FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 17 : Bus


__ADS_3

"Ayo, Ki! Lo lama bener dah ngapain dulu sih?" teriak Renaldi dari dalam mobil.


"Berisik dajal, liat nih lipstick gue sampe kena idung gini!" dumel Gina tak terima. Emang gak ada ahlak si Renaldi tiba-tiba teriak bikin Gina kaget!


"Bibir lo dah merah bet kek banci pengkolan, udah napa!"


Gina mendelik, "Anjing ye lo nyamain gue sama banci padahal gue cewek tulen seratus persen!"


Gina menjitak kepala Renaldi.


"Anjir sak—"


"Syuuut!" tangan Gina mencomot bibir Renaldi.


"Jangan banyak alesan, berisik!"


Setelah cewek itu melepasnya, Renaldi kembali nyelangap hendak protes namun bibirnya kembali dicomot.


"Gin—"


"Syuuut!"


Renaldi menepis tangan Gina, "Bau sambel terasi anjir tangan lo!"


Gina nyengir lebar, "Abis sarapan tadi kan pake itu sama sayur asem enak banget parah!"


Renaldi mengangguk menyetujui, "Masakan Ibu lo emang paling mantep sih."


Clarissa memutar bola matanya malas melihat perdebatan tak berfaedah dua orang itu sambil menatap ponselnya malas.


"Hai guys, sorry lama gue kelupaan naro jaket dan mama gue ribet banget," ucap Rachel yang baru datang sambil menutup pintu mobil.


"Yaudah otw aja langsung, takut ketinggalan bus."


Renaldi mengangguk dan mulai menjalankan mobil, sesekali cowok itu akan berdebat dengan cewek di sampingnya alias siapa lagi kalo bukan Gina?


"Eh kepala lo gimana, Chel?" tanya Gina sambil membalikkan badannya.


"Udah okay kok, udah gak benjol banget juga."


"Lagian nyeruduk banget sih lo, Ca, bisa-bisanya lo bikin Rachel mental."


Caca mendengus, "Gue lagi emosi, lagian udah minta maaf ke Rachel." Setelahnya cewek itu kembali mengerucutkan bibirnya.


Rachel menoleh singkat pada Clarissa, "Kenapa deh lo murung banget?"


Dengan menggebu-gebu serta diiringi wajah dramatis, Clarissa menjawab, "Kenan gak bales chat gue dari lima menit yang lalu. Ngeselin banget sih!"


Mereka yang mendengar dengan serempak menggelengkan kepala bersama. Dah lah bucin nya bikin bego.


***


"Okay, udah pada kumpul belum ini?" tanya Wakil Kepala Sekolah bagian kesiswaan di atas podium.


Semuanya serempak menjawab, "Sudah, Pak!"


"Ya, bagus kalau begitu saya mulai. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Perhatian anak-anak seluruhnya, nanti kalian akan masuk bus sesuai dengan nama serta nomor yang ada di kursi busnya ya. Sudah diatur soalnya. Dan setiap bus memiliki guru pembimbing juga ketua yang akan mengkoordinir kalian. Untuk ketua penanggung jawab di setiap bus, pastikan untuk mengabsen teman kalian saat memasuki bus ya!"


"Baik sebelum memulai perjalanan kita, mari berdoa bersama-sama agar kita bisa berangkat dengan selamat dan acara yang kita selenggarakan dilancarkan. Berdoa menurut agama dan keyakinannya masing-masing dimulai!"


Semua siswa menundukkan kepalanya serempak sampai sebuah suara mengambil alih perhatian.


"AAMIIN!"


"Berdoa selesai, tadi siapa yang bilang aamiin sangat lantang?"


Semua siswa serempak melihat ke arah Gara yang cengengesan dan mulai menaikkan sebelah tangannya.


"Saya, Pak, hehe."


"Bagus, bapak suka semangat kamu!" Pak Yanuar memberi dua jempol pada Gara.


"Ashiap, Pak, mantap!"


"Tapi, kamu doa atau kumur-kumur? Cepet banget dua detik saja sudah selesai?"


Gara kembali berteriak, "Doa, Pak! Doa bepergian saya!"


"Coba sini, ke sini di samping Bapak. Bapak pengen denger doamu yang cepet banget itu."

__ADS_1


Dengan pede Gara mengibaskan rambutnya dan berjalan ke depan. Cowok itu membusungkan dadanya sesekali mengeluarkan smirk.


"ANJAY KEMBARAN GUE TUH!" teriak Geri yang disambut sorakan heboh.


"TEMEN GUE TUH!"


"ANAK IPA SATU TUH BOS!"


Gara naik keatas podium dan mulai berdehem di mic.


"Ya, silahkan dibacakan biar temen-temen tau doanya."


Gara mengangguk dan mulai melantunkan bacaan basmalah dengan sangat lantang layaknya anak SD yang baru belajar mengaji.


"BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM!"


Cowok itu menarik nafasnya sambil terus tersenyum lebar.


"Allahuma ini a'udzubika minal hubusi walkhobaisy AAMIIN!"


Semua siswa langsung tertawa keras terbahak-bahak, doa yang dilantunkan Gara juga sangat jelas apalagi mic nya terhubung dengan speaker yang sudah pasti terdengar ke seluruh penjuru sekolah.


"Bukan kembaran gue anjir, gak tau gue gak kenal, siapa sih dia?" tanya Geri sambil menunduk.


Gara masih tercengir bodoh di depan sana.


Pak Yanuar mengusap air di sudut matanya, astaga anak didiknya ini.


"Ya, bapak baru tau ya kalo doa masuk wc juga bisa dipake buat doa bepergian," ucapnya kembali sambil tertawa.


