FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 16 : Demam


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin, Rachel diperbolehkan pulang terlebih dahulu. Gadis itu kini sedang tidur dengan posisi miring membelakangi ibunya, karena Nina sedang mengompres kepala belakang Rachel.


"Benjol ini, Dek."


Rachel diam tak menyahuti, denyutan di kepalanya membuatnya tidak mood berbicara. Ya, denyutan di hati juga bikin sakit sih apalagi denger percakapan tadi. LUPAKAN!


"Lagian kamu so-soan gitu sih nimbrungin Caca yang lagi ngamuk. Tu anak kan badan kecil tenaganya kayak banteng," ucapan Nina membuat Rachel meringis.


"Gak banteng juga kali, Ma..."


"Ya buktinya kamu sampe mental gini kan? Liat ni kamu dah punya tanduk mana gak elit banget tanduknya di belakang kepala. Kalo Papa udah pulang nanti, abis kamu diketawain."


Rachel mendengus, sebelum Papanya pulang saja ia sudah bisa membayangkan pria berumur itu akan melayangkan segala ledekan menyebalkan padanya secara habis-habisan!


"Ya lagian itu di sekolah Ma, apalagi liat pipi Caca ada baretannya kan gak tega."


"Panggil guru aja toh, atau nggak minta tolong pacarnya lah! Kan dia biangnya?"


"Pacarnya malah diem Ma, kayak patung mulutnya nyelangap. Abis itu malah nyorakin biar Caca ngejambaknya yang kenceng, gitu coba!"


Nina tertawa mendengar cerita singkat Rachel. Terlebih raut julid gadis itu yang benar-benar menurun seperti dirinya.


"Hahaha, hadeh anak jaman sekarang bucin banget. Udah lah Mama mau masak dulu, tadi sebelum kesini Mama dapet telfon dari Caca katanya pulang sekolah mau jenguk kamu. Bentar lagi kayaknya dateng. Nih kompresannya dipegang ya sayang biar cepet mengecil tanduknya," Rachel mendelik, sekali lagi Nina tertawa puas meledek putri semata wayangnya.


Tangan Rachel tak memeganginya justru gadis itu malah menaruh kantong air hangatnya ke meja dan meraih ponselnya untuk ia gulir.


Dengan posisi duduk dan tangan yang lincah Rachel membuka instagramnya. Terlihat postingan terakhirnya beberapa hari lalu dibanjiri berbagai ucapan seperti cepat sembuh padanya.


Membaca hal tersebut, terlebih ada beberapa komentar nyeleneh dari teman-temannya yang membuat Rachel terkikik geli membuat denyutan di kepalanya berangsur memudar sebelum sedetik kemudian kegiatannya harus terhenti karena sebuah ketukan pintu.


"Masuk aja!"


Pintu kamar Rachel terbuka menampilkan Clarissa dengan bibirnya yang mencebik. Tak lama gadis itu berlari kecil sambil merengek.


"Huwa maafin gue sohib! Gue gak berniat dorong lo sekenceng itu sumpah!"


Saat Clarissa merentangkan tangannya hendak memeluk Rachel, buru-buru Rachel memberikan bantal sebagai batas di antara mereka.


"Jangan peluk! Badan gue masih sakit apalagi kepala gue!" gadis itu mewanti-wanti.


Clarissa memutuskan duduk di ranjang Rachel dengan tangan yang memegang kaki mulus cewek itu.


"Maafin ya, gak sengaja sumpah! Lagian lo nahan gue buat tebas palanya si gatel tadi! Gue kan emosi..."


"Gapapa udah. Lagian gue nahan lo karena ini nih," Rachel menunjuk luka cakaran di pipi Clarissa.


"Lo udah dicakarin ama tu orang. Lagian badas banget sih jadi cewek kok ributnya kayak kerasukan reog!"


"Ya, dahlah gak usah dibahas. Kesel mulu gue kalo inget muka songongnya minta disuciin tu muka. Gue sikat juga pake rinso biar luntur semua dosanya si Raquel."


"Terus gimana?"


"Ya gue sama dia ke ruang BK cuma dikasih peringatan aja sih, first time juga gue masuk tu ruangan."


Rachel mengangguk sambil ber-oh-ria.


"Eh btw tadi ada pengumuman!"


