
Rutinitas harian Rachel beberapa hari belakangan ini adalah menangis.
Alasan mengapa ia rajin menangis tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah karena oknum bernama Ryan Alfa Gelbardi.
"Chel, udah, mata lo bengkak nanti," ucap Gina sambil menatap iba pada Rachel yang masih terus menangis di atas kasur.
"Sakit banget, Na... Gue gak bisa kembali suka ke dia karena gue sakit hati sama ucapannya. Tapi gue juga sakit ngabaiin dia. Galau berat gue!" Rachel merengek dengan suara bindeng khas orang menangis.
Jujur saja, Rachel sakit hati dengan segala ucapan Alfa. Okay, mungkin hal yang pastinya adalah perempuan mana yang tidak sakit hati dijadikan pelampiasan serta gadis yang didekati karena rasa penasaran saja?
Gina beranjak dari kursinya untuk berjalan ke kasur mendekati Rachel. Tangan Gina terulur mengusap surai cokelat panjang milik Rachel.
"Suka sama orang secara sepihak emang nyakitin ya?"
Pertanyaan yang Gina lontarkan berhasil menghentikan isakan Rachel. Perlahan Rachel mendongakkan kepalanya menatap pada Gina, sedangkan yang ditatap sedang tersenyum dengan pandangan kosong ke arah jendela kamar yang menampilkan gumpalan awan mendung di sore hari ini.
"Karena kalo lo udah mutusin buat jatuh hati, lo juga harus siap sama jatuhnya. Meskipun lo tau kalo lo mungkin gak bakal bisa dapetin hatinya," lanjutnya seraya menunduk, tangannya ia gunakan untuk mengusap kepala Rachel.
Gina menghela nafas pelan.
"Kedengerannya gak adil emang, kita bucin abis tapi dianya kayak orang goblok yang pura-pura gak peka atau mungkin emang goblok beneran? Tapi terlepas dari itu, suka itu hak kita sendiri, Chel. Cuma kita yang bisa nentuin kita mau suka dia atau nggak. Tapi kalo keputusan tentang dia suka sama kita balik atau nggak," suara Gina merendah.
"Itu hak dia."
Setelah mendengar hal tersebut, Rachel segera memposisikan dirinya untuk duduk dan memeluk erat tubuh Gina.
Ternyata tidak hanya awan yang menitikan air sore hari ini, tetapi Rachel juga.
"Gue tau rasanya. Rasanya suka sama orang yang suka sama orang lain. Gue... Sangat tau." Suara Gina terdengar bergetar, sedangkan Rachel sudah kembali menangis.
Gina melerai pelukannya, kini tangan Gina beralih menepuk-nepuk pelan kepala Rachel.
"Gak apa-apa, Chel, mau lo move on atau milih buat masih suka itu hak lo, keputusan lo. Jangan paksain sesuatu yang udah lama kejalin di hati lo. Kalo tiba-tiba lo putusin gitu aja, bukannya move on malah jadi makin kepikiran kan? Galau gak jelas dengan hati yang bilang kangen tapi logika mati-matian bilang move on. Diri lo jadi gak sinkron."
"Tapi menurut gue, baiknya emang lo selesain aja perasaan lo ini pelan-pelan. Lo harus mulai liat ke sekitar lo, ada yang sayang sama lo dan care sama lo. Cinta itu dua arah, dan menurut gue, lebih baik dicintai daripada mencintai. Kalo lo mencintai resikonya ya orang yang lo cintai belum tentu punya rasa yang sama. Kalo lo dicintai, lo hanya perlu pelan-pelan terbuka dan coba jalani."
Rachel masih menangis dengan mata yang ditutupi kedua punggung tangannya, sedangkan kepalanya mengangguk-angguk.
Tak lama Gina tertawa, ngakak sendiri mendengar ucapan bijaknya. Belum lagi melihat Rachel menangis sesegukan bagai bocah kehilangan mainannya.
"Dasar bayi!"
Seketika Rachel menghentikan isakannya dan menatap kesal pada Gina.
"Gue bukan bayi!"
