
Rachel menatap langit-langit kamarnya dengan senyuman yang tak luntur menghiasi bibirnya.
"Semoga hari besok adalah hari baik." Ucapnya sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam mimpi.
***
Cuaca pagi ini tidak terlihat cukup baik karena ternyata semalam air hujan turun membasahi bumi, meninggalkan genangan air di jalanan.
Rachel diturunkan oleh pak Trisna di halte sekolah. Gadis itu menjadikan tangan mungilnya untuk melindungi kepalanya agar tak terkena rintikan gerimis dan berlari kecil menuju halte.
"Non, mau diturunkan di sini aja? Gak mau masuk ke dalem sekalian?"
Rachel menggeleng, "Ke dalem mah lahan parkir pak, udah di sini aja. Makasih ya pak, hati-hati di jalan!"
Perlahan mobil silver itu berjalan menjauh, Rachel mengedarkan pandangannya melihat ternyata orang-orang memakai payung atau jas hujan.
Ia merutuki dirinya yang hanya memakai jaket.
Saat sedang mengibas-ngibas tangan jaketnya yang sedikit basah, tiba-tiba sebuah topi mendarat di kepala Rachel. Wangi mint menyeruak di indra penciumannya, namun rasanya Rachel sangat hafal siapa pemilik wangi tersebut.
"Gerimis, lain kali bawa payung." Cowok itu menepuk kepala Rachel pelan.
"Makasih." Rachel menatap Alfa yang dibalas anggukkan oleh cowok itu.
Pipi Rachel merona, seketika ia tersadarkan.
"Apa sih anjir!" katanya sambil tersenyum dan memegang topi Alfa sambil menatap si pemilik topi yang sudah berjalan menjauh memasuki lingkungan sekolah.
Okay, Rachel akui. Beberapa hari ini entah kenapa Alf terlihat tampan. Tapi sumpah demi apapun Rachel tak akan pernah mengungkapkan langsung ke orangnya! Gadis itu sudah bisa membayangkan betapa tengilnya raut cowok itu apabila sampai tau jika Rachel diam-diam memujinya.
Rachel berjalan riang dengan bibir yang tak henti mengulum senyum. Bahkan banyak sapaan orang-orang sekitar yang terus ia balas.
Biasanya Rachel tak serajin itu membalas sapaan semua orang.
Lebih anehnya lagi saat Rachel melewati seseorang, tanpa segan ia akan menyapa orang tersebut.
Padahal ia salah menyebut nama.
"Eh Beya lagi ngapain?" sapa Rachel sambil tersenyum pada seorang siswi yang sedang membeli cilok di dekat gerbang.
"Nama gue Bianca Chel, bukan Beya!"
"Eh iya, maksud gue, Bunga lagi ngapain?"
"Dah lah..."
Mata Rachel mengedar lagi, kali ini tatapannya jatuh pada seorang siswa yang sedang memarkirkan motornya.
"Eh Fanjay lagi markir motor ya?" sapanya dengan menepuk bahu cowok itu.
Si cowok yang melihat bahwa Rachel yang menyapa sekaligus menepuk bahunya langsung menata rambutnya.
"Eh Rachel, btw nama gue Fandy bukan Penjol."
"Oalah, sorry! Gue duluan ya!" celetuk Rachel tanpa dosa sambil meninggalkan cowok bernama Fandy itu.
Sesampainya di kelas Rachel menunduk sambil menahan senyumnya habis-habisan, ia juga selalu memegang topinya seolah ia sedang membenarkan letak topi itu.
Rasanya benar-benar deg-degan!
Alay deh? Kenapa ya Rachel merasa senang?
Saat matanya mulai menelisik seluruh penjuru kelas, ternyata Alfa tidak ada di satu sudut pun.
Namun meski begitu, hal itu tak membuat senyum manis seorang Grachelda Kinanti luntur.
Clarissa mengerutkan alisnya, "Lo mau pake topi sepanjang pelajaran?"
Rachel menolehkan pandangannya sambil berucap sedikit tergagap.
"Eh... Enggak kok, tar juga gue buka..."
"Idih waras lo kayak gitu? Ketempelan jin mana hari ini?" tanya Clarissa sambil memundurkan badannya.
