
Diandra mengemudikan mobilnya kencang, pikiranya kalut. Dia melajukan mobilnya ke arah taman yang saat ini sudah terlihat sepi, dia tak berani pulang dengan kondisinya yang seperti ini karena mamanya akan bertanya-tanya apa yang terjadi denganya. Diandra yang merasa sangat kecewa menangis sejadi jadinya sendirian, menumpahkan segala amarahnya. Jam sudah menunjukan pukul 22.00 malam, tak ada satupun orang yang tersisa ditaman selain Diandra, tapi dia masih tak beranjak dari duduknya, padahal airmatanya sudah tak sanggup keluar karena sudah 3 jam lamanya dia menangis.
"Aaaaaaa" teriak Diandra keras menumpahkan kekecewaanya sambil melemparkan kerikil ke arah sembarangan.
"Kalo kena orang mau tanggung jawab lo?" tiba tiba suara yang terdengar berat terdengar ditelinganya. Diandra terperanjat kaget, menoleh ke kanan ke kiri namun tidak menemukan siapapun, dia memengangi tali tas selempangnya ketakutan.
"Gue disini" bunyi suara itu yang sekarang terdengar lebih dekat.
Diandra yang semakin ketakutan memutar kepalanya kebelakang.
"Toloong tolong " Diandra yang terkejut lalu berteriak sambil menutup matanya dengan kedua telapak tanganya, dia kaget karena tiba tiba ada seseorang menggunakan hoodie hitam dengan kupluk yang dipasang diatas kepalnya berdiri tepat dibelakangnya.
"Emmm emm" Diandra meronta ronta ingin berteriak meminta tolong lagi tapi tidak bisa karena seseorang itu tiba tiba membungkam mulutnya.
"Jangan teriak teriak, ini gue Andra" ucap seseorang itu yang ternyata adalah Andra. Diandra membuka matanya pelan, lalu Andra melepaskan tanganya yang sedari tadi membungkam mulut Diandra.
"Haaahh, kak Andra" Ucap Diandra lega.
"Gila lo! untung aja gue nggak digebukin orang gara-gara lo teriak malem-malem" Ucap Andra kesal.
"Gue pikir tadi kakak setan" ucap Diandra.
"Waah malah ngatain gue setan" ucap Andra kesal.
"Habis lo ngomong tapi nggak ada orangnya, apa namanya kalo bukan setan?" ucap Diandra.
"Tapi gue tadi ada dibelakang lo, lo juga lihat kaki gue napak tanah, kenapa masih teriak?"
"Lagian mana ada setan ganteng kaya gue" ucap Andra sambil kesal.
Diandra memincingkan bibibirnya.
"Tadi awalnya Diandra pikir kakak setan, tapi pas ngeliat lo ada dibelakang gue pake jaket item gue pikir lo orang cabul, jadi gue takut" ucap Diandra.
"Abis dikatain setan, dikatain Cabul" Apes banget gue.
"Lagian salah sendiri, ngapain juga malem- malem kesini?" tanya Diandra.
"Nggak liat apa gue pake sepatu gini, tandanya gue lagi jogging"
"Orang gila mana jogging malem-malem" ucap Diandra sinis.
__ADS_1
"Ini, ini orang gila yang jogging malem-malem" ucap Andra menunjuk dirinya sendiri sambil mendengus kesal.
"Yang ada itu elo, ngapain cewek malem-malem nangis sendirian disini, teriak teriak lagi?" tanya Andra.
"Nggak, si siapa juga nangis, gue kelilipan aja kok" ucap Diandra mengelak.
"Kelilipan kerikil kayaknya sampe bengkak kaya gitu." Ucap Andra sembarangan yang kemudian mendapatkan pukulan dari Diandra di lenganya.
"Lo kenapa? cerita aja" Ucap Andra.
"Nggak papa kok" ucap Diandra lirih.
"Berantem sama cowok lo?" ucap Andra lirih membuat Diandra menoleh.
"Kak Andra tau dari mana?" tanya Diandra sambil menyipitkan matanya.
"Ya ngapain lagi cewek malem malem nangis sendirian kalo bukan masalah pacar" ucap Andra.
Diandra menundukan kepalanya tanpa berucap apa apa, tanpa sadar air matanya menetes lagi.
Andra menarik kepala Diandra ke bahunya,membiarkan Diandra menangis disana sambil menepuk nepuk nepuk kepalanya.
