
Hari sudah berganti, tapi tidak dengan keadaan, faktanya satu minggu lagi Diandra akan benar benar sah menjadi seorang istri, istri dari mantan pacarnya tepatnya, jangankan berharap memikiki rumah tangga yang indah, membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya saja Diandra tidak mau.
***
Hari ini adalah hari senin, jalanan tampak ramai karena orang orang harus kembali memulai aktivitasnya. Diruanganya Devinta tampak berkali kali menguap membuatnya tidak fokus pada layar komputer yang ada didepanya.
"Hooaamm" sekali lagi Devinta membuka mulutnya lebar lebar.
"Mending gue gojekin kopi deh, bisa bisa salah ngitung nih gue, sejuta jadi semiliar bisa bisa jual ginjal buat ngegantiin" Gumam Devinta.
Devinta meraih ponselnya di atas meja, membuka aplikasi pesan antar dan segera mencari cafe langgananya untuk membeli kopi, saat melihat promo buy one get one tiba tiba saja dia teringat sahabatnya yang beberapa hari tidak ia temui karena weekend, setelah 15 menit akhirnya pesananya datang, Devinta bergegas turun ke front office untuk mengambil kopinya lalu pergi ke ruangan sahabatnya untuk memberikan kopi sekaligus ingin tau bagaimana pertunanganya dua hari yang lalu.
Devinta berkali kali mengetuk pintu ruangan Diandra tapi tidak ada jawaban, lalu ia membuka pintu pelan dan mengintip apa yang telah dilakukan sahabatnya karena sama sekali tidak mendengar ketukan pintu, saat melihat sahabatnya sedang melamun dengan wajah ditekuk Devinta mengendap masuk.
"Duaaarrr!" Suara Devinta mengagetkan Devinta.
Diandra terlonjak kaget
"Astagfirullah" Ucapnya sambil mengelus elus dadanya.
"Diihh, kebiasaan banget lo ngagetin gue!"
Dengan jurus seribu bayangan Devinta secara sepontan menghindari timpukan bulpoin yang dilemparkan Diandra.
"Hahaa, salah sendiri pagi pagi udah lemes aja kaya ayam sayur" Ucap Devinta yang masih tertawa.
"Gue jantungan, terus mati nggak punya temen kaya gue lagi lo! "
"Sory sory! Lagian gue ketuk pintu berkali kali lo nggak nyaut juga"
"Lo elus elus doang kali pintunya, makanya gue nggak denger" Ucap Diandra sinis.
"Masih waras gue, ya kali Revan gue elus elus" Ucap Devinta sambil mengingat ingat wajah kekasihnya yang sudah setahun tidak pulang ke Indonesia karena bekerja di Jepang.
"Revan mulu dipikirin, udah lama dia nggak pulang jangan jangan lo di tinggal nikah di jepang" Ucap Diandra.
"Enak aja, Revan tu lagi cari duit buat nikahin gue tau" Jawab Devinta sambil menjukurkan lidahnya, sementara Diandra hanya memincingkan bibir saat mendengar ucapan sahabatnya.
"Nih kopi, biar nggak lemes" Ucap Devinta sambil menyodorkan satu cup americano yang tadi dipesanya melalui aplikasi gojek.
"Thankyou, baik banget sih lo" Devinta menerima satu cup coffe dengan senyum merekah di wajahnya.
"Lo perhatian banget sih sama gue" Imbuh Devinta.
"Enggak juga, itu pas promo aja tadi, beli 1 gratis 1" jawab Devinta sambil menyesap kopi panasnya.
__ADS_1
"Sialan lo, gue kira beneran perhatian sama gue, taunya kopi gratisan dikasih gue" Ucap Diandra.
"Gratisan juga lo minum kan!" Ucap Devinta.
"Lagian kenapa masih pagi gini udah butek aja muka lo kaya kolam lele?"
Ucap Devinta sambil menggeser kursinya untuk mendekati sahabatnya.
"Ikan lele, gue patil juga lo!"
"Pusing nih gue!" Ucap Diandra sambil meletakan kepalanya di atas meja.
Devinta mengertutkan keningnya
"Pusing kenapa lo? Perasaan hotel high occupancy terus deh" Ucap Devinta yang bingung karena memang biasanya hanya ketika hotel sepi saja Diandra akan pusing tujuh keliling.
"Minggu depan nikah gue" Diandra mendongakan kepalanya. Devinta yang terkejut menyemburkan kopi yang baru saja disesapnya ke wajah Diandra.
"Aiisshh, sialan lo" Diandra langsung berdiri dan menyeka wajahnya yang sudah basah dengan tangan.
"Sory sory, kaget gue!" Ucap Devinta sambil mengambil tisu dan mengelap wajah Diandra sambil menyengir.
"Kira kira dong, wah ini makeup gue luntur sialan!" Ucap Diandra yang kembali duduk sambil mengelap wajahnya.
Devinta kembali mendudukan tubuhnya di dekat Diandra.
