FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 6 : Piket


__ADS_3

Rachel kembali duduk setelah mengisi jawaban di papan tulis. Gadis itu masih terdiam ragu dengan jawabannya karena merasa tak pandai di pelajaran matematika.


Pak Bambang menarik kumis baplangnya. Dengan bibir atas kanan yang berkedut-kedut, guru berbadan gendut itu menatap jawaban Rachel sambil berkacak pinggang.


"Okay, jawaban Rachel benar ya. Tapi perlu dikoreksi ini kenapa tanda minusnya kecil sekali—"


"Ya kan yang gede mah perut Bapak atuh, Pak!" celetuk Gara memotong ucapan Pak Bambang.


"Ngomong apa kamu, Geri?" sentak Pak Bambang membuat Geri yang asik mencoret buku sambil menggigit tutup pulpen mendelik.


"Ih kok saya sih, Pak, yang kena?"


"Lah kan kamu yang bilang begitu tadi? Gak sopan!"


"Si Garasu yang bilang gitu mah, Pak, bukan saya!" Geri menendang bokong semok Gara dari belakang.


"Gak sopan lo sama kakak sendiri ye! Inget lo itu copyan gue!"


"Cuih najis, gantengan gue ke mana-mana kali!"


"Halah lo kalo malem masih suka mimpi pipis terus ngompol di kasur gak usah so keras!" celetukan Gara membuat seisi kelas tertawa.


Geri melotot, wajahnya memerah malu. Sialan abangnya ini perlu didonasikan!


"Bantal lo gambar sofia the first gak usah so keras!"


Kali ini kelas lebih ramai, semua orang makin tergelak mendengar si kembar yang saling mengumbar aib.


Gara berdiri tegak, kakinya berancang-ancang untuk naik sebelah ke meja. "ANJING YE LO—"


Breeeeeeet


"AAAAAAAAA!!!"


"AAAAA CD GARA GAMBAR ULTRAMEN!" dengan tangan yang menutup wajah namun matanya mengintip disela tangan, Clarissa berteriak kencang.


"ANJING HAHAHA!"


"AAA CUTE!"


"ULTRA—GARA AKAN MENYELAMATKAN DUNIA AHAHAHA!"


"BANGSAT GUA GAK KUAT NGAKAK BANGET SIALAN!"


Suasana kelas riuh karena aksi dadakan tersebut. Siapa yang akan menyangka jika celana Gara robek di saat seperti ini? Mungkin itu adalah karma karena Gara sudah mendzolimi Pak Bambang.


Dengan wajah merah padam Gara cepat-cepat menutupi bokongnya dan langsung ngacir keluar kelas meninggalkan Pak Bambang yang masih melongo melihat kejadian barusan. Segera Pak Bambang menggelengkan kepalanya lalu membereskan buku saat menyadari jika 10 menit lagi jam istirahat.


"Ya anak-anak, dapat disimpulkan jika kalian ribut dengan saudara kalian, jangan menaikan kaki... Takut celananya sobek dan menunjukkan ultraman yang sedang membela negara."

__ADS_1


Seisi kelas kembali tergelak.


"Bapak sudahi mapel hari ini, selamat siang! Istirahat pada makan ya biar lebih fokus."


Semua murid serempak menjawab penutupan dari guru yanh sudah berumur itu, "Siang, Pak..."


Setelah memastikan Pak Bambang sudah sepenuhnya keluar kelas, dengan cepat Rachel menyampingkan badannya ke arah Clarissa.


"Kenapa?" tanya Clarissa masih dengan sisa tawanya karena sedari tadi Rachel mencolek tangannya seperti akan bertanya sesuatu.


"Emang cowok pake CD yang kayak cewek itu ya? Yang ada motif lucu kayak gambar gitu tuh buat cewek kan ya?" tanya Rachel dengan lugunya, Alfa yang sedang meneguk air putih langsung tersedak.


"Uhuk-uhuk!"


Kenan menggusak hidungnya yang tak gatal mendengar pertanyaan bodoh macam itu.


Melihat keterbungkaman Clarissa, Kenan pun berinisiatif menjawab.


"Chel..." panggil Kenan membuat Rachel menatap pada cowok yang duduk di belakang mereka itu.


"Itu tuh tadi bokser, bukan daleman kok. Emang ni anak salah ngomong aje!" jelasnya sambil menyentil pelan dahi Clarissa.


Si empu yang dahinya disentil, mengaduh, "Ih ayang! Sakit!"


"Oh, kirain CD. Soalnya gue juga pas kecil pake gambar barbie gitu ada kantongnya di depan! Siapa tau punya Gara juga ada kantongnya, soalnya dia kan gambar ultraman!"


