FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 15 : UKS


__ADS_3

"Apa ada yang mau ditanyakan?" tanya Alfa pada seluruh murid. Kini kelompoknya tengah berdiri di depan kelas, mereka telah selesai menjelaskan materi presentasi pelajaran Bahasa Indonesia milik kelompok mereka.


Genza menatap satu persatu wajah siswa yang sedang duduk dengan tatapan tajam dan melotot seolah memperingatkan mereka 'Kalo nanya, tar gue tanya balik pas giliran lo presentasi!'


Semua siswa serempak menggeleng, takut dengan ancaman Genza karena kelompok itu memiliki Alfa sebagai kuncinya. Alfa yang bisa saja membabat habis mereka dengan pertanyaan rumit yang ada di otak jeniusnya.


"Okay deh kalo gak ada yang mau nanya, materi kami tutup ya. Sekian presentasi dari kelompok kami mohon maaf apabila ada kesalahan kata dan kesalahan karena saya terlalu ganteng di sini. Pergi ke Irian, mampir ke Bekasi. Cukup sekian dan terima kasih." Tutup Geri nyeleneh, setelahnya tepuk tangan terdengar riuh dengan beberapa tawa yang berderai.


"Sudah bisa dipahami ya materi dari kelompok Alfa?"


"Sudah, Bu!"


"Oke karena jam Ibu mau habis, kita cukupkan sekian. Selamat siang semuanya selamat beristirahat." Guru muda itu berjalan dengan anggun keluar kelas.


"Siang, Bu!" jawab murid serentak.


"Anying gue mau nanya tapi takut duluan soalnya udah diancem Genza!"


"Genza mengeluarkan lasernya lewat tatapan bung!"


Genza mengibaskan rambutnya sambil tersenyum miring, "Bah pelangi spongebob lo pada!"


"Apaan anying pelangi spongebob?"


Genza berjalan dan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu.


Cewek itu berbalik, "Bacot," setelahnya melangkah pergi meninggalkan teman-temannya yang melongo dengan berbagai ekspresi.


"BAH!"


"SADEEESSS!"


"LORD GENZA PEDES YE KALO NGOMONG!"


"EMAKNYA GENZA PAS NGIDAM NYEMILIN PAKU PAYUNG MULU KAYAKNYA. KAGAK MATANYA KAGAK CONGORNYA TAJEM SEMUA!"


Rachel terkekeh, "Gue gak tau deh kalo Genza gak ngancem. Pasti mereka udah nanya-nanya. Gue gugup takut gak bisa jawab!" ucapnya yang dibalas anggukan oleh Clarissa.


"Iya bener ahahaha!"


Clarissa berjalan keluar meja, "Ayo Chel!"


"Bentar, gue lagi cari dompet!"


Clarissa mengangguk. Tak lama ia berjalan cepat ke depan kelas saat melihat Kenan yang sedang berbincang ria dengan seorang cewek.


MANA NYENGGOL-NYENGGOL TANGAN SEGALA LAGI!


"Chel, gue ke depan bentar, mau ngerukiyah buaya biar hijrah jadi monyet!"


Rachel menatap kepergian Clarissa sekilas, lalu kembali merogoh tasnya.


"Nah!"


"IH DASAR CEWEK GATEL LO NYOSORIN PACAR GUE, LO KIRA PACAR GUE TEMBOK APA SEENAK JIDAT LO TEMPLOKIN? NGECOSPLAY JADI CICAK LO HAH?"


"CICAK TUH YANG PUTUS EKORNYA! KALO LO YANG PUTUS URAT MALUNYA YA? MAKANYA NEMPLOKIN COWOK GUE? BERANI LO SAMA GUE?"


Teriakan beruntun dari Clarissa membuat Rachel meresleting asal tasnya dan segera berlari ke depan.


Matanya melotot saat mendapati Clarissa sedang berjambak-jambak ria dengan Raquel—tetangga kelas mereka.


"Gue botakin rambut lo biar gak usah ke salon sekalian!" suara Clarissa yang melengking menjadi sound pengiring pertengkaran.


"Bacot si, orang cowok lo b aja gue deketin!"


"IDIH DAJAL EMANG SETAN LO! GATAU DIRI!"


Aksi jambak-jambakan itu naik tingkat menjadi cakar-cakaran juga dorong-mendorong. Rachel yang melihat goresan merah tercetak jelas di pipi Clarissa pun langsung mengambil tindakan. Sebelum ikut andil, matanya menatap tajam pada Kenan yang malah bersorak heboh bagai supporter di barisan depan.

__ADS_1


"Ayo ayang Caca! Pacarmu mendukungmu! Kurang kenceng itu yang, jambaknya!"


Rachel melotot kesal mendengar ucapan bodoh itu.


"Udah-udah!" Rachel menarik Clarissa dan mendorong Raquel yang kini berganti, malah memukul dan menjambak dirinya.


"EH KOK GUE JUGA SIH, AAAAA!"


Clarissa memberontak sampai tubuh Rachel terdorong dan kepalanya terbentur tembok dengan keras.


DUG


"ADUH..." Semua mata kini menatap Rachel, pertikaian sengit antara Clarissa dan Raquel pun harus tertunda sejenak.


Rachel terduduk dengan tangan yang memegang belakang kepalanya. Di tangan putihnya terlihat jelas beberapa cakaran, rambut gadis itu juga sangat kusut dan berantakan.


Lalu sebuah tubuh tinggi tegap mendominasi penglihatan seluruh siswa yang melihat. Alfa berjongkok tepat di depan Rachel, ia langsung menelusupkan tangannya ke lutut juga punggung gadis itu. Membawanya dengan gaya bridal style menuju UKS terdekat.


