FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 7 : Disko


__ADS_3

Setelah pulang sekolah hari ini, Rachel dan Clarissa sudah memiliki janji untuk jalan-jalan bersama.


Mereka menghabiskan waktunya dengan menonton film, berbelanja kutek dan membeli hal lucu lainnya, memutari mall, makan, main timezone sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 7 malam.


"Lo balik sama siapa, Ca?" tanya Rachel melihat sahabatnya sibuk bermain ponsel sambil tersenyum.


Clarissa menoleh, "Kenan baru balik futsal, kayaknya gue mau sama dia aja."


Rachel mengangguk.


"Btw emang lo lagi deket ya sama Alfa?" pertanyaan spontan dari Clarissa langsung mendapatkan gelengan keras dari Rachel.


"Gosip dari mana itu anjir?"


"Kemarin anak piket bilang lo dikuncirin rambutnya sama si Alfa. By the way, pas Alfa minum air botol lo juga gue curiga sih kayak kalian pasti ada something gak sih? Fyi, Alfa tuh anaknya jarang banget ngejailin orang segitunya." Jelas Clarissa panjang lebar.


"Halah rambut gue dijambak anjir sama tu setan. Diem-diem meresahkan kali. Ganggu ketenangan idup gue mulu, rese abis anaknya." Dumel Rachel kesal.


Sebenarnya masih banyak hal-hal menyebalkan yang cowok itu lakukan. Seperti di kantin saat makan, kaki cowok itu dengan kurang ajarnya menginjak kaki Rachel. Terkadang cowok itu seperti sengaja menggoyangkan kursi saat Rachel menulis, menyentil dahi Rachel tiba-tiba, atau dengan usil mengeluarkan karbondioksida nya ke wajah Rachel dengan berbunyi 'HAH!'


Lebih parahnya sih pas mereka ngerjain bareng di papan tulis. Dalihnya ngasih tau jawaban taunya ngejahilin dan jawabannya salah. Mana Rachel pede banget lagi nulis segede gaban di papan tulis. Emang dasar gak ada ahlak!


Namun ingatannya kembali pada beberapa kejadian tertentu saat dirinya dengan Alfa.


Selain ngeselin tingkat jahanam, cowok itu juga sering membuat jantungnya berdebar tak karuan.


Rachel menggelengkan kepalanya.


"Chel, Kenan udah di depan, gue duluan ya? Lo balik naik apa?" tanya Clarissa.


"Oh yaudah sana, sans aja gue mah ojol juga bisa. Atau gak minta pak Trisna jemput ntar."


Clarissa mengangguk lalu melambaikan tangannya sambil berjalan keluar restoran menyisakan Rachel yang buru-buru menyantap sushinya.


Setelah menyedot habis jusnya, Rachel mengambil ponsel dan menekannya berkali-kali namun benda pipih itu tak kunjung menyala. Sekalinya menyala malah mengeluarkan logo low battery.


Astaga, betapa cerobohnya Rachel.


Rachel segera membayar makanannya tadi dan keluar dari restoran. Ternyata langit sudah cukup gelap. Matanya mengedar melihat jalanan namun nasib sial mungkin memang sedang menimpanya hari ini, tak ada taksi lewat sejak 15 menit ia berdiri.


Karena sudah semakin malam dan Rachel tak ingin berlama-lama. Gadis itu memutuskan jalan kaki saja.


Di persimpangan Rachel memotong jalan dengan masuk ke gang agar cepat sampai halte bus. Namun sial seribu sial terdapat banyak bapak-bapak mabuk disana.


Tubuh Rachel menegang, dengan tangan mendingin cewek itu berjalan mundur ketakutan.


Namun badannya malah menubruk tubuh tegap seseorang, membuat Rachel tersentak. Sumpah demi Tuhan, gadis itu terkejut setengah mampus, badannya sudah bergetar tak karuan.


Takut-takut gadis itu menoleh kebelakang, wajahnya pias ia sudah ingin menangis saja rasanya.


Belum sempat melihat orang tersebut, tangan Rachel digenggam dan ditarik, mulutnya pun dibekap tangan.


Mata Rachel memejam, jantungnya berdegup kencang, alarm sinyal bahaya terus berdenging di telinganya. Orang ini terus membawanya pergi menuju ke balik sebuah tong besar dan menyandarkan dirinya juga Rachel di sana.

__ADS_1


Memberanikan diri, Rachel pun memutuskan untuk menggigit tangan itu dengan bringas.


"Aaaw! Ssshh, sakit bego!" pekikan itu membuat Rachel menghentikan aksinya. Rachel membalikan tubuhnya dengan mata membola.


"Alfa?" teriaknya tak percaya.


Alfa menepuk pelan mulut Rachel, "Berisik!"


"Wle, tangan lo asin anjir abis makan apa sih?"


"Abis dipake ngupil." Jawab cowok itu asal.


"Taiiii!" Rachel memukul-mukul badan Alfa membuat cowok itu mau tak mau menahan kedua tangan Rachel.


"Diem."


Rachel terkaku menatap mata Alfa yang juga mengunci pandangan padanya. Semakin lama wajah cowok itu semakin dekat.


Nafas Alfa berhembus tepat di wajah Rachel. Dengan pikiran blank dan bingung harus melakukan apa, Rachel memutuskan menutup matanya saja lah seperti adegan di film-film yang sering ia lihat!


Alfa tersenyum geli menatap detail wajah Rachel yang ada di hadapannya.


Cowok itu membelokan wajah, memposisikan bibirnya tepat di telinga Rachel.


"Mata lo ada beleknya, eh pipi lo merah." Bisik Alfa jahil, setelahnya cowok itu kembali menjauh sambil terkekeh.


Rachel mengepalkan tangannya kesal sambil menipiskan bibir. Gadis itu hendak mencengkram erat wajah mengesalkan di depannya, namun nahas kakinya tersandung tali sepatunya sendiri membuat tubuh Rachel limbung.


Tangan Rachel berhasil meraih bahu Alfa, tapi karena keseimbangan Alfa juga tidak stabul, maka badannya berakhir menubruk badan cowok itu.


Jatuh yang tidak estetik.


Alfa membuka matanya, cowok itu hendak meringis karena merasakan sakit di punggungnya namun terurung melihat wajah polos Rachel di atasnya.


Mata gadis itu memejam kuat dengan alis mengerut, bibirnya juga dibungkam rapat. Alfa menahan tawanya.


Saat Rachel hendak membuka matanya segera Alfa memejamkan mata dan mulai meringis.


"Sshhh... punggung gue sakit, tapi badan depan gue kok empuk ya?" ucapnya dengan raut seolah-olah tak paham. Matanya mengintip kecil melihat wajah Rachel yang memerah.


"Ih sialan mesum lo Alfa! Cari kesempatan lo ya!" Rachel buru-buru bangkit lalu menonjok-nonjok badan Alfa dengan brutal.


"Aw, sakit!"


"Mesum sialan lo suka cari kesempatan dalam kesempitan!" tuduh Rachel masih dengan menonjok-nonjok.


"Kan gue yang lo tiban!" bantah Alfa.


"Ya iya sih! Ya tetep aja lo ngeselin Alfa kampret bajingan!" Rachel bersidekap dada sambil menatap Alfa penuh kemusuhan.


Alfa menahan tawanya lalu mulai berjalan diikuti Rachel di belakangnya.


Beberapa menit keheningan melanda dan Rachel masih setia berjalan di belakang cowok itu.

__ADS_1


"Gue anterin." Ucap Alfa namun tak mendapat respon dari Rachel.


Alfa menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang membuat Rachel ikut berhenti. Rachel mendongakan kepalanya, dengan enggan gadis itu menjawab ketus, "Iya."


Setelah gadi itu mengucapkan kalimat tersebut, Alfa masih bergeming dan menatap Rachel di posisi itu, Rachel jadi risih sendiri.


"Apalagi sih?"


"Gue gak tau rumah lo."


"Ya udah jalan aja ntar di kasih tau!"


Alfa menarik tangan Rachel memastikan posisi gadis itu berada tepat di sampingnya.


"Kalo gak mau di depan, jalan di samping gue." Lalu cowok itu mulai berjalan dengan tangan yang masih memegang tangan Rachel.


"Lepas."


Alfa menoleh dan dengan cepat melepaskan genggamannya.


Mereka kembali berjalan dalam keheningan, bedanya kali ini mereka berdampingan.


Ragu-ragu Rachel membuka mulutnya lalu dikatupkan lagi. Membuka lagi lalu dikatupkan lagi, begitu saja terus seperti ikan yang kekurangan air.


Sampai akhirnya ia lelah sendiri dan memutuskan untuk mengatakannya.


"Makasih,"


Alfa menoleh.


"Makasih udah nolongin." Lanjutnya.


Alfa kembali menghadap ke depan tanpa berniat menjawab ucapan Rachel.


Mereka memutuskan untuk naik bus dengan Rachel dan Alfa yang duduk bersampingan.


Suasana awkward itu terus berlanjut sampai Rachel dan Alfa yang akhirnya tiba di depan gerbang rumah gadis itu.


Mereka saling berhadapan.


"Sekali lagi makasih."


Alfa hanya mengangguk membalasnya.


Rachel menunduk bingung memikirkan bagaimana caranya masuk dan menyuruh Alfa pergi, namun sedetik kemudian tubuhnya tersentak.


Pikirannya buyar seketika saat tangan Alfa berada di kepalanya, memberikan usapan ringan. Rachel bahkan sampai menahan nafasnya!


"Lain kali hati-hati, gue balik."


Lalu cowok itu berlalu pergi, meninggalkan Rachel yang melongo sambil meraup udara seceoat mungkin serta tangannya yang dengan cepat menyentuh dada kirinya


Gila, efek samping bersama manusia jahik yang satu itu memang gila!

__ADS_1


"Anjir, jantung gue disko!"


__ADS_2