FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 8 : Salah Tingkah?


__ADS_3

Pagi ini Rachel duduk termenung memikirkan usapan Alfa di kepalanya yang berdampak cukup dahsyat pada Rachel.


Sudah dari semalam Rachel mengetok-ketok kepalanya agar ingatan itu berhenti berputar namun sialnya malah semakin intens terputar bahkan wajah Alfa jauh lebih manis tergambar!


"Apa jangan-jangan gue disantet si Alfa saking dendamnya tu manusia sama gue?" monolog Rachel makin melantur sambil memelototkan matanya.


Clarissa yang baru saja datang langsung duduk di kursinya. Saat hendak menaruh tas, alis Clarissa mengerut melihat tingkah absurd Rachel pagi ini.


"Ngape lo? Kurang obat apa kumat?"


Rachel masih memejamkan matanya dengan mulut yang komat-kamit. Clarissa menaikan bahunya tak begitu peduli.


'Kumat sintingnya paling.' Batin gadis itu.


Tak lama Kenan memasuki kelas dengan girang, cowok itu hendak menyapa Clarissa namun terurung saat melihat Rachel yang bibirnya monyong-monyong tak jelas.


Kenan menatap Clarissa seolah berbicara lewat mata, dengan anggukan paham gadisnya itu mengatakan, "Biasa." Tanpa bersuara. Kenan mengangguk paham.


Rachel lagi kumat.


Tak sedikit anak kelas yang memandang bingung pada Rachel, namun mereka juga mulai maklum pada tingkah ajaib si primadona sekolah itu.


Selesai merapalkan mantra asal buatannya, Rachel membuka matanya bertepatan dengan Alfa yang berjalan memasuki kelas sambil memainkan ponselnya.


Cowok kalem itu terlihat sangat berkharisma, entah kenapa tapi Rachel merasa aura setan dalam diri Alfa sedang digantikan oleh aura malaikat ganteng.


Jantung Rachel berpacu cepat seketika.


Merasa diperhatikan, Alfa mengedarkan pandangannya dan bertemu tatap dengan manik cokelat milik Rachel.


Rachel melotot, jantungnya makin menggila sampai ia harus mengepalkan tangannya. Karena sudah merasa sangat gugup, buru-buru gadis itu memalingkan wajahnya kemana pun asal tak melihat makhluk meresahkan di hadapannya ini.


Alfa menaikan alisnya bingung, lalu kembali memainkan ponselnya.


Tak tahan merasa kegelisahan sendiri di tempat, Rachel pun memutuskan keluar kelas saja untuk mencari keberadaan Renaldi dan Gina yang mungkin saja dapat menenangkan pikirannya saat ini.


***


"Lo gak masuk kelas?" tanya Gina melihat sahabatnya yang malah melamun sedari tadi.


Rachel menggeleng lesu.


"Lo kenapa sih?" kini giliran Renaldi yang bertanya. Pasalnya sedari sebelum masuk tadi sampai sekarang jam sudah menunjukan pukul 9 pagi Rachel hanya melamun. Sesekali ia merengek sambil memegangi dadanya lalu menjambak rambutnya. Setelahnya Rachel akan tertawa sedetik kemudian Rachel menangis tanpa air mata.


Untungnya, kelas Bahasa 3 freeclass.


"Kelas lo gak ada guru emang?" tanya Gina.


"Gak tau..."


"Lah bego kelas lo kan masuk jejeran anak rajin. Kenapa malah bolos sih? Coba cek hp lo, tanyain ada guru gak?"


Rachel menatap Gina dengan tatapan sendu.


"Hp nya gue matiin, udah deh gue lagi sedih, kalian malah usir gue terus!" sentak Rachel, Gina dan Renaldi bungkam pasrah.


Renaldi menatap mereka berdua secara bergantian, lalu cowok itu berdiri. "Okay kayaknya ini girls time. Gue gabung sama yang lain aja lah." Putusnya sambil melihat ke arah Rachel yang mencebikkan bibirnya.


"Dahan jangan begini, aneh banget tau gak lo." Renaldi mengacak pelan rambut Rachel dan pergi ke belakang kelas bergabung dengan anak laki-laki yang sedang mabar game.


"Kenapa sih lo? Cepet cerita. Mending lo cerita atau gue sama Re nyari tau sendiri?" Gina mengancam sambil bersidekap dada.


Rachel mendesis sinis. Lalu gadis itu menjilat bibir bawahnya, dengan ragu ia berucap pelan.


"Kalo orang deg-degan liat cowok tuh kenapa ya?"


Gina menatap bingung pada Rachel, "Gimana maksudnya?"


Rachel menautkan tangannya yang berkeringat.


"Ya gitu... misalkan ada cewek terus kek liat cowok terus dia deg-degan gitu kenceng banget deg-degannya ampe kayaknya bisa kedengeran deh. Itu... Kenapa?" ulang Rachel.

__ADS_1


Gina menelisik wajah Rachel, "Antara takut sama suka sih."


Rachel mengernyitkan alisnya. "Takut sama suka?"


Gina mengangguk, "Iya. Takut kayak ada kesalahan gitu misal selingkuh. Kalo ketauan tu cowok ya deg-degan pasti kan?"


"Sama suka, suka kayak lo tertarik sama seseorang. Jadinya lo deg-degan gitu tiap liat jadi salting sendiri. Kadang sampe kepikiran orangnya."


"Tapi," Gina menggantung ucapannya.


"Tapi apa?"


"Lo lagi suka sama siapa?" tuduh Gina sambil menunjuk tepat di depan wajah Rachel.


Cewek itu gelagapan, lalu menepis tangan Gina.


