FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 22 : Penyesalan


__ADS_3

Suara air keran yang mengalir cukup keras karena suasana toilet yang sepi saat ini seketika menyadarkan Alfa. Ah, lagi-lagi dirinya terlarut dalam lamunannya.


Alasan kenapa Alfa bisa sampai di toilet saat ini padahal jam belajar jelas-jelas tengah berlangsung adalah karena laki-laki itu termenung sepanjang pelajaran, Guru killer yang sedang mengajar di kelasnya tentu saja menegurnya dan menyuruhnya untuk segera membasuh wajah karena Alfa dikira mengantuk.


Padahal boro-boro mengantuk, rasanya kata tidur saja tidak terlintas di pikirannya. Saat ini, kepala Alfa penuh dengan kalimat-kalimat Maudy yang terus bergema.


Mencintai dua orang di waktu yang sama?


Bagaimana bisa?


Bukannya tidak mungkin?


Selanjutnya, ingatan Alfa kembali berputar pada beberapa kejadian yang bersangkutan dengannya juga Rachel.


Dan saat itu pula dirinya termenung. Ternyata, sejak pertama kali kepindahan gadis itu ke kelasnya, interaksi diantara mereka bisa dikatakan cukup intens.


"Brengsek lo, anjing! Gak tau malu, brengsek!"


Tangan kekar milik Alfa terlihat merambat menuju ke dada kirinya.


Sakit, karena tiba-tiba saja raut marah dari seorang gadis yang dilukainya muncul.


Apapun alasannya, Alfa memang salah.


Alfa merasa bersalah. Alfa benar-benar merasa bersalah. Perasaan itu menyeruak sampai tiap detak dari jantungnya terasa menyakitkan.


"Gue emang brengsek." Makinya pada dirinya sendiri.


Sambil mengigit bibir bawahnya, dengan gusar Alfa berdiri dan bergegas pergi meninggalkan toilet.


Kenan yang baru saja akan sampai di pintu toilet terpaksa harus memundurkan langkahnya sambil terkejut. Padahal niat cowok itu mau mencari Alfa dan mengajaknya ke kantin karena sampai pelajaran usai, Alfa tak memunculkan batang hidungnya. Eh, bocah yang dicarinya itu malah berjalan tergesa dengan wajah yang sudah merah padam.


Melihat kepergian sang sahabat, Kenan langsung berteriak heboh sambil berlari menyusul, "HEH MAU KEMANE LO, JUNAEDI?"


Teriakan Kenan tak di gubris sedangkan tiap langkah yang Alfa ambil terbilang sangat lah cepat dan tergesa, apalagi saat ia menaiki tiap anakan tangga untuk menuju ke rooftop sekolah.


Berbagai tatapan memuja dari para gadis terarah pada sang pangeran Swarna yang kini resmi menyandang status single itu.


Dan sampai lah di persimpangan tangga, Alfa menghentikan langkahnya secara mendadak sampai Kenan yang menyusulnya di belakang tak sengaja menabrak punggungnya dari belakang.


"WE ANJIR ABA-ABA DUL—" ucapan Kenan terhenti saat ia melihat objek di depan mereka. Ternyata di persimpangan tangga itu, mereka berpapasan dengan Rachel yang juga menghentikan langkahnya. Gadis itu sedang berdiri kaku sambil membawa beberapa buku diikuti Clarissa yang berada tepat di sampingnya.


"Eh, ada neng pacar~" celetuk Kenan sambil menaik-turunkan alisnya menggoda Clarissa yang justru dibalas pelototan oleh gadis itu.

__ADS_1


'Bodoh, tau situasi ngapa!' balas Clarissa tanpa suara sambil mengodekan matanya ke arah Rachel dan Alfa secara bergantian.


Kenan menganga sambil mengangguk-anggukan kepala. Setelahnya ia menutup mulut rapat menyisakan Alfa dan Rachel yang saling bertatapan canggung. Atau mungkin, Alfa dengan tatapan bingungnya sedangkan Rachel menyorot malas.


Rachel membuang muka secara terang-terangan, lalu kaki mungilnya berjalan pergi menuruni tangga. Saat melewati Alfa, gadis itu bahkan tak melirik sama sekali dan terdengar mendengus kencang. Sedangkan Clarissa buru-buru mencubit Kenan dengan keras.


"Bilangin ke temen lo yang itu, gak usah sok cakep pake segala maenin cewek. Modal tampang aja belagu!" sindir Clarissa dengan suara melengkingnya sambil menatap sinis pada Alfa. Lalu gadis itu berlalu pergi mengejar langkah Rachel di depan sana.


Kenan menoleh ragu, "Gak usah gue ucap ulang lah ya. Lo denger kan?"


Alfa tak menjawab pertanyaan Kenan,  ia memilih diam dengan iris tajamnya yang masih terpaku pada Rachel sampai tubuh gadis itu tak lagi berada dalam jangkauan matanya.


Cowok itu menghembuskan nafasnya kasar dan kembali melanjutkan langkahnya menuju rooftop.


