FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 19 : Api Unggun


__ADS_3

Alfa berlari sekuat tenaga, pikirannya kacau, jantungnya berdegub kencang. Satu yang kini menjadi titik fokusnya, gadis yang sedang berada digendongannya.


Berkali-kali Alfa hampir terpeleset saking paniknya. Memasuki wilayah perkemahan, Alfa menghiraukan berbagai tatapan yang menjadikan dirinya serta gadis yang sedang terkulai lemas ini perhatian. Bodo amat, yang penting Rachel harus segera ditangani.


Sampai di tenda kesehatan Alfa segera membaringkan tubuh Rachel yang langsung segera dihampiri dokter jaga.


"Kenapa ini temannya?" tanya dokter itu sambil memeriksa keadaan Rachel.


Alfa membungkukkan badannya, nafasnya tersenggal-senggal, peluh membanjiri sekujur cowok yang habis marathon dadakan itu.


"Nih minum air dulu," petugas PMR —karena siswa itu memakai syal khas PMR— menyodorkan sebotol air pada Alfa yang langsung diteguk rakus oleh cowok itu.


Setelah mengatur pernafasannya selama beberapa detik, Alfa mulai menjelaskan kejadian demi kejadian tadi.


Dokter jaga itu tersenyum, "Kenapa bisa temennya ikut jurit malam? Kan kamu udah tau tadi sore dia sempet pingsan bahkan suhu tubuhnya 38 derajat."


"Maaf dok, saya kira dia udah mendingan. Tadi mukanya gak sepucet itu dan dia gak ada keluhan apa-apa," jawab Alfa sambil menatap gadis yang memejamkan mata cantiknya di atas matras.


"Sekarang suhu tubuhnya naik lagi," dokter jaga itu menyodorkan termometer pada Alfa.


39° C.


"Hah? Kok—"


"Mana Rachel? Mana?" teriak seseorang yang memasuki tenda kesehatan dengan brutal.


"Ca! Caca!" timpal suara lain yang menyusul Clarissa.


Mata Clarissa membola, buru-buru gadis itu mendekat ke arah Rachel. Matanya menatap Alfa tajam lalu beralih pada dokter seperti meminta penjelasan.


"Temen kamu kecapean—"


"DOK, KOK PANAS BANGET SIH?" Clarissa berteriak histeris.


"Iya, dia demam juga. Sepertinya demam ta—"


"Tadi kata dia suhunya udah baikan kok, Dok? Gimana bisa demam lagi sih? Tadi juga dia yang kasih termometernya ke saya!"


"Sabar Ca, sabar dulu," Gledis mengelus bahu Clarissa.


"Sepertinya demamnya tidak turun. Bisa jadi turun namun tak akan sedrastis itu karena tadi sore saya cek suhunya sekitar tiga puluh delapan derajat dan sekarang meningkat menjadi tiga puluh sembilan derajat, dia demam tinggi dan jika dibiarkan terus meningkat, dia bisa mengalami kejang."


"Hah? Tadi sore kok saya liat suhunya cuma tiga puluh enam koma tujuh?" alis Clarissa menaut, lalu dengan cepat gadis itu menatap kesal pada Tasya yang memandang takut padanya.


"Sorry, gue bantuin Rachel aja. Kasian dia pengen... Ikut," cicit Tasya di akhir kalimat.


"Liat noh sampe sakit Rachelnya Tasya, ah lo mah!"


"Saya akan meminta PMR untuk memberikan obatnya, nanti saya cari dulu ya. Kalo gitu saya keluar dulu," Dokter jaga itu tersenyum dan keluar meninggalkan ruangan.


"Makasih, Dok!" ucap Clarissa yang dibalas ringisan.


Bukan, dokter jaga itu tak meringis.


Tapi gadis cantik yang tadi menjelma menjadi putri tidur kini sudah memutuskan untuk membuka matanya sambil meringis merasakan pusing di kepalanya. Nafasnya juga terasa panas.