"Apaan?"


Clarissa menghentakkan kakinya sambil menepuk-nepuk paha dengan girang.


"BAKAL ADA CAMPING TAHUNAN, YAY!"


Mata Rachel membulat dengan senyum yang kembali merekah.


"Serius? Kapan?"


Clarissa mengangguk, "Serius! Sabtu sama minggu ini!"


"Lusa?"


Clarissa kembali mengangguk.


"Gue seneng banget akhirnya bisa refreshing sekalian uwu-uwuan sama Kenan!"


Rachel berdecih, "Gimana sih, tadi kan si Kenan nemplokin cewek. Mana pas lo ribut malah nyemangatin dan diem kayak patung bodoh gak misahin. Goblok banget si pacar lo?" hujat Rachel.


Clarissa mengedikkan bahunya tak peduli, "Emang bego kok tu orang dari dulu. Dan soal tadi sih yang nemplokin si gatel Raquel."


Rachel kembali mengangguk.


"Kepala lo masih sakit banget?" tanya Clarissa sambil memasang muka bersalah.


"Nggak sih, lumayan daripada tadi."

__ADS_1


"Kalo besok udah okay, mau pergi shopping gak? Buat beli keperluan camping?"


Rachel terdiam, tak lama gadis itu mengangguk setuju.


"Okay!"


Ting!


Rachel menatap notifikasi di layar ponselnya. Terpampang sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.


Alis Rachel menaut, gadis itu memutuskan untuk melihat detail kontak dan ternyata dirinya satu grup dengan orang ini. Grup kelas.


Rachel kembali menggulir sedikit ke atas, orang ini tak memasang profil atau pun informasi lainnya. Namun, sebuah username yang tertera di pojok kanan bawah mampu membuat Rachel menegang.


Ryan Alfa G.


Ting!


Satu pesan kembali masuk dari nomor itu.


"Kenapa?" tanya Clarissa saat menyadari keterdiaman Rachel.


"Ah? Gapapa-gapapa."


Rachel kembali membuka roomchatnya yang berisi dua pesan dari cowok itu.


Unknown : Cepet sembuh.


Unknown : Ini gue, Alfa.


Rachel menipiskan bibirnya, lalu mulai mengetikkan jawaban.


^^^Rachel : Okay, thanks.^^^


Rachel menggulir layar utama dan kembali memeriksa aplikasi berlogo hijau itu namun belum ada tanda-tanda pesannya akan dibalas.


Ting!


Buru-buru Rachel membuka ponselnya dan pesannya dibalas!


Tunggu sebentar, jangan langsung bales!


Jangan fast respon ntar keliatan banget kalo lo nunggu!


Keep elegan!


^^^Rachel : Engga sih udah mendingan^^^


Alfa : Oh syukur


Satu menit! bahkan belum satu menit pesannya sudah dibalas!


^^^Rachel : Iya wkwk^^^


Alfa : Kayaknya malem ini lo bakal demam


^^^Rachel : Hah?^^^


Alfa : Iya, gue barusan searching katanya sih kayak gitu


^^^Rachel : Oke thanks infonya^^^


Alfa : Jangan lupa save nomor gue dan cepet sembuh, Rachel.


"Si Alfa?" tanya Clarissa yang tahu-tahu kepalanya sudah berada di dekat kepala Rachel, ikut membaca pesannya dengan Alfa.


"Anj ngagetin!"


Clarissa memicingkan matanya sedangkan Rachel buru-buru menutup layar ponsel sambil menatap Clarissa horor.


"Apaan sih liatin gue kek gitu, awas naksir!"


"Najis gue masih lurus!"


Rachel mengalihkan pandangannya, "Takutnya kan."


"Gak usah ngalihin percakapan nyet!"


"Siapa yang ngalihin?"


"Lo, belom move on dari tu anak?" tanya Clarissa tanpa basa-basi.


"U-udah!"


"Aelah boong lo tar muncung lo panjang kek pinokio tau rasa!"

__ADS_1


"Pinokio yang manjang idungnya bodoh!"


"Gak usah ngalihin! Gue tau lo gamon!"


"Ck, ah serah!"


Clarissa menghembuskan nafasnya pelan.


