Ex Boyfriend

Ex Boyfriend
Dipaksa Kawin


__ADS_3

7 tahun berlalu, saat ini Diandra telah menjadi wanita karir yang cantik dan seksi, namun seperitinya apa yang dimilikinya sia sia karena faktanya sampai saat ini dia tidak memiliki pujaan hati lagi. 7 tahun lamanya pula Diandra tidak pernah melihat Ricko, atau hanya sekedar mengetahui kabarnya. Bahkan sejak kali terakhir kejadian memalukan di klub malam itu dia sudah tak bisa melihat Ricko, kabar yang dia dengar Ricko melanjutkan kuliah di New York.


***


"Udah ada yang bisa dikenalin ke mama belum?" Pertanyaan itu yang selalu Diandra dengarkan setiap hari sejak 2 bulan terakhir.


Diandra hanya melirik mamanya, rasanya telinganya sudah kebas dengan pertanyaan udah punya calon? kapan bawa pacar kerumah? kapan menikah? bukan dari orang tuanya saja, bahkan seluruh keluarganya. Karena menginjak usia 25 tahun Diandra masih belum pernah memperkenalkan lelaki manapun, kecuali Ricko, mantan pacar semasa SMA yang berhasil memporak porandakan hatinya. Setelah hari itu Diandra bahkan tidak pernah berpacaran lagi dengan lelaki manapun, bisa disebut trauma mungkin.


"tinggal 1 bulan lagi, kalau masih belum bisa nemu pacar mending terima aja tawaran mama, tunangan sama anak temen mama, ganteng banget, kali ini kamu pasti suka" Ucap Anita bersemangat. Pasalnya dia telah membuat sepekatan dengan anaknya, jika dalam 3 bulan Diandra tidak juga memiliki kekasih, dia akan dinikahkan dengan anak teman mamanya yang bahkan Diandra belum tau namanya.


"Mama tau aku sibuk, lagian masih lama, tenang aja, Diandra akan bawa lelaki tampan mempesona kehadapan mama" Jawab Diandra.


Aniata mengerucutkan bibirnya sebal, pasalnya dia ingin sekali menjodohkan putri satu satunya itu dengan putra dari sahabat lamanya.


"Kenapa sih repot repot nyari, padahal mama udah nyariin calon sempurna buat kamu"


"Astagfirullah, kesempurnaan mikik Allah ma"


Diandra menatap papanya yang sedang memeperhatikan pembicaraan ibu dan anak ini


"Pa, tolongin!" Ucapnya dengan wajah melas.


"Maaf sayang, kali ini papa nggak bisa nolongin, papa udah pengen gendong cucu" memperlihatkan ekspresi menyesal yang dibuat buat.


"Come on, Diandra baru 25 tahun, mama tau di luar negri sana banyak wanita yang menikah di atas 30 tahun! "


Anita meletakan sendok yang dari tadi digunakanya untuk makan.


"Tapi kamu hidup di Indonesia, bukan luar negri, kamu mau dipanggil perawan tua? Temen kamu Rusy aja udah beranak 2" Benar saja, sahabatnya Rusy yang bahkan selama SMA tidak berpacaran saat ini sudah memiliki anak kembar.


"Tega banget ngatain anaknya perawan tua" Ucap Diandra sambil mengerucutkan bibirya.


"Lagian Rusy kan di jodohin bapaknya" Imbuhnya


"Naah, maka dari itu kamu mama jodohin juga"


"Pakein kebaya aja setiap hari ma, biar persis situ nurbaya"


***


"Ini berkas dari perusahaan yang akan mengadakan gathering minggu depan di ballroom hotel kita bu, totalnya ada 300 kursi undangan" Ucap Gina, salah satu karyawan di marketing departemen.


Diandra menyilangkan kakinya, mengenakan kaca mata yang semula terletak diatas mejanya, dia mulai menyimak seksama berkas yang baru saja diterimanya.


"Apa mereka menyetujui tawaran harga yang kita berikan?

__ADS_1


"Meraka setuju, bahkan menerimanya begitu saja tanpa meminta penurunan harga sama sekali"


Diandra mengangguk anggukan kepalanya.


"Benar benar perusahaan bonafit, lalu apa ada permintaan khusus dari mereka?"


"Tidak ada bu, mereka hanya meminta 2 kamar suite untuk ditempati CEO dan eksekutif"


Stelah membacanya baik baik, Diandra membubuhkan tanda tanganya ke atas.


"Lakukan yang tebaik Gina, ini perusahaan besar. Segera berikan memo ke departement lainya untuk menyiapkan segalanya" Gina menganggukan kepalanya lalu pergi menuju mejanya.


"Apa mungkin dia" Gumam Diandra.


