FALL TO YOU

FALL TO YOU
Chapter 20 : Putus


__ADS_3

"Please, Dy dengerin aku dulu," bujuk Alfa sambil terus memegang lengan Maudy.


"Apa lagi sih yang mau diomongin?" Maudy tetap tak ingin menatap wajah Alfa. Dirinya masih kesal karena cowok itu membentaknya kemarin.


"Aku panik, jadi gak sengaja bentak kamu. Waktu kemarin juga Rachel bener-bener drop parah makanya aku khawatir,"


Alfa menarik dagu Maudy agar gadis itu menatap Alfa sepenuhnya.


"Aku bener-bener minta maaf, aku gak bakal dengan kurang ajar bentak kamu lagi. Jangan marah ya?"


Baru saja hendak menjawab, Maudy merasakan ada pergerakan di depan sana. Suara langkah kaki itu kian mendekat, Alfa pun turut mendengarkan dan menoleh ke belakang. Namun dengan cepat Maudy menarik kepala cowok itu sampai pada bibirnya yang sengaja didaratkan pada bibir Alfa.


Tubuh Alfa menegang, apalagi gerakan tadi benar-benar dilakukan secara tiba-tiba.


Tak lama Alfa segera merilekskan tubuhnya dengan membalas Maudy.


Bibir Maudy tertarik ke atas saat melihat gadis yang berada di depan sana melihat ke arah dirinya dan Alfa.


Maudy sengaja melakukannya karena ia ingin menunjukkan bahwa,


Alfa adalah miliknya.


***


Rachel menghembuskan nafasnya kasar. Mata gadis itu sembab parah, pagi ini seluruh siswa sudah rapi berkemas meninggalkan kawasan perkemahan.


Rachel menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Gadis itu memilih duduk bersama Clarissa setelah sebelumnya Clarissa harus membujuk Kenan agar mau pindah ke belakang.


Rachel terus memandang ke arah jendela, tak sudi dirinya melihat pemandangan manusia lovey-dovey yang entah bagaimana bisa berada dalam kursi yang bersisian di depan sana di mana seharusnya ia duduk.


Rachel menyumpal telinganya dengan earphone, dinyalakannya lagu Pupus dengan volume kencang sampai Clarissa terkejut.


"Heh, budeg lo bisa-bisa kalo dengerin lagu sekenceng itu! Ampe kedengeran nih sama gue!" Clarissa menarik kabelnya namun dengan segera Rachel tepis.


"Diem."


Suara Rachel terdengar parau dan itu membuat Clarissa membiarkan Rachel larut dalam pikirannya.


Sepanjang perjalanan Rachel memilih untuk tidur. Clarissa memeriksa kening Rachel dan segera merogoh tasnya mencari pai-pai fever. Suhu tubuh Rachel terasa lebih hangat daripada biasanya.


Saat Clarissa hendak menempelkannya, seseorang berjalan melewati kursinya dan Rachel dengan langkah lambat. Clarissa mendongak, matanya menatap tajam ke arah Alfa yang sedang menatap Rachel dengan raut yang tak dapat dijelaskan.


"Apa lo liat-liat?" tanya Clarissa galak yang tak dipedulikan Alfa. Cowok itu berlalu begitu saja membuat Clarissa gedeg sendiri.


Rachel menggeliat, tangannya mengucek sebelah mata sambil menguap. "Udah sampe belum?"


Clarissa menyodorkan sebotol air putih, "Belum, tidur lagi aja. Eh, lo laper gak?" tanya Clarissa sambil menyodorkan roti.


Rachel menggeleng, "Mau pipis," ucap gadis itu yang mendapat anggukan dari Clarissa.


Bus yang membawa mereka memang memiliki toilet kecil.


"Mau dianter?"


"Nggak usah, cuma tinggal ke belakang."


Rachel segera berjalan keluar dari kursi. Wajah gadis itu pucat pasi, sepanjang dirinya melewati kursi, banyak temannya yang menawarkan bantuan antar ataupun sekedar mengucapkan 'Cepat sembuh Rachel!' ada pula yang ditambah embel-embel 'Cantik' diakhir kalimatnya.


Rachel tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Bersyukur masih banyak orang yang peduli terhadapnya.


Dua langkah lagi Rachel sampai, namun langkahnya harus terhenti saat dirinya berhadapan dengan cowok yang menatapnya intens. Tangan cowok itu dimasukkan kedalam saku celana yang entah fungsinya untuk apa.


Rachel berjalan ke pinggir namun kalimat yang berhembus pelan bagai angin di dekat telinganya membuat pergerakan gadis itu terhenti.


"Cepet sembuh."