Rachel mendengus, "DIEM DEH MOOD GUE LAGI BAGUS ANJ LO JAN NGERUSAK!"
__ADS_1
"Buset, santai tanteee!"
Rachel berdecih, cewek itu kembali mengulum senyum. Hatinya tanpa sadar harap-harap cemas menunggu kedatangan cowok yang duduk dihadapannya.
Tepat saat bel berbunyi bersamaan dengan masuknya guru mata pelajaran, Alfa juga masuk dan dengan acuhnya cowok itu langsung duduk tanpa melihat Rachel sama sekali.
Padahal biasanya cowok itu akan menyempatkan diri untuk menatapnya jahil walau sekilas.
"Rachel sampe kapan kamu mau pakai topi terus?" tegur Bu Rina membuat Rachel tersentak, dengan gerakan kaku cewek itu menaruh topinya.
***
Saat bel istirahat berdering, Alfa sangat tergesa-gesa dan keluar bersamaan dengan guru yang mengajar. Rachel menatapnya bingung, tak biasanya cowok itu keluar cepat.
"Apa cuma gue yang ngerasa Alfa kek buru-buru gitu? Gue juga ngerasa sepanjang pelajaran tadi dia gak mau diem tumben banget." Celetukan Clarissa dibenarkan Rachel.
Kenan menatap sebal kepergian Alfa, lalu cowok itu menatap pada Rachel yang sedang memainkan topi hitam yang sangat Kenan kenal.
Tiba-tiba teriakan seorang siswi yang memasuki kelas dengan heboh menarik seluruh atensi orang-orang, ya kecuali Rachel yang mendengar dengan ogah-ogahan.
"WOY TAU GAK? MAUDY UDAH BALIK!"
"HAH IYA?"
"TAU GAK KABAR LEBIH HEBOHNYA?!"
"APA?"
"MAUDY SAMA ALFA MASIH OFFICIAL TERNYATA!"
Kepala Rachel mendongak, gadis yang tadinya tak semangat mendengar itu langsung terduduk tegap. Tangannya berhenti memainkan topi hitam itu.
"HAH IYA?"
"GAK NYANGKA, GUE KIRA PUTUS MASA?"
"KUAT BANGET ANJIR! SEMPET LDR ENAM BULAN JAKARTA-INGGRIS DONG YA?"
"IH KACAU SIH!"
"SAMA ANJIR KEMARIN GUE JUGA LIAT RAMBUTNYA RACHEL DITALIIN!"
"DI PERPUS GUE LIAT MEREKA DEKET-DEKETAN ANJIR!"
"YA MAUDY JUGA CANTIK SIH, APALAGI DIA BERBAKAT KAN AMPE IKUT PERTUKARAN PELAJAR DAN KATANYA SIH DIA JUGA NGAMBIL KELAS AKSELERASI TAHUN INI."
Rachel memejamkan matanya dengan tangan yang mengepal, sedangkan Clarissa menganga tak percaya.
Clarissa menggebrak meja.
"HEH BEGO YANG KALIAN OMONGIN ADA DI SINI! UDAH PERGI SANA KALO MAU GOSIP JANGAN DI SINI!" teriak Clarissa dengan suara sangat melengking.
"MASIH ADA YANG MAU NGOMONG GUE RONTOKIN SEMUA GIGINYA TERUS GUE PINDAHIN KE PANKREAS!"
Solihin yang tadinya ingin membantah kembali mengatupkan bibirnya. Lalu kelas kembali hening.
Clarissa menatap pada Rachel yang menunduk dengan tangan saling menaut.
"Chel—" Clarissa mengulurkan tangannya namun segera ditepis oleh Rachel.
Rachel mendongakan kepalanya, menatap Clarissa dengan wajah memerah.
"Kenapa? Dah ayo ke kantin gue laper banget!" ajak gadis itu dengan nada sedikit bergetar.
Clarissa menolehkan pandangannya pada Kenan, Kenan menganggukan kepalanya seolah berkata 'Ikutin aja maunya dia.'
"Okay, ayo ke kantin."
Clarissa, Rachel, dan Kenan beriringan menuju kantin. Ternyata berita tentang kepulangan Maudy juga kabar hubungannya dengan Alfa menjadi trending topik di kalangan siswa dan siswi hari ini.
