FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 23 : Galau(?)


__ADS_3

Seharusnya Alfa bisa menerima konsekuensi dari perbuatannya. Ya betul, sebuah konsekuensi di mana Rachel menjauhinya.


Seperti saat pagi hari ini, tanpa laki-laki itu sadari sebenarnya Alfa memiliki sebuah kebiasaan di mana dirinya akan selalu menyempatkan diri untuk menatap Rachel sebelum mendudukkan diri di kursinya dan sebagai balasan dari tatapannya, gadis itu akan mengejeknya dengan memeletkan lidah atau pun memasang raut aneh lainnya dengan rona merah yang menghiasi pipi tirusnya.


Namun kini semua itu hanya sebatas ingatan, pada kenyataannya sudah satu minggu ini Alfa tak mendapatkan kembali hal- hal tersebut.


Gadis itu bahkan tak pernah menatapnya usai kejadian yang Alfa akui benar-benar murni kesalahannya.


Begitu juga saat piket atau kerja kelompok, Rachel tak pernah mengucapkan sepatah kata pun padanya. Gadis itu juga dengan mudah melewatinya seolah Alfa bukan lah sesuatu hal yang harus di hiraukan.


Boro-boro berbicara padanya, sepertinya untuk menatap bayangan Alfa pun Rachel enggan.


Dan hal itu cukup menyentil perasaan Alfa.


Rasa sakit dan menyesal sudah memenuhi hati laki-laki itu.


Dan ada satu perasaan yang tak bisa Alfa jelaskan yang turut hadir untuk menambah sayatan di sana.


Alfa sungguh ingin mengucapkan permintaan maaf pada gadis itu.


Rasanya hati Alfa tidak tenang melihat Rachel yang begitu totalitas menjauhinya.


Sial, Alfa membenci situasi ini karena dirinya tidak tau harus berbuat apa.


"Fa, jadi latihan kan lo nanti?" tepukan tangan di bahunya membuat Alfa segera menyadarkan diri dari lamunannya.


Ternyata Gara yang bertanya.


"Hm? Oh, iya."


"Bawa baju basket gak lo?" kini giliran Geri, si tengil kembarannya Gara yang bertanya.


"Ada di loker."


"Punya gue juga mau taro di loker ah~"


"Eh, mobile legends ganti season ya? Aduh rank gue nurun dong!"


"Hah yang bener anjir? Waduh gue baru—"


Alih-alih berfokus pada obrolan si kembar yang membicarakan mobile legends, Alfa justru lebih tertarik untuk mengalihkan pandangannya pada gadis bersurai cokelat di depan sana yang sedang menghapus spidol di papan tulis sambil bercengkrama dengan temannya.


Namun tak lama dari itu Rachel menaruh penghapus papan tulis dan melangkah keluar kelas sendirian.


Alfa sontak menegakan tubuhnya.


"Gue cabut!" ucapnya sambil menepuk bahu Kenan yang baru saja datang sambil membawa sebotol air mineral.


Kenan melempar tatapan tanya pada si kembar yang justru turut menggeleng bersamaan menandakan mereka tak tahu.


***


Sebenarnya Alfa tak begitu tahu kemana gadis di depannya ini akan berjalan. Namun seiring langkah mereka, ia pun sadar, ini merupakan jalan pintas menuju gedung Bahasa.


Dan di depan sana, Alfa melihat manusia itu, sosok yang sangat tidak disukainya sedang tersenyum dari kejauhan pada Rachel.


Laki-laki itu, Renaldi dari jurusan Bahasa.


Tidak akan Alfa biarkan mereka bertemu, sekarang adalah kesempatan Alfa untuk dapat berbicara dengan Rachel.

__ADS_1


Dengan segera Alfa berlari cepat menyalip langkah Rachel yang langsung membuat gadis itu terkejut dengan keberadaannya, apalagi pergelangan tangan Rachel sudah dipegang erat oleh cowok yang sedang ngos-ngosan di hadapannya ini.


Mata Rachel membulat, dalam keterkejutannya, terlintas kejadian beberapa waktu lalu.


Kejadian menyakitkan yang membuat Rachel dengan cepat menghempaskan tangan Alfa sambil menatap cowok itu nyalang.


"Minggir." Suara Rachel terdengar dingin.


"Eh, gue minta waktu lo sebentar! Gue— gue mau bilang—" sial, ucapan yang siap meluncur itu tersangkut di tenggorokan.


"A— itu,"


"Tuli lo? Minggir."


Tak ingin kehilangan kesempatan, Alfa kembali meraih pergelangan tangan Rachel.


"Chel, gue—"


BRUGH


"Budeg lo? Dia bilang minggir, bangsat! Ngerti bahasa manusia gak sih, lo?" tubuh tegap Renaldi kini menjadi penghalang antara Rachel dan Alfa. Rachel bahkan benar-benar menyembunyikan tubuhnya di belakang sahabatnya itu membuat perasaan Alfa semakin campur aduk.


Sebegitu tak sudinya Rachel untuk menemui Alfa?


"Gue gak ada urusan sama lo." Sinis Alfa.


"Urusan Kinanti berarti urusan gue juga."


Panggilan sialan itu, ah kemarahan Alfa rasanya sudah di ubun-ubun.


"Bacot!"


Peduli setan, Alfa kembali menatap pada Rachel yang menunduk.


"Chel, please. Gue mau ngomong sama—"


"Mau apa sih? Lo mau ngomong apa?" tanya Rachel sambil terus menunduk.


