FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 14 : Menarik Ulur Perasaan


__ADS_3

Hari ini kegiatan mengajar belajar di sekolah libur karena adanya tanggal merah. Memanfaatkan hal tersebut untuk pergi ke luar mungkin bukan ide yang buruk. Tetapi Rachel sepertinya tidak bisa melakukannya, atau mungkin tidak ingin?


Gadis cantik bersurai cokelat itu justru memilih bergelung di kasurnya sedari ayam berkokok sampai dengan menjelang sore hari ini. Ingatannya berkelana memutar ulang kejadian kemarin yang terus mengusiknya, dan hal tersebut tentu saja berpengaruh pada mood gadis itu yang sampai saat ini terpantau berantakan.


"CHEL, ADA RENALDI NIH NYARIIN!" teriakan Nina terdengar sampai ke seluruh penjuru rumah.


Rachel tersentak kembali pada kenyataan. Dirinya menghela nafas dan menjawab teriakan sang Mama dengan kembali berteriak.


"SURUH KE KAMAR RACHEL AJA, MA!"


Tak berselang lama, terdengar suara pintu yang dibuka. Di sana, sudah berdiri seonggok daging hidup yang kini tengah tersenyum lebar sambil mengacungkan satu kantong plastik hitam yang entah berisi apa.


"TADA! GUE BAWA DONAT!" Heboh Renaldi.


Mata Rachel yang semula mengerjap malas kini langsung berbinar-binar. Tangannya mengacung tinggi sambil turut berteriak heboh.


"AAAA, MAU-MAUUU!"


Renaldi terkekeh melihatnya, cowok itu segera memberikan plastik yang berisi satu kotak donat pada Rachel dan merebahkan diri di kasur cewek itu.


"Ah gila, enak banget! Lo selalu tau apa yang perut gue butuhkan!" Rachel tersenyum dengan mata menyipit lucu. Bibirnya terus mengunyah satu potong donat dengan krim strawberry di atasnya.


Renaldi mengulurkan tangannya mengelus surai cokelat milik Rachel.


"Perut lo kan perut karet, apapun makanannya pasti lo suka."


Rachel tertawa geli membenarkan ucapan cowok itu.


"Sial, tau banget!"


Dan tawa mereka melebur bersama.


"Ih belepotan banget si lo kalo makan, udah tujuh belas tahun juga!" Renaldi menarik selembar tisu dan mengelapnya pada pipi Rachel.


Sedangkan bocah yang diocehinnya mah bodo amat, tangannya saja sudah kembali mengambil dua buah donat, belum lagi yang sedang dikunyahnya. Tubuh Rachel terlalu sibuk.


"Lo gimana?" tanya Renaldi.


"Gimana apanya?"


"Ya kan sekarang lo dah jadi anak IPA, maksud gue kek ada cerita nggak? Tentang perbedaan dari Bahasa ke IPA atau yang lain mungkin?" Renaldi memang yang paling mengerti Rachel di antara yang lain. Cowok itu selalu bertanya kecil seperti ini. Tak jarang tiap malam Renaldi juga akan bertanya seperti 'Gimana hari ini?' padanya.


"Ya gak beda banyak. Anak-anaknya asik dan ya kayak biasanya aja sih." jawab cewek itu sekenanya.


"Kolong meja lo masih sering disumpelin makanan sama cowok-cowok?"


Rachel mengangguk, "Iya, bahkan setelah gue pindah ke IPA malah makin banyak anjir! Lo bayangin aja, tiap pagi gue bagi-bagiin tu makanan ke temen sekelas, sisanya dikresekin dibawa Gara, Geri, Brandon, Kenan balik."


"Lo tau, Re? Ada yang ngasih seplastik beras, sekotak besar susu, dua telor ayam, bahkan sampe seiket pete! makin aneh sumpah!"


Renaldi tergelak mendengarnya.


"Mereka kira gue korban banjir apa?" Rachel cemberut dengan mulut mengembung.


"Ada-ada aja!" Renaldi mengacak gemas rambut Rachel.


Nina melongokan kepalanya di pintu sambil mengetuk pelan membuat dua manusia yang asik tertawa itu menatap ke arahnya.


"Loh, ada apa, Ma?" tanya Rachel.


"Ada temenmu lagi di bawah tuh nungguin." Nina menunjukkan tangannya ke arah bawah.


"Lo ngajak Gina ke sini?" tanya Rachel yang dibalas gelengan bingung oleh Renaldi.