Langkahnya kian menjauh meninggalkan kerumunan yang menemani tiap langkah kepergian mereka.


Juga Maudy yang menatap kepergian itu dengan raut wajah tak dapat dijelaskan.


***


Alfa membaringkan tubuh Rachel di kasur UKS. Cowok itu segera mengambil alkohol, betadine, dan kapas di kotak P3K. Dengan telaten dirinya mengobati Rachel yang masih menunduk dengan tangan yang terus memegang kepala bagian belakang.


"Ssshh," ringis Rachel saat Alfa mengobati luka cakaran ditangannya.


"Lagian, so-soan ngelerai sendiri. Lo gak bakal kuat nahan dua orang emosi sendirian."


"Padahal lo bisa minta bantuan,"


"Bikin khawatir aja."


Rachel tertegun mendengar kalimat beruntun itu, lebih tepatnya kalimat terakhir yang diucapkan Alfa entah secara sadar atau tidak sadar.


"Masih sakit?" Alfa menaruh tangannya di atas tangan Rachel yang berada di belakang kepala cewek itu.


Rachel mengangguk kecil.


Rachel mendongak, matanya sembab.


"Sakit..." Suara parau itu akhirnya terdengar.


Rachel tidak kuat, aslinya kepalanya sangat sakit begitu juga dengan tubuhnya.


"Iya lepas dulu, tangannya jangan diteken gini. Makin sakit nantinya."


Dengan ragu Rachel melepaskan tangannya dari kepalanya dan memiringkan tubuhnya.


"Kalo telentang sakit..." Keluh gadis itu.


Alfa mengangguk dan mulai menyentuhnya dengan sangat lembut dan pelan. Tak lama tangannya bergerak mengelus.


"Pusing?"


Rachel mengangguk kecil.


"Bentar ya, gue ambil kantong air hangat dulu."


Alfa baru hendak beranjak namun tangannya segera dicekal Rachel.


"Gak usah, kayak tadi aja..." cicit gadis itu yang langsung menipiskan bibirnya juga kembali menutup matanya.


"Biar reda—"


"Gak usah."


Alfa tersenyum kecil, "Okay."

__ADS_1


Cowok itu membenarkan letak duduknya dan kembali mengusap lembut kepala belakang Rachel sampai beberapa menit kedepan yang cukup membuat tangannya pegal.


Alfa meringis saat melihat Rachel yang sepertinya sudah tidur dengan nafas teratur. Mata cewek itu sembab bahkan terdapat bekas tamparan di pipinya.


Tangan Alfa bergerak pelan menuju pipi putih kemerahan Rachel dan mengusapnya dengan ibu jari. Berharap perih yang gadis itu rasakan segera memudar.


Suara pintu UKS yang dibuka mengalihkan atensi Alfa, cowok kalem itu sejenak melebarkan matanya sebelum kembali pada raut tenangnya.


Maudy, berdiri disana.


Alfa berdiri dan berjalan mendekat pada Maudy, tangannya mengamit lembut tangan gadis itu.


"Kenap—"


"Ssst, dia lagi tidur." Tunjuk Alfa dengan mata mengarah pada gadis yang tengah berbaring di ranjang UKS.


Maudy mengangguk singkat dan mengikuti Alfa yang tiba-tiba menariknya keluar ruangan.


Pintu UKS ditutup, Alfa menuntun jalan menuju kursi di depan UKS. Setelahnya ia mendudukkan dirinya serta Maudy dengan posisi bersisian.


"Kenapa?" tanya Alfa dengan senyuman disertai tatapan hangat.


Sorot mata Maudy terlihat ragu, Alfa paham betul ekspresi gadisnya.


"Kenapa?" ulangnya agak merengek.


"Gapapa deh, gak jadi."


"Loh? Ada yang mau kamu tanyain kan? Tanya aja."


"So tau!"


"Aku bukan satu atau dua minggu berhubungan sama kamu kan, Dy? Kita udah setahun lebih bareng-bareng loh kalo kamu lupa."


Maudy menundukkan kepalanya sambil menipiskan bibirnya, ragu ingin bertanya.


Alfa menarik dagu gadisnya, "Tanya aja."


"She's your... friend?"


Alfa menautkan alisnya sejenak sebelum paham arah pembicaraan Maudy.


"Yeah, she's my friend. Temen sekelas," jelas Alfa.


Pancaran ragu masih terlihat jelas di netra hitam legam itu, Alfa memegang kedua tangan Maudy dengan duduk yang menyerong. Memusatkan seluruh dunianya pada Maudya Gladiesta—seseorang yang menyandang status kekasihnya, pemilik hatinya.


"Bener, kita cuma temen, by..."


"Tapi kamu khawatir banget tadi?"


"Khawatir ke temen sendiri nggak boleh? Dia tadi dicakar-cakar sampe kejedot dan yang lain malah ngeliatin. Kasian kan?"


Maudy membenarkan ucapan Alfa.


"Iya kamu bener, dan aku juga malah diem aja. Aku kaget banget soalnya aku bingung juga dan baru pertama liat dia di sini."


"Iya dia pindahan sebulan yang lalu. Namanya Rachel."


"Oh pantes."


"Feeling better?"


Maudy tersenyum dan mengangguk semangat.


"Trust me, dia cuma temen," Alfa mengeratkan genggaman tangannya.


"I trust u."


Dan percakapan yang membahagiakan itu justru terdengar menyakitkan bagi seseorang yang kini berada di balik pintu UKS. Gadis yang sedang menopang tubuhnya sembari tersenyum kecut.

__ADS_1


"Menyedihkan lo Rachel, Menyedihkan."


__ADS_2