Duren Dokter

Duren Dokter
Bab 08


__ADS_3

"Selamat atas pernikahanmu dengan dokter Calvin," ucap Dara sambil mengulurkan tangan, Nana menyambut tanpa ekspresi.


"Terima kasih," balasnya dengan datar. Saat ini Nana sudah tak lagi mengenakan gaun pengantin karena sudah berada di pelabuhan kapal. Ya, sesuai permintaan Elsa, mereka akan menikmati laut dengan kapal pesiar pribadi.


"Kamu kenapa, Na?" tanya Cleona bingung melihat ekspresi sang sahabat yang sedari tadi tampak tidak baik-baik saja.


"Kesal!" ketus Nana.


"Sama?" lanjut Cleona penasaran.


"Kamu tidak suka laut?" sambung Dara menerka salah saat Nana menggelengkan kepala.


"Terus?" sahut Cleona lagi.


"Dokter Calvin-lah, bisa-bisanya dia cium aku karena kamu," gerutunya menoleh Nana sekilas, kemudian kembali menatap tajam sang suami yang tengah berbincang dengan Castin, Elmer, Devil dan kedua orangtuanya.


"Maksud kamu apa, Na? Kenapa aku?" Cleona sama sekali tak mengerti.


"Udah ah, nggak mau bahas. Lebih baik kita masuk sekarang," kata Nana yang mulai memasuki kapal pesiar. Cleona mengekor sambil menuntun Dara yang perutnya telah membulat sempurna.


Masuk ke dalam kapal, ketiga gadis belia itu menatap kagum kemewahan kapal serta pemandangan yang indah. Beberapa pelayan kapal menghampiri dan meminta mereka untuk duduk di sebuah meja yang di penuhi dengan berbagai jenis hidangan lezat. Karena cuaca pagi itu cukup terik, pelayan pun memilihkan tempat yang terbuka dengan sedikit atap agar tetap teduh.


"Apa sudah boleh dimakan?" tanya Dara yang nafsu makannya memberontak kala melihat berbagai jenis makanan lezat di hadapannya.


"Boleh dong, Dar," balas Nana kemudian meneguk segelas air sampai habis. Sementara Dara langsung menarik salah satu hidangan, kemudian melahapnya dengan cepat.


"Kamu kapan lahirannya, Dara?" tanya Cleona penasaran kala melihat perut Dara yang sudah turun. Nana juga menatap Dara penasaran, tampaknya ia tak sabar ingin memiliki keponakan.


"Aku tidak tahu," jawab Dara dengan mulut penuhnya.


"Loh, emang kamu belum periksa kandungan?" balas Cleona dengan alis yang bertaut.

__ADS_1


Dara pun menganggukkan kepala kemudian berkata, "Elmer sibuk, ada banyak kasus yang harus dipecahkan."


"Kan ada aku dan Cleona, kita bisa kok temani kamu ke rumah sakit," sahut Nana geram dengan Dara yang memang tidak pernah ingin menyusahkan siapa pun.


"Nggak apa-apa, kok. Lagian aku merasa baik-baik dan sehat-sehat saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jelas Dara membuat Cleona dan Nana menghela napas dengan kasar.


Tak lama berselang, keempat duren bangsawan dan kedua orangtua Calvin memasuki kapal, kapal pun mulai melaju pelan. Para lelaki siap dengan alat pancing mereka masing-masing. Sementara Elsa berjalan santai menghampiri Nana, Cleona dan Dara.


"Sudah berapa bulan, nak?" tanya Elsa duduk di samping Dara, kemudian mengelus lembut perut buncit Dara.


"36 minggu, Tante," balas Dara tersenyum manis, ia menyudahi makannya.


"Wah, ini tidak lama lagi kamu akan segera melahirkan, Dara. Kamu harus berhati-hati," imbuh Elsa dan Dara menganggukkan kepala mengiyakan. Elsa pun berpaling, menatap sang menantu penuh arti.


"Banyak belajar dari Dara, Nana. Kan mama juga mau punya cucu," sarannya penuh kelembutan.


"Mama tidak perlu khawatir, nanti malam Nana beraksi," jawab dengan Nana gamblang tanpa ada yang ditutup-tutupi. Cleona dan Dara membulatkan mata sempurna.


"Kamu serius, Na? Kamu mau sekolah di rumah lagi?" tanya Cleona karena sebelumnya mereka sudah pernah ambil kelas di rumah, diajar oleh wali kelas kesayangan Cleona. Beberapa bulan kemudian, mereka pun memutuskan untuk kembali ke sekolah karena bosan belajar di rumah.


"Itu pikirkan nanti, yang paling penting sekarang adalah bagaimana caranya agar aku hamil secepat mungkin," sahut Nana menggebu-gebu kala mengingat persyaratan yang diberikan oleh ibu mertuanya.


"Kurasa itu tidak akan mudah," imbuh Cleona.


"Apa ini ada hubungannya dengan Tante Elsa?" tanya Dara menimpali. Nana menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Dia mendesakmu untuk memberikan cucu?" sambung Cleona dengan suara pelan, ia mendekat takut ada yang mendengar perbincangan mereka.


"Tidak hanya itu, dia bahkan mengancamku," Nana memanyunkan bibirnya dengan imut.


"Astaga," Dara menutup mulut dengan kedua telapak tangan.

__ADS_1


"Mengancam yang seperti apa?" Cleona mengintrogasi.


"Kalau dalam waktu dua bulan aku belum hamil, maka aku harus menceraikan suamiku, dokter Calvin. Itu sebabnya aku harus hamil secepat mungkin karena waktuku tidak banyak," terang Nana lengkap dengan gestur serta mimik wajah khawatirnya. Cleona dan Dara kompak membulatkan mata sempurna.


"Bagaimana kalau program hamil?" imbuh Dara memberikan saran.


"Walau suamiku dokter, tapi aku akan tetap mencobanya. Terima kasih, Dara. Aku terima saran darimu," ucap Nana yakin meski ragu.


"Semangat, Na. Ada aku dan Dara, kamu berdua pasti akan membantumu memikirkan rencana selanjutnya," sambung Cleona mengusap pundak Nana dengan penuh kasih sayang layaknya seorang saudara.


"Aw!" ringis Dara tiba-tiba sambil memegang perut buncitnya.


"Kamu kenapa, Dara?" tanya Nana dan Cleona bersamaan.


"Tidak apa-apa, hanya mulas biasa karena kebanyakan makan. Aku ke toilet dulu, ya," pamit Dara berusaha bangkit dengan kesulitan. Cleona sigap membantu.


"Aku temani, ya," tawar Nana ikut bangkit dari duduknya.


"Tidak perlu, Na. Kalian berdua lanjut makan saja, aku baik-baik saja kok, Lagian toiletnya tidak jauh dari sini," tolak Dara dengan lembut.


"Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku atau Cleona," kata Nana kembali duduk dan melanjutkan makannya. Sementara Dara telah melangkah perlahan menuju toilet yang letaknya tak terlalu jauh, tapi berada di dalam kapal pesiar. Sampai di dalam toilet, Dara langsung menutup pintu dan tiba-tiba....


"Argh ... To ... Tolong....!"


.


.


.


Maaf telat updatenya, tadi pagi ada urusan mendadak 🙏🏻. Happy reading, jangan lupa like, komen, vote, hadiah seikhlasnya, terima kasih 😍🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2