__ADS_1


Rachel berbalik menatap kepergian Alfa lalu beralih menatap pada sekotak susu yang ada digenggamannya.


Terdapat sticky note di sana,


'Get well soon.'


***


Akibat kelelahan, Rachel harus melakukan istirahat total selama tiga hari penuh. Dan akhirnya hari ini, Rachel mulai kembali diperbolehkan masuk sekolah. Ibunya terus saja mewanti-wanti Rachel agar tidak telat makan dan minum obat. Bahkan Rachel tak diizinkan mengikuti kegiatan lain setelah sekolah berakhir.


"Nanti kalo pusing bilang ke Caca ya? Izin ke guru kamu terus tidur aja di UKS. Kalo emang beneran gak kuat ka-"


"Ma, aku bukan anak umur tiga tahun. Aku ngerti kok apa yang harus aku lakuin."


"Yaudah, harus inget pesen mama ya?" wanita paruh baya itu terlihat berbalik, "PAK TRISNA, BAWA MOBILNYA HATI-HATI YA?" teriaknya yang dibalas acungan jempol oleh seseorang yang sedang memanaskan mobil itu.


Rachel menyalimi tangan Ibunya, setelahnya cewek itu bergerak memasuki mobil yang perlahan meninggalkan halaman rumah besar itu.


Sekitar 15 menit kemudian, mobil silver itu berhenti di depan gerbang SMA Swarna. Terlihat di sana siswa dan siswi tengah berbondong-bondong masuk ke dalam. Ada yang menggunakan motor, mobil, atau pun berjalan kaki.


"Pak aku turun ya, makasih, Pak Trisna!" ucap Rachel sambil mulai menutup pintu mobil.


"Iya Non, hati-hati."


Kaki jenjang Rachel melangkah pelan, alisnya mengerut bingung saat dirinya baru saja menginjakkan kaki memasuki gerbang.


Bagaimana tidak bingung? Semua orang menatap Rachel sambil berbisik-bisik. Namun pada hari ini, tatapan yang mereka berikan bukan tatapan penuh pujaan atau tatapan kagum. Melainkan tatapan sinis penuh hujat yang tak pernah Rachel duga sebelumnya.


Rachel tak mempedulikannya, sebisa mungkin ia berjalan cepat agar bisa sampai di kelasnya dengan segera. Namun pada kenyataannya, itu tak akan pernah berhasil ketika suara cempreng khas Gretta membuat Rachel menghentikan langkahnya.


"Hidih, yang kayak gitu Dewi, Dewi apanya? Dewi pelakor? Hahahaha," celetukkan Gretta berhasil membuat Rachel mematung. Terlebih, banyak orang kini yang ikut-ikut tertawa dan membalas ucapan Gretta.


"Iya sih mukanya cantik, eh tapi skillnya pelakor."


"Pantes aja bisa kaya, jangan-jangan bokingan Om-Om yang udah punya istri!"


Rachel menatap Gretta berang, langkahnya berbalik untuk mendekati iblis yang satu ini.


"Maksud lo apa?"


Gretta menghentikan tawanya, kini gadis itu menatap remeh pada Rachel.


"Emang gue ngomong sama lo apa?"


"Maksud lo apa gue tanya?"


"Idih, ngerasa lo jadi pelakor?" Gretta mengibaskan rambutnya.


Rachel membalas gadis itu dengan tersenyum, "Well, lo gak harus fitnah gue dengan bilang begitu. Terlalu murahan dan keliatan gak mungkin karena keluarga gue udah mampu dari sebelum gue lahir, jadi buat apa gue harus jadi apa yang lo fitnahin tadi?"


"Tau ap-"


Rachel mendekatkan bibirnya pada telinga Gretta, "Btw, siapa ya yang ke-gep lagi sama pacarnya melakukan tindak asusila sampe diadain sidang tertutup buat murid yang nyogok sekolah ini, oops!" Rachel bersidekap dada sambil tersenyum miring.


"Eh, orang-orang gak tau ya lo nyogokin setiap kasus lo? Waduh, lo juga harus tau nih, gue punya banyak koneksi. Apa perlu gue kirim buktinya di forum sekolah sekalian biar lo tau siapa yang paling kotor di sini?"


Tubuh Gretta menegang, matanya menatap Rachel nyalang.


"Anjing lo pelakor! Dasar pelakor gak tau diri! Gak usah fitnah lo!"


Rachel memundurkan langkahnya, kepalanya memindai orang-orang di sekitar. Menandainya satu-persatu dalam ingatan. Setelahnya ia kembali melihat ke arah Gretta, tak lupa senyuman miring menghiasi bibir pinknya.