"Enggak apaan sih orang nanya doang!"


"Ah masa iya~"


"GINA JANGAN RESE!"


"HAHAHAHAH!"


***


Rachel termenung sepanjang jalan menuju kelasnya. Gadis itu kembali memikirkan ucapan Gina.


"Apaan sih anjir geli banget!" Rachel bergidik dan cepat-cepat berjalan menuju kelasnya.


Memasuki pintu kelas, terlihat Clarissa yang misuh-misuh pada Kenan. Pandangannya mengedar kembali namun...


Tak ada Alfa.


"Ih ayo cari Rachel!"


"Nanti juga balik sendiri, Ca..."


"Nanti juga inget buat balik ke ke—"


"Kenapa?" tanya Rachel memotong ucapan Kenan.


"Astaga dari mana aja lo, hah? Tadi sepanjang mapel lo ditanyain terus! Lo bolos kok gak ngajak-ngajak?" cerocos Clarissa tanpa henti.


Kenan sudah menutup telinganya sedangkan Rachel terlihat seperti seorang anak yang dimarahi induknya.


"Tadi ke UKS." Jawab Rachel bohong.


"Hah? Lo sakit? Kok gak bilang? Kenapa? Sakit apa?"


"Gapapa elah, Ca, udah deh udah gapapa."


"Yakin?"


"Iyeeee."


Clarissa mengangguk hendak duduk namun kembali tertahan saat teringat sesuatu.


"Eh gue inget! Karena lo gak masuk mapel Mr. Adnan, lo disuruh ke perpus cari buku tentang ini nih dan lo kirim isi pokoknya ke Mr paling telat lusa." Ucap Clarissa sambil menunjuk hal yang ia maksud.


Rachel menghembuskan nafasnya lelah.


"Ya udah gue sekarang aja cabutnya. Dientar-entar takut males."


Clarissa mengangguk.


"Gue gak bisa anter. Mau ke kantin sama Kenan."


Rachel mengacungkan jempolnya sambil berjalan keluar kelas, menuju perpus.


***

__ADS_1


Rachel melangkah melewati rak demi rak. Sesekali kepalanya tertunduk mencari buku bersampul hitam putih seperti titah Mr. Adnan.


Di rak selanjutnya mata Rachel berbinar, buku yang ia cari akhirnya ketemu!


Dengan suka cita Rachel mengambil buku itu, saat mengambil matanya tak sengaja menangkap pemandangan dari celah buku di mana Alfa sedang berbicara dengan seseorang.


Jantung Rachel kembali berdegup kencang saat melihat cowok itu tersenyum kecil, buru-buru Rachel menggelengkan kepalanya dan segera keluar dari perpustakaan.


Rachel menyandarkan badannya ke tembok depan perpustakaan dengan buku yang ia peluk. Ia bingung kenapa akhir-akhir ini dadanya sering sekali berdebar.


Namun sensasi dari debaran itu membuatnya merasa geli dan salah tingkah?


Ini Rachel kena serangan jantung atau gimana sih? Amit-amit!


Seketika Rachel teringat kembali ucapan Gina.


Tapi dia kan gak ada kesalahan ke Alfa, jadi gak mungkin dia takut. Apa yang perlu ia takuti dari makhluk menyebalkan macam Alfa?


Rachel kembali berjalan sambil terus meracau dan mengetuk-ngetuk kepalanya.


"Enyah lo dari pikiran gue!"


"Enyahhh!"


"Emang dasarnya titisan setan suka banget gentayangan di otak ya!"


"Rachel!"


"Ih bukannya enyah malah manggil-manggil! Lo kan adanya dipikiran gue lagi nyengir doang! Kenapa sekarang bisa manggil?!"


"Rachel!"


Rachel mendesah frustasi. Saat tangannya akan kembali menjambak rambutnya, sebuah tangan langsung mencekal Rachel.


"Budeg lo?"


Badan Rachel menegang. Ia melihat pelaku yang kini memegang lengannya.


Setan wujud asli.


"Apa sih lo?" Rachel menepis tangan Alfa.


"Ngetes doang. Selain bego sama lemot, ternyata lo juga budeg."


Nahkan emang sekalinya ngomong panjang, yang keluar kata-kata penistaan semua!


"Buset itu bibir ditaburin bon cabe apa gimana? Lancar banget kalo ngejulid!" Rachel menatap nyalang pada Alfa.


"Gak juga."


"Halah kalimat lo menyakiti hati gue semua anjir! Mak lo ngidam apaan coba pas hamil lo!"


Alfa tersenyum miring, "Kalo gue ngomong yang lain, nanti baper."


"Sorry dori mori stroberi nih ye gue mah kaga ba—"


Alfa melangkahkan kakinya, membuat Rachel terdiam tak meneruskan kalimatnya dan memundurkan badannya sampai mentok ditembok.


"A-apa?" tanya gadis itu dengan wajah mengkerut gugup.


Alfa kembali mendekatkan wajahnya, kini hanya tersisa sejengkal.


"Ternyata, lo manis juga ya—" nafas cowok itu berhembus di wajah Rachel yang memerah.


Beberapa siswa yang melihat adegan live itu langsung berjerit iri.


Sedangkan Rachel? Ia hanya berharap semoga Alfa tak mendengar suara detak jantungnya yang sangat kencang.


"—kalo diliat dari ujung monas pake sedotan." Lanjut Alfa pedas.


Dan dengan angkuh cowok itu berjalan begitu saja meninggalkan Rachel yang tangannya sudah mengepal.

__ADS_1


"ALFA SETAN BABI MONYET DAJAL, **** YOUUU!"


__ADS_2