
Mata Rachel bengkak parah, dia terus menangis semalaman penuh usai mendengar ucapan menyakitkan dari Alfa kemarin. Hatinya sakit! Sialan, Rachel hanya dijadikan bahan pelampiasan saat dirinya justru menyukai dengan tulus pria bodoh bernama Alfa itu.
"Udah ya, nanti si brengsek gua penggal kepalanya biar jadi santapan buaya. Udah cup cup. Lo gak cape apa semaleman nangis terus, tidur bentar doang eh pas bangun tidur nangis lagi." Clarissa menepuk pelan pundak Rachel, menenangkan sahabatnya yang masih terisak.
Semalam, Clarissa memutuskan untuk menginap, menemani Rachel yang benar-benar dalam keadaan kacau kemarin.
"Kalo mereka liat lo serapuh ini, lo bakal ditindas abis-abisan, Chel. Bahkan banyak yang nuduh lo pelakor. Entah bakal muncul gosip apalagi kalo mereka liat lo kayak gini kan? Apalagi Alfa. Dia bakal semena-mena sama lo! Lo harus angkat kepala lo, tunjukin kalo gosip murahan kemarin tuh gak bener! Lo harus berhenti nangisin cowok brengsek kayak dia juga!"
"Buat dia nyesel udah ngejadiin lo bahan pelampiasannya doang!"
Ucapan Clarissa langsung menghentikan tangisan Rachel. Perlahan, Rachel mulai mendongakkan kepalanya menatap kearah Clarissa yang mengangguk-angguk sambil mengepalkan tangan.
"Come on girls! Princess gak boleh keliatan kayak bebegig sawah gini. Let's caww kita dandan!" Clarissa mengangkat tangannya serta tangan Rachel sampai akhirnya terdengar kekehan geli dari sahabatnya itu.
***
Rachel menapakkan kakinya di depan SMA Swarna. Rambutnya terkibas saat angin menerpa wajahnya. Orang-orang yang berlalu lalang terdiam kaku melihat kecantikan Rachel yang hari ini terlihat berkali-kali lipat!
Dengan penuh percaya diri, Rachel melangkahkan kakinya diikuti Clarissa di sebelahnya. Sudah cukup terpuruknya!
Mereka berdua berjalan melewati parkiran, di mana ada Alfa yang sedang menaruh helm di motornya. Cowok itu terdiam sejenak saat melihat Rachel yang tampak baik-baik saja, tidak kacau seperti kemarin.
Merasa diperhatikan, Rachel menolehkan pandangannya. Menatap seonggok setan— ah maaf— yang juga sedang menatapnya. Senyum Rachel terkembang sinis.
"Kinanti!"
Sampai pada sebuah seruan dari seseorang membuat Rachel memutuskan kontak mata itu dan berbalik menatap pada Renaldi yang sedang berlari kecil menghampirinya.
"Gak lari-lari juga kali, Re..."
Renaldi memperlihatkan cengirannya.
"Mau ke kelas kan?" tanya cowok itu yang dibalas anggukan oleh Rachel.
'Bener gak sih Rachel pelakor?'
'Katanya sih gitu kan?'
'Tapi katanya kemarin Rachel ngebantah!'
'Loh bukannya kemarin juga Alfa sama Maudy putus ya?'
'Jangan-jangan beneran gara-gara Rachel?'
Dengan segera Renaldi mendaratkan kedua telapak tangannya di telinga Rachel. Tak ingin Rachel kembali murung dan bersedih atas gosip tak jelas itu.
Namun senyum Rachel kian terkembang, perlahan tangannya memegang kedua tangan Renaldi dan menurunkannya.
"Chel—"
"Gapapa," Rachel mengangguk sambil terus tersenyum, berusaha meyakinkan Renaldi bahwa dirinya baik-baik saja.
Dan semua kejadian itu, tak lepas dari pandangan Alfa.
Saat Rachel hendak membuka mulutnya, sebuah tangan lain mencekal tangannya membuat Rachel mengurungkan niatnya dan menatap bingung pada Maudy yang kini melihatnya sambil tersenyum.
"Hai?" sapa Maudy canggung.
Maudy dapat melihat pergerakan kaku dari gadis di hadapannya, hal itu tentu membuat Maudy sadar jika Rachel merasa tak nyaman dengan keberadaannya.
"Sorry, gue cuma mau lurusin satu hal."
Maudy melepaskan cekalan tangannya, gadis itu mengibas pelan rambutnya sambil menaikkan tangan. Suara tepukan yang berasal dari Maudy membuat seluruh siswa di parkiran memusatkan pandangan pada mereka. Siswa-siswi itu penasaran dengan drama apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Gue mau klarifikasi."
Perlahan semua orang berjajar rapi membentuk barisan bulat, mengelilingi Maudy dan Rachel yang sudah membelalakan matanya. Rachel masih mencerna kejadian yang sekarang terjadi di hadapannya.