"Mau ngomong kalo gue pelampiasan lo sambil teriak biar seluruh dunia tau... biar seluruh dunia tau kalo gue gadis tolol yang bisa-bisanya suka sama manusia brengsek kayak lo?"


Alfa terkejut mendengar tiap kata yang meluncur dari bibir gadis itu. Rasa bersalah secara bertubi-tubi menghantam tubuhnya tanpa ampun.


"Chel—"


"BERHENTI PANGGIL NAMA GUE! GUE BENCI SAAT LO MANGGIL NAMA GUE!" teriak Rachel penuh amarah.


Renaldi dan Alfa terkejut. Bahkan beberapa orang mulai berbisik-bisik sambil memandangi keributan yang ada di lorong persimpangan gedung kelas IPA dan Bahasa.


"Mikir gak sih lo? Mikir gak sih kalo gue sakit hati, hah? MIKIR GAK LO, BRENGSEK!" kini Rachel memberanikan diri untuk mendongak, memperlihatkan betapa kacau dirinya.


"Gue gak mau ngomong sama lo! Gue gak mau ketemu sama lo! Gue gak mau liat lo! Karena... Karena itu bikin hati gue sakit!"


Isakan pilu Rachel mulai terdengar. Saat Renaldi melangkahkan kakinya untuk mendekat, Rachel mengisyaratkan dengan tangan bahwa sahabatnya itu cukup diam.


Dan mau tak mau Renaldi menurutinya.


"Kesalahan apa sih yang gue lakuin ke lo sampe lo ngelakuin hal bajingan itu ke gue? Salah gue apa, Alfa? HAH? SALAH GUE APA?"


Alfa membatu. Sekujur tubuhnya menegang. Otak cerdasnya seketika buntu tak memiliki solusi untuk semua ini. Hatinya sesak melihat gadis di depannya tengah menahan mati-matian isakannya, meski percuma, karena semakin ditahan justru semakin kacau keadaannya.

__ADS_1


"Lo mau tau satu fakta menarik?"


Rachel berjalan mendekat dengan wajah bersimbah air mata. Tangan gadis itu terulur mengusap lembut pipi Alfa yang langsung membuat cowok itu menahan nafas.


"Lo... Cowok terbrengsek yang pernah gue temuin."


Tepat di pipi yang baru saja Rachel elus, dengan cepat gadis itu menampar keras pipi Alfa sampai tercetak tanda merah dalam bentuk tangan di kulit cowok itu.


Setelahnya Rachel berlari pergi, meninggalkan Alfa yang mengacak rambutnya frustasi.


"ARGH! SIAL!" teriak cowok itu sampai membuat beberapa orang terkejut.


***


Gara bersiul dengan satu tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya. Sesekali matanya mengerling genit sampai membuat beberapa siswi menjerit histeris.


"Aduh, aing emang kasep pisan sampe pada teriak gitu," ucapnya yang langsung di balas geplakan kepala dari arah belakang.


Siapa lagi pelakunya jika bukan Geri?


"Ganteng doang jemput cewek dipanggang bukan digoreng!" ucapan nyeleneh itu berhasil membuat Gara melepaskan toyoran uwunya pada kembaran sintingnya yang satu ini.


Ya emang satu doang kembarannya. Satu saja sudah bikin batin Gara tersiksa. Kalo dua, Gara bisa gila.


"Lo kira kacang garuda rosta apa?"


"Hahahahahaha keren kan omongan gue? Berkonspirasi gitu ea salam dari binjai!"


"Saban hari makin gak jelas aja omongan lo, jamet tiktok!" Gara membuka pintu rooftop dan langsung mematung saat mendengar sebuah suara yang sangat familiar di hari senin.


'INDONESIA TANAH AIRKU TANAH TUMPAH DARAHKU'


'DISANA LAH AKU BERDIRI JADI PANDU IBUKU'


'INDONESIA KEBANGSAANKU BANGSA DAN TANAH AIRKU'


'MARILAH KITA BERSERU INDONESIA BERSATU!'


Gara dan Geri mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum melayangkan tatapan bingung pada Kenan yang sedang duduk dengan ponsel miring di tangannya.


"Ini lagu dari mana asalnya dah?" tanya Geri bingung.


Kenan mengedihkan dagunya ke arah Alfa yang sedang berbaring di kursi panjang sambil menutup matanya dengan sebelah tangan.


"Pas baru masuk, berasa disambut sama upacara gue. Mana kenceng banget suaranya!" ucapan Gara langsung mendapat anggukan mantap dari Geri.


"Tumben banget lo nyetel lagu kebangsaan? Habis mimpi dikejar Pak Soekarno apa gimana?" tanya Gara yang justru dijawab oleh Kenan.


"Dia kalo galau emang suka nyetel lagu-lagu nasional, bego."


"HAH?"


"Kaget kan lo? Biasanya kalo udah nyetel lagu nasional gini berarti dia lagi galau berat dan belom nemuin solusi dari masalahnya. Katanya kalo nyetel lagu nasional tuh kek bikin tenang. Aneh banget emang tu bocah anjir!"


Geri berdecak kagum, "Gila, baru nemu gue spesies yang kalo galau nyetelnya lagu nasional, anying!"


"KITA TETAP SETIA TETAP SEDIA MEMPERTAHANKAN INDONESIA! KITA TETAP SETIA TETAP SEDIA MEMBELA NEGARA KITA!" suara lantang dari Alfa langsung membuat Kenan, Gara, dan Geri melotot speechless.


"Serius, galaunya sangat berjiwa nasionalisme!"

__ADS_1


__ADS_2