"Gue gak masalah sih lo suka atau gimana, tapi ya lo harus paham. Dia itu punya pacar. Bukan gimana-gimana sih cuma ya lo tau kan gue gak mau lo sakit hati terus berharap sama yang jelas gak bisa diarepin."


Rachel mengangguk, hatinya tersentil.


Seketika ia mengingat kejadian kemarin.


"Iya gue paham."


***


Mata Rachel sulit dibuka!


Kini ia merasa angin kencang sedang melibas habis tubuhnya, entah angin atau badai? Tolong! Di sini dingin banget!


Rachel menggigil sampai giginya bergemelatuk. Tangannya sibuk mengeratkan selimut namun matanya seperti enggan terbuka.


Tolong siapapun tolong Rachel!


Di sini dingin!


Sangat dingin!


Tak lama terdengar dering ponsel mengalun, suaranya memenuhi keheningan kamar Rachel.


Tangan gadis itu terulur mencari keberadaan benda pipih itu. Dengan gemetar yang tak berhenti, ia menemukannya dan segera mengangkatnya. Menyatukan ponselnya dengan telinga dan kembali meringkuk.


"H-halo?" suara Rachel bergetar dan serak. Gadis itu terus merintih kedinginan.


"Chel?"


Entah bagaimana caranya, suara berat dari seberang sana yang terdengar lewat ponselnya itu mampu menyihir mata Rachel. Gadis itu perlahan membuka sedikit matanya yang terasa sangat berat. Tangannya menyentuh kening sambil meringis, ternyata terdapat sebuah pai-pai fever yang ditempel di sana.


Pandangan Rachel mulai jelas, terlihat penghangat ruangan juga dinyalakan dan AC dimatikan. Namun, di sini masih terasa sangat dingin.


Sepertinya, Mama nya mengecek keadaan Rachel, mendapati putrinya demam, dengan segera sang Mama menempelkan pai-pai fever dan menyalakan penghangat ruangan tersebut.


"Siapa?" tanya Rachel kembali. Tubuhnya masih menggigil dalam balutan selimut.


"Alfa."


"Oh, kenapa?"


"Demam ya?" terdengar jelas nada khawatir dari pertanyaan itu.


"Hm?"


"Beneran demam ternyata,"


"Matiin AC nya, selimutnya dililit kebadan. Hp nya taro dipinggir bantal coba."


Rachel benar-benar menuruti semua perintah cowok itu. Dirinya merasa Alfa akan membantunya sebuah cara untuk menghangatkan diri.


"Oke, sekarang tutup matanya."


Rachel menutup matanya.


"Gue bakal temenin lo tidur."


"Sambil merem sambil bayangin ya?"


"Hm." Rachel tak berdaya, ia bingung sampai tak dapat berpikir tentang apapun selain menuruti ucapan laki-laki yang sedang menelfonnya itu.


"Jadi, pagi ini matahari ngeluarin sinar cerah banget. Bukan pagi ini aja, tapi tiap pagi dia dateng buat selalu kasih sinar juga kehangatan buat semua makhluk bumi."


Rachel berusaha memejamkan matanya sambil terus membayangkan vibes cerah dan hangat dari matahari. Perlahan tapi pasti, angin kencang di sekitarnya terasa mereda. Meski hawa dingin masih cukup tajam terasa, namun Rachel merasa hangat pada satu bagian.


"Terbitnya dari sebelah timur. Suatu hari pas lagi nerangin bumi, dia ngeliat satu cewek yang dateng ke sekolah sambil terus ngembangin senyumannya. Sekali liat matahari langsung ngerasa auranya sama kayak matahari, sampe akhirnya matahari tau ternyata di sekolah sebutan cewek ini si gadis cerah karena selalu bawa senyuman hangat dan orang-orang di sekitarnya juga ngerasa kalo aura cewek ini hangat, sehangat matahari."


Benar, hatinya menghangat.


"Si gadis cantik ini—" Alfa menghentikan ucapannya saat terdengar deru nafas teratur. Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis.


Gadis cerah ini sudah tidur bahkan saat ceritanya belum masuk konflik.


Alfa terkekeh, "Lo bikin gue khawatir sampe gue bela-belain telfon tengah malem buta gini tau gak?" monolognya.


"Selamat tidur gadis cerah, cepet sembuh!"

__ADS_1


Lalu sambungan telfon diputus.


__ADS_2