"Enggak, Gina ada acara jadi gak bisa maen ke sini dulu."


"Cowok, Dek, yang nunggu di bawah, siapa kamu hayo?" Nina mengerlingkan matanya jail.


"Hah? Siapa sih?" Rachel beranjak untuk mampir ke toilet kamarnya sebentar dan segera turun menuju lantai dasar.


Gadis dengan kaos putih oversize dan celana pendek setengah paha itu berlari kecil menuju teras, langkahnya melambat seiring dengan matanya yang menangkap punggung seseorang yang membelakanginya.

__ADS_1


Baunya...


"Eh, hai?" Alfa berbalik dengan mata sedikit membelalak.


Cowok itu menggaruk tengkuknya meski tak gatal. Saat mendapati Rachel yang menatapnya dengan raut bingung juga, kegugupan Alfa bertambah tiga kali lipat rasanya.


Rachel pun sama canggungnya, ia cukup heran dari mana Alfa tahu alamat rumahnya.


"Eh ayo masuk, duduk dulu," Rachel berjalan menuju ruang tamu dan mendudukkan bokongnya di kursi yang diikuti Alfa setelahnya.


"Ada apa?" tanya Rachel mendahului tanpa basa basi.


"Gue mau minta maaf soal kemarin. Maaf ninggalin lo sendiri, gue gak maksud gitu tapi kemarin Maudy bener-bener tiba-tiba dan gue gak bisa... Nolak." Alfa mengulum bibirnya, jujur Alfa takut dengan tanggapan gadis yang ada di hadapannya ini


Alfa merasa sangat bersalah.


Rachel menyunggingkan senyuman tipis, "It's okay, udah lewat juga."


"Serius gue minta maaf."


"Serius gapapa, santai aj—"


"Siapa, Chel?" suara Renaldi terdengar, cowok itu tengah menuruni tangga menuju tempat di mana Rachel dan seseorang yang tidak diketahuinya.


Namun semakin menuruni tangga, tatapan Renaldi berubah. Ternyata laki-laki menyebalkan waktu itu yang datang ke rumah Rachel.


"Eh, ini ada Alfa, Re."


Aura permusuhan menguar, baik dari pihak Renaldi maupun Alfa. Keduanya saling melempar tatapan nyalang.


"Kalian udah kenal kan ya?" Rachel menatap Alfa dan Renaldi bergantian.


Namun, Alfa dan Renaldi lebih memilih untuk sama-sama membuang muka.


"Gue bawain ini buat lo." Alfa menyodorkan sebuah plastik berisi kotak yang bertuliskan 'MARTABAK TELOR ASLI ADA BADAKNYA.'


"Eh makasih, gak usah repot-repot padahal."


Alfa menatap Renaldi sinis.


"Re... Dah sana ah. Jangan mancing ribut!" Lerai Rachel sambil mendorong kecil lengan Renaldi.


"Apaan? Gue di sini tuh mencegah kalian berduaan karena katanya kalo dibiarin berduaan tar yang ketiganya setan!"


"Iya pantes, lo setannya." Celetuk Alfa menyulut emosi Renaldi.


"Lo ngatain gue setan?"


Alfa mengusap tengkuknya seolah-olah sedang merinding, "Chel, ada yang ngomong gak ada rupanya serem gak sih?"


"BANGSAT RIBUT AJALAH KITA!"


"EH RENALDI KENAPA TERIAK-TERIAK?"


Renaldi membungkam mulutnya saat Nina menyahut ucapannya.


Alfa menyunggingkan smirknya.


'Gue menang' batin Alfa dengan wajah pongah.


Renaldi mendengus sambil mengacungkan jari tengahnya.


"HEH! Ih udah sana Re! Gak sopan ngasih middle finger! Mana teriak-teriak segala lagi! Dah ah sana!" Rachel mencubit kecil lengan Renaldi sampai ringisan cowok itu terdengar.


"Sshh, iyaiya bujet!"


Sebelum melangkah pergi Renaldi menunjuk Alfa tepat di depan wajah cowok itu.


"Awas lo ngadi-ngadi bikin Rachel kenapa-napa. Gue santet lo!" ancamnya.


"Udah sana!"

__ADS_1


Akhirnya Renaldi pergi menuju kamar Rachel meski tak rela meninggalkan cewek itu berdua dengan titisan dajal yang kini tengah meledeknya dengan tatapan yang sangat menyebalkan.