Gina memasang raut mengejek, "Nangis kayak bocil gitu gak mau dibilang bayik, gimana sih?"
"Lo juga nangis, anjrit!"
"Mana ada!"
Jari telunjuk Rachel terarah ke bola mata Gina, "Mata lo merah ye, anj!"
Gina mengalihkan tatapannya, "Bukan nangis ini anjir, ini berarti alarm mata gue buat segera keluar dan nyari cogan buat cuci mata!" elaknya.
"Mana ada begitu!"
"Ada! Nih gue, makanya ayo keluar! Sepet gue nih kelamaan dalem rumah."
Senyum Rachel terkembang seketika. Dengan heboh Rachel ngacir ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara teriakan Rachel diikuti rengekannya saat keluar dari kamar mandi.
"GINA, MATA GUE BENGKAK BANGET GIMANA DONG! ADUH CONCELAR MANA SIH CONCELAR? GINAAA! BANTUIN GUE!"
***
Gina dan Rachel benar-benar menghabiskan waktu mereka untuk jalan-jalan, shopping, dan yang paling penting adalah cuci mata melihat cogan-cogan berseliweran.
Kini mereka berdua sedang berada di restauran sushi yang ada di mall. Tempat duduk mereka juga di dekat jendela yang langsung menghadap ke luar. Beberapa pejalan kaki tampan cukup membuat energi Rachel dan Gina yang sebelumnya terkuras kembali terisi.
"Gue baru sadar ternyata banyak juga cowok ganteng di Indonesia!" Rachel berdecak kagum.
"Karena mata lo kemarin-kemarin buta, isinya Alfa doang." Jawab Gina enteng yang langsung membuat Rachel menipiskan bibirnya.
Ya emang sih bener. Tapi gak sefrontal itu juga!
"Gak usah bikin mood gue makan sushi ilang deh," Rachel kembali melahap satu sushi.
"Nyenyenye," ledek Gina yang membuat Rachel menyeruput minumannya dengan kesal.
Rachel kembali melihat ke luar, ada cogan lagi tapi kali ini si cogan sepertinya sudah mempunyai gandengan. Terbukti dari tangannya yang saling menggenggam dengan tangan cewek di sebelahnya. Mereka terlihat sangat bahagia, sesekali bahkan si cewek tertawa dan si cowok ikut tertawa.
Tatapan mata cowok itu terpaku hanya pada si cewek, seakan si cowok mengatakan lewat tatapan bahwa cewek itu lah pusat dunianya.
Rachel iri.
"Kayaknya idup gue genrenya bukan romance deh ya, Na?" tanya Rachel sambil kembali melahap sushi.
"Lo kira kita ini ada di dunia film apa? Segala ada genrenya. Ngaco banget deh omongan jomblo."
"Lo juga jomblo ye, ngaca!"
Gina menelan makanannya sebelum menjawab, "Gue emang cantik, makasih."
Setelah makanan mereka berdua habis, Rachel dan Gina beranjak dan memilih pergi ke pasar malam yang diadakan di dekat mall.
Mata Rachel berbinar, pemandangan pasar malam sangat indah karena banyak lampu kelap-kelip di sana.
Gina menyentuh tangan Rachel, "Gue mau ke toilet dulu, kebelet. Lo tunggu aja di kursi yang ono ya?" ucapan Gina yang langsunh mendapatkan anggukan setuju dari Rachel.
Saat Gina pergi, Rachel memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum pergi ke kursi yang Gina tunjuk tadi.
Matanya mengerjap berbinar mengagumi suasana pasar malam yang dikelilingi lampu gantung berwarna-warni. Ah, sudah lama Rachel tidak ke pasar malam!
"Rachel?"
Tubuh Rachel menegang saat mendengar suara bernada berat itu memanggil namanya.
Suara dari orang yang sangat tidak ingin ia temui saat ini.
Rachel berbalik, ia mendongak untuk dapat menatap wajah dari cowok bertubuh tinggi menjulang bagai tiang bendera itu.
Beberapa saat mereka hanya saling menatap dan hal tersebut membuat Rachel sedikit jengah.
