calon istri dokter Calvin," jawab Nana tersenyum percaya diri. Calvin tampak tak suka atas apa yang kini Nana lakukan. Nana tak peduli, lagipula ia tak mengenal desainer muda itu.
"Rahasiakan ini dari siapa pun," ucap Calvin dan desainer tersebut mengangguk dengan cepat.
"Bukan masalah besar," jawabnya yang kemudian memberi jalan, membawa Calvin dan Nana hingga sampai ke ruangan lainnya. Di ruang steril itu terdapat banyak gaun pengantin yang dirawat dengan canggih.
"Silahkan pilih model mana yang nona suka," sang desainer mempersilahkan. Nana menatap kagum semua model gaun pengantin yang sangat indah, harganya pasti tidaklah murah.
"Yang ini boleh?" tanya Nana yang langsung jatuh hati pada gaun glamor yang begitu seksi dan memiliki belahan terutama di bagian dada, paha serta punggung yang terbuka. Sang desainer tersenyum kecut melihat gaun pilihan Nana.
"Kalau begitu kenapa menyuruhku memilih," cibir Nana mengalihkan pandangan tak suka.
"Sepertinya model gaun ini sangat cocok dengan pembawaan nona, simpel tapi elegan," desainer itu memberi rekomendasi. Nana tak menyela karena gaun yang dipilihkan untuknya tidak terlalu buruk.
"Ukurannya?" timpal Calvin ragu dengan ukuran gaun yang melekat di patung.
"Akan saya revisi sesuai ukuran tubuh nona. Tidak akan lama karena proporsi tubuh nona cukup ideal, nanti malam akan langsung saya antar," jawabnya dan Calvin pun menganggukkan kepala setuju.
***
__ADS_1
Di dalam kamar.
"Kamu serius?" tanya Cleona di seberang sana.
"Seribu rius, tapi tidak ada resepsi," jawab Nana tampak kecewa. Jawaban Nana membuat lenggang beberapa saat.
"Kamu baik-baik saja'kan, Na?" tanya Cleona khawatir.
"Iya, aku baik-baik saja kok. Lagipula dokter Calvin melakukan itu demi kebaikan aku juga demi kebaikannya. Oh iya, kamu datang, ya, besok."
"Tentu saja aku datang," jawab Cleona dengan cepat.
"Nanti sambung lagi, ya. Castin mau nyusu, eh, maksudku baby d mau nyusu."
Tut!
.
.
.
Dokter Calvin bisa gila kalau dengar ucapan Cleona🙃 Cinta bertepuk sebelah tangan😌. Othor paling rajin sejagad entun minta bintang limanya dong. Mana, nih?🧐
__ADS_1