Setiap koridor yang mereka lewati selalu saja mengatakan tentang itu.
Saat sampai di pintu kantin, langkah Rachel terhenti, Clarissa dan Kenan menoleh pada Rachel yang memaksakan senyumnya.
"Duh gue kebelet, duluan aja. Pesenin bakso aja ya!" pintanya dan langsung ngacir begitu saja meninggalkan Clarissa dan Kenan.
__ADS_1
"Kayaknya dia butuh waktu sendiri." Ucapan Kenan diangguki Clarissa.
"Sumpah gue lupa kalo ada Maudy di kehidupannya Alfa, gue kira mereka putus." Clarissa merasa bersalah pada Rachel.
"Rachel bener-bener butuh waktu." Kenan mengusap kepala Clarissa sambil menggandengnya menuju bangku kantin.
***
Rachel berjalan menuju toilet melewati lapangan utama, langkahnya melambat saat melihat di depan sana ada Alfa dengan seorang cewek yang tak dikenalnya tengah memakan es cream bersama.
Cowok itu bahkan banyak tersenyum dan tertawa. Sesekali Alfa mengusap sayang rambut cewek itu.
Rachel merasa dadanya dicubit, rasa sesak langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dengan cepat ia segera berlari ke toilet, mancari sebuah bilik dan memutuskan untuk menetap di sana.
Terdengar suara langkah kaki juga keran yang dinyalakan. Lalu bisik-bisik ria dari segerombol orang tak dikenal itu mengisi heningnya toilet.
"Loh kaget banget gue liat Alfa gandeng tangan Maudy!"
"Lah iya ya? Sumpah si pas denger Maudy balik aja kayak gak nyangka. Setengah tahun dia ke negara orang buat pertukaran pelajar kan?"
"Padahal belakangan ini gue sering liat Alfa mepet Rachel terus. Gak nyangka sih gue kira dia sama Rachel."
"Rachel yang pindah jurusan?"
"Iya ya?"
"Padahal Rachel baik banget anaknya asik. Cantik lagi. Sayang banget jadi pelampiasan Alfa doang pas ceweknya gak ada."
"Iya juga ya."
Rachel merutuki air mata yang entah kenapa cepat sekali merembes keluar dari kelopaknya!
Gadis itu membekap mulutnya sekuat mungkin, menahan isakan yang terus menerus ingin keluar.
Saat suara gerombolan itu tak terdengar lagi dan toilet kembali hening, Rachel melepaskan bekapannya.
Ia menepuk-nepuk dadanya kuat sambil terus menangis dan terisak.
"K—kenapa hiks s-sesek bang—et hiks sih..."
Isakannya terus membesar, seiring bertambahnya sesak yang Rachel rasakan.
"G—gue kan gak suka hiks... Terus hiks... Kenap-hiks kenapa sak-hiks sakit..." Racau Rachel.
Gadis itu mendudukkan diri di WC duduk dengan tangan yang terus menyeka air matanya.
"G—gue gas—hiks gak suka!" Rachel menaikkan nada suaranya.
"G—gue gak suka hiks ter-us hiks kenapa nangisnya gak mau berhen-hiks berhenti sih!"
Rachel menggelengkan kepalanya kuat, belum satu bulan ia pindah kelas.
Mana mungkin ia bisa mencintai seseorang hanya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan?
"Kenapa sesek banget sih..." Rachel memukul keras dadanya. Berharap rasa sesak yang menyerangnya hilang seiring mengerasnya pukulan itu.
Namun semakin Rachel mengelak kenyataan, semakin besar pula sesak yang ia rasa.
"G—gue... Hiks..."
Tubuh gadis itu merosot ke lantai, kakinya tertekuk dengan tangan memeluk lutut erat.
"G—gue hiks... G—gue suka..."
Pada akhirnya Rachel mengaku kalah.
Bahu mungil itu bergetar hebat, rintihan tangisnya terus bergema mengisi keheningan toilet siang itu.
Rachel sadar.
Di hari pertama ia mengetahui bahwa ternyata ia terjatuh.
Di hari itu pula ia tahu ternyata jatuhnya bukan menuju pada gelombang kebahagiaan.
__ADS_1
Namun pada lubang hitam yang berisi segala rasa sesak juga harapan tak berujung.