
Saat ini, Rachel sedang termenung di dalam kamarnya. Tubuhnya terbaring tenang, namun pikiran gadis itu berkelana mengulas kembali kejadian tadi sore di mana ia melihat langsung seorang Ryan Alfa Gelbardi sedang berjalan sambil bergandengan tangan dengan gadis yang sedang ramai diperbincangkan.
Sial, ingatan itu benar-benar menyiksa dirinya.
Rachel terkekeh miris atas nasib yang kini menimpanya.
Suara ponsel terdengar memenuhi ruangan yang seperti tak berpenghuni itu. Dengan malas Rachel melirik kecil pada layar ponselnya yang menampilkan beberapa notifikasi pesan yang masuk.
Kembali pada posisi semula, gadis itu memilih untuk mengabaikan semua pesan masuk itu dan kembali menghanyutkan pikirannya pada persoalan rumit yang sedang menimpanya.
Rachel benci mengakuinya, tapi mau bagaimana lagi? Sudah jelas dirinya salah.
Ia terlalu membawa perasaan apa yang dilakukan oleh Alfa kepadanya, padahal Alfa melakukan semuanya sebagai bentuk dari kepeduliannya kepada teman. Dan sepertinya, tidak ada yanh spesial, Alfa juga memperlakukan temannya yang lain sebaik Alfa memperlakukannya.
Tidak ada yang dibeda-bedakan.
Hanya Rachel saja yang terlalu baperan dan merasa diistimewakan.
"Rachel bego, baperan, tolol!" rutuknya sambil membenamkan wajahnya pada bantal.
"AAARGHHH!"
Teriakan frustasi Rachel berhasil mengambil alih atensi kedua orang tuanya yang berada di ruang tamu.
Dengan panik, sepasang suami istri itu berjalan cepat menuju kamar putri tunggal mereka.
"RACHEL KENAPA SAYANG, ADA APA?"
"PA, RACHEL KESURUPAN BUKAN, PA? ITU TERIAK-TERIAK GITU!"
"MAU BERUBAH JADI MAUNG KALI MA, BIARIN AJA."
"NGADI-NGADI!"
***
Matahari pagi ini nampak enggan memperlihatkan sinarnya, alhasil hanya awan-awan berwarna abu-abu lah yang menggantikannya menjadikan pagi ini begitu mendung semendung wajah Rachel yang baru sampai di sekolah.
Rachel berjalan malas dengan pandangan kosong kedepan. Raganya seolah tak berisi ruh, senyum manisnya tak nampak, bahkan sapaan semua orang tidak dia hiraukan.
Rachel sebenernya sudah berniat tidak masuk sekolah hari ini karena rasanya sangat malas. Mana cuacanya dingin, sangat cocok untuk berpacaran dengan kasur dan selimut di rumah!
Setelah menghabiskan setengah energinya untuk berjalan, akhirnya Rachel sampai di kelas. Dengan tak bertenaga ia menaruh tasnya asal dan segera menelungkupkan kepalanya di atas tangannya yang bertumpu di meja.
Beberapa menit berlalu, dan Rachel masih setia di posisinya sambil memejamkan mata.
Clarissa baru saja datang, ia sedikit bingung karena Rachel seperti tak menggubris kedatangannya.
Akhirnya gadis itu berinisiatif menepuk bahu sahabatnya.
__ADS_1
"Heh, tumben lo dieman?" tanya Clarissa heran yang hanya dibalas deheman singkat.
Merasa Rachel sedang tidak dalam mood baik hari ini, Clarissa pun mencoba membuka percakapan dengan topik berbeda.
"Chel, mapel informatika jam pertama nih, gue males banget!"
"Terus?" tanya Rachel sambil mengangkat kepalanya dan menatap Clarissa ogah-ogahan.
"Cabut yuk!" Clarissa nyengir lebar.
Rachel mendengus, tak segan dirinya menoyor kepala Clarissa yang sepertinya otak gadis itu baru terisi setengah sampai-sampai mengajak Rachel melakukan hal gila.
"Ogah gue cari mati sama Bu Fia!" tolaknya mentah-mentah.
Clarissa mencebikkan bibirnya, ya benar sih. Dia juga berniat mengajak saja tapi jauh di dalam hatinya, Clarissa takut sama guru yang punya alis runcing itu. Belum lagi bibirnya yang merah merona selalu naik 5 centi saat memarahi muridnya yang membolos. Suaranya 3 kali lipat lebih nyaring dibanding suara Clarissa dan kalo nyerocos bisa sampe jam istirahat pertama semua murid kena!
Clarissa menggelengkan kepala cepat, ia bergidik ngeri saat membayangkan kejadian tersebut.
Di sisi lain mata Rachel yang awalnya menatap Clarissa penuh hujat pun beralih dan secara tak sengaja menangkap siluet seseorang dari arah pintu masuk.
Saat perlahan siluet itu makin membesar, sebuah suara sepatu menggantikan bayang-bayang samar tersebut. Tubuh pria yang tegap tinggi menjulang itu akhirnya menampakan wujudnya.
Ah! Tiba-tiba saja Rachel teringat jika dirinya lupa mengembalikan topi yang Alfa pinjamkan padanya tempo hari.
Ya, laki-laki yang baru saja memasuki kelas itu adalah Alfa.
Saat Alfa berjalan memasuki kelas, dengan segera Rachel merogoh tasnya dan mengambil sebuah topi hitam.
