FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 18 : Kembali Sakit


__ADS_3

"Mari kita ucapkan hamdalah bersama-sama karena kita sudah sampai di tempat tujuan dengan aman dan selamat."


"ALHAMDULILLAH!"


"Baik, kalau begitu kalian dipersilahkan mendirikan tenda di masing-masing tempat yang sudah disediakan. Bila ada yang kurang atau pun ada kendala, bisa langsung menghubungi panitia ya?"


"BAIK PAK!"


"Yasudah, ayo semuanya dipersilahkan. Panitia mohon dibantu ya," semua panitia mengangguk dan semua murid berpencar untuk mendirikan tenda.


Rachel merasa pandangannya sedikit kabur dengan kepalanya yang kian berdenyut, dengan segera gadis itu menggelengkan kepala sambil menggandeng erat tangan Clarissa. Clarissa menoleh menyadari pergerakan Rachel.


"Kenapa lo?"


Rachel menautkan alisnya, "Emang gue kenapa?"


"Geleng-geleng gitu tadi, kenapa? Lo pusing? Masih gak enak badan?"


"Apaan sih, Ca, gue cuma geleng-geleng karena... Pemikiran gue! Nah iya, pemikiran gue!"


Clarissa memicingkan matanya, "Yakin gapapa? Bibir lo kok pu—"


"Eh, Ca, ayo itu Tasya ngelambai, dia setenda ama kita kan? Dah ayo!"


Rachel menarik kuat tangan Clarissa menuju pada Tasya yang sedang melambaikan tangannya dengan Gledis yang tersenyum menyambut kedatangan mereka berdua.


"Ayo diriin tendanya, yang lain juga udah mulai tuh!"


Tasya, Clarissa, dan Rachel segera mengangguk dan mulai mengerjakan tugas masing-masing. Namun tak lama Clarissa mendekat ke arah Rachel.


"Kalo ngapa-ngapa bilang gue ya?"


"Sip!"


Dari seberang, Alfa melihat interaksi itu. Bibirnya menyunggingkan senyuman kecil.


"Fa, ini nih yang di sini pegangin. Mau gue paku!"


Alfa menoleh dan segera memegang paku, sedangkan Kenan memakunya.


"Gue exicted banget deh anjir! Katanya ada acara jurit malamnya!" Kenan berceloteh girang yang dibalas dengusan oleh Alfa.


"Lo suka yang begituan?"


"Seenggaknya gue bisa request buat sekelompok berdua sama Clarissa, soalnya katanya yang ikut boleh siapa aja jadi gak diwajibin semua ikut. Nah, kalo dia ketakutan kan dia bisa peluk gue dan gue bisa jadi superheronya dia. Katanya kan ada hantunya cuma ya hantu boongan, anjay banget gak sih betapa kerennya gue nanti?"


Alfa menoyor kepala Kenan, "Modus lo kadal!"


Kenan tergelak menertawakan pemikirannya sendiri.


"Alfa?" suara lembut itu berhasil mengambil alih atensi Alfa serta memberhentikan gelak tawa Kenan.


"Loh, Dy? Ada apa?" Alfa berdiri serta melap tangannya ke celana takut-takut kotor.


"Aku gak bisa diriin tenda, temen yang lain juga udah usaha tapi tenda kita meleyot terus."


Maudy menarik tangan Alfa serta mengayunkannya ke kanan-kiri dengan pelan.


"Bantuin ya?" Maudy mengerjapkan mata bulatnya berkali-kali.


Alfa terkekeh gemas, baru saja tangan kirinya hendak meraih kepala gadis di hadapannya ini untuk ia acak-acak sambil berkata, 'Iya aku mau.' Namun semua itu harus terurung saat mendengar teriakan melengking khas Clarissa yang berhasil mengambil alih atensi seluruh siswa.


"TOLONG, INI RACHEL PINGSAN! PALANYA PANAS BANGET!"


Raut wajah bahagia itu luntur seketika tergantikan dengan raut khawatir. Tanpa sadar Alfa langsung menepis pelan lengan Maudy dan berlari tergesa menuju gadis yang terkulai lemas dipelukan Clarissa.