"Sorry, dia agak kasar ya tapi aslinya gak gitu kok. Emang kadang nyebelin anaknya."


"Santai."


"CHEL, TAWARIN TEMENNYA MINUM SAYANG!" teriakan Nina kembali bergema.


"IYA!" Rachel menatap Alfa, "Lo mau minum apa?"


"Air putih aja."


"Okay, bentar," Rachel beranjak pergi meninggalkan Alfa sambil menenteng martabak yang tadi dibawakan Alfa.


Beberapa saat kemudian Rachel datang membawa piring yang berisi martabak juga segelas air putih.


"Ini, gue hidangin gapapa kan?"


"Terserah lo, itu buat lo kok."


Setelahnya keadaan canggung kembali menyapa. Rachel menyodorkan toples berisi kue kering ke arah Alfa.


"Dimakan, Fa."


Alfa mengangguk, cowok itu mulai menyerongkan tubuhnya.


"Gini... Ehem," Alfa meneguk air sekali tandas untuk membasahi kerongkongannya yang entah kenapa terasa kering seperti dilanda kemarau.


"Gue... Minta maaf soal kemarin. Gue bersalah banget ke lo. Kemarin gue sempet dateng ke halte dan ternyata lo udah gak ada di sana. Gue... Khawatir."


Rachel mengulum bibirnya mendengar perkataan terakhir cowok itu. Rasa sesak mengingat kejadian kemarin kembali meluap kedasar hatinya namun, Rachel amat berterima kasih pada Renaldi yang sudah memperbaiki moodnya dengan membawa donat. Ia cukup bisa mengontrol emosinya dan rasanya pun, Rachel sudah memaafkan Alfa tentang kejadian kemarin.


Ia memakluminya, mungkin?


"Gapapa beneran deh, lo udah dua kali minta maaf," Rachel menatap Alfa seakan meyakinkan cowok itu bahwa ia bersungguh-sungguh mengucapkannya. Namun wajah serius gadis itu malah terlihat lucu di mata Alfa.


Alfa tergelak menertawakannya. Tawa lepas itu membuat Rachel yang geli mendengarnya ikut tertawa lepas padahal dia tidak tahu mereka sedang menertawakan apa.


"Gue balik." Ucap Alfa setelah meredakan tawa kecilnya.


"Oh, ayo gue anter ke depan."


"Gak pamit ke Mama lo?"


"Gak usah, Mama kalo udah di dapur gak bisa diganggu gugat."


Alfa ber-oh-ria dan berjalan keluar diikuti Rachel di belakangnya.


Sampai di depan motor Alfa, cowok itu kembali membalikkan badannya menghadap Rachel yang sedang mendongakkan kepalanya. Ia hendak berpamitan namun bibirnya justru kembali terbungkam.


Angin berhembus ringan menerbangkan beberapa helai rambut gadis di hadapannya, pancaran dari sinar jingga sore ini pun dengan sempurna menyorot wajah cantik yang tengah tersenyum itu.


Alfa benar-benar membeku, matanya terpaku dengan hati yang seolah tersihir mendengar kekehan merdu seperti mantra ajaib itu.


Rachel sedang tertawa kecil saat melihat seekor burung yang menabrak genteng rumahnya.


Nalurinya berjalan sesuai apa yang hatinya ucapkan. Seperti orang terhipnotis, Alfa melangkahkan kakinya mendekat pada Rachel yang langsung menghentikan tawanya. Gadis itu menatap bingung pada Alfa saat cowok itu menjulurkan tangannya untuk—


Membelai lembut pipi Rachel.


Semburat merah jambu terlihat jelas di wajah gadis itu, pupil matanya membesar, degup jantungnya menggila.


"Cewek kalo senyum emangnya secantik itu ya?"


"Hah?" Rachel mengerjapkan matanya bingung.


Wajah ini... Kenapa sangat menggemaskan?


"Cewek kalo blushing emang semanis ini ya?" ucapnya kembali sambil mengelus pelan pipi Rachel dengan jempolnya.


Dan sekuat apapun Rachel mengelak, ia tak bisa menampik bahwa Alfa yang akan selalu memenangkan hatinya. Gadis itu dengan senang hati akan membiarkan dirinya kembali jatuh dan terus terjatuh pada lubang yang sama di mana seluruh harapan semu berada.

__ADS_1


Melahap habis dirinya.


__ADS_2