Alfa menaikkan alisnya bingung, setelah melihat apa yang gadis itu sodorkan, baru lah laki-laki itu mengerti dan menerima sodoran itu.
Rachel tersenyum tipis, "Thanks ya."
Setelah mengucapkannya, dengan cepat Rachel membuang muka dan berlalu begitu saja.
Kini Alfa makin menaikkan kedua alisnya heran.
Dan kejadian pagi itu harus tertutup dengan bel masuk yang sudah berbunyi menandakan kegiatan belajar mengajar sudah di mulai.
Murid kelas Rachel pun dengan serempak pergi menuju lab komputer untuk mengikuti mata pelajaran informatika.
***
"Oke sekarang kalian kerjakan tugasnya dan harus selesai saat pelajaran saya selesai. Jika kurang paham boleh bertanya pada temannya, saling membantu ya tapi saya tidak menerima hasil contekan." Ucap tegas guru berbadan ramping itu.
Lab komputer menjadi sedikit gaduh karena beberapa murid memang tak paham dan bertanya pada yang lain. Namun di antara bisik-bisik penjelasan itu, ada juga spesies yang curi-curi waktu untuk memakan cilok yang ada di kantongnya, membuka ponsel untuk mencontek ke google, dan bahkan ada yang malah berbincang seputar hal-hal di luar mapel.
Rachel menggelengkan kepalanya, gadis itu memusatkan kembali atensinya pada tugas yang baru ia kerjakan separuh. Ia mulai merasa kesulitan karena belum paham di beberapa bagian, gadis itu menggaruk pipinya dengan wajah bingung.
Tak lama kemudian, sebuah tangan besar bertengger manis di antara sandaran kursi dan meja milik Rachel dengan badan condong melihat ke arah komputernya. Hal tersebut tentu saja membuat tubuh Rachel terkungkung oleh badan tegap milik cowok itu.
__ADS_1
"Mana yang nggak paham?" tanya Alfa sambil menggerakan mouse, Melihat hasil kerja Rachel.
Akibat serangan dadakan itu tubuh Rachel terpaksa miring demi memberi jarak aman antara dirinya dan Alfa. Mata Rachel terpaku melihat Alfa dari bawah dengan jarak seminim ini.
Jakun cowok itu naik turun saat menelan salivanya, dada bidang yang terbalut kemeja sekolahnya terpampang jelas di depan wajah Rachel, dan aroma mint dengan kesan maskulin itu kini memenuhi indra penciuman Rachel.
Alfa menurunkan pandangannya pada gadis yang masih berada dikungkungannya. Mata tajam miliknya menatap lekat manik cokelat terang milik Rachel yang mengerjap-ngerjap lucu.
"Hei, mana yang masih gak lo pahamin?" ulang Alfa dengan nada merendah.
Rachel menelan ludahnya susah payah, sial jantungnya kembali menggila!
Dengan tangan gemetar dan gerak tubuh yang gelagapan, Rachel membuang mukanya sambil menunjuk asal layar komputer.
"I-ini, gue gak paham."
Alfa mengangguk, cowok itu menjelaskan pada Rachel dengan pelan dan hati-hati. Di ujung penjelasannya Alfa selalu bertanya "Paham nggak?" yang spontan dibalas anggukan oleh Rachel.
Namun sampai penjelasannya selesai, Alfa masih betah berada di posisi itu yang tentu saja membuat Rachel bergerak gelisah karena ruang geraknya terbatasi.
Dengan ragu gadis itu mencuri-curi lirik pada cowok yang ternyata sedang memandang dirinya dengan tatapan jahil!
"U-udah kok, gue paham!" Rachel memundurkan kembali tubuhnya yang membuat Alfa refleks menaruh telapak tangannya di belakang kepala gadis itu.
Karena jika tidak, kepala Rachel akan terbentur dinding.
Namun seakan tak ada habisnya memberi kejut jantung, kini tubuh Alfa maju mendekat seakan ia sengaja mempertipis jarak yang ada di antara mereka.
Suara gaduh dari teman-teman mereka lenyap begitu saja karena fokus Rachel telah teralihkan sepenuhnya pada Alfa yang mulai memiringkan kepalanya.
Mata Rachel membulat, "A-apa?"
Alfa terkekeh, hembusan nafasnya begitu terasa di permukaan wajah Rachel.
"Liat mata lo bulet banget, idung lo juga kembang kempis, terus—"
Rachel makin was-was menunggu lanjutan dari perkataan cowok yang kini sedang menatapnya dengan intens.
"Muka lo merah kayak kepiting rebus! Hahahaha!" Alfa menjauhkan tubuhnya dan tergelak.
Sial, Rachel dipermainkan! Mana wajah Rachel sudah merah sepenuhnya!
Dengan kesal Rachel memukul sadis sepasang lengan kekar milik cowok itu.
"A-aw sakit anjir! Udah gue bantuin juga!"
Namun Rachel menghiraukannya dan terus memukul Alfa, "Ngeselin! Lo ngeselin, kampret!"
Sebenarnya pukulan itu gak sakit sih. Cuma ya ngomong gitu aja biar Rachel berhenti, eh malah makin mukulin.
__ADS_1
Dengan sisa tawanya, Alfa menahan tangan Rachel.
"Lo lucu," ucap Alfa lagi sambil menggusak rambut Rachel sebelum meninggalkannya untuk kembali menuju kursi Alfa sendiri yang ternyata berada tepat di belakang kursi Rachel.