Alfa segera berlari kilat ke arah tengah, tangannya meraih bahu Maudy menjadikan gadis itu menatap Alfa sepenuhnya dan membelakangi Rachel.
"Apa-apaan sih, Dy?"
__ADS_1
Maudy tersenyum miring, dengan segera dirinya menurunkan tangan Alfa dan bersidekap dada.
"Cuma mau klarifikasi."
"Klarifikasi apa?"
"Sssst, dengerin aja."
Alfa menatap bingung pada Maudy yang kini berjalan menjauhinya.
"Gua mau bilang di sini, kalo berita tentang putusnya Alfa dan gue itu bener."
Semua orang menganga, apalagi Alfa kini menatap tak percaya pada Maudy. Gadis itu benar-benar memutuskan hubungan mereka kemarin.
"Jadi, stop ngomongin hal tentang gue dan Alfa setelah ini."
Pandangan Maudy beralih pada Rachel yang masih menatapnya, "Dan untuk berita tentang Rachel adalah pelakor—"
Tangan Renaldi mengepal, cowok itu hendak berjalan maju untuk menghentikan aksi Maudy namun pergerakannya ditahan oleh Rachel. Gadis itu menggeleng pelan sambil berucap tanpa suara, 'It's okay, gapapa. Dengerin dulu.'
Renaldi menipiskan bibirnya dan kembali berjalan mundur, matanya masih menatap Maudy dengan tajam.
"Itu gak bener. Rachel gak pernah ngerusak hubungan gue dan Alfa, keputusan tentang berakhirnya hubungan gue sama Alfa sama sekali gak ada sangkut-pautnya dengan Rachel yang dituduh sebagai pelakor."
"Jadi, stop buat nyebar gosip gak bener itu lagi. Pelakunya bakal langsung berhadapan sama Rachel secara privat buat minta maaf. Sekian klarifikasi dari gue, silahkan bubar dan berhenti bicara omong kosong."
Semua orang bersorak 'Huu' sambil meninggalkan parkiran satu persatu. Rachel menghembuskan nafasnya lega, namun kelegaan itu tak berlangsung lama saat Maudy kembali datang mendekatinya.
"Mau apa lagi lo?" tanya Renaldi ngegas membuat Rachel segera mencubit pelan lengan cowok itu.
"Reee!" Rachel melotot garang, Renaldi melipat bibirnya dan kembali menatap sinis ke arah Maudy. Setelahnya Rachel menatap pada Clarissa seakan berbicara 'Tolong bawa Renaldi dong buat pergi duluan!'
Clarissa yang menangkap kode tersebut segera mengangguk dan menarik tangan Renaldi.
"Eh apaan anjir?"
"Mau bell setan. Ayo cepetan ke kelas!"
"Kagak mau! Nanti Rachel kenapa-napa!"
"Lu kire si Rachel mau kemana emang, Bambang? Ayo cepetan deh gak usah alay gitu! Rachel udah gede gak bakal ngape-ngape!"
Renaldi menatap Rachel melas yang justru dibalas anggukan serta suruhan untuk pergi. Cowok itu menghela nafas, dengan terpaksa dirinya melangkah pergi mengikuti Clarissa yang berusaha keras menarik tangannya meninggalkan Rachel yang terkekeh.
"Chel gue mau minta maaf," Rachel menghentikan kekehannya, atensi sepenuhnya ia berikan pada Maudy.
"Buat?"
"Gue gak suka milik gue direbut. Dan gue kira lo rebut Alfa dari gue, gue kira lo lah di sini yang jahat."
Maudy terkekeh kecil, "Gue salah, nyatanya bukan lo yang ambil dia tapi dia yang nyerahin rasanya dengan suka rela ke lo tanpa dia sadarin. Bahkan saat sama gue, dia selalu ngelamun. Raganya sama gue tapi gue tau kalo pikirannya selalu lo."
"Salah gue juga sih keras kepala pengen LDR, pada akhirnya dia emang brengsek gak bisa jaga hatinya. Sampe pas malem api unggun, gue liat lo di balik pohon."
Rachel tertegun.
"Gue liat lo ngikutin Alfa, buta aja sih gue kalo gak nyadar dari gerak-gerik lo yang ketara banget suka sama dia. Dan gue sengaja cium dia di depan lo. Gue pengen nunjukkin kalo Alfa milik gue."
"Egois ya gue?"
"Tapi gue lebih egois karena setelah bikin lo tersudut dengan nyebarin berita bullshit kayak kemarin, gue nerima tawaran Sam—orang yang sekarang jadi pacar gue di Inggris buat jadi pacar dia. Baru kemarin gue ambil keputusan buat nerima dia setelah gue putusin Alfa."
Rachel menganga tak percaya, "Lo?"
Maudy mengangguk, "Iya gue emang gak tau diri. Gue juga tanpa sadar udah bagi hati gue selama di Inggris. Gue ketemu cowok yang care 24/7 sama gue, selalu ada saat gue susah dan hebatnya gak pernah sakit hati kalo gue ngomongin tentang Alfa. Ya gue gatau hati dia terbuat dari apa, tapi akhirnya gue milih dia dan ninggalin Alfa."