"Cerita aja, siapa tau bisa sedikit ngurangin beban lo" Ucap Andra.
"Grace mantanya Ricko dulu?" tanya Andra.
"Kak Andra tau Grace?" tanya Diandra penasaran.
"Jelas tau, walaupun nggak kenal Ricko deket tapi kita satu angkatan, apalagi Grace dulu siswi populer di sekolah kita" jawab Andra.
"Menurut lo gimana hubungan Ricko sama Grace dulu?" tanya Diandra.
"Eem, yang gue tau mereka dulu pacaran, kemana mana barengan, dan kayaknya Ricko sayang banget sama Grace, cuma itu doang yang gue tau" Jawab Andra.
"Sayang banget ya" gumam Diandra lirih.
"Apa mungkin Ricko masih cinta sama Grace?" Gumam Diandra lagi.
"Setelah lo cerita kejadian tadi sih menurut gue bisa aja mereka balikan, tapi mendingan lo pastiin langsung ke Ricko" Ucap Andra.
"Apalagi yang perlu gue pastiin kak? dari kejadian tadi aja udah jelas" ucap Diandra sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
Andra mengelus elus pelan rambut Diandra untuk menenangkanya.
"Udah jam 11 malem sebaiknya lo pulang, orangtua lo pasti nyariin" ucap Andra pelan.
Diandra menegakan kepala lalu mengambil ponsel dari tasnya dan menyalakan ponsel yang sedari tadi dimatikanya, dan benar saja ketika sudah menyala banyak notif masuk, ada 3 panggilan tak terjawab dari mamanya, 3 panggilan tak terjawa dari papanya, dan 4 panggilan masuk dan 3 pesan dari Ricko.
"Benerin dulu muka lo, keliatan banget abis nangisnya" ucap Andra.
"Lo bareng gue aja kak pulangnya, biar sekalian gue anter" ucap Diandra.
"Nggak usah, gue pulang sendiri aja rumah gue deket kok" jawab Andra.
"Lo yakin?" ucap Diandra.
"Iya, udah pergi sana orangtua lo pasti khawatir" Ucap Andra.
Diandra masuk kedalam rumah dengan disambut mama papanya yang sedang menonton tv.
"Kamu kemana aja? tadi katanya sebentar kok pulangnya hampir tengah malem?" tanya Anita khawatir.
"Itu ma, tadi Diandra ketiduran dirumah Devinta" jawab Diandra tanpa menoleh.
"Kalo pulang malem seenggaknya ngabarin, ini malah ditelfon nggak bisa" ucap Andi.
"Maaf pa, kan Diandra ketiduran nggak tau kalo hpnya mati, lagian kan tadi udah ijin ke mama kalo ke rumah Devinta" jawab Diandra berbohong.
"kamu ijinnya cuma sebentar, makanya mama khawatir" ucap Anita.
"Iya maaf, Diandra naik dulu" Ucap Diandra lalu menaiki tangga menuju kamarnya.
Disisi lain Ricko gelisah karena Diandra masih saja tidak bisa dihubungi, Ricko masih setia menatap layar ponselnya berharap Diandra menelfonya kembali atau setidaknya mau membalas pesannya.
Tring...
Tiba tiba ponselnya berbunyi, Ricko buru buru membukanya karena mengira pesan dari Diandra. Ricko mengerenyitkan dahinya karena ternyata pesan yang masuk adalah nomor asing.
"Nomor siapa? " Gumam Ricko sambil membuka pesanya.
Ricko mengeraskan Rahang dan mengepalkan tanganya saat melihat pesan yang diterima adalah foto Diandra sedang bersama Andra disebuah taman.
Triing...
__ADS_1
Satu pesan lagi masuk dari nomor yang sama, tapi kali ini sebuah vidio. Ricko pun segera membukanya, terlihat sepasang sejoli sedang bersama yang tak lain adalah vidio Andra sedang mengelus elus rambut Diandra yang bersandar di bahu Andra. Tidak terlalu jelas karena vidio itu diambil sedikit jauh tapi Ricko sangat yakin bahwa perempuan itu adalah Diandra karena sedang memaikai baju yang hari ini dipakainya datang ke apartemen. Dan bisa dipastika siapapun yang melihat vidio itu akan salah paham.
Ricko yang marah membanting ponselnya keras, membuatnya pecah dan mungkin tidak akan bisa berfungsi lagi, Ricko meninjukan kepalan tanganya dengan penuh amarah sehingga membuat tangannya terluka dan berdarah.