Alfa menerobos kerumunan yang sudah mengelilingi Rachel, saat melihat seorang panitia ah lebih tepatnya sang ketua OSIS ingin membopong badan gadis itu, buru-buru Alfa menepisnya dan segera mengambil alih Rachel dengan cepat.


"MINGGIR LO SEMUA! UDAH TAU ADA YANG PINGSAN MALAH DIKERUMUNIN, OTAK LO SEMUA ADA DI MANA SIH?" murka cowok itu. Dengan kesetanan Alfa membawa Rachel menuju ke tenda kesehatan.


Clarissa yang awalnya terkejut mendengar teriakan amarah seorang Alfa untuk pertama kali buru-buru berlari mengikuti jejak cowok itu.


"Heh, mana sih ini petugasnya? Ada yang pingsan ini gimana sih?" bentak cowok itu tak segan pada orang-orang di dalam tenda.


Seorang cewek hendak menghampiri Alfa namun ia kembali berujar keras, "Cepet panggil dokter jaga!"


Setelah membaringkan Rachel di matras, Alfa segera memegang dahi gadis yang kini terkulai lemas itu.


"Panas banget."


Bersamaan dengan ucapannya barusan, seorang pria paruh baya yang mengenakan jas dokter memasuki tenda dan melempar senyumnya pada Alfa.


"Boleh saya periksa temannya dulu?"


Alfa menoleh lantas mengangguk mantap, "Silahkan, Dok."


***


Rachel mengerjapkan matanya, gadis itu meringis kecil saat rasa pusing kembali menderanya meski tak sehebat tadi.


"Nih minum dulu," suara berat itu berhasil membuat jantung Rachel bertalu-talu. Dengan gerakan patah-patah gadis itu menatap Alfa yang juga sedang menatapnya teduh sambil menyodorkan segelas air putih.


Rachel menerima gelasnya dan segera meneguk air itu hingga tandas.


Hangat.


Air yang diberikan Alfa terasa hangat mengaliri tenggorokannya dan kehangatan itu menjalar sampai pada hati Rachel.


"Haus banget lo?"


Rachel mengangguk sambil menyusut sisa basah di atas bibirnya.


"Ini jam berapa?" tanya gadis itu sambil celingukan.

__ADS_1


"Baru jam setengah lima sore."


"Berapa lama gue pingsan?"


"Satu jam."


Rachel mengangguk, saat hendak menggaruk kening ia merasa sebuah benda tertempel disana.


Pai-pai fever ternyata.


"Kayak bocil banget dikasih ginian."


"Kalo pake kain kan harus peres-tempel. Mending pake itu."


Rachel kembali mengangguk.


Keheningan melanda mereka berdua selama beberapa detik sampai seseorang memasuki tenda dan berucap pada Alfa.


"Lo dicariin Maudy, anaknya nunggu di depan."


Alfa mengangguk singkat dan segera berdiri.


"Gue beliin lo bubur, tuh dimakan. Abis itu ada obat juga biar panas lo turun," cowok itu meletakan tangannya ke pipi Rachel.


"Udah mendingan daripada tadi. Gue keluar dulu."


Tanpa menunggu jawaban Rachel, Alfa berjalan begitu saja meninggalkan Rachel yang langsung dilanda rasa tak enak.


Seseorang yang memberitahu soal Maudy tadi menatapnya sinis.


Rachel menatapnya bingung sambil menghembuskan nafasnya pelan saat mengetahui maksud dari tatapan tadi. Ia memilih untuk cepat memakan bubur dan minum obat. Rachel tak ingin memusingkan hal tersebut dan ingin menikmati acara camping ini.


***


Alfa tersenyum mendapati Maudy yang berdiri sambil menatapnya. Tangan Alfa meraih jemari Maudy, cowok itu berniat membawa Maudy pergi ke tempat di mana hanya ada mereka yang berbicara. Agar lebih privasi sih sebenarnya karena Alfa kurang begitu suka jika percakapannya dengan Maudy didengar orang lain.


"Mau ke mana?"


"Ngobrol sama kamu."


"Iya, di mana?"


Alfa menunjuk sebuah kursi kosong tak jauh dari letak perkemahan.