"Lagian kenapa lo nikahnya buru buru sih, perasaan baru kemaren ketemunya" tanya Devint.
"Tau ah, pusing gue bokap gue tiba tiba nentuin tanggalnya, gue mana nggak bisa nolak" Jawab Diandra kesal sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya.
"Terus calon lo gimana? Tua botak nggak?" Tanya Devinta yang penasaran karena sebelumnya Diandra hanya bercerita akan bertunangan tapi tidak bercerita apa apa setelahnya.
"Gue dinikahin sama Ricko" Jawab Diandra yang masih terpejam.
"Hahh, kenapa namanya sama kaya mantan lo? " Ucap Devinta sambil menenggak air mineral milik Diandra.
"Ya emang Ricko Bastian mantan gue" Ucap Diandra lemas.
Devinta yang kaget untuk kedua kalinya menyemburkan air ke wajah Diandra sambil membelalakan mata. Diandra yang berjingkat dan menyeka wajahnya dengan tangan.
"Sialan, nggak mandiin gue sekalian aja lo! " Ucap Diandra sambil berdiri mengarahkan tanganya ke leher Devinta ingin mencekiknya dan pastinya itu hanya bercanda.
"Ampun ampum! nggak sengaja, gue kaget" Ucap Devinta yang saat ini takut benar benar akan dibunuh sahabatnya.
"Yatuhan, masih pagi udah kena najis dua kali, harus mandi besar nih kayanya!" Ucap Diandra yang kini mengelap wajahnya dengan tisu.
__ADS_1
"Sialan, lo pikir gue anjing?" Ucap Devinta sambil mengerucutkan bibirnya.
"Liat nih, basah baju gue, tanggung jawab lo beliin gue baju baru" Ucap Diandra yang masih sebal dengan sahabatnya.
"Yaelah, anak pemilik hotel masa tega minta beliin baju karyawanya, jahat banget lo! " Ucap Devinta melas.
"Bapak gue yang duitnya banyak, gue mah cuma kaleng rombeng doang"
"Yaudah sana pergi, gue aduin ke bapak gue kalo lo makan gaji buta baru tau rasa lo" Ucap Diandra membuat sahabatnya berlari seger.
"Jangan diaduin" Teriak Devinta yang sudah di ambang pintu, sementara Diandra hanya terkekeh melihat sahabatnya itu.
Setelah memesan baju di butik langgananya, Diandra segera pergi ke salah satu kamar hotel yang memang selalu dikosongkan karena dikhususkan untuk beristirahat CEO yang adalah papanya sendiri. Setelah membersihkan dirinya, Diandra menggunakan bathrobe sambil menunggu baju ganti yang masih dalam perjalanan di bawa kurir ke hotelnya. Setelah beberapa saat menunggu seorang bellboy membawakan baju yang baru saja dibeli secara online lalu memakainya.
Setelah menyerahkan baju kotornya ke laundry, Diandra pergi menuju ruang kerja papanya karena beberapa saat yang lalu papanya menelfon memintanya segera datang keruanganya karena mamanya datang.
Cekleek
Diandra membuka pintu lalu mendudukan tubuhnya di sofa yang disana sudah terlihat mamanya sedang duduk.
"Mama udah dari tadi ?" Ucap Diandra saat melihat mamanya.
"Enggak kok, mama datang setengah jam yang lalu" Ucap Anita.
"Maaf lama, Diandra abis ganti baju karena abis ketumpahan kopi" Ucap Diandra.
"Kok bisa sih?" Tanya mama Anita.
"Iya, tadi nggak sengaja, mama tumben kesini? Ngapain?" Tanya Diandra, karena memang mamanya jarang sekali pergi ke hotel.
"Kamu nggak sibuk kan?" Tanya Anita.
"Enggak ma, emang kenapa?" Tanya Diandra.
"Nanti siang kamu fitting baju sama nyari cicin sama Ricko ya!" Ucap Anita kepada anaknya, sebelumnya memang Anita sudah membuat janji kepada pemilik butik lalu meminta Intan memberintahu Ricko untuk fitting baju bersama Diandra hari ini.
"Nggak mau ah, suruh aja dia pergi sendiri" Ucap Diandra yang rasanya enggan sekali bertemu Ricko.
"Yang mau nikah itu bukan Ricko saja, tapi kamu juga" Sahut Andi yang duduk di meja kerjanya.
"Enggak, Diandra sibuk" Jawabnya singkat.
"Tadi katanya enggak sibuk" Tanya Anita.
"Pokoknya kamu pergi saja sama Ricko, pekerjaanmu tidak banyak, staff marketing bisa menghendelnya, kalaupun tidak Papa juga tidak keberatan untuk membantu" Ucap Andi tidak ingin dibantah.
__ADS_1
"Tapi pa?"
"pokoknya kamu harus pergi fitting baju, mama udah bikin janji tadi, nanti Ricko jemput kamu disini" Ucap Anita. Diandra dengan terpaksa mengiyakanya, lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan papanya dengan wajah yang semakin ditekuk.