"Ah, mungkin hanya namanya saja yang mirip" sambil menggeleng gelengkan kepala menghilangkan pikiran yang sempat terlintas dipikiranya.


***


"Jangan lupa berikan kompliment satu buket buah di kamar tamu VIP, berikan juga memo tertulis semenarik mungkin!"


"Baik bu" Jawab Gina yang saat ini mengekori Diandra, berjalan tergopoh gopoh sambil membawa setumpuk berkas mengikuti atasanya.


"Beritahu semua depertamen untuk memeriksa kembali keperluan hari ini, periksa lagi kebersihan, pastikan menu lunch dan coffe break telah siap"


"Karena hari ini saya on duty, jadi laporkan apapun yang terjadi kepada saya, kamu mengerti!" Entah bagaimana ceritanya Diandra yang otaknya sedikit gesrek bisa seserius ini saat bekerja, entah karena bakatnya menjadi wanita karir, atau faktor melajang terlalu lama.


***


"Kenapa lo? mikirin hutang?" Tanya Devinta yang saat ini menjabat sebagai manajer accounting di hotel milik papa Diandra.


Diandra mendongakan kepalanya melihat arah seseorang yang mengajaknya bicara.


"Boro boro, mikirin emak gue yang maksa mau ngawinin gue nih"


"Hahaa, lo kata kambing dikawini" Jawab Devinta sambil tertawa.


"Mana kerjaan gue banyak lagi, di tambah pembukaan resort baru di Bali sebentar lagi, mana sempet gue nyari jodohnya" Ucap Diandra sambil membenamkan kepalanya kembali.


"Bunuh gue Dev, bunuh gue" ucap Diandra sambil menggebrak meja keras sehingga membuat seisi EDR melihat keatasnya.


"Mati muda dah gue, masih mau kawin nih, belum ngrasain ena ena" Ucap Devinta sambil mengelus elus dadanya


Diandra kembali mendongakan kepalanya lagi, menatap sahabatnya yang sedang menikmati makan siangnya.


"Bapak gue minta cucu Dev, gimana dong? Apa gue bikin duluan aja ya?" Ucap Diandra.

__ADS_1


"Ya trus lo di coret dari KK jadi gelandangan dah lo" ucap Devinta membuat Diandra semakin lemas.


"Dev bayangin deh, ntar kalo yang mau dikawinin sama gue tua gimana? trus kepalanya botak bagaikan lampu di taman depan gimana?"


"Ya lo cekik aja, ntar kalo udah mati trus lo ambil hartanya, jadi janda kaya deh lo"


"Palelo janda kaya, merana dong gue"


Karena tanggung jawabnya sebagai manager on duty untuk hari, mengharuskan Diandra harus pulang lebih malam dari biasanya, selain itu dia harus memantau event gathering yang sedang berlangsung di ballroom hotelnya.


Diandra melipat kedua tanganya di atas meja front office yang memiliki tinggi se dadanya. Entah kenapa akhir akhir ini kenapa dia suka sekali menanyai setiap wanita muda seusianya yang sudah menikah.


"Kamu sudah nikah berapa lama?" Tanya Diandra tiba tiba pada seorang karyawan yang bekerja sebagai front office yang dia ketahuinya sudah menikah.


Receptionis yang memakai nametag bertuliskan Nina itu mengerjap kaget saat mendengar atasanya tiba tiba bertanya seperti itu.


"Sudah 3 tahun bu"


Diandra melipat masuk bibirnya sambil melihat kakinya yang sedang ia mainkan dibawah sana.


"Nikah enak nggak?"


"Ya enak nggak enak bu" jawab Nina.


"Enaknya apa?"


"Enaknya tuh kita bisa nginep di hotel tanpa takut digrebek" Jawabnya sambil tertawa kecil.


Yaelah, kenapa semua orang yang gue tanyain soal nikah jawabanya selalu ena ena sih, pikir Diandra.


jam sudah menunjukan pukul 21.00 malam, Diandra yang buru buru karena sudah ditunggu seseorang yang tentun saja supir grab, karena dia pesolo karir yang sukses berjalan cepat melewati lobi sambil melihat ponsel ditanganya.


Bruugh


Diandra menabrak seseorang, karena merasa bersalah dia segera membungkukan badan untuk meminta maaf kepada seseorang yang dia rasa adalah laki laki karena menggunakan pantofel dikakinya.


"Mohon maaf pak"


"Oh, iyatidak apa apa" Jawab laki laki itu. Diandra mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya dia.


"Ricko! "


"Diandra! "


Ucap mereka bersamaan.

__ADS_1


√√√


Hallo pembaca yang budiman, jangan lupa tinggalkan komentar dan likenya ya, saranghee


__ADS_2