FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 13 : Membodohi Diri


__ADS_3

Rachel menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Gadis itu juga keluar paling awal saat bel yang menandakan habisnya mata pelajaran informatika berbunyi. Kaki jenjangnya menelusuri koridor dengan tangan yang terus menangkup pipi.


Sial, Alfa memang menyebalkan!


Rachel sampai di kelas paling awal. Sambil berjalan menuju kursinya, gadis itu menghembuskan nafas kasar. Kejadian tadi terus berputar di kepalanya, ia merasa pipinya memanas dan jantungnya berdebar cepat.


"IH MALAH MAKIN KEPIKIRAN!" rengek Rachel sambil menangkupkan kepalanya dengan kaki yang menendang-nendang kecil di bawah meja.


"Nih minum dulu." Clarissa meletakkan sebuah botol di atas meja. Dengan wajah putus asa Rachel segera meneguk air itu.


"Gue liat kejadian Alfa sama lo tadi-"


"Uhuk-uhuk!"


"Anjir pelan-pelan minumnya ogeb!" Clarissa menepuk pelan punggung Rachel.


Dengan tangan yang menyeka air di sekitar bibir, Rachel menatap ragu pada Clarissa. "Lo... Liat?"


Clarissa mengangguk. Kejadian antara Alfa dan Rachel tadi memang tak menyita perhatian siswa karena semua orang sedang fokus pada tugas dan kegaduhan masing-masing.


Lalu bagaimana Clarissa bisa tahu?


Karena tadinya Clarissa hendak bertanya pada Rachel. Karena jarak kursi mereka yang cukup jauh, Clarissa berada di kursi barisan pojok, jadi gadis itu berinisiatif menghampiri Rachel. Namun langkahnya harus terhenti saat matanya menangkap gerakan Alfa yang mengungkung badan Rachel.


Mata Clarissa membulat sontak gadis itu menepuk-nepuk pundak Kenan untuk ikut melihat apa yang dilihatnya.


Dan mereka hanya terus mengamati kejadian tersebut sampai pada Alfa yang mengacak rambut Rachel sebelum kembali duduk ke kursi cowok itu.


"Ngomong apaan tu anak?" tanya Clarissa penasaran.


Rachel memilin ujung roknya dengan bibir yang dilipat, "Bantuin gue karena gue gak paham beberapa hal doang kok."


Clarissa memicingkan matanya saat melihat pipi Rachel yang merona, "Apa lagi?"


Rachel membuang pandangannya, berusaha tidak peduli, "Dia bilang gue lucu."


Wajah Rachel makin memerah namun raut wajahnya tak menunjukkan kebahagiaan.


Wajah cantik itu seperti sedang menahan keras perasaan yang mungkin tidak ingin dia ekspresikan.


"Kenapa? Lo harusnya seneng dong? Gue tau lo suka Al-" Rachel segera membekap mulut Clarissa. Matanya melotot sambil melirik-lirik kearah pintu yang ternyata muncul sosok yang sedang mereka bicarakan.


"Apaan sih ngaco!" bantah Rachel pelan.


Clarissa mendecih, "Masih gak mau ngaku lo?"


"Ish, pelanin suaranya!"


"Tuhkan kalo bukan dia orangnya gak mungkin lo minta gue pelanin suara."


Rachel makin melotot saat Alfa memandang mereka berdua, "Kenapa?" tanya cowok itu sambil memegang bukunya.


Rachel buru-buru menggelengkan kepalanya, "E-eh gapapa, gapapa! Rahasia negara! Biasa bahasan cewek!"


Alfa memandang keduanya heran, Clarissa dengan cepat memberi kode pada Kenan agar membawa Alfa pergi dari kelas.


"Kemana?" tanya Kenan tanpa suara.


"Kemana aja lah sana! Cepetan!" balas Clarissa yang juga tanpa suara.