Tatapan Rachel tadi, benar-benar asing untuknya.


***


Rachel buru-buru menaruh bukunya dan segera mendudukkan diri. Sungguh, tungkai kakinya lemas sedari tadi saat ia bertemu dengan cowok brengsek bin bodoh yang justru sampai saat ini masih disukainya.


Siapa lagi kalau bukan Alfa kan?


Kalian boleh mengucapkan segala umpatan serta makian bagi Rachel, tapi hatinya tak bisa begitu saja melupakan rasa sukanya pada cowok itu. Tak urung rasa sakit juga selalu muncul tiap kali dirinya melihat Alfa.


Alfa memang luka dan racun yang paling disukai sekaligus dibenci olehnya.


Rachel mendongak, menampakan wajahnya.


"Gapapa, cuma lemes aja."


Clarissa menggulung lengan bajunya, "Mau gue apain si Alfamaret? Gue jadiin pepes? Atau gue semur aja dagingnya? Tulangnya gue jadiin seblak? Gimana?"


Rachel melotot, "Cicit Sumanto lo? Serem banget!"


"Abisnya lo murung. Please jangan sedih-sedih lagi okay? Harus smileee!" Clarissa menarik bibir Rachel membentuk sebuah senyuman.


"Kalo dikasih duit satu milyar plus dikasih Jaehyun kayaknya gue bakal nyengir lebar sebanyak yang lo mau." Tawar Rachel sambil menaik-turunkan alisnya.


"NGELUNJAK!"


***


"Lo kenapa sih anying! Cerita coba, gak usah uring-uringan kayak orgil gini!"

__ADS_1


Alfa mendengus dengan mata terus memejam.


"Oh, ada hubungannya sama Rachel ya?"


Dengan kesal Kenan menoyor kepala Alfa.


"Jawab goblok!"


"Sabar!" Alfa menendang tulang kering Kenan.


"Ya abis lo kayak patung pancoran, ditanya diem mulu, kerjaannya bengong sampe ngeces. Kalo galau lo bertransformasi jadi opet ya?"


"Bacot gak nyambung." Jawab Alfa sensi.


Kenan mengusap dadanya sabar, "Jadi, ini ada hubungannya sama Rachel kah, tuan muda Ryan Alfa Gelbardi?"


Alfa berdehem singkat.


"Bujug buset, jawab gitu doang dari tadi sulit bener lo!"


Alfa kembali diam tak menyahuti ucapan Kenan, sedangkan Kenan sendiri ikut duduk di kursi panjang dengan tubuh yang disandarkan.


Mata sipit Kenan menatap lurus ke arah langit cerah dengan matahari yang sangat terik siang ini.


"Lo emang salah sih, padahal gue udah ingetin lo dari awal buat gak maen hati sama Rachel. Tapi lo ngelak terus kayak babi, ngok-ngok."


Alfa melotot, bersiap menendang Kenan.


"Serius gue! Ya lo pikir aja sih. Coba posisiin diri lo jadi Rachel, apa gak brengsek kalo lo teriak sambil bilang di depan pacar lo bahwa lo ngejadiin dia second choice? Belum lagi beberapa orang yang ada di lorong pasti denger. Dan apesnya lagi di situ ada Rachelnya."


Alfa mengurungkan niatnya menendang Kenan, sekarang ingatannya kembali pada kejadian beberapa hari lalu saat dirinya dan Maudy bertengkar hebat di depan gudang.


Bahkan, sorot kecewa dan marah yang gadis itu lemparkan padanya masih jelas terekam dalam ingatan. Perasaan bersalah lagi-lagi membanjiri sekujur tubuhnya.


"Dan hal paling membagongkannya lagi, perlakuan lo ke dia itu kayak seakan lo ngasih harapan ke dia padahal nihil. Lo bikin dia ngerasa paling deket sama lo, dispesialin sama lo. Lo iketin rambut dia or you do something like that sampe gosip nyebar yang justru bikin dia mikir 'apa bener lo ngasih harapan ke dia?' tapi menurut lo nya nggak kan? Lo cuma mikir lo niat bantuin dia atau lo penasaran sama tiap reaksi dia karena lo ngerasa tertarik sama kepribadian dia yang beda dari Maudy. Tapi skinship lo bikin salah paham!"


"Bro, lo harus inget, cewek tuh pakenya hati bukan logika. Pemikiran begitu bisa aja terlintas dipikiran dia."


Ingatan Alfa kembali terputar pada saat dirinya mengikat rambut Rachel, membantu Rachel memakai helm, bahkan di pertemuan pertama mereka Alfa memasangkan jaketnya pada gadis itu.


Dan yang paling membuat Alfa tertampar adalah saat di mana ia menyelipkan helai rambut Rachel dengan sinar matahari yang menyoroti wajah gadis itu, mengusap pelan rambut Rachel, atau saat ia mengusap lembut pipi gadis itu secara tak sadar.


"Cewek kalo senyum emangnya secantik itu ya?"

__ADS_1


"Cewek kalo blushing emang semanis ini ya?"


"Gue... Emang tolol."


__ADS_2