Maudy menarik tangan Rachel, mengayunkannya ke kanan dan ke kiri.
"Sorry, udah bikin lo sakit hati, di sini pure gue yang salah. Tapi setelah ini gak bakal ada kesalahpahaman kayak gitu lagi. Setelah gue dan keluarga gue pertimbangin, gue fix bakal cabut kelas akselerasi gue di sini dan milih pindah ke Inggris. Nyokap gue juga ada di sana, sekalian biar gak LDR sama pacar gue."
"Sebenernya, gue sempet ragu buat cabut kelas akselerasi di sini. Tapi, nyokap gue harus pindah ke sana karena bisnis, gue gak punya sodara juga di sini. Tapi setelah liat Alfa yang sekarang, gue gak ragu buat ambil keputusan itu lagi. Gue juga gak perlu denial lagi soal perasaan gue ke Sam. Sam cowok baik, dan gue gak bisa kalo gak ada Sam."
__ADS_1
"Is he know you so well?" tanya Rachel tanpa terduga.
Maudy yang setengah terkejut pun mengangguk sambil kembali tersenyum, "He is."
Rachel tersenyum, "Good luck ya. Selamat jadian juga, sorry gue lancang punya rasa suka sama pacar lo."
"Mantan pacar!" koreksi Maudy membuat mereka tertawa bersama.
"Gue cabut ya! Thank you and sorry, Rachel. Semoga kita bisa ketemu lagi dan jadi temen... maybe?"
Rachel mengangguk, "Lo temen gue dan kalo ketemu lo harus kasih gue traktiran!"
Maudy mengacungkan jempolnya dan berbalik hendak beranjak pergi, namun langkahnya tertahan saat badan tinggi menjulang menghalanginya.
Maudy bersidekap dada, "Apa?"
"Gak ada yang mau dijelasin gitu?"
"Apanya yang mau dijelasin sih?"
"Dy, kita udah lama bareng-bareng kan?"
Cewek itu menghela nafasnya.
"Fa, gue itu brengsek. Gue ngeduain lo, meski gue tau gue salah tapi di sini posisinya lo juga gak dibenarkan. You cheatting on me!"
"Kapan? Aku gak pernah selingkuh dari kamu, Dy!"
Maudy merotasikan bola matanya dan segera berjalan pergi, namun lagi-lagi Alfa mencekal lengannya.
"Dy, please..."
"Kadang, kita harus lebih peka sama perasaan sendiri, Fa. Lo cuma butuh waktu buat tau kalo sebenernya perasaan lo itu udah memudar ke gue. Lo cuma lagi mertahanin keyakinan lo yang sebenarnya udah gak berdasarkan rasa lagi. Lo nolak buat ngebenarin apa yang gue bilang kan?"
Maudy berbalik dan menatap Alfa tajam, telunjuknya mengacung tepat di depan wajah cowok itu.
"Lo pengecut, gak berani membenarkan fakta!"
"Pengecut apanya sih?"
"LO SUKA SAMA RACHEL! DAN LO SELALU NGELAK!"
Alfa tertegun melihat Maudy yang meneriakinya seperti kemarin.
"Ngomong apa sih—"
"Gue tau, Fa, lo udah gak berdebar lagi tiap ketemu gue. Gue tau lo udah gak bersemu lagi tiap gue gandeng tangan lo, bahkan lo mikirin hal lain saat berdua sama gue iya kan?"
Alfa kembali bungkam, dalam hati terkecilnya ia bertanya-tanya.
Benarkah?
"Justru sebaliknya kan? Saat liat Rachel lo selalu berdebar, bahkan tanpa sadar lo selalu merhatiin dia diem-diem!"
"Dy, kamu tau kan kalo Rachel itu cuma—"
"Bullshit tau gak? Semenjak lo bentak gue di hutan juga gue udah tau, lo udah bagi hati lo, Fa!"
Maudy menunjuk tepat di dada Alfa.
"Lo gak bener-bener jadiin dia pelampiasan, lo harus tau kalo lo gak bisa cinta sama dua orang di waktu yang sama karena prinsip gue, gue gak suka milik gue dibagi atau terbagi."
"Dan gue mutusin gue ngalah. Kalo lo bakal terus milih gue, lo gak mungkin bagi hati lo, tapi dari awal lo udah lakuin itu."
"Jangan pernah ngerasa bersalah karena di sini gue juga salah. Gue ngebagi hati, jadi cukup sampe sini aja. Kita, selesai."
Alfa menatap punggung kecil yang semakin menjauhinya itu. Kini pertanyaan-pertanyaan dari penjelasan Maudy mulai merambat di pikirannya.
Apakah yang Maudy ucapkan itu benar?
Apakah dirinya dengan lancang sudah membagi hatinya?
__ADS_1
Membagi hatinya pada... Rachel?