Kenan mengangguk lalu menepuk bahu Alfa dan merangkulnya, "Ngantin kuy! Sambil mabar!" ajaknya yang dibalas anggukkan.


Kedua cowok itu berlalu begitu saja, meninggalkan Rachel yang langsung menghela nafas lega. Namun sepertinya kelegaan itu tidak bertahan lama.


Clarissa kembali menodong Rachel dengan pertanyaannya, "Ngaku sama gue, suka kan lo sama dia?"


"Ih bibirnya kalo ngomong bisa dikecilin gak sih volumenyaa?" Rachel menarik bibir Clarissa.


"Anj, bibir seksi gue! Ish, yaudah si lagian anaknya kan udah keluar!" sungut Clarissa sambil berkaca, melihat apakah tatanan liptintnya rusak karena jari biadab Rachel.


Dikira bibirnya tambang apa? Maen betot-betot aja!


"Ya bukan gitu juga, tapi kan nanti yang lain denger tar gosip tar menyebar luas tar ribet!"


"Ck, yaudah, serius nih! Jadi benerkan lo suka sama Alfa?" ulang Clarissa dengan nada berbisik.


Rachel tak tahu harus menjawab apa. Di situasi seperti ini Clarissa sangat serius. Tatapannya bahkan benar-benar mengintimidasi Rachel.


Rachel menganggukkan kepalanya, "Enggak." Jawabnya yang langsung dihadiahi sebuah jitakan.


"Si goblok! Mana ada jawaban enggak tapi kepalanya ngangguk!"


"Eh? Emang gue gimana?"


Clarissa menepuk jidatnya. "Refleks tubuh lebih jujur dibanding bibir lo yang banyak dosanya. Udah gue duga lo bakal suka sih."


"Ih apa sih? Enggak!"


"Chel jujur sama gue."


"Enggak..."


Clarissa menghela nafasnya. Kini tatapannya menajam.


"Iya atau enggak?"


"Eng... Gak..." Jawab Rachel ragu.


"Sesusah itu ya buat jujur sama gue? Kita kenal berapa lama sih? Seminggu? Dua minggu? Sampe lo gak bisa buat jujur ke gue?"


Rachel terdiam mendengar ucapan Clarissa. Gadis yang biasanya nyeleneh itu kini tampak sangat garang dan kelewat serius.

__ADS_1


"Gue baru sadar pas liat lo denger berita waktu itu. Gue sahabat lo, Chel, gue tau tiap ekspresi lo. Gue paham!"


Rachel makin menunduk dengan tangan yang menaut.


"Ah yaudah lah lo gak mau ngasih tau mah. Awas gue mau-" Clarissa berdiri hendak pergi, namun tangannya ditahan oleh sepasang telapak tangan milik Rachel yang mengeluarkan keringat dingin.


Kepala Rachel mendongak dengan bibir menekuk, "Iya... Gue..."


Rachel menelan ludahnya susah payah. Rasanya tenggorokannya tercekat.


"Gue... Suka sama dia..." cicit gadis itu sambil benar-benar membung mukanya.


"Maaf baru jujur... Gue gak bermaksud gitu..."


Clarissa kembali duduk. Ia bahkan menarik kursinya agar mendekat pada Rachel.


"Gue cuma ngerasa salah gue kayak gini. Dia cuma bantu gue sebagai teman. Emang guenya aja yang baperan."


"Alasan gak mau ngasih tau lo juga karena gue lagi coba biar gak makin suka. Gue gak mau bicarain tentang dia yang pastinya bakal bikin gue makin kepikiran."


"Jadi, tolong ingetin gue buat gak baper sama dia ya... Sadarin gue kalo gue kebablasan."


Clarissa menepuk pundak Rachel.


"Sorry gue maksa lo. Gue gak kepikiran lo punya alesan itu."


"Gapapa anjir, lo... Gak marah lagi 'kan?"


Clarissa menggeleng, "Apa sih kita tegang banget? Kelewat serius sumpah!"


