Duren Dokter

Duren Dokter
Bab 15


__ADS_3

"Mau pulang bersama?" tawar Nana.


"Berlawanan arah, Na. Lagi pula kamu mau pergi ke rumah sakit, kan?" balas Cleona mengingatkan.


"Oh iya, yasudah kalau gitu aku duluan," kata Nana melesat pergi dengan menggunakan motor matiknya. Nana memang sangat bersemangat ke rumah sakit, karena ada hal penting yang harus dilakukan di sana.


Beberapa menit perjalanan, Nana pun tiba di rumah sakit. Ia langsung bergegas menuju ruang kerja suaminya. Saat masuk ke dalam ruangan, Nana tak melihat keberadaan Calvin, yang ada justru suster Maria yang tengah memasang seprei brankar.


"Nona Nana," sambut suster Maria dengan senyuman manisnya.


"Di mana Calvin?"


"Baru saja berangkat makan siang berdua dengan dokter Dona," balas suster Maria dengan ekspresi sedih yang seakan tak ingin mengatakannya kepada Nana. mendengar itu, Nana tampak diam.


"Nona baik-baik saja?" suster Maria memastikan.


"Kamu pikir aku akan apa?" kesal Nana mengambil seragam susternya dengan cepat, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.


Begitu selesai, Nana keluar dari kamar mandi. Seperti biasa sudah ada makan siang yang tersaji di atas meja. Memang suster Maria ditugaskan oleh Calvin untuk mengurusi Nana. Termasuk menyediakan makan siangnya. Akan tetapi, Nana tak pernah sekalipun memakan hidangan yang disajikan.


"Pasti menyenangkan makan berdua dengan wanita lain," kesal Nana membuang makanan ke dalam tong sampah. Kemudian barulah ia melakukan pekerjaan seperti biasa.


"Belum juga kembali, makan siang saja hampir satu jam," protes Nana sambil menatap pintu kamar dengan kesal.


Ceklek!


Pintu terbuka, Nana kembali fokus pada catatannya.

__ADS_1


"Tuhkan Nana sudah datang," terdengar suara dokter Dona, Nana pun langsung mengangkat wajah dan tersenyum dengan ramah.


"Maaf, Na. Tadi aku sudah minta Calvin untuk menunggumu sebentar agar kita bisa makan siang bersama, tapi—"


"Aku baru saja datang, memang lebih baik tidak perlu menungguku," potong Nana dengan nada suara lembutnya.


"Benarkah begitu?" Nana menganggukkan kepala sebagai jawaban, sementara Calvin sudah duduk di singgasananya.


"Kamu pasti belum makan siang, kan? Ini makanan kesukaanmu, selamat menikmati," katanya kemudian bergegas pergi untuk kembali melayani pasien yang menunggu.


Setelah kepergian dokter Dona, Nana bangkit dari duduknya. Dan tanpa ragu ia membuang makanan yang dokter Dona berikan ke tong sampah.


"Apa yang kamu lakukan, Nana?" tanya Calvin dengan emosi di wajahnya.


Nana tersenyum manis, kemudian mengatakan, "Membuang SAMPAH ke tempatnya!"


Beberapa jam kemudian.


"Wajah suster pucat sekali," kata pasien untuk yang kesekian kalinya, Nana hanya tersenyum manis dan tetap melanjutkan tugasnya dengan baik.


"Ini resep obatnya, suster Maria di luar akan membantu ibu untuk mendapatkan obatnya," ucap Calvin dengan ekspresi ramahnya, ekspresi yang hanya ia perlihatkan kepada pasien, tapi tidak pada istrinya sendiri.


"Terima kasih banyak dokter," Calvin menganggukkan kepala sebagai jawaban dan pasien terakhir di hari itu pun keluar dari ruangan sebagai pertanda dari selesainya tugas Calvin sebagai seorang dokter.


Setelah kepergian pasiennya, Calvin mendekat pada Nana sang istri. "Kau tidak makan?"


"Akhirnya suamiku perhatian juga padaku. CK! Aku memang sudah gila, bisa-bisanya rela tidak makan seharian demi mendapatkan perhatian suaminya," tutur Nana merapikan mejanya dengan kasar.

__ADS_1


"Seharian!" bentak Calvin kaget.


"Lihatlah, suamiku memang kejam," ketus Nana lagi, bahkan ia menepis tangan sang suami yang ingin menyeretnya. Calvin menghela napas berat.


"Hubunganku dan Dona hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih. Apa perlu seberlebihan ini?" Calvin mencoba bersabar.


"Aku tidak bertanya," balas Nana santai.


"Lagian mana mungkin dokter Dona mampu menggantikan posisi Cleona di hatimu," lanjut Nana membatin.


"Cepat berkemas, aku tunggu di mobil," ucap Calvin tak ingin berdebat.


"Aku bawa motor," sahut Nana melangkah cepat, melewati Calvin.


"Jangan berharap aku akan peduli dan memperhatikanmu," batin Calvin tak peduli, ia membiarkan Nana pulang dengan motornya.


Namun, saat mengingat ucapan pasien terakhir yang mengomentari wajah pucat Nana, Calvin pun mempercepat laju kendaraan untuk menyusul Nana yang sudah jauh di depan sana.


Calvin menginjak rem mendadak saat tiba-tiba lampu merah menyala, yang membuat Calvin syok adalah adanya kecelakaan motor di depan sana.


"Nanaaa....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2