"Duh, istirahat dulu Chel," Clarissa hendak menyentuh bahu Rachel namun gadis itu menggeleng.


"Gue pengen duduk."


Clarissa mengangguk. Baru saja Clarissa akan mendaratkan bokongnya di lantai, suara Kenan beserta Gara dan Geri dari depan tenda membuatnya menghentikan pergerakannya.


"CA? ADA CACA GAK DI DALEM?"


"BERISIK JAMAL!"


"TAU ANJIR DIKIRA NI KEMAHAN PUNYA BUYUT LO?"


"BERISIK KEMBARA KEMBAR NAKAL!"


"LU KATE GUE SAMA DIA UPIN IPIN APA?"


"DUH MANA SIH MY HONEY BUNNY SWEETY CACA?"


"SWEETY SWEETY! LU KATE SI CACA MERK POPOK BAYI APA?"


"NAJIS TAKUJIS KUJIS, BUCINNYA NGEBEGOIN UMAT!"


"AH BACOT BANGET SIH NI DUA TUYUL MANA NGINTILIN GUE TERIS, CABUT SANA! GUE LAGI NYARI AYANG CACA! CA! KEMANA SIH?"


Clarissa membulatkan matanya, ngapain lagi tuh upin, ipin, apin ada di depan tenda kesehatan. Mana ngerusuh lagi. Dengan wajah tak enak, Clarissa menatap Rachel sejenak yang langsung mendapat anggukan gadis itu. Segera Clarissa menarik tangan Gledis dan Tasya untuk keluar.


"Gue urus trio macan dulu, tar balik lagi!" teriak gadis itu sebelum benar-benar keluar tenda.


Bersamaan dengan keluarnya Clarissa dan kawan-kawan, seorang petugas PMR masuk sambil memberikan kantong plastik yang berisi obat. Dengan sigap Alfa menerima sodoran tersebut, tak lupa mengucapkan terima kasih.


Rachel memejamkan matanya erat, rasa pusing itu tak kunjung hilang. Benar-benar mengganggunya.

__ADS_1


Tak lama Rachel merasakan sebuah benda dingin tertempel di keningnya.


"Lagi?" tanya gadis itu sambil membuka matanya.


"Kali ini lo panas banget. Udah makan belom lo?"


"Udah tadi sebelum berangkat."


"Minum obat dulu nih, biar cepet sembuh juga."


Dengan ogah-ogahan Rachel meminum obat-obat pahit itu dibantu oleh Alfa.


Rachel kembali membaringkan tubuhnya.


"Gue mau tidur."


"Yaudah tinggal tidur."


Rachel mendengus, gadis itu kembali memejamkan matanya namun rasanya sangat panas!


Badannya pegal, kepalanya pusing, nafasnya panas, matanya juga terasa panas.


Rachel membalikkan tubuhnya ke sana-ke mari untuk mencari posisi nyaman namun tetap saja tak ia temukan. Tapi harus bagaimana lagi, gadis itu sudah ngantuk berat, sepertinya ini efek obat yang ia minum barusan juga.


Beberapa menit kemudian Rachel menyerah, ia tak bisa menemukan posisi nyaman jadi ia paksakan saja yang penting tidur.


Dan entah bagaimana bisa di dalam mimpinya, tubuh Rachel didekap erat diikuti suara berat nan serak yang mengalun merdu membelai telinganya.


"Cepet sembuh."


***


Hari kedua camping, seluruh siswa Swarna disibukan dengan serangkaian acara kegiatan yang sudah pasti tak ada sangkut pautnya dengan mata pelajaran karena camping kali ini bertujuan untuk menjernihkan pikiran para siswa dari penatnya masa-masa belajar.


Memasak bersama, memainkan beberapa permainan, juga masih banyak hal lainnya.


Tak terasa sore hari telah tiba, seluruh siswa memutuskan untuk pergi ke air terjun di dekat camp dan bermain-main disana.