"Lo yang ngeduluin anjir!"


Clarissa terbahak, "Dah lah nongki kantin yuk?"


"Hayu gas ngeng~"


***


Kelas Rachel benar-benar berisik saat ini. Seluruh siswa sedang asik dengan dunianya masing-masing. Ada yang bergosip ria, mabar game among us, tidur, membaca buku, main uno, bahkan sampai mengadakan konser dadakan.


Rachel menghembuskan nafasnya kasar, ia bosan menggulir beranda instagramnya. Mata malasnya mengedar memperhatikan Gara dan Geri bernyanyi keras-keras di depan sana.


Gara dengan dasi yang diikat di kepalanya sedangkan Geri mengikat dasi untuk menutup sebelah matanya.


"AYAYA!"


"HATIKU TERGODA!"


"AYAYA!"


"SUNGGUH MEMPESONA!"


"AYAYA!"


"OPPA GERI KIYOWO!"


"GUE DONG GUE JUGA!" teriak Gara sambil meloncat-loncat.


"AYAYA!"


"KAU SUNGGUH JELITA!"


"AYAYA!"


"TAK DAPAT KU LUPA!"


"AYAYA!"


"PADAMU AKU BENAR-BENAR CINTA!"


"OPPA GARA KIYOWO!"


Rachel menggelengkan kepalanya geli.


"Chel!" panggil Clarissa.


Rachel menoleh, "Paan?"


"Balik sekolah kerkel, yang lain okay, tinggal lo aja. Lusa udah presentasi soalnya. Gimana?"


"Oke. Tapi, lo bawa motor gak, Ca? Gue sebenernya punya niat mau balik pake bus makanya gak minta pak Trisna jemput."


"Yah, gue tadi pagi dijemput Kenan, berangkat bareng dia juga nanti."


Bahu Rachel merosot, "Yaudah lah gue naik bus aj-"


"Sama gue." Potong Alfa sambil membalikkan tubuhnya.


"Eh?"


"Cafe biasa, kan?" tanya Alfa yang diangguki Clarissa lalu melempar pandang pada Rachel dan tersenyum kecil sebelum kembali menghadap kedepan.


Clarissa menatap Rachel yang menelungkupkan wajahnya ke meja. Terlihat telinga gadis itu memerah.


"Heh, lo gak boleh baper bego!" bisiknya yang dibalas anggukan kepala oleh Rachel.


Bel pulang sekolah berdering, seluruh murid berbondong-bondong keluar dari kelas dengan saling mendorong seperti tengah dikejar waktu.


Rachel membereskan alat tulisnya lalu berjalan kebelakang untuk mengambil sapu.


Ia mulai menyapu bagian belakang dengan telaten. Namun tak lama sepasang sepatu yang terlihat cukup familiar tertangkap oleh netranya membuat Rachel segera mendongak untuk melihat pemilik sepatu tersebut.

__ADS_1


"Eh, kenapa?"


"Gue nunggu di parkiran ya?"


"Lo udah piket?" tanya Rachel sambil menautkan alisnya.


"Gue bagian angkatin kursi." Jawab Alfa.


"Oh, oke." Rachel mengangguk dan kembali menyapu. Sebenarnya ia sedang menguatkan dirinya agar tak terlihat gugup didepan cowok ini.


"Oke, kalo udah ke parkiran aja ya." Alfa mengangkat tangannya untuk mengelus lembut surai cokelat milik Rachel sesekali menepuknya.


Rachel menahan nafasnya dengan gerakan menyapu yang harus terhenti. Waktu seolah melambat sampai seruan Genza yang memanggil namanya membuat gadis itu tersentak.


"Rachel!"


Rachel menoleh cepat, "Hah?"


"Lanjut nyapu, malah bengong! Ayo, kan kita mau kerkel!"