Dan akhirnya Gara mengetahui alasan kenapa di saat semua orang tertawa keras, seluruh teman kelasnya justru malah menunduk.


Gara menggaruk tengkuknya.


Hilang sudah figur keren dari seorang Gara!


"Yasudah, langsung saja ya segera anak-anak naik ke bus masing-masing sesuai kartu yang sudah diberikan kemarin ya. Bapak tutup wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh."


Setelahnya semua murid berhamburan menuju satu titik yang sama di mana mobil bus berjajar rapi, namun Rachel masih terbingung di tempatnya.


"Chel, ayo!" cekalan tangan Clarissa terlepas, gadis mungil itu terdorong ke depan sedangkan Rachel terdorong ke arah sebaliknya.


"Eh!"


Bahu Rachel dipegang, seseorang di belakangnya ini sengaja menahan Rachel agar tak kembali terbawa arus manusia.


Hembusan nafas hangat dari manusia di belakangnya membelai telinga Rachel, setelahnya suara berat nan rendah mengalun di antara bisingnya lapangan.


"Udah sembuh?"


Tubuh Rachel menegang, suara itu terlalu bahaya untuk kesehatan jantungnya. Apalagi dengan jarak seperti ini!


Rachel melirik kanan kiri sebentar sebelum akhirnya memutuskan melangkah dan berbalik menghadap cowok itu.


"Eh, thanks ya udah nahan gue, hehe."


Alfa merogoh saku celananya lalu memberikan selebaran kecil kepada Rachel yang menatapnya bingung.


"Ini kartu lo, kemarin pas mau kasih, lo udah pulang."


"Oh, thanks lagi ya. Kalo gitu, gue duluan! Bye!"


Tanpa membiarkan Alfa membalas ucapannya, dengan segera Rachel berlari meninggalkan cowok itu agar dirinya dan kesehatan jantungnya aman.


Rachel kembali celingukan dengan nafas tak beraturan. Tak lama ia melihat sebuah tangan melambai dari balik kaca bus diikuti cengiran khas Clarissa.


***


Sepanjang perjalanan Rachel terus menekuk wajahnya.


Bagaimana tidak?


Saat ini Rachel sedang duduk bersebelahan dengan manusia yang sangat ia hindari kehadirannya.


Rachel ulangi.


DIA DUDUK BERSAMPINGAN DENGAN ALFA!


SIAPA YANG MENGATUR TEMPAT DUDUK DI SINI SIH?

__ADS_1


Berkali-kali bahkan gadis itu menghela nafas berat seolah yang tengah dilewatinya kali ini ialah sebuah hal yang sangat sulit.


Alfa melirik kecil.


"Lo gak suka duduk sama gue?"


"Hah?" Rachel sontak balas menatap cowok di sampingnya.


"Lo dari tadi ngedengus terus."


Rachel memalingkan wajahnya ke arah jendela, "Oh, gue agak pusing."


"Masih sakit?"


"Nggak."


"Terus kenapa bisa pusing?"


Gara-gara lo cakep banget hari ini bodoh mana duduk sebelahan sama gue gini lagi, gue pusing liatnya.


"Nggak kenapa-napa, gue ngantuk semalem kurang tidur kayaknya."


Bohong!


Jam 8 malem Rachel udah berkeliling di dunia kapuk kok!


Alfa mengangguk dan hening kembali melanda.


Rachel bersedekap dada sambil kembali melihat keluar jendela. Mata malasnya terus memejam beberapa kali dengan nafas yang terus ia tarik dan hembuskan. Berharap degup jantungnya tak terlalu berdebar seperti sekarang.


PLIS INI LEBAY BANGET JANTUNG RACHEL TUH!


Tak lama mata Rachel membola dengan tubuh yang kaku juga tangan yang mengepal.


Sebuah earphone yang dipasangkan oleh makhluk meresahkan di sampingnya ini menyumbat sebelah telinganya.


Dan sebuah lagu mulai terdengar.


Aku ingin dirimu..


Yang menjadi milikku..


Bersamaku mulai hari ini..


Hilang ruang untuk cinta yang lain..


"Gue suka," ucap Alfa sambil tersenyum tipis. Ternyata, earphone di sisi satunya menyumbat salah satu telinga Alfa juga.


Rachel tersedak air liurnya sendiri. Wajah gadis itu memerah!


"Eh? Lo okay?" Alfa menepuk kecil punggung Rachel.


Setelah batuknya reda, gadis itu kembali duduk dengan tegap. Bahkan posisinya sedikit mentok ke ujung.


"Apanya?"


Alfa menautkan alisnya, "Apanya yang apa?"


"Lo..." Rachel menelan ludah.


"Suka...?" setelahnya gadis itu memalingkan wajah ke arah jendela.


Kerutan berlipat di dahi Alfa memudar digantikan dengan lengkungan di mata dan bibirnya.


Alfa mendekatkan wajahnya pada Rachel sampai gadis yang tanpa sadar memundurkan kepalanya itu menipiskan bibirnya.


"Apaan sih!"


Alfa kembali tersenyum.


"Gue suka..."


Hembusan nafas dengan wangi mint itu menerpa wajah Rachel.


"Lagunya dan—"


Alfa terus mengikis jarak di antara mereka sampai tersisa satu jengkal. Mata tajamnya mengunci tepat pada manik cokelat milik Rachel.


"Pipi lo lucu ya? Perasaan tadi pagi gak ada blush on nya. Sekarang kok merah banget? Blush on nya alami gitu ya? Kapan ada blush on nya sih? Otomatis gitu ya kalo lo salting?"

__ADS_1


Dan setelah mengucapkan kalimat laknat itu, Alfa mengalami kekerasan beruntun selama perjalanan.


"RESE BANGET SIH LO ALFANJING!"


__ADS_2