Ex Boyfriend

Ex Boyfriend
Cuma Supir


__ADS_3

Diandra masuk kedalam ruanganya sambil menghentak hentakan kaki, rasanya dia masih belum percaya dengan fakta bahwa dia akan menikah dengan Ricko. Diandra mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya kembali, mulai fokus pada komputernya untuk menyelesaikan pekerjaanya,  tiba tiba saja telfon interkom dimejanya berdering memecah konsentrasinya. 


"Iya,  ada apa?" Ucap Diandra yang baru saja mengangkat telfon. 


"Selamat siang bu,  ini ada yang ingin bertemu sama ibu atas nama Ricko Bastian" Ucap sesorang receptionis.


"Baik, sebentar lagi saya turun, suruh saja menunggu di lobi"


"Baik bu" Jawab sang receptionis. 


"Gue kerjain aja si Ricko,  gue turun nanti aja biarin aja dia nunggu lama terus dia pulang haha" Gumam Diandra sambil tertawa sendiri.


***


20 menit berlalu, Ricko yang merasa mulai bosan menunggu beranjak dari tempat duduknya, Ricko kembali mendatangi receptionis untuk menanyakan Diandra lagi.


"Permisi, kenapa ibu Diandra lama sekali ya?" Tanya Ricko.


"Mohon maaf pak, tadi Ibu Diandra hanya berpesan agar anda menunggu di lobi" Jawab seorang receptionis yang bertugas. 


"Dari tadi saya juga sudah nunggu mbak,  tapi kenapa lama sekali?  ini sudah hampir setengah jam" Ucap Ricko. 


"Mohon maaf bapak, mungkin sebentar lagi Bu Diandra akan turun"


"Sial,  kayaknya Diandra sengaja ngerjain gue" Gumam Ricko sambil mengepalkan tanganya. 


"Tolong telfonkan lagi ya mbak,  sampaikan pesan saya saja kalau misalnya 2 menit lagi tidak turun saya bisa langung menunggu dirumah" Ucap Ricko sambil beranjak dari meja front office. 


"Jangan main main sama gue,  dia pikir cuma dia yang sibuk,  kalo nggak dipaksa mama ogah gue repot repot kesini, nggak sudi" Gumam Ricko yang saat ini telah kembali duduk di sofa lobi.  


***


Diandra mengangkat telfon interkom yang baru saja berbunyi lagi,  wajahnya terlihat kesal saat mendengar pesan yang disampaikan receptionis. Bagaimana tidak,  jika sampai Ricko datang kerumahnya,  dan mengatakan apa yang terjadi dia akan dibunuh oleh orang tuanya.  Lalu Diandra mengambil tasnya dan pergi keluar bergegas menuju lobi menemui Ricko. 


"Kemana dia? " tanya Diandra pada seorang receptionis, karena Ricko sudah tidak ada di lobi. 


"Di sana bu" Ucap Receptions sambil menunjukan ke arah seseorang yang sedang menelfon yang berdiri sedikit jauh dari keramaian. 


Diandra segera berjalan untuk menghampiri Ricko, setelah dirasa Ricko sudah menyelesaikan Diandra mulai berbicara. 


"Sory lama, gue sibuk" Ucap Diandra acuh.


Ricko melirik ke arah Diandra.


"Lo pikir gue percaya? Lo ngerjain gue kan? " tanyanya. 


"Siapa yang ngerjain" Diandra berkilah. 


"Salah sendiri kesini nggak ngabarin dulu, kan kerjaan gue banyak" Ucapnya sambil membuang pandanganya karena gugup, karena memang faktanya Diandra memang sengaja mengerjai Ricko. 


"Dasar ****,  gimana mau ngabarin gue aja nggak punya nomer lo" Ucap Ricko. 


"Elo yang ****,  minta ke mama lo kan bisa" Ucao Diandra sambil memelototkan matanya. 

__ADS_1


"Idiih,  ngapain?  nggak penting banget" Ucap Ricko sambil berjalan.   Setelah beberapa langkah berjalan ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh kebelakang dan melihat Diandra yang masih tidak bergeming dari tempatnya.


"Ngapain lo masih disitu?" Ucap Ricko lalu melanjutkan jalanya.  Sementara Diandra mulai mengikuti langkah Ricko sambil terus menggerutu.


Ricko masuk terlebih dulu ke dalam mobilnya,saat Diandra ingin masuk ke dalam juga pintu mobilnya tidak bisa di buka,  bahkan kacanya tertutup erat,  Diandra yang menyadari sedang dikerjai berjalan ke arah pintu kemudi samping kanan dan menggedor gedor pintunya. 