Rachel mengangguk kaku dan segera menyapu dengan cepat. Namun kegiatannya kembali terjeda, tangannya memegang kepalanya sendiri. Jantung Rachel menggila dengan ******* senyum yang terpatri di bibir mungilnya.


***


"Chel, duluan ya!" Genza melambai heboh pada Rachel yang dibalas anggukan oleh cewek itu.


Kini hanya Rachel yang berada di kelas sendirian. Semua temannya sudah pergi duluan apalagi Clarissa. Gadis itu hanya kebagian ngelap kaca dan selesai duluan tadi.


Rachel mengambil tasnya dan mulai berjalan menuju parkiran. Bibirnya ia lipat agar tak terus mengembangkan senyuman, berkali-kali Rachel menarik nafas dalam dan menghembuskannya agar detak jantungnya kembali berirama normal, gadis itu juga menggerakkan jarinya agar tak terus berkeringat dingin.


Sampai di parkiran pandangan Rachel mengedar, gadis itu menoleh kesana kemari namun ia tak mendapati sosok Alfa atau pun motornya.


Rachel memutuskan untuk menunggu di halte. Gadis cantik itu kembali memegang kepalanya, mengingat usapan tadi.


"Ck, ah apaan sih gue!" ucapnya menyadarkan diri sendiri.


Mata Rachel bergerak ke arah jalanan, beberapa siswa datang kembali ke sekolah, sepertinya itu adalah anggota ekskul. Sambil menghela nafasnya, dengan sabar Rachel menunggu kedatangan Alfa.


30 menit kemudian.


Rachel mulai gelisah, ini kok Alfa lama banget ya?


Ting!


Rachel cepat-cepat mengecek ponselnya.


Caca : chel masih lama?


^^^Rachel : gatau ini masih nungguin alfa^^^


Caca : okay, mau gue pesenin dulu ga?


^^^Rachel : boleh, milkshake strawberry ya!^^^


Caca : okaay


Rachel menghembuskan nafasnya, gadis itu tak mempunyai nomor Alfa.


Ia kembali menunggu.


Tepat di menit ke 50 dirinya menunggu, ponselnya berdering memperlihatkan sebuah panggilan dari nomor tak dikenal.


Rachel menautkan alisnya, gadis itu memilih mengangkatnya.


"Halo?"


"Halo, Chel ini gue Alfa." Terdengar suara bising di seberang sana.


"Oh, lo dimana sih?"


"Lo udah di kafe belom?" tanya Alfa balik.


"Gue nunggu lo, katanya bareng? Gue hampir sejam nunggu lo di halte."


"Sorry Chel, gue-"


"By, aku mau main bom-bom car!" terdengar jelas suara perempuan di sana.


"Iya, by bentar, sorry Chel gue harus pergi sama Maudy. Gue barusan udah izin ke anak-anak."


Bahu Rachel menurun tanpa gadis itu sadari, air mukanya pun tampak berubah seiring dengan perasaan sesak yang kembali hadir.


"O-oh, okay."


"Sorry, Chel gu-"


"Okay, gue udahin ya."


Rachel menutup panggilan sepihak. Tangannya meremat ponsel dengan senyum kecut yang ia keluarkan.


"Gila kali ya gue senyum-senyum kayak orang bego sampe nunggu sejam taunya ditinggal pacaran." Gadis itu terkekeh.


Tangannya kembali membuka roomchat, mencari kontak Clarissa.


^^^Rachel : ca sorry, gue harus balik. chat gue aja ya kirim file sama bagian gue yang mana aja biar gue kerjain di rumah. thank u!^^^


Rachel mematikan ponselnya dan mulai berdiri, matanya menatap langit yang mendung. Angin dingin mulai meraba kulit gadis itu.


Sebuah bus datang, Rachel segera menaikinya dan duduk di dekat jendela. Rachel termenung, ucapan Clarissa kembali berputar di pikirannya.


"Lo gak boleh baper bego!"

__ADS_1


"Gue emang bego..."


__ADS_2