Setelah mendudukan diri, Alfa menyerongkan tubuhnya memberikan perhatian sepenuhnya pada Maudy.


"Kenapa?"


Maudy menggeleng, "Gapapa. Temen kamu gimana?"


"Udah siuman."


"Syukur deh, tadi mukanya pucet banget, aku khawatir."


"Iya tadi badannya juga anget banget. Kamu kalo keluar pake jaket ya? Di sini dingin soalnya," Alfa mengusap pelan rambut Maudy.


"Katanya malem ini diadain jurit malem?" Maudy kembali bertanya sambil menikmati usapan halus dari Alfa di kepalanya.


"Iya, aku juga denger dari Kenan. Mau bareng sama aku ke sononya?"


Maudy mengangguk antusias, "Mau!"


Kini Alfa terkekeh, astaga gadisnya ini!


"Okay, princess!"


***


Malam telah tiba, namun hal itu tak membuat semangat para siswa Swarna turun, justru semakin malam semakin ramai terdengar gelak tawa juga genjrengan gitar dari masing-masing siswa.


Saat ini Rachel sedang diberi ceramah oleh Clarissa. Gadis itu bersikeras ingin mengikuti jurit malam namun Clarissa membantah keras tak mengijinkan.


"Nih ya lo itu baru sembuh, nanti kena angin malem gimana?"


"Gue kan pake baju," jawaban Rachel berhasil mengundang gelak tawa dari Tasya dan Gledis.


"Nanti kalo misalkan lo kedinginan gimana?"


"Gue pake jaket, Ca..."


"Kalo misalkan lo pusing gimana?"


"Gue udah ngerasa sehat, gak pusing kok."


"Kan siapa tau, Rachel!"


"Kan gue yang ngerasa, Clarissa!"


"Udah, Ca, bolehin aja, lagian Rachel dah gak sepucet tadi. Dia udah makan dan minum obat juga, suhu badannya juga udah normal kan terakhir cek tadi?" lerai Tasya.


"Ya tapikan gak ada yang tau!"


"Kasian kan dia pengen camping buat refresh diri, Ca. Pengen nikmatin acara juga," tambah Gledis.


Rachel memasang raut wajah melas sampai membuat Clarissa menghembuskan nafasnya kasar.


"Yaudah, tapi inget kudu bawa termos kecil, bawa roti sepotong di kantong lo, bawa kayu putih juga, dan harus pake jaket!"


Rachel mengangguk dengan bibirnya yang menyunggingkan senyum lebar.


"Sip!"


Seruan dari toa menggema, membuat seluruh siswa langsung berkumpul.

__ADS_1


"Sebelum lanjut ke jurit malam, kalian dipersilahkan ngambil nomor di kardus-kardus yang udah disediain itu. Harus tertib ya, ada tiga nomor kembar jadi untuk satu kelompok itu isinya tiga anggota. Silahkan diambil dengan tertib."


"Setelah mengambil kertas, diharapkan kembali ke barisan masing-masing."


Satu persatu siswa mengambil kertas nomor dengan tertib, begitu pula dengan Rachel yang harap-harap cemas takut tak sekelompok dengan orang yang dikenalnya.


Dengan menutup sebelah matanya, Rachel membuka pelan kertas tersebut.


3


Rachel masuk kelompok 3.


"Udah dibagi kan ya? Udah diliat? Yaudah, kita langsung mulai ya. Ini udah jam sepuluh malem, jadi kalian bakal kita kasih peta dan ikutin sesuai instruksi yang ada. Misi kalian ada ditiap peta masing-masing kelompok." Ucap panitia itu.


"Okay, langsung mulai aja, buat kelompok satu mana? Okay kelompok satu kumpul depan sini. Nah udah lengkap, silahkan kelompok satu mulai jalan!"


"Chel, lo nomor berapa?" tanya Clarissa sambil menghampiri Rachel.


"Tiga."


"Yah, gue nomor dua puluh sembilan Chel, gimana dong?"


Tubuh Rachel bergerak gelisah.


"Gimana ya? Gue takut sekelompok ama yang gak gue kenal."