"Sorry, gue si—"
"Tunggu, gue mau ngomong!" potong Alfa cepat.
Raut penyesalan sangat tergambar di sana.
Tapi rasanya percuma karena rasa sakit selalu muncul tiap kali Rachel melihat wajah laki-laki di hadapannya itu.
__ADS_1
"Chel, gue minta maaf. Gue serius dengan apa yang gue ucapin kemarin atau pun sekarang. Gue menyesal dengan kebodohan dan perkataan gue yang kasar waktu itu. Lo boleh maki-maki gue sekarang, Chel! Lo boleh marah-marah balik ke gue karena gue emang pantes dapetin itu."
Alfa mendekatkan diri pada Rachel.
"Tapi gue serius, serius dengan apa yang gue katakan secara sadar hari ini. Gue minta maaf, gue sangat minta maaf, Chel..."
Mata Rachel menyorot nyalang pada Alfa. Cih, minta maaf katanya?
"Chel... Gue benar-benar minta maaf. Gue emang goblok, gue emang tolol dan kesalahan gue benar-benar sulit untuk ditoleransi. Tapi gue bener-bener minta maaf, Chel ..."
"Gue minta maaf..." Suara berat Alfa kini terdengar lirih.
Sedangkan Rachel masih setia dengan kebungkamannya.
Alfa menunduk, ucapan brengseknya yang waktu itu terlontar kini saling bersahutan dengan ucapan Maudy beberapa waktu lalu.
Pikiran Alfa berkecamuk. Segala rasa aneh kembali bermunculan seperti penyesalan dan rasa sakit karena gadis di hadapannya terlihat begitu membencinya.
Rachel terlihat sangat membenci Alfa.
"Gue gak pernah benar-benar menjadikan lo pelampiasan, Chel."
"Dia bener, gue gak pernah menjadikan lo pelampiasan." Kini Alfa mendongak, menatap pada Rachel yang masih terlihat marah.
"Gue... Gue brengsek. Gue emang brengsek! Gue gak pernah jadiin lo pelampiasan, Chel... Gue bohong! Gue bohong waktu itu sama Maudy."
Tubuh Rachel menegang kaku saat melihat mata Alfa yang memerah. Cowok itu terlihat sangat frustasi.
"Gue emang tolol. Lo gak pernah jadi pelampiasan gue! Ini murni kesalahan gue setelah terlalu banyak denial."
"Dari awal—" suara Alfa tertahan sejenak.
"Dari awal kepindahan lo, gue ngerasa kalo gue tertarik sama lo."
"Lo unik. Sorry, cara gue dengan ngomong seenaknya kayak kemarin emang beneran brengsek. Lo pantes marah sama gue. Tapi, gue gak bakal capek buat selalu bilang maaf ke lo."
"Gue minta maaf, Chel."
Tubuh Rachel bergetar hebat, seketika tangisnya pecah setelah mendengar segala pengakuan dari Alfa barusan.
Rachel tidak tau harus merespon bagaimana.
"Chel—"
Tangan Rachel refleks terulur mengisyaratkan jika Alfa tidak boleh mendekat ke arahnya. Setelah menganbil beberapa waktu untuk bernafas dan mengendalikan dirinya, gadis itu kembali menatap Alfa.
"Sorry, gue belum bisa maafin lo sepenuhnya."
Dengan cepat Alfa menggelengkan kepalanya seperti anak kecil, "Gapapa, gue akan terus minta maaf sama lo sampai lo mau maafin gue."
Rachel mengangguk-angguk saja, tenaganya sudah terkuras habis. Rachel lelah dan ingin pulang, otak dan hatinya sedang tidak sinkron, sangat berisik.
"Makasih udah mau kasih orang brengsek kayak gue kesempatan maaf dari lo," ucap Alfa dengan tulus.
"Hm."
Ah, sepertinya Rachel sudah tidak nyaman dengan keberadaan Alfa.
"Kalo gitu, gue pergi ya?"
Rachel kembali mengangguk sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Makasih dan maaf Rachel."
Setelah kalimat penutup tersebut, Alfa segera berlalu meninggalkan Rachel yang masih termenung di tempatnya.