"Bukain" Teriak Diandra sambil mengintip kaca pintu yang di dalamnya sudah ada Ricko. 


"Buka nggak,  panas nih" Ucap Diandra sambil celingukan karena takut di kira orang gila. 


Ricko masih tidak mau membukakan pintu,  Diandra yang sudah sangat emosi menendang nendang pintu mobil Ricko dengan hels sepatunya yang bisa di pastikan akan meninggalkan bekas lecet. 


"Rasain lo" Ucap Diandra,  sontak membuat Ricko langsung membuka pintu mobilnya dan keluar. 


Ricko mengecek pintu mobil yang tadi di tendang Diandra.


"Gila lo ya,  lecet nih" Bentak Ricko. 


"Rasain,  makanya jangan rese" Ucap Diandra acuh.


"Bener bener lo ya" Ucap Ricko mengepalkan tanganya. 


"Apa" Ucap Diandra sambil memelototakan matanya lalu mengitari mobil untuk masuk ke dalam mobil melalui pintu penumpang yang sudah dibuka kuncinya oleh Ricko. 


"Dasar macan" Ucap Ricko yang sudah duduk kembali di kursi kemudinya. 


"Rasain kawin sama macam,  siap siap gue terkam lo" Kata Diandra,  sementara Ricko hanya melirik sinis ke arah Diandra.


Setelah  melalui 30 menit dalam perjalanan  yang hening akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuanya. Diandra turun dari mobil kemudian masuk terlebih dahulu kedalam butik tanpa menunggu Ricko,  dan sepertinya Ricko juga tampak acuh dengan Diandra karena dia juga sama sekali tidak tertarik untuk fitting baju penganting kalu bukan karena paksaan sang mama. 


"Iya, selamat siang" Jawab Diandra tersenyum sambil terus berjalan masuk. 


"Hallo tante Indah" Ucap Diandra pada seseorang yang tengah membenarkan sebuah kebaya modern putih yang tererpasang di maneqquin. 


"Hallo sayang, lama sekali udah nggak kesini,  tau tau idah nikah aja" Jawab wanita cantik  yang berusia sekitar awal 40 an yang tak lain adalah Indah, pemilik butik lalu mencium kedua pipi Diandra. 


"Hehee,  iya tan,  maaf nggak sempet kesini Diandra sibuk banget jadi jarang keluar. 


"Iya iya,  tante tau wanita karir ini selalu sibuk, ngomong ngomong mana calon suamimu?" Tanya Indah sambil clingak clinguk ke arah pintu. 


"Diandra kesini sama supir kok tante" Ucapnya sambil menunjuk seseorang diluar kaca traansparan yang terlihat baru saja keluar mobil yang tak lain adalah Ricko. Semua mata yang ada di butik kecuali Diandra tertuju kepadanya karena memang faktanya Ricko sangat tampan. Ricko berjalan menghampiri Diandra dengan gagahnya. 


"Supir kamu ganteng banget Diandra" Ucap Indah sambil menyentuh pundak Diandra sambil memandang Ricko. 


"Hah, siapa supir?" Ucap Ricko sambil mengrenyitkan dahi karena tidak mengerti.


"Ya kamu, siapa lagi, " Ucap Indah.  Sadar karena ini ulah Diandra,  Ricko menatap Diandra dengan tatapan membunuh,  sementara Diandra yang merasa sedang ditatap tajam segera mengalihkan perhatianya. 


"Waah tante kebaya ini cantik sekali" Ucap Diandra sambil menyentuh sebuah kebaya demi menghindari tatapan Ricko. 


"Iya dong, Ini punya kamu sayang, kamu coba deh biar tante tau kurangnya apa" pinta Indah.


"Baiklah tante, Diandra coba dulu ya" Jawab Diandra lalu membawa masuk kebaya itu ke ruang fitting room,  sementara Ricko menunggu sambil duduk di sofa. Setelah beberapa saat mengganti pakainya,  Diandra keluar dengan sudah memakai kebaya modern berwarna putih yang terlihat sempurna memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.

__ADS_1


"Ya ampun,  kamu cantik sekali" Ucap Indah yang memperhatikan Diandra,  sementara Ricko masih saja menunduk sibuk menatap ponselnya sama sekali tak perduli kepada Diandra. Diandra hanya tersenyum miris sekali lagi menyadari sebentar lagi dia akan benar benar menikah. 


"Ya jelas dong tante,  kan kebaya rancangan tante memang bagus" Jawab Diandra. 