"Apa perlu—"


"Kelompok tiga siapa? Ayo giliran kelompok tiga maju ke depan!" suara panitia itu terdengar, dengan langkah ragu Rachel berjalan membelah kerumunan.


Sampai pada di mana ia melihat siapa saja anggota kelompoknya, Rachel merasa senang sekaligus... Takut?


Ada Alfa dan Maudy yang menunggunya.


"Rachel sini!" ajak Maudy sambil tersenyum ramah, Rachel kembali melanjutkan langkahnya.


"Okay kelompok tiga udah kumpul, sekarang kelompok tiga dipersilahkan!"


Rachel, Alfa, dan Maudy berjalan beriringan. Mereka diberi dua buah senter, satu walkie-talkie, dan peta.


"Coba arahin senternya ke sini," ucap Alfa sambil merentangkan petanya.


Dengan serempak Rachel dan Maudy mengarahkannya pada Alfa, cowok itu terkekeh.


"Satu aja."


Rachel canggung, gadis itu memilih segera menyenter ke arah depan.


"Misi kita, nyari bendera."


"Kayaknya sih gak bakal di sini-sini. Mungkin gak sih kalo di pos?" tanya Maudy yang langsung mendapat anggukan Alfa.


"Bisa jadi, atau kita bakal dikasi hambatan di jalan kalo pun kita liat itu bendera."


Alfa dan Maudy mulai berjalan cepat sambil terus membicarakan kemungkinan di mana disimpannya bendera sampai Rachel tertinggal di belakang mereka dengan jarak yang lumayan.


Rachel merutuki tubuhnya di saat seperti ini, dengan sekuat tenaga gadis itu berjalan menyusul.


***


Berkali-kali Rachel mendengus, telinganya berdengung dengan nafas yang terasa berhimpitan di dadanya. Pandangan gadis itu juga terasa kabur namun segera mungkin Rachel menggelengkan kepalanya menyadarkan diri.


Sudah dua pos mereka lalui tapi belum terlihat tanda-tanda adanya sebuah bendera.


Langkah Maudy terhenti, tangan gadis itu menunjuk tepat pada pohon di mana batangnya ditempel sebuah bendera emas.


"Fa, itu tuh Fa!" pekiknya senang.


Raut wajah Alfa ikut merekah, saat cowok itu hendak berjalan mengambil bendera itu suara gebrukan terdengar dari arah belakang.


Baik Alfa maupun Maudy menoleh dan terkejut mendapati Rachel yang sudah terkulai lemah dengan jarak cukup jauh dari keberadaan mereka berdua.


Segera Alfa berjalan cepat ke arah Rachel namun Maudy mencekal tangannya.


"Itu benderanya?"


"Rachel dulu, Dy, dia pingsan!"


"Ambil dulu benderanya lah, kita cape-cape nyari?"


"Dy, please, Rachel lebih butuh kita buat gerak cepat."


"Tapi, Fa—"


Alfa menghiraukan Maudy dan lebih memilih untuk segera membopong badan Rachel. Terdengar suara gigi bergemelatuk, sesekali diganti dengan suara desisan.


"Dingin..."


Baru saja Alfa berdiri, Maudy kembali menghampiri cowok itu sambil membawa bendera tadi.


"Aku udah bawa bendera—"


"Sadar gak sih temen kita lagi butuh gini? Bisa-bisanya kamu masih ngomongin bahkan lebih milih bendera? Rachel lagi sakit, Dy, DIA LAGI SAKIT! Bayangin kalo kamu ada di posisi dia gimana, Hah?" tanpa sadar Alfa menaikkan nada bicaranya.


Raut wajah Maudy berubah, tangan yang tadinya mengacungkan bendera dengan antusias pun kini menurun.


Mata bulatnya yang berkaca-kaca menatap murung langkah Alfa yang berlari menjauh darinya.


Tes.


Bagaimana bisa Alfa meninggalkan Maudy sendiri.


Tanpa memikirkan bagaimana cara Maudy kembali?

__ADS_1


Bagaimana jika Maudy tersesat?


Maudy terkekeh miris dengan tangan yang mengusap kasar pipinya.


__ADS_2