Sebagian besar yang terjun adalah siswa laki-laki sedangkan yang perempuan sibuk bergibah ria dibatu-batu pinggiran air, berfoto ria dengan latar sunset, dan yang lainnya terjun bermain air.


Rachel, Clarissa, Gina, Tasya, dan Gledis memutuskan untuk duduk di pinggiran batu sambil sesekali bercerita ria.


"Nih Chel, syal lo tuh diginiin biar lo gak kedinginan. Lo kan baru mendingan, belum sembuh total." Clarissa membelit leher Rachel sepenuhnya dengan syal.


"Iya-iya."


"Eh foto yuk, kayaknya bagus deh!" ajak Gina sambil mengarahkan kamera ke berbagai arah mencari latar yang bagus.


"Kuy!"


Mereka serempak berjalan menuju ke bagian pohon-pohon yang disinari cahaya jingga.


Dengan iseng, Gina mengarahkan kameranya pada Rachel, "Chel, sini coba liat sini!"


Rachel menoleh sambil tersenyum.


Cekrek!


"Anjay gurinjay takanjay-kanjay, orang cakep mah ya cakep aja ya kalo difoto. Background gak ngaruh!" komentar Gina sambil melihat hasil fotonya.


"Mana mau liat!" heboh Clarissa yang membuat Tasya dan Gledis ikut penasaran.


"Cakep ih, Chel!"


Rachel menampilkan wajah meledek 'nyenyenye', setelahnya gadis itu berkata, "Dah ayo foto, ntar keburu ilang golden hournya!"


***


Kayu bakar ditumpuk tinggi-tinggi karena akan diadakan api unggun beserta pensi dari setiap kelas. Seluruh siswa menatap kagum saat di mana api itu dinyalakan, kobaran merah bercampur oranye itu memuncak tinggi. Rasa hangat langsung menyirnakan dinginnya malam.


"Akhirnya kita sampe dipuncak acara, sekaligus kegiatan penutup. Gue mau tanya, gimana acara camping kali ini? Seru gak?" tanya MC yang berdiri ditengah itu sambil mengacungkan micnya.


"SERUUU!"


"SERU WOELAH!"


"SERU! BOLEH NAMBAH HARI GAK SIH?"


"Wih keren dong kalo seru, tujuan acara ini sukses! Btw gak usah banyak cincong lah ya. Kita bakal lanjut ke acara yang selanjutnya yaitu pentas seni!"


"Gue udah bilang kan ke ketua kelas masing-masing buat jangan lupa nyiapin perwakilan kelas yang bakal tampil di sini. Okay? Yaudah cus kita mulai!"


"Karena kita pake sistem acak, jadi ayo kita sambut dan beri tepukan meriah buat kelas sebelas IPA limaaa!"


Riuh tepuk tangan mengiringi kedatangan empat orang yang masing-masingnya membawa galon, gitar, dan kecrekan. Hanya satu orang yang tak membawa apa-apa.


"Haloha warga Swarna! Gue Viki dan tiga curut di belakang gue ini bakal ngewakilin kelas kita buat pensi! Kita bakal nyanyiin lagu diiringi perabotan seadanya biar kece ya kan. Okay langsung aja, beri tepuk tangan dong buat gue dan teman-teman gue yang tampan dan berani ini!"

__ADS_1


Semua orang tertawa sambil memberikan tepuk tangan, Viki memang termasuk cogan apalagi cowok itu memiliki sifat humble.


Rachel terkekeh, cukup terhibur dengan pembukaan yang dibawakan oleh Viki. Tak lama pundaknya ditepuk membuat gadis itu menoleh.


"Kita bakal bawain lagu Akhir Tak Bahagia punya Misellia, jadi ayo nyanyi sama-sama ya?"


"OKEEE VIKI!"


"AHSIAAAP"


"GAS NGENG!"


Clarissa menunjukkan deretan giginya saat Rachel menoleh, "Lo dipanggil dokter jaga, disuruh ke tenda kesehatan."


