
Kelas 11 IPA 1 dan IPA 2 digabungkan di pelajaran sejarah. Karena Pak Liem memiliki urusan mendadak siang nanti, hal itu menjadikan jam kelas IPA 2 ditukar lebih cepat. Beberapa siswa dan siswi yang datang ke aula terlihat sudah duduk dan berbincang ringan.
"Chel, liat deh tuh si Herlina." Bisik Clarissa.
Rachel mengikuti arah pandang temannya itu, terlihat segerombolan gadis—lebih tepatnya seseorang yang mempimpin gerombolan itu memasuki aula.
Rachel kembali menatap Clarissa dengan senyum tertahan, ia balas berbisik. "Mukanya abu-abu jir!"
"Pffft—" Clarissa menutup bibirnya dengan sebelah tangan, sebelahnya lagi ia pakai untuk memukul-mukul pahanya.
"Bibirnya kayak abis makan orok!" celetuk Clarissa, kali ini gantian Rachel yang menahan tawanya.
"Jeding banget anjir bibirnya, liat rambutnya dikibas dia kira iklan shampo apa?" julid Rachel, lalu gadis itu menegakkan tubuhnya.
"Aku? Jadi duta shampo lain? AHAHAHA! Dulu sih pernah pake oli, tapi kepalaku jadi botak berkilau!" Rachel memperagakan salah satu iklan yang ia lihat di tv membuat Clarissa mau tak mau tertawa kencang.
Herlina yang mendengar langsung mendelik pada dua orang yang seketika memberhentikan tawanya. Dengan sinisnya cewek itu berjalan melenggak-lenggok bak itik dan duduk sambil menangkat tangannya sejenak.
"Buset mau jadi India kali ya tu baju seragam dicrop." Memang jiwa julid Clarissa sudah tak bisa dibendung lagi.
"Mending kalo pusarnya bagus, nonjol begitu!" balas Rachel tak kalah julid. Mereka kembali tertawa pelan.
Rachel berdehem, terlalu banyak ngejulid dan tertawa bikin tenggorokannya seret.
Dengan mata berbinar-binar Rachel mengambil botol minuman dan hendak menegaknya namun kegiatannya harus tertahan saat merasakan seseorang duduk di sebelahnya.
Mata Rachel membulat saat mengetahui jika Alfa yang mengisi kursi kosong yang ada di sampingnya.
Hadeh kenapa ni anak harus duduk di situ sih?
Tubuh Rachel mengeluarkan reaksi berlebihan saat mengamati wajah Alfa yang sialnya—
KENAPA HARI INI MANUSIA ITU TERLIHAT TAMPAN?
Mencoba acuh, gadis itu langsung menenggak airnya sampai mulut Rachel mengembung. Ia berharap wajahnya yang blushing juga debaran jantungnya bisa tersamarkan.
"Loh Chel, lo sakit?" tanya Clarissa membuat beberapa orang di meja panjang itu menatap Rachel.
Termasuk Alfa.
"Hah? Enggak kok." Balas Rachel setelah menelan airnya.
"Kok pipi lo kok merah?"
Rasanya Rachel ingin mencabik mulut Clarissa yang malah bertanya seperti itu.
Mata Rachel mengedar ke sana ke mari dengan jari yang meremas botol, ia bingung mau pake alesan apa!
"Oh, gara-gara itu... Eung—"
Namun ternyata nasib baik sedang berpihak padanya, Guru sejarah mulai memasuki kelas dan langsung mengambil alih atensi siswa.
Rachel menghembuskan nafasnya lega.
Terima kasih Pak Liem, saranghae!
***
Jam istirahat tadi, Rachel bersama yang lain memutuskan untuk kembali ke kelas.
Kelas lumayan ramai dengan siswa yang sibuk dengan kegiatan masing-masing seperti Rachel yang sedang sibuk menguncir rambutnya karena siang ini terasa begitu panas. Gerah sekali rasanya!
__ADS_1
"Kinanti..." Panggilan itu membuat Rachel mendongak dan tersenyum saat melihat sang empu.
Beberapa orang juga langsung melihat siapa kah orang yang memanggil si primadona sekolah dengan panggilan berbeda. Karena sebagian besar murid Swarna memanggil seorang Rachel Kinanti itu ya Rachel.
Renaldi menaiki meja Rachel.
"Loh Re, kenapa?" tanya Rachel sambil tersenyum.
"Gapapa, mau mengok aja. Jauhan kelasnya gak asik. Masa beda gedung juga." Keluh Renaldi sambil mencebikan bibirnya.
"Apaan sih anjir so imut lo!" Rachel mencabik bibir Renaldi.
"Sialan sakit banget, Ki, gak ada ahlak ye lo, ini tuh bibir seksi gue. Kalo mau comot pake bibir lagi aja jangan pake tangan!"
"Lambemu tak hih!" kali ini lebih sadis, Rachel tak segan menabok wajah Renaldi.
