FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 11 : Dia Yang Sedang Melepas Rindunya


__ADS_3

Kedatangan Maudy tentu saja bukan hanya mengejutkan warga Swarna, tetapi juga Alfa. Tadi pagi saat baru menginjak halaman parkir, tiba-tiba saja Alfa diarahkan oleh petugas TU untuk pergi ke lapangan indoor.


Awalnya Alfa kebingungan, siapakah orang yang memanggilnya sampai harus ke sana sepagi ini? Apakah Pak Gun yang memanggilnya untuk membahas turnamen basket?


Tetapi kenapa Pak Gun tidak memberitahunya lewat WhatsApp saja agar lebih mudah? Kenapa harus menyuruh orang lain untuk menemuinya?


Sambil menerka-nerka, kaki panjangnya ia langkahkan dengan cepat menuju ke tempat yang diinstruksikan petugas TU.


Segala perkiraan yang masih merambat penuh dipikiran Alfa seketika buyar saat dirinya berhadapan dengan punggung seseorang yang cukup familiar. Wangi semerbak yang sudah lama tak tercium pun segera merasuki paru-parunya membuat Alfa mengenali siapa seseorang yang ada di hadapannya.


Gadis berambut pendek itu berbalik, wajah yang 6 bulan hanya bisa dilihat di layar ponsel itu kini nyata di hadapannya.


Senyum Alfa mengembang sedetik setelah dirinya merasakan tangan gadis itu melilit badannya dengan erat.


Sangat erat sampai membuat senyum Alfa mengembang manis.


"Kangen."


Rengekan itu membuat Alfa terkekeh ringan. Tangan kekarnya merambat pelan di pinggang gadis itu, Alfa membalas pelukan Maudy.


Ya, Maudya Gladiesta.


Gadisnya. Kekasihnya.


Maudy mendongakkan kepalanya tanpa melepas pelukannya dari tubuh Alfa. Matanya berkedip-kedip lucu membuat Alfa yang melihatnya merasa gemas.


"Kamu kangen gak?" tanya gadis itu.


Alfa mengangguk kecil, tentu saja respon ringan seperti itu membuat Maudy kesal.


"Kok diem aja?"


"Kan tadi aku ngangguk?" jawab Alfa dengan alis terangkat satu.


Maudy mendengus, "Emang ngangguk itu artinya apa? Aku gak ngerti lah, kan tinggal jawab aja, iya atau nggak." Maudy kembali bertanya karena tak puas dengan jawaban kekasihnya.


Alfa kembali mendekap erat dan menaruh dagunya di atas kepala Maudy, "Kangen, Dy. Aku kangen kamu."


Maudy tersipu mendengarnya.


"Ini alesan kamu gak call aku semalem?" Alfa melonggarkan pelukannya sambil menatap Maudy yang sedang menganggukan kepalanya.


"Iyaa, surprisee! Kaget gak?"


"Kaget, seneng juga."


Setelah percakapan tersebut berakhir, mereka memutuskan untuk duduk di tribun dengan saling menautkan tangan.


Maudy mengayun-ayunkan genggaman mereka yang tentu saja membuat Alfa kembali mengembangkan senyumannya.


"Kamu tau kan aku masuk kelas akselerasi?" Ucap Maudy kembali membuka percakapan.


Alfa memusatkan seluruh atensinya pada sang kekasih, pandangannya bahkan sama sekali tak beralih.


"Aku bentar lagi lulus, Fa." Lanjut Maudy.


Merasa diperhatikan, Maudy tersenyum dan menutup mata Alfa yang terus saja melihatnya. Terlebih, laki-laki itu menopangkan dagunya sambil menatap Maudy.


Menyebalkan!


"Ih, Fa!"

__ADS_1


"Apa?"


"Jangan diliatin begitu!"


"Emang kenapa?"


"Malu tau!" Maudy mengalihkan pandangannya saat Alfa menurunkan tangan gadis itu.


"Apa sih ih udah deh jangan liatin terus!" gadis itu melotot kecil.


Bukannya takut, Alfa justru makin menatap lekat wajah Maudy yang sudah merah padam karena salah tingkah.


"Kan aku ngedengerin kamu."


"Ya udah dengerin aja, merhatiinnya ke bawah kek!"


Alfa mendekatkan wajahnya, "Masa aku liatin rumput? Padahal di depan aku ada cewek cantik."


Maudy membulatkan matanya, "Apa sih jayus banget!"


"Loh benerkan? Cantik banget sih?" Alfa kembali menatap lekat pada Maudy.


"Alfa!"


"Cantik banget astaga pacar gue!"


"Alay banget tau gak? Udah deh, Fa!"


"Ya ampun cantik banget sih!"


"Tau ah!"  setelah berkata seperti itu, Maudy bergegas melangkah pergi dengan senyum yang tertahan.


***


Pulang sekolah kali ini, Alfa bersama Maudy memutuskan untuk pulang bersama. Katanya sih melepas rindu.


Sepanjang jalan Alfa terus menggenggam erat tangan Maudy, seolah tanpa kata cowok itu menunjukkan pada orang-orang bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang tak bisa diganggu gugat.


Namun tak lama Alfa tertegun. Di depan sana Rachel sedang melihatnya dengan wajah sembab. Hatinya gelisah, perasaan tak enak itu langsung menyeruak memenuhi dadanya.


Langkah cowok itu kian melambat dan akhirnya berhenti. Maudy kebingungan terlebih saat Alfa hampir melepaskan genggaman tangan mereka, akhirnya Maudy segera mengambil tindakan.