"Coba aja fitnah gue lagi, lo tinggal nunggu tanggal mainnya aja, Gretta." Setelahnya Rachel berlalu pergi.


Tujuan gadis dengan tangan mengepal dan tubuh yang sedikit gemetar ini adalah toilet.

__ADS_1


Karena bagaimana pun, Rachel tak sekuat yang dilihat. Ditatap oleh banyak orang seperti itu tentu saja membuat hatinya sakit.


"Rachel!"


Panggilan dari Clarissa tak Rachel pedulikan. Rachel terus saja berjalan, namun tak lama langkahnya memelan.


"Chel tung-" ucapan Clarissa terpotong, digantikan dengan percekcokan yang terdengar dari depan sana.


"Ya terus maksud kamu apa? Kamu nuduh aku?"


"Bukan, Dy, aku tanya baik-baik kan? Kamu tau apa nggak? Bukan nuduh kamu,"


"Kamu selalu aja belain Rachel dan seolah nyudutin aku di sini. Aku salah apa sih, Fa?"


Alfa menggeleng, tangannya hendak mengenggam tangan Maudy namun dengan cepat ditepis gadis itu.


"Aku gak ada nyalahin kamu, aku nanya aja Dy, sumpah!"


Dari arah belakang, Terlihat Kenan, Gara, dan Geri yang berlari.


"Yayang Cac-" suara Kenan menghilang seiring dengan pertikaian yang ia lihat di depan sana.


"Kamu suka kan sama Rachel?"


Mata Alfa membulat, "Dy, please, ini out of topic!"


"Halah ngaku aja! Kamu suka kan sama dia?"


Alfa menggeleng keras bersamaan dengan rasa sesak yang menjalar di dada Rachel yang melihatnya.


"Aku tau kamu sering deket dia pas aku belum pulang! Kamu boncengin dia, iketin rambut dia, bahkan selalu deket-deket dia!" air mata mengalir dari sudut mata Maudy.


"Brengsek tau gak, Fa?"


Alfa kembali membantah, "Nggak, Dy! Please jangan nuduh hal gak jelas dulu!"


"Terus gimana? GIMANA?"


Ikut terpancing emosi, tanpa sadar Alfa menaikkan oktaf suaranya sampai bergema ke seluruh lorong.


"AKU BOSEN KARENA KAMU GAK ADA DI SINI! DAN SAAT DI MANA ADA RACHEL AKU NGERASA NYAMAN! AKU NGERASA ADA SOSOK LAIN YANG BISA GANTIIN KAMU, TAPI MAU GIMANA PUN AKU SADAR AKU CUMA NYALURIN PELAMPIASAN RASA BOSEN AKU KE DIA! TAPI AKU HARUS GIMANA SAAT DIA KELIATAN GAK MASALAH!" ucap Alfa berapi-api dengan bahu naik turun.


"Ada hal yang ada di diri Rachel tapi gak ada di kamu. Tapi gimana pun itu, aku selalu nyari bayangan kamu di dia. Aku gak bisa ngontrol perasaan aku, Dy. Maaf, aku emang brengsek."


Buliran bening jatuh semakin deras membasahi pipi Rachel, dengan cepat gadis itu menghampiri Alfa dan menamparnya sekeras mungkin sampai telapak tangannya terasa kebas.


"BRENGSEK LO ANJING! GAK TAU MALU! BRENGSEK!"


Alfa terkejut mendapat serangan dadakan seperti itu. Tak menyangka Rachel mendengar semua ucapannya. Kini matanya menatap kosong ke depan di mana teman-temannya menatap Alfa dengan kecewa.


Rachel berlari kencang diikuti Clarissa dan yang lainnya. Meninggalkan Alfa dan Maudy juga lorong yang kembali sepi.


Maudy terkekeh, gadis itu mengusap air matanya sambil menatap Alfa penuh ejekan.


"Good job babe. Btw emang gue yang nyebarin berita pelakor, soalnya gue gak suka sih apa yang menjadi milik gue direbut." Maudy mengecup pipi Alfa yang memerah, bekas tamparan Rachel tadi.


"Kita putus ya, Fa. Gue gak suka sama cowok yang ngebagi hatinya tapi denial terus. Kasian juga Rachel harus denger kata-kata itu dari lo, tapi gue gak peduli sih. Dan fyi gue udah punya pacar di Inggris namanya Sam, oops kita seri ya, sama-sama ngebagi hati kan?" Maudy menyunggingkan senyum liciknya.


"Bye, mantan!"


Setelahnya Maudy pergi, meninggalkan Alfa yang kini mengacak rambutnya dengan kesal.


"ARGHHH!"


Sial, Alfa dipermainkan.

__ADS_1


__ADS_2