"KDRT mulu jir!" Renaldi mengusap-usap wajahnya.
"Gak jelas lo!"
"Eh lo tau gak? Si Gina ganti cowok lagi."
Mata Rachel membulat, "Iya?"
"Iya jir anak IPS empat!"
"Fuckgirl banget sobat lo astaga, padahal mah gamonnya ke satu orang!" Rachel menggelengkan kepalanya prihatin sedangkan Renaldi mengerutkan alisnya.
"Hah? Emang gamon ke siapa?" tanya nya membuat Rachel gelagapan.
Mampus keceplosan!
"Ck, iye elah ngusir bener si!"
Rachel terkekeh.
"Ya udah gue balik, bye jangan kangen!" Renaldi menggusak kepala Rachel yang dibalas tabokan oleh gadis itu. Kemudian ia mulai melangkah pergi.
Namun baru dua langkah berjalan, kaki Renaldi tersandung—
Brukkkk
—dan cowok itu pun jatuh tersungkur.
Renaldi membangkitkan dirinya, dengan sinis ia menatap ke arah Alfa yang juga menatapnya.
"Sorry sengaja." Ucap cowok itu lalu menarik kakinya dan kembali membaca buku.
Rachel ternganga melihat kejadian barusan, buset Alfa ngomongnya santai bet kek di pantai!
Dengan kesal Renaldi menggebrak meja Alfa, membuat si yang punya meja kembali menatapnya.
"Maksud lo apa, hah?"
Alfa menaikkan alisnya.
"Anjing! Maksud lo naro kaki di situ apa?" kali ini Renaldi menarik kerah Alfa membuat sebagian orang terpekik.
Clarissa yang sedang tertidur pun sampai terbangun dan melongo melihat apa yang terjadi di depannya.
Alfa terkekeh mengejek yang makin membuat Renaldi kesal.
__ADS_1
"Bangsat!"
Sebelum kepalan tangan Renaldi menghantam wajah mulus Alfa, dengan sigap Kenan, Gara, dan Geri langsung menarik Renaldi menjauh dari Alfa.
Renaldi memberontak kesetanan, "LEPAS ANJING! BIARIN GUE MUKUL MUKANYA, BANGSAT!"
Rachel masih menganga. Ini kenapa jadi gini sih?
Gadis itu menggelengkan kepalanya, lalu segera menghampiri Renaldi, "Re, udah!"
Renaldi menatap heran pada Rachel, "Gue jatoh loh gara-gara si sialan itu!" tunjuknya pada Alfa dengan mata berkilat marah.
Rachel menipiskan bibirnya, "Iya, tapi nanti lo yang kena masalah. Udah ya mending ke kelas aja."
SMA Swarna masuk dalam salah satu jejeran sekolah menengah atas yang menjunjung tinggi kedisiplinan siswa dengan segala peraturannya.
Dan Rachel tak mau sahabatnya terlibat masalah pelik yang besar kemungkinan bisa membuat cowok itu diskors karena hampir melakukan kekerasan duluan.
"TAPI KI—"
"Re, please!" Rachel melotot dan mau tak mau Renaldi mengatupkan bibirnya pasrah.
Alfa menatap sinis pada Renaldi lalu melangkah keluar kelas diikuti Kenan yang langsung ngacir keluar mencari jejak Alfa yang ternyata menuju rooftop.
Sampai di rooftop Alfa berdiri di dekat pembatas tembok, tangannya di masukkan ke dalam saku ******. ***** satu kali lihat, orang-orang juga bisa tau jika Alfa pun sangat kesal, entah kesal untuk bagian yang mana.
Nafas Alfa terdengar memberat.
Kenan menepuk bahu Alfa namun tak mendapat respon apapun dari si empunya.
Kenan pun turut menghela nafasnya, kejadian ini sudah ia duga cepat atau lambat pasti terjadi.
Ternyata lebih cepat dari dugaannya.
"Lo gak boleh gini, Fa."
Alfa masih bungkam.
"Lo salah. Lo sadarkan?"
Kenan menarik bahu Alfa agar berhadapan dengannya.
"Bro, lo gak boleh sampe ada something!" katanya menyadarkan Alfa.
Alfa menepis tangan Kenan.
"Apa sih."
"Gue gak bodoh liat tiap perilaku lo ye, bangsat. Emang gue gak tau apa?"
"Tau apa sih?"
"Lo bisa nyakitin semuanya kalo sampe lo kejebak perasaan lo sendiri!"
Alfa kembali bungkam.
Melihat wajah yang biasanya tenang itu kini nampak sedikit gusar, Kenan berdecih dan terkekeh sinis.
"Siapa yang kejebak perasaan sih." Jawab Alfa setelah sekian lama diam. Cowok itu bahkan mengalihkan pandangannya dari Kenan yang menatapnya dengan raut mengejek.
"Cuma orang bego yang bisa percaya omongan lo."
__ADS_1