"Fa? Kenapa berhenti?" Maudy memegang bahu cowok yang tersentak kaget itu.


Sadar jika dirinya sedang bersama Maudy, Alfa pun menggelengkan kepalanya.


"Gapapa."


"Terus kenapa berhenti?" tanya Maudy merasa janggal pada sikap Alfa, cowok itu kembali menggeleng dan melanjutkan langkahnya.


"Ayo lanjut jalan aja."


Maudy mengangguk setuju, tak menaruh curiga sedikit pun.


Namun meski telah berjalan sedikit jauh, mata Alfa tak benar-benar beralih. Ia masih terus melirik kecil pada Rachel yang juga melangkah berlawanan arah dengannya. Mungkin gadis itu sedang menuju ke kelas?


'Tapi bukannya jadwal piket dia bukan hari ini ya? Ngapain ke kelas lagi?'


"Naik bus kan?"


Suara Maudy langsung menyadarkan Alfa, cowok itu spontan mengangguk cepat.

__ADS_1


"Iya."


Tak lama berdiri di halte, bus yang ditunggu pun datang. Segera mereka menaikinya dengan Alfa yang membiarkan Maudy naik terlebih dahulu.


Maudy hendak merogoh tas mengambil earphone, namun gerakannya terhenti saat melihat Alfa yang duduk tegap dengan pandangan kosong ke arah depan.


"Fa, aku mau kamu nyender deh di bahu aku!"


Pernyataan Maudy bagai angin yang berlalu begitu saja, cowok itu tidak menggubrisnya. Menoleh pun tidak.


Seakan hanya raganya yang ada di sini menemani Maudy, sedangkan pikirannya entah pergi ke mana.


Karena merasa tak mendapat respon, Maudy pun memilih nekat untuk menarik kepala Alfa agar mendekat pada kepalanya. Alfa yang terkejut mendapat gerakan tiba-tiba itu spontan hendak kembali menegapkan tubuhnya, namun dengan segera Maudy menahan pergerakan tersebut.


"Udah gini aja, aku pengen tau apa isi pikiran pacar aku soalnya kamu ngelamun terus, siapa tau kalo gini aku jadi bisa tebak apa yang lagi kamu pikirin sampe gak denger aku ngomong." Ucap gadis itu sambil memejamkan matanya.


Alfa tertampar saat mendengar ucapan gadisnya.


Benar, Maudy adalah pacarnya.


Tidak seharusnya dia memikirkan gadis lain saat dia sedang bersama pacarnya, apalagi mereka sedang dalam kegiatan melepas rindu.


Perasaan bersalah menyeruak, Alfa melakukan kesalahan.


Sambil ikut memejamkan matanya, Alfa memegang tangan Maudy erat, memantapkan hatinya bahwa hanya Maudy satu-satunya.


"Maaf ya tadi aku gak denger, ada apa?"


***


Alfa dan Maudy benar-benar menghabiskan waktu bersama. Mereka bermain timezone, berkeliling mall tidak jelas, berkuliner ria, dan berfoto di photobox. Namun seakan belum puas, kini Maudy menuntun Alfa menuju bioskop dan menunjuk satu poster.


"Fa, nonton itu yuk!" ajak Maudy sambil menarik-narik tangan Alfa.


Alfa mengangguk dan pasrah saja saat tangannya ditarik-tarik oleh Maudy. Membiarkan Maudy memilikinya dan menghabiskan hari ini dengannya.


Setelah memesan dua tiket dan membawa popcorn juga minumannya, Maudy berjalan riang menuju ke tempat di mana Alfa sedang bermain ponsel sambil duduk menunggunya.


Maudy mencolek pipi kekasihnya yang masih menunduk itu.


Hafal akan wangi Maudy, Alfa pun mendongak dan tersenyum tipis pada gadis yang berdiri di hadapannya itu, "Udah?"


Maudy mengangguk, "Ayo, udah pada masuk!"


Tangan Alfa dililit erat oleh Maudy. Gadis itu sengaja memperlihatkan hal tersebut pada gadis-gadis di sana, menegaskan secara tak langsung bahwa Alfa adalah miliknya, hanya miliknya.


Mereka berdua duduk di kursi bioskop bagian atas. Namun terlihat wajah Maudy tertekuk kesal membuat Alfa tersenyum geli dan mencubit pelan pipi bulat itu sambil bertanya, "Kenapa?"


Cubitan itu berubah menjadi usapan halus, namun kekesalan Maudy belum mereda.


"Kenapa ganteng banget sih?" rengek Maudy sambil mengusap wajah Alfa gemas.


Alfa terkekeh, "Kenapa sih? Ada yang ganggu kamu? Atau aku ada salah?"


Maudy menggeleng kecil, "Gapapa sih, kesel aja liat mereka liatin kamu gitu."


Alfa mengelus pelan pipi gadis itu sambil terus menyunggingkan senyumnya. Baru saja Alfa hendak membalas ucapan Maudy, cowok itu harus menelan kembali semua kalimatnya saat lampu bioskop mulai diredupkan pertanda film akan diputar.


Sepanjang film berjalan, Maudy masih diam membisu dengan bibir mengerucut. Menyadari jika gadisnya sedang cemburu, Alfa pun berinisiatif mendekatkan wajahnya dan mengatakan sesuatu yang langsung membuat Maudy tersenyum malu dalam keremangan bioskop.


"I'm yours Dy, don't worry."

__ADS_1


__ADS_2