"Ini juga karena yang memakai juga sangat cantik, tapi sayang sekali calon kamu nggak ikut,  jadi nggak bisa mencoba ini" Ucap Indah sambil menunjukan sebuah tuksedo. Ricko yang mendengar ucapan Indah mendongakan kepalanya.


"Terus saya ini apa?" Sahut Ricko sambil memincingkan matanya membuat Indah menoleh ke arahnya. 


"Supir" Jawab Indah,  karena memang dia belum menyadari jika yang saat ini di lihatnya adalah calon suami Diandra. 


"Saya ini calon suaminya" 


Jawab Ricko semakin kesal lalu memelototi Diandra. Indah yang akhirnya menyadarinya tersenyum melihat kelakuan sepasang calon pengantin ini.  Indah menyerahkan setelan tuksedo kepada Ricko agar segera dicobanya.Setelah beberapa saat Ricko keluar dari ruang ganti,  dia terlihat sangat tampan mengguanakan setelan itu,  pemandangan indah nan langka itu tak lepas dari mata pegawai butik yang melihatnya,  sementara Diandra justru mengalihkan pandanganya tak mau perduli. 


"Aduuh, ganteng banget sih ini" Ucap Indah yang takjub dengan ketamoanan Ricko. 


"Coba lihat deh ini cocok sekali dengan kalian,  kalian memang pasangan yang serasi"  Ucap Indah heboh sambil melihat Ricko dan Diandra yang memang terlihat sempurna dengan pakaian yang sedang digunakan.  


"Kalian benar benar jodoh deh kayanya"


"Enggak" Namun justru kata kata itu yang keluar dari bibir mereka berdua secara bersamaan,  seolah mereka menolak dengan kata kata mereka serasi dan disebut jodoh. 


Setelah menyelesaikan fitting baju, Ricko melajukan mobilnya ke arah salah satu mall besar di kota malang, mereka akan membeli sepasang cincin pernikahan disana. Sesampai disana seperti sebelumnya Diandra selalu berjalan lebih dulu meninggalkan Ricko, baru beberapa langkah Diandra menghentikan langkahnya lalu membalik badanya mengarah keriko. 


"Kenapa berhenti?" Tanya Ricko sinis. 


"Dimana tempatnya?"  Tanya Diandra tak kalah sinis.


Ricko terus berjalan dengan Diandra mengikuti dibelakangnya. 


"Lagian nggak tau tempatnya ngapain gaya gayaan pergi duluan,  dasar ****"


Diandra yang kesal hanya menggerutu kesal sambil berjalan cepat mengikuti langkah Ricko. Mereka hanya sebentar saja di toko perhiasan,  karena memang sebelumnya cincin sudah di pesan merrka tinggal mengambil saja. Kali ini Diandra berjalan cepat meninggalkan Ricko di belakang.  Saat sudah di dekat pintu keluar menuju parkiran Diandra tiba tiba memelankan langkahnya dan berjalan mengimbangi Ricko. 


"Gue laper" Ucap Diandra sedikit melirik Ricko yang masih saja berjalan. 


"Ya makan aja sendiri, gue mau pulang" Jawab Ricko aacuh. 


Diandra langsung menghentikan langkahnya. 


"Yaudah gue mau makan, nanti gue pulang sendiri aja,  kalo ditanya sama mama kenapa pulang sendiri gue bilang aja lo ninggalin gue" Diandra sengaja berbicara keras agar Ricko yang masih saja berjalan mendengarnya. 


Saat mendengar ucapan Diandra,  Ricko langsung behenti. 


"Issh, sialan" Umpat Ricko sambil berjalan menghampiri Diandra.  Pikirnya kalau sampe Diandra ngadu, bisa dibunuh mamanya hidup hidup gue. 


"Yaudah lo mau makan apa?" Tanya Ricko kesal. 


"Makan disana aja" Ucap Diandra sambil menunjuk restoran pizza tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Diandra menikmati makananya pelan pelan,  sementara Ricko hanya sibuk bermain ponsel dan sesekali melirik Diandra yang sedang makan,  pikirnya ni cewek makan ngunyahnya 100 kali dulu kayanya,  lama banget. Tiba tiba saja ponsel Ricko berbunyi,  dia segeda mengangkatnya. 


"Hallo"


"Iya sayang, sebentar lagi pasti pulang"

__ADS_1


Hanya kata kata itu yang Diandra samar samar, bahkan Diandra tampak tidak perduli jika memang Ricko benar benar punya pacar, karena mereka memang menikah karena terpaksa. 


__ADS_2