Ucapan polos Rachel makin membuat Alfa terbatuk-batuk. Sedangkan Clarissa menggetokan kepalanya ke meja dan Kenan mengusap-usap telinganya.


***


Pulang sekolah hari ini Rachel kebagian piket kelas bersama beberapa siswa yang lain. Dengan telaten gadis itu menyapu bagian dalam kelas.


Mulai dari belakang kelas sampai kolong-kolongnya Rachel sapu bersih! Karena kata Mama nya, jika perempuan menyapu tidak bersih, nanti suaminya brewokan.


Rachel gak mau punya suami brewokan, soalnya yang brewokan pasti Om-Om!


Setelah sampai di depan kelas, Rachel mencari keberadaan pengki. Matanya menoleh kesana kemari namun ia tak menemukan keberadaan pengki sama sekali.


"Ada yang tau pengki di mana?" pertanyaan Rachel dibalas gelengan oleh teman-temannya yang lain.


"Di gantungan tempat sapu pel emang gak ada, Chel?" tanya Bianca, teman satu piket Rachel.


"Gak ada tadi udah nyari."


"Berarti ada yang pake."


Rachel menghembuskan nafasnya, langit sudah berwarna orange memberi tanda jika sore telah tiba.


"Cepet sapu, gue pegang pengkinya." Ucapan tiba-tiba itu membuat Rachel menoleh cepat.

__ADS_1


Di depannya ada Alfa yang berdiri sedikit membungkuk dengan kedua tangan memegang gagang pengki.


Rachel mengangguk, ia lalu menyapukan debu tadi ke dalam pengki. Setelahnya Rachel mundur membiarkan Alfa membawa pengki dan membuangnya ke tempat sampah.


Rachel kembali masuk ke dalam kelas, ternyata Genza sudah mengepel setengah lantai di kelas.


"Gue ngapain lagi?" tanya Rachel.


Genza menoleh.


"Lap kaca aja Chel." Jawab gadis itu sambil mengedihkan dagunya ke kanebo di meja.


"Okay!"


Dengan langkah riang Rachel mengambil kanebo dan berjalan menaiki meja. Rachel memposisikan tubuhnya lalu mulai melap kaca.


Beberapa kali naik turun meja, berjalan dari ujung ke ujung membuat keringat Rachel mengucur dari dahinya sampai anakan rambut Rachel yang tergerai basah. Sesekali gadis itu menyeka keringatnya dengan punggung tangan.


Rachel turun dan akan berpindah lagi ke kaca sebelah namun langkahnya tertahan saat rambutnya ditarik dari belakang.


"Aaaw, eh apaan sih!" langkah Rachel jadi mundur seiring tarikan di rambutnya, ia lalu menolehkan kepalanya. Di belakangnya Alfa sedang memegang rambutnya dengan satu kepalan.


"Anjir apaan sih lo, Nyet?" tanya Rachel tak santai.


"Apa?"


"Lepasin tangannya ih, sakit bego!"


Namun ucapan Rachel tak ditanggapi dan membuat gadis itu semakin memberontak.


Dengan tenang Alfa memegang sebelah bahu Rachel dan sebelah tangan masih memegang rambut Rachel.


"Diem." Katanya.


Tak lama Rachel merasa rambutnya digelung.


Bersamaan dengan itu, ingatan tentang Alfa yang menyelipkan rambutnya kemarin kembali terlintas membuat pipi gadis itu merona tanpa sadar.


Sedetik kemudian gadis itu kembali tersadar.


'Idih sinting gue tiba-tiba kepikiran anak dajal macem dia!' batin Rachel.


"Udah, nah kan sekarang rapi. Tadi lo kayak gembel." Ucap Alfa pedas.


"Cih." Rachel berdesis.


"Terus sekarang gue kayak apa?" dengan pede Rachel menaik-turunkan alisnya.


Alfa menatap wajah pongah di hadapannya itu. Anak rambutnya yang basah dengan beberapa helai terurai. Gelungan tak rapi itu justru membuat Rachel terlihat...

__ADS_1


"Kayak yang suka nongki di lampu merah." Setelah mengucapkan kalimat laknat itu, Alfa melangkah pergi meninggalkan Rachel yang telinganya sudah berasap dan mata berapi-api.


"LO KIRA GUE CABE-CABEAN DI PEREMPATAN LAMPU MERAH APA? SETAN EMANG! GUE SUNAT DUA KALI PAKE KAPAK TAU RASA LO, ALFA!"


__ADS_2