Rachel mengangguk.


'Malam ini bintang mengingatkanku padamu..'


Rachel beranjak dari tempatnya duduk, gadis itu menepuk-nepuk bokongnya memastikan tak ada bekas tanah menempel di celananya.


Baru saja melangkah, matanya menangkap sosok tampan yang juga berjalan santai searah dengannya.


Bibir Rachel menyunggingkan senyuman kecil.


'Indah terang, seperti matamu yang selalu ku pandang..'


Rachel menautkan jemarinya, ia mengekor berjalan di belakang Alfa. Tak terlalu dekat tak pula terlalu jauh, sekiranya jarak mereka hanya terpisah lima langkah.


Dari sini, Rachel melihat cowok di depannya itu mengangguk saat disapa oleh siswa lain. Bahkan sesekali Alfa balas menyapa atau tertawa dengan guyonan yang dilemparkan padanya.


'Lembut tutur katamu, merdu tawamu, parasmu yang menawan..'


Namun, badan Rachel ditubruk seseorang. Gadis itu terkejut bukan main.


"Aduh, maaf ya maaf. Gue buru-buru banget soalnya, maaf ya," ucap gadis asing memakai kalung kepanitiaan itu. Rachel mengangguk dan kembali melihat ke depan, namun Alfa sudah tidak ada dalam jangkauan pandangnya.


Mata Rachel menelisik sekitar, kakinya berjalan lambat memastikan agar dirinya harus melihat sedetail mungkin.


'Buat diriku tak bisa lupa..'


Rachel tak sadar, dirinya sampai di penghujung wilayah perkemahan. Ia masih penasaran ke mana perginya cowok itu.


Rachel terus saja mencari, sampai tak lama terdengar suara di balik pohon.


Rachel memastikannya, namun benar seperti ada suara percakapan.


Dengan pelan Rachel menghampiri pohon itu. Selangkah, dua langkah, tiga langkah dan suara itu makin jelas terdengar.


Namun sedetik setelahnya hanya suara jangkrik yang tersisa. Rachel menautkan alisnya, dan dengan penasaran ia melihat apa yang seharusnya tak ia lihat.


'Dari banyaknya insan didunia..'


Dikursi taman itu,


Alfa sedang menautkan bibirnya dengan perempuan berambut pendek.


Maudya Gladiesta.


'Mengapa dirimu yang aku sangka..'


Hati Rachel mencelos, tangannya yang terkepal mengeluarkan keringat, tak lupa mata gadis itu memanas seiring dengan apa yang terjadi di depan sana.


'Bisa temani hari-hariku yang tak selalu indah..'


Isakan kecil itu memaksa ingin keluar, getaran tubuhnya bahkan tak bisa Rachel kendalikan. Pikirannya blank total.


'Walau kita tak bisa bersama..'


Rachel membekap mulutnya, dengan segera gadis itu berlari meninggalkan tempat itu.


Isakan pilu keluar diiringi rasa sesak yang makin menjalar memenuhi dadanya.


Tidak, ini salah.


Memangnya kenapa jika Alfa berciuman dengan Maudy?


Maudy itu pacar Alfa, jadi kenapa Rachel harus tidak terima begini?


Kenapa?


"Chel, kenapa?" tanya Renaldi bingung saat melihat Rachel berlari dengan keadaan kacau parah. Belum lagi gadis itu bergetar hebat, nafasnya pun tak beraturan.


Tubuh Rachel ambruk setelah dirinya menempatkan diri pada pelukan Renaldi. Refleks Renaldi balas memeluk Rachel erat. Memberikan dekapan hangat agar gadis itu tak merasa hancur sendirian.


Karena saat di mana Renaldi melihat Rachel hancur.


Saat itu pula dirinya hancur.

__ADS_1


"Re..." lirih Rachel.


'Dipertemukan semesta walau